Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Peningkatan Pemberian Asuhan Keperawatan Melalui Optimalisasi Interaksi Terapeutik Perawat dengan Pasien Sesuai Standar Waktu Minimal Pelayanan Keperawatan di Ruangan MPKP Mandau I Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Tahun 2026: Pengabdian Erma Kasumayanti; Ridha Hidayat; Siti Hotna Siagian; Triswan Simatupang
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7467

Abstract

Optimalisasi pemberian asuhan keperawatan pada pasien rawat inap, khususnya di pelayanan kesehatan jiwa yang membutuhkan pelaksanaan interaksi terapeutik yang terencana sesuai kebutuhan dan tingkat ketergantungan pasien. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemberian asuhan keperawatan melalui optimalisasi interaksi terapeutik perawat dengan pasien sesuai standar waktu minimal pelayanan keperawatan di Ruangan MPKP Mandau I Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Tahun 2026. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan kepala ruangan dan ketua tim, identifikasi permasalahan, serta penyusunan instrumen kegiatan. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui sosialisasi saat handover, edukasi mengenai pengaturan waktu pelayanan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien menggunakan rumus Gillies, pendampingan penggunaan checklist, serta penyesuaian pembagian pasien sesuai jumlah perawat yang bertugas. Evaluasi dilakukan melalui observasi pelaksanaan interaksi terapeutik dan wawancara dengan perawat serta pasien. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari 18 pasien yang dilakukan identifikasi awal, terdapat 9 pasien yang belum memperoleh asuhan keperawatan secara optimal. Setelah dilakukan implementasi, sebanyak 6 pasien (66,7%) mengalami peningkatan dalam pemenuhan asuhan keperawatan melalui interaksi terapeutik yang lebih terstruktur, sedangkan 3 pasien (33,3%) masih memerlukan tindak lanjut. Kegiatan PKM ini menunjukkan bahwa optimalisasi interaksi terapeutik melalui edukasi, pendampingan, penggunaan checklist, dan pengaturan beban kerja perawat dapat mendukung peningkatan kualitas pemberian asuhan keperawatan. Disarankan agar kegiatan monitoring, supervisi, dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mempertahankan keberlanjutan penerapan interaksi terapeutik sesuai standar pelayanan keperawatan.
Hubungan Ketersediaan Sarana Identifikasi Risiko Jatuh Dengan Pelaksanaan Identifikasi Pasien Risiko Jatuh di Rumah Sakit Jiwa Erma Kasumayanti; Siti Hotna; Ridha Hidayat; Awari Susanti
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.510

Abstract

Risiko jatuh merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien yang menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan karena dapat menimbulkan cedera, memperpanjang masa perawatan, dan meningkatkan biaya pelayanan. Pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kejadian jatuh akibat gangguan persepsi, penurunan fungsi kognitif, efek samping penggunaan obat psikotropika, serta perubahan perilaku yang dapat memengaruhi kemampuan menjaga keselamatan diri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kejadian jatuh adalah pemberian identifikasi kepada pasien yang memiliki risiko jatuh. Namun, pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh tidak selalu berjalan optimal, salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana identifikasi yang digunakan sebagai penanda pasien berisiko. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh dengan pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh di Rumah Sakit Jiwa. Metode yang digunakan adalah desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana yang bekerja di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa. Sampel penelitian berjumlah 109 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh berada pada kategori kurang baik, yaitu sebanyak 76 responden (58,5%). Pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh juga sebagian besar berada pada kategori kurang baik, yaitu sebanyak 71 responden (54,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh dengan pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh di Rumah Sakit Jiwa (p = 0,003). Ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh yang memadai berperan dalam mendukung pelaksanaan identifikasi pasien secara optimal. Diharapkan penyediaan sarana identifikasi yang sesuai perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien dan mencegah kejadian jatuh di rumah sakit jiwa.