Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

SEWU NGEWU SEBAGAI RITUAL TOLAK BALA PADA MASYARAKAT DI DESA RAKATEDA I KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA Djandon, Maria Gorety
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3773

Abstract

Sewu ngewu merupakan salah satu upacara adat untuk menolak bala yang berhubungan dengan kebakaran kampung atau tempat tinggal masyarakat. Upacara ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat apabila ada kebakaran dalam kampung. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah 1) bagaimana proses pelaksanaan upacara sewu ngewu dijalankan, dan 2) makna apa yang terkandung dalam upacara sewu ngewu. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui proses pelaksanaan upacara sewu ngewu dan 2) untuk mengetahui makna yang terkandung dalam upacara sewu ngewu. Peneliti menggunakan teori ritus yang digagaskan oleh Van Gennep yang mengungkapkan bahwa ritual adalah bagian dari tingkah laku religius yang masih aktif dan bisa diamati, misalnya pemujaan, nyanyian, doa-doa dan tarian. Ritual memiliki sifat sakral, seperti penggunaan benda-benda sakral dalam ritual yang tidak tergantung pada ciri-ciri hakikat dari benda tersebut. Tetapi tergantung kepada sikap mental dan emosional kelompok masyarakat pemeluk kepercayaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa upacara sewu ngewu masih tetap dilakukan oleh masyarakat di desa Rakateda I apabila terjadi kebakaran di desa Rakateda I. Bagi masyarakat di desa Rakateda I, ritual sewu ngewu memiliki makna religius, makna persaudaran dan makna keharmonisan.
RITUAL PEMBERIAN NAMA ANAK (PI’I WAU’NG ) PADA KLAN TENU DI DESA LANAMAI KECAMATAN RIUNG BARAT KABUPATEN NGADA Minu, Theresia; Djandon, Maria Gorety; Bego, Karolus Charlaes
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 6 No 1 (2021): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v6i1.3830

Abstract

Permasalahan yang diangakat dalam penelitian ini adalah:(1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual pemberian nama anak ( Pi’i Wa’ung) pada klan Tenu di Desa Lanamai Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada, (2)Apa makna dari ritual Pemberian nama (pi’i wa’ung) Pada klan Tenu Di Desa Lanamai Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada. Untuk membahas masalah diatas peneliti mengunakan teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh George Simmle. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data-data berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari para narasumber serta perilaku yang diamati yang diarahkan pada latar beakang seutuhnya. Subyek penelitian, peneliti memilih enam orang informan yaitu empat orang tokoh masyarakat dan satu orang tokoh adat sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data ini ada tiga yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data diantaranya: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Ritual pemberian nama anak masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat pada klan Tenu. (2) dari kalangan generasi mudah kurang peduli terhadap ritual pemberian nama anak. Aspirasi masyarakat Desa lanamai akhirnya mendapat sambutan baik dari pemerintah daerah Kabupaten Ngada. Hasil akhir studi ini menyimpulkan bahwa Desa Lanamai mengalami perkembangan antara lain dalam bidang sosial, dan bidang budaya
TRADISI PERKAWINAN ADAT NGGAE FAI PADA MASYARAKAT DI DESA PAUTOLA KECAMATAN KEO TENGAH KABUPATEN NAGEKEO Tao, Ferdinando De Carlos; Djandon, Maria Gorety; Dhiki, Katarina
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 1 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i1.4389

