Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemanfaatan Daun Ketapang sebagai Pewarna Alam Batik di IKM Batik Bayat Sarwono Sarwono; M. Rudianto; Tiwi Bina Affanti; Ratna Endah Santoso; Sujadi Rahmad Hidayat
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 41, No 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v41i1.8292

Abstract

Usaha batik warna alam di Daerah Bayat Klaten terdapat terkendala terkait harga bahan baku, sehingga memengaruhi penetapan harga jual produk. Penelitian diharapkan dapat merekomendasikan alternatif bahan baku warna alam sebagai subtitusi pewarna batik. Tumbuhan yang umum dijumpai di daerah setempat adalah pohon ketapang (Terminalia catappa). Pohon ketapang dimanfaatkan sebagai tanaman penghias atau tanaman peneduh yang banyak tumbuh di negara-negara tropis. Penelitian bertujuan untuk memanfaatkan daun ketapang sebagai bahan pewarna alam ramah lingkungan untuk memperoleh alternatif bahan dan keterjangkauan harga. Menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan pada perajin batik warna alam di daerah Bayat Klaten. Sampel penelitian adalah daun ketapang secara random sampling yang terbagi menjadi dua jenis yaitu daun ketapang berwarna hijau dan daun ketapang berwarna kemerahan. Penelitian diterapkan pada proses produksi batik cap, dengan proses penelitian meliputi tahapan mordanting; pengecapan; ekstraksi warna; penguncian warna dengan tunjung, kapur dan tawas. Dilakukan pengujian ketahanan warna terhadap pencucian, yang hasilnya dapat direkomendasikan untuk proses produksi batik. Hasil ekstraksi daun ketapang yang diterapkan pada kain batik menghasilkan pewarna yang mengarah ke warna kecoklatan. Daun ketapang dapat menjadi alternatif warna alam berdasarkan penggunaan daun yang dipilih serta dipengaruhi oleh bahan pengunci yang digunakan.
GEOGRAPHIC RHYTHM STUDY SCULPTURE AND CARVING ART INDUSTRY JEPARA DISTRICT CASE STUDY IN MULYOHARJO VILLAGE Angger Bagus Iswanto; Sarwono Sarwono; Rita Noviani
GeoEco Vol 6, No 1 (2020): GeoEco January 2020
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ge.v6i1.39163

Abstract

The purpose of this study is to find out geography rhythm procurement of raw materials, marketing destination, and problems with production factors sculpture and carving industry in the center of the sculpture and carving industry center in Mulyoharjo Village, Jepara District. This study uses a qualitative descriptive method. The respondent is a sculpture and carving industry entrepreneur in Mulyoharjo Village whose population is 104 industries and 30 industries are sampled. Data collection by interview, documentation and observation. Data analysis used a descriptive qualitative interactive model technique. The results of the study concluded that 86.6% of the industries experienced capital problem,73.3% of the industries experiences raw material problem, 66.6% of the industries experiences marketing problem, and 73,3% of the industries experiences finding workers problem. The most difficult workforce to find is engraver because absence of engraver regeneration. The raw materials used are teak wood and tamarind. In 1990 the raw material came from Jepara. In 1997-2005 the origin of raw materials expanded into the Java Island region. In 2006-2019 the origin of raw materials moved out of Java. The current availability of wood is not experiencing scarcity but the price is increasing. In 1990-1992 the destination areas for product marketing were in the Jepara Regency area only. In 1993-1995 product marketing could reach big cities in Indonesia. Marketing of products to international markets occurred in 1996 until now. In 2013 the number of exports increased with a value of 7,505,772.91 US $. In 2014 to 2018 the number of exports decreased.