Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Pola Asuh Permisif Terhadap Perilaku Agresif Siswa SMP N 30 Batam Sabilah Mahasa; Ramdani Ramdani; Ahmad Yanizon; Junierissa Marpaung
TANJAK Vol 6 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Jurusan Tarbiyah dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/tanjak.v6i2.2840

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola asuh permisif terhadap perilaku agresif siswa di SMP N 30 Batam. Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku sosial anak, namun pola asuh permisif yang memberikan kebebasan tanpa kontrol yang memadai dapat memicu munculnya perilaku agresif pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII dan VIII yang berjumlah 100 siswa, dengan sampel sebanyak 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner menggunakan skala Likert. Data dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, analisis regresi linear sederhana, uji t, serta koefisien determinasi dengan bantuan SPSS. Hasil penilitian menunjukan bahwa pola asuh permisif berpengaruh signifikan terhadap perilaku agresif siswa dengan nilai t hitung sebesar 3,421, lebih besar dari t table sebesar 1,290, serta nilai signifikan (Sig.) sebesar 0,001 (<0,05). Nilai R Square sebesar 0,107 menunjukkan bahwa pola asuh permisif memberikan kontribusi sebesar 10,7% terhadap perilaku agresif siswa, sedangkan 89,3% dipengaruhi oleh factor lain di luar penelitian. Dengan demikian, semakin tinggi penerapan pola asuh permisif orang tuan maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku agresif siswa.
Preferensi Siswa terhadap ChatGPT dalam Dukungan Emosional: Analisis Self-Disclosure, Trust, dan Psychological Safety Berbasis Bimbingan dan Konseling Kolaboratif Ristama Rona Simanungkalit; Ramdani Ramdani; Ahmad Yanizon; Junierissa Marpaung; Azahra Hardi Cusinia; Raja Zulfikar
TANJAK Vol 7 No 1 (2026): Februari
Publisher : Jurusan Tarbiyah dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/tanjak.v7i1.2948

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi siswa dalam menggunakan ChatGPT sebagai media dukungan emosional ditinjau dari aspek self-disclosure, trust, dan psychological safety, serta implikasinya dalam Bimbingan dan Konseling Kolaboratif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 60 siswa sekolah menengah atas. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang mengukur ketiga variabel utama. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological safety memiliki nilai rata-rata tertinggi (M = 4,12), diikuti self-disclosure (M = 3,98) dan trust (M = 3,85), yang seluruhnya berada pada kategori tinggi. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara psychological safety dan self-disclosure (r = 0,68; p < 0,01), serta antara trust dan self-disclosure (r = 0,61; p < 0,01). Hasil regresi menunjukkan bahwa psychological safety (? = 0,45) dan trust (? = 0,37) berpengaruh signifikan terhadap self-disclosure, dengan kontribusi model sebesar 52% (R² = 0,52). Temuan ini menunjukkan bahwa rasa aman psikologis merupakan faktor dominan dalam mendorong keterbukaan diri siswa dalam menggunakan ChatGPT. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkap adanya pergeseran preferensi siswa dalam mencari dukungan emosional dari interaksi interpersonal menuju interaksi berbasis teknologi. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling Kolaboratif perlu beradaptasi dengan menghadirkan lingkungan yang lebih aman secara psikologis, membangun kepercayaan, serta mengintegrasikan teknologi sebagai bagian dari sistem dukungan yang komprehensif.
Analisis Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mendukung Penyelenggaraan SPMB Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus Melalui Pendekatan Manajemen BK Berbasis Kolaborasi Ramdani ramdani; Raja Zulfikar; Rike Ernawati Sinaga
TANJAK Vol 7 No 1 (2026): Februari
Publisher : Jurusan Tarbiyah dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/tanjak.v7i1.2964

Abstract

The implementation of an inclusive Student Admission System (SPMB) requires the involvement of various stakeholders, including school counselors, to ensure equal educational access for students with special needs. However, the admission process continues to face challenges related to stakeholder coordination, support systems, and school readiness. This study aimed to analyze the role of school counselors in supporting the implementation of SPMB for students with special needs through collaborative guidance and counseling management in secondary schools. The study employed a quantitative approach with a descriptive-comparative survey design. Participants consisted of 19 school counselors from five secondary schools in Batam City, including two senior high schools, one Islamic senior high school, and two vocational high schools. Total sampling was applied. Data were collected using a questionnaire measuring four dimensions: counselors’ understanding, counselors’ roles, available support, and obstacles encountered in implementing SPMB for students with special needs. Data were analyzed using descriptive statistics and the Kruskal Wallis test. The findings revealed that counselors’ understanding of SPMB for students with special needs was categorized as high (M = 4.08), as was their role in supporting the implementation of SPMB (M = 3.95). The level of support received by counselors was categorized as moderate (M = 3.42), while the obstacles encountered were categorized as high (M = 3.79). Major obstacles included limited competence in handling students with special needs, insufficient preliminary information about prospective students, limited access to professional support services, and suboptimal coordination among stakeholders. Comparative analysis indicated no significant differences in understanding, roles, and support across school types; however, significant differences were found in the obstacle dimension. The findings suggest that the primary challenge in implementing SPMB for students with special needs lies not in counselors’ understanding or roles, but rather in the inadequacy of support systems and collaborative mechanisms. Therefore, the development of a collaborative guidance and counseling management model is needed to integrate multiple stakeholders in supporting a more inclusive student admission process.
COMMUNITY-BASED COUNSELING TO MITIGATE SOCIO-ECONOMIC IMPACTS OF MARINE SEDIMENT CLEANING IN KARIMUN REGENCY Theresia Sitinjak; Ramdani Ramdani; Yanizon Ahmad; Junierissa Marpaung; Deni Achmad Soeboer
Jurnal Bikotetik (Bimbingan dan Konseling : Teori dan Praktik) Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Bikotetik (Bimbingan dan Konseling : Teori dan Praktik)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/bikotetik.v9n2.p342-350

Abstract

The use of marine sediments in Karimun Regency causes socio-economic changes that have a direct impact on the psychological well-being of students in coastal areas. This study aims to formulate the design of collaborative guidance and counseling services as a mitigation strategy for family pressure, income instability, and community social dynamics arising from sediment extraction activities. Qualitative research methods were used to analyze contextual data, empirical literature, and school service needs. The results of the study show that these socio-economic impacts contribute to increased stress, decreased learning motivation, and behavioral vulnerability in students. These findings underscore the need for a collaborative guidance and counseling services model that integrates data mapping, cross-agency partnerships, family and community-based psychosocial interventions, and environmental-social literacy education. The formulated model positions counselor as systemic links between schools, families, and coastal stakeholders, thereby strengthening student resilience and increasing the effectiveness of services in the context of ecological and socioeconomic changes