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses ataupun tahapan-tahapan dalam tradisi perkawinan adat di Desa Pautola Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo 2) Faktor-faktor apa saja yang membuat perkawinan adat di Desa Pautola Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo masih bertahan hingga saat ini ?, Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Mengetahui proses ataupun tahapan-tahapan dalam tradisi perkawinan adat di Desa Pautola Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo. 2) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang membuat perkawinan bisa bertahan hingga saat ini. Penelitian mengunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah Masyarakat Desa Pautola dengan jumlah informan sebanyak satu orang mosalaki (kepala ada), satu orang tokoh masyarakat dan satu orang masyarakat adat sebagai tokoh pendukung ). Pengumpulan data menggunakan Observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: 1) Reduksi Data (data pencarian), 2) Display Data (penyajian data), Verifikasi (penarikan kesimpulan). Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut: wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi perkawinan adat nggae fai merupakan suatu trdisi yang sudah dilakukan oleh nenek moyang sejak dahulu dan diwariskan kepada generasi-generasi sekarang dan masih dipertahankan hingga saat ini karena dalam tradisi ini tidak boleh dilanggar dan harus sesuai dengan tahapan-tahapanya jika dilanggar maka kita akan menerima konsekuensinya seperti jadi buah bibir warga setempat.
ORNAMEN LEGA JARA PADA RUMAH ADAT SA’O KABI ZUA DI KAMPUNG ULUBELU KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA Djandon, Maria Gorety
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5360

Abstract

Ornamen Lega Jara merupakan salah satu ukiran pada rumah adat sa’o Kabi Zua yang terdapat pada masyarakat di desa Ulubelu, Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada yang tetap dirawat sampai saat ini. Ornamen lega jara (kuda) ini menurut kepercayaan masyarakat Ulubelu memiliki kekuatan. Kekuatan kuda terletak pada tendangan kakinya sebagai lambang leluhur yang suci dan berwibawa tinggi. Sedangkan lega atau (tas adat yang digunakan oleh seorang pria) sebagai lambang kewibawaan yang tinggi sehingga segala macam roh jahat yang hendak mengganggu keselamatan jiwa dan raga manusia dapat disingkirkan. Sedangkan rumah adat sa’o kabi zua bukan hanya tempat tinggal anggota keluarga saja, melainkan juga sebagai tempat untuk melakukan berbagai upacara adat, dan juga sebagai tempat berkumpulnya roh para leluhurnya. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: makna apa sajakah yang terkandung dalam ornamen lega Jara pada rumah adat Sa’o kabi zua di Kampung Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna-makna yang terkandung di dalam ornamen lega jara pada sa’o kabi zua. Untuk membedah masalah dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori Semiotika yang digagaskan oleh Ferdinan de Saussure, mengemukakan bahwa teori semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita lihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna. Dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai “bentuk” yang mempunyai “makna” tertentu. Hubungan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, yakni didasari oleh “kesepakatan” (konvensi) sosial. Penelitian ini menggunakan jenis peneitian Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitin ini adalah 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data dan 4) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menujukkan bahwa ornament lega jara pada sa’o kabi zua masih tetap dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat di desa Ulubelu karena ornament lega jara ini memiliki makna yaitu: makna penghormatan dan penghargaan, makna kebersamaan, dan makna control social bagi masyarakat pendukungnya.
Historiographical Distortion of R.A Kartini's Heroism in a Feminist Sociological Perspective Kenoba, Marianus Ola; Djandon, Maria Goretty
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 8 No 1 (2024): Santhet : Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v8i1.3738

Abstract

The historiography of R.A Kartini 's heroism is a choice of topic that is quite challenging to discuss because Kartini is the only heroine who is armed with ideas. By tracing the historiography of Indonesian heroes, it was identified that not many of them left traces for the next generation in the form of written ideas. The monumental work that makes Kartini unique is a book titled “Letters of Javanese Princess.” The book “Letters of Javanese Princess” became a new milestone in the struggle of Indonesian women to gain access to formal education. The method used in this textual research is critical hermeneutics. The critical hermeneutics method allows a broad interpretation of written texts accessed by researchers. The results show that the historiography of Kartini's heroic values tended to be distorted by her rhetorical value alone. The impact is the occurrence of cults and devotional attitudes towards personality. The content of historical knowledge based on monumental historiography is quite risky because cults and devotions are always final, making it unnecessary to re-dialogue their existence. This research can be positioned as an auto criticism of Kartini's heroic historiography by utilizing the paradigm of feminist sociology.