I M. NURIYASA
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar, Bali

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EFFECT MNB SUPPLEMENTATION ON THE GRASS FIELD OF BASIC FEED PERFORMANCE AND CARCASS LOCAL MALE RABBIT (Lepus nigricollis) I. G. P. E., KUSUMA,; DEWI, G. A. M KRISTINA; NURIYASA, I M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.695 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i03.p04

Abstract

The research of the performance and carcass local male rabbit result mineral nutrient block (MNB)supplementation on ration-based grass field carried in Dajan Peken Village, Tabanan Regency (50 masl) formaintenance and cuts that lasted for 3 months. The design used in this research is a randomized block design, withfive replications. The rabbits were allocated randomly into four treatments, namely rabbits treated control rationis grass field (R0), control ration supplemented MNB 15 g/head/day (R1), control ration supplemented MNB 30 g/head/day (R2), control ration supplemented MNB 45 g/head/day (R3). Rations and drinking water given ad_libitum.Based on the results that the variable performance and carcass local male rabbits given MNB-supplemented rationswith 45 g/head/day (R3) showed a higher yield than R0 ration treatment (control) and other treatments.
IKLIM MIKRO DAN RESPON HEMATOLOGI KELINCI LOKAL (Lepus nigricollis) PADA JENIS KANDANG BERBEDA NURIYASA, I M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.33 KB) | DOI: 10.24843/mip.2012.v15.i01.p02

Abstract

Salah satu kendala dalam pengembangan ternak kelinci adalah ternak ini sensitif terhadap perubahan faktor lingkungan. Pergeseran kondisi lingkungan (iklim mikro ) dari kebutuhan optmimum menyebabkan penurunan produktivitas. Kandang yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan merupakan salah satu solusi untuk mengurangi cekaman panas di daerah dataran rendah tropis. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan pertama adalah: kandang under ground shelter (K0), Kandang alas semen (K1) dan perlakuan ketiga adalah: kandang battery (K2). Kelinci yang dipergunakan adalah kelinci jantan lokal lepas sapih dengan umur 4 – 5 minggu. Variabel yang diamati adalah iklim mikro kandang dan respon hematologi ternak kelinci jantan lokal. Kandang K0 menyebabkan temperatur dalam kandang lebih rendah (P<0,05) daripada kandang K2, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan K1. Kelembaban udara dalam kandang K2 lebih tinggi (P<0,05) daripada K1 dan K0. Tidak terjadi perbedaan yang nyata (P>0,05) pada variabel intensitas radiasi, suhu maksimum dan suhu minimum pada perlakuan kandang berbeda. Tidak terjadi perbedaan yang nyata pada kandungan hematokrit, glukosa, dan trigliserida darah ternak kelinci yang dipelihara pada kandang berbeda. Kelinci yang dipelihara pada kandang K0 dan K1 menghasilkan kandungan haemoglobin dan eritrosit lebih tinggi (P<0,05) daripada K2, sedangkan kandungan leukosit darah kelinci yang dipelihara pada kandang K2 lebih tinggi (P<0,05) daripada K0 dan K1 Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandang under ground shelter dan kandang alas semen menyebabkan iklim mikro dan respon hematologi lebih baik daripada kandang battery.
EFFECT OF REPLACEMENT OF FISH MEAL BY GOLDEN SNAIL MEAL AT DIFFERENT LEVEL IN THE DIET ON THE PERFORMANCE AND CARCASS OF MUSCOVY DUCKS I W., TAMI,; MASTIKA, I M.; NURIYASA, I M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.172 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i03.p02

Abstract

An experiment was conducted on the replacement of fish meal with golden snails meal at different level onperformance and carcass of muscovy ducks. A randomized complete block design (RCBD), with five treatmentsand four replications was used in this study so in other words there were 20 experiments unit conducted. Muscovyducks were given diet using 15% fish meal as a control diet (R0), the replacement of 25% fish meal with golden snailsmeal (R1), the replacement of 50% fish meal with golden snails meal (R2), replacement 75% fish meal with goldensnails meal (R3) and 100% replacement of fish meal with golden snails meal (R4). Meal Rations and drinking waterare provided adlibitum. The results of the experiment showed that there was no significant difference (P>0.05)among in five treatments on the performances and carcass of muscovy ducks. The results also showed Muscovyduck given diet 75% replacement of fish meal with golden snails meal (R3) produced the highest performance andcarcass. Based on the results of this experiment it was concluded that the replacement of fish meal with goldensnails meal up to 100% did not affect performance and carcass of muscovy ducks.
PERFORMANS KELINCI LOKAL (Lepus nigricollis) YANG DIBERI RANSUM DENGAN KANDUNGAN ENERGI BERBEDA NURIYASA, I M.; MASTIKA, I M.; PUGER, A.W.; PUSPANI, E.; WIRAWAN, I W.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.628 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2013.v16.i01.p03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans kelinci jantan lokal (Lepus nigricollis) yang diberi ransum dengan kandungan energi termetabolis berbeda. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: ransum dengan kandungan energi termetabolis 2200 K.kal/kg (R1), 2500 K.kal/kg (R2), 2800 K.kal/kg (R3) dan 3100 K.kal/kg (R4). Ransum dibuat iso protein dengan kandungan protein kasar 16%. Kelinci yang dipergunakan adalah kelinci jantan lokal lepas sapih dengan umur 4-5 minggu. Variabel yang diamati adalah koefisien cerna bahan kering, efisiensi perubahan GE menjadi DE, berat badan akhir, konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan konsumsi air minum. Tidak terjadi perbedaan yang nyata (P>0,05) pada perlakuan ransum terhadap variabel koefisien cerna bahan kering, efisiensi perubahan GE menjadi DE dan konsumsi air minum. Kelinci yang mendapat perlakuan ransum R1 menghasilkan berat badan akhir paling rendah yang berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan R2, R3 dan R4. Konsumsi ransum pada kelinci yang mendapat perlakuan R1 paling rendah yang berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan R2, R3 dan R4. Kelinci yang mendapat perlakuan R3 menghasilkan pertambahan berat lebih tinggi (P<0,05) daripada R2 dan R1 namun perlakuan R3 berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan dengan R4. Nilai konversi ransum pada kelinci yang mendapat perlakuan R1 paling tinggi yang berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan R2, R3 dan R4. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ransum dengan kandungan energi termetabolis 2800 K.kal/kg (R3) menghasilkan performans lebih tinggi daripada 2200 K.kal/kg (R1), 2500 K.kal/kg (R2) dan 3100 K.kal/kg (R4).