Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Effect of Oven and Solar Portable Dryer Drying Methods In Terms Of the Antioxidant Activity of Moringa Oleifera Leaves: Pengaruh Metode Pengeringan Oven dan Solar Portable Dryer Ditinjau Dari Aktivitas Antioksidan Daun Kelor (Moringa oleifera) Monang , Sihombing; Nugroho, Pulung; Yandistara, Mikrando Sheva
Science Technology and Management Journal Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v4i2.255

Abstract

Drying is a method that is widely used because this method is very simple and cheap. Drying techniques using conventional methods are the most widely used methods in drying food ingredients. Moringa leaves (Moringa oleifera) are a food ingredient widely used as a natural dye and contains many antioxidant components. Antioxidant components such as flavonoids, polyphenols, lycopene, and ß-carotene. In this research, the drying process was carried out by comparing two conventional drying methods by an oven and a portable solar dryer. The research method was carried out using a sample preparation process for the drying process of Moringa leaves, followed by an analysis of antioxidant activity using the DPPH method. From the results of research that has been carried out, antioxidant activity was found to be 5.22% in drying using the oven method and 14.02% in drying using the solar portable dryer method. The conclusion from the research that has been carried out is that the drying method will significantly influence the antioxidant activity of Moringa leaves. Apart from that, temperature conditions and the length of the drying process will also influence antioxidant activity.
PROFILING DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN SENYAWA BIOAKTIF KOPI MANGGARAI ARABIKA DENGAN PERLAKUAN SEMI WASH DAN FULL WASH Pulung Nugroho; Monang Sihombing; Dhanang Puspita
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/0arvgv73

Abstract

Kopi manggarai menjadi salah satu kopi dengan kualitas unggul di Indonesia, tidak hanya dari cita rasa namun dari keunggulan dari senyawa bioaktif. Senyawa bioktif kopi memberikan manfaat lain terutama dapat menjadi senyawa fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan. Teknik perendaman biji kopi akan mempengaruhi munculnya senyawa bioaktif. Perendaman biji kopi akan menyebabkan terjadinya proses fermentasi, yang akan menyebabkan terjadinya reaksi sintesis metabolit mikroorganisme yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang memiliki nilai fungsional. Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi senyawa bioaktif kopi manggarai arabika dengan perbandingan proses lama perendaman yaitu secara full wash dan semi wash. Hasil identifikasi yang diperoleh variasi  senyawa bioaktif pada setiap perlakuan memberikan dampak yang berbeda, semakin lama proses perendaman akan memberikan kuantitas senyawa bioaktif yang semakin banyak. Sedangkan semakin pendek waktu perendaman akan memberikan variasi senyawa bioaktif yang semakin tinggi. Namun adanya proses roasting akan mempengaruhi kualitas senyawa bioaktif pada kopi manggarai arabika 
Dekafeinasi Kopi Robusta Dengan Metode Fermentasi Nugroho, Pulung
Jurnal Riset Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (RETIPA) Volume 5 Nomor 2
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/retipa.vi.4640

Abstract

Kopi merupakan komoditas yang sangat besar di Indonesia. Kopi menjadi bahan pangan pangan yang sangat digemari saat ini, hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya trend minum kopi di kalangan masyarakat. Kafein dan kopi memiliki korelasi yang sangat erat, kafein adalah komponen alami pada kopi yang pada dasarnya memiliki manfaat yang sangat diperlukan tubuh. Namun dari sisi lain kafein juga memberikan dampak negatif terutama dapat meningkatkan tekanan darah, mempengaruhi sistem kerja jantung, dan lambung. Hal tersebut dilihat menjadi hal yang kurang dapat diterima oleh beberapa kalangan masyarakat. Dekafeinasi kopi adalah salah satu metode untuk menurunkan kadar kafein pada kopi, dari hal tersebut diharapkan dapat menghasilkan karakter kopi yang lebih bersahabat untuk kesehatan dan menjangkau banyak kalangan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menurunkan kafein kopi dengan proses natural. Dekafeinasi kopi dengan metode fermentasi adalah metode yang dapat dilakukan, metode ini dilakukan dengan melibatkan mikroorganisme target yang secara alami mampu mereduksi kafein kopi. Dalam penelitian ini dilakukan proses dekafeinasi kopi robusta dengan menggunakan metode fermentasi yang didasarkan pada lama perendamannya. Dari hasil analisa yang dihasilkan, menunjukkan bahwa semakin lama proses perendaman akan memberikan dampak signifikan pada reduksi kafein kopi. Hasil analisa menunjukkan kadar kafein mengalami penurunan dengan adanya proses fermentasi, secara berurutan kontrol menunjukkan 3.15 mg/g, sedangkan kadar kafein kopi setelah proses fermentasi menunjukkan 0.30 mg/g pada fermentasi 3 hari, 0.30 mg/g pada fermentasi 7 hari, dan 0,26 mg/g pada fermentasi 14 hari. 
EFFECT OF BREWING TEMPERATURE AND TIME ON VITAMIN C CONTENT AND ANTIOXIDANT ACTIVITY OF EDIBLE FLOWER INFUSES Pulung Nugroho; Karina Bianca Lewerissa; Francies Seva Gentaarinda
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 11 No. 4: October 2023
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2023.011.04.1

Abstract

Dried chrysanthemum, jasmine and butterfly pea are raw materials for dip infused with antioxidant and vitamin C content. This study aimed to determine the effect of temperature and infusion time on vitamin C content and antioxidant activity. A two-factorial design was used with the first factor being the infusion temperature of 30, 50 and 70 °C. The second factor was infusion time of 1, 3 and 5 minute. Vitamin C content was determined by UV spectrophotometric method (Thermo Scientific Genesys 10 S UV), antioxidant activity by DPPH method, and moisture content by moisture analyzer. The optimum results of vitamin C content of dry samples at 30 °C brewing temperature for 3 minutes and 70 °C brewing temperature for 5 minutes was 0.29%. The vitamin C content of the wet flower control at 70 °C for 5 minutes was 0.53%. The optimum antioxidant activity of the dry sample at 50 °C brewing temperature for 3 minutes was 34.61% and that of the fresh flower control at 70 °C brewing temperature for 5 minutes was 94.14%. The moisture content of dried Chrysanthemum was 7.30%, dried Jasmine was 6.25% and dried butterfly pea was 7.24%.