Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

INTERAKSI OBAT HERBAL TERSTANDAR MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) DENGAN AMOKSISILIN TERHADAP PENGHAMBATAN Staphylococcus aureus Faiqo Nabila; Noer Aini; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.65 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Meniran (Phyllanthus niruri L.) memiliki senyawa aktif yang bersifat antibiotik dari golongan flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan saponin serta tersedia dalam bentuk Obat Herbal Terstandarisasi (OHT). Penelitian sebelumnya melaporkan interaksi sinergistik antara ekstrak metanolik meniran dengan amoksisilin terhadap bakteri S.aureus, namun kombinasi OHT meniran dengan amoksisilin terhadap S.aureus belum ada sehingga perlu diteliti.Metode: Penelitian ekperimental in vitro dengan tujuh kali pengulangan dalam dua waktu berbeda. Kandungan bahan dalam OHT meniran diukur dengan metode fitokimia. Efek antibiotik diuji dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer dan jenis interaksi antar kelompok dinilai dengan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Hasil dianalisa dengan  One-way ANOVA dan p <0.05 dianggap signifikan.Hasil: Uji fitokimia larutan OHT menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tannin, phenolic, dan saponin. Pada OHT meniran tidak didapatkan zona bening pada S. aureus. Kombinasi amoksisilin dengan OHT meniran konsentrasi 220, 440, dan 880 ppm menghasilkan zona hambat sebesar 28.96±1.48; 31.42±2.07 dan 26.39±0.64 mm, sedangkan pada amoksisilin tunggal adalah 27.84±1.91, dan amoksisilin double disk 28.07±0.44. Hal ini menunjukkan peningkatan secara signifikan pada konsentrasi 440 ppm, dan penurunan signifikan daya hambat pada dosis konsentrasi 880 ppm.Kesimpulan: Interaksi OHT meniran dengan amoksisilin not distinguishable pada 220 ppm, potensiasi pada 440 ppm, dan antagonis pada 880 ppm.Kata Kunci: Phyllanthus niruri L., Amoksisilin, OHT, AZDAST, Hasil interaksi.
Potensi Antiadhesi Senyawa Aktif Hibiscus sabdariffa L Pada Penghambatan Protein Target IcsA Shigella flexneri Melalui Studi in Silico Molecular Docking Rizky Fajar Imam Asshiddiq; Arif Yahya; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.429 KB)

Abstract

Introduction: Diarrhea in Indonesia is a disease with a high prevalence, one of which is caused by S. flexneri infection through exposure, adhesion, invasion and colonization process. H. sabdariffa L is one of the herbs that has anti-adhesion potential, however, the anti-adhesion potential of this herb against S. flexneri is still unknown. The adhesion of S. flexneri to host cells is mediated by IcsA, so this study was conducted to determine whether H. sabdariffa L could bind to the target protein IcsA S. flexneri.Methods: This study used the In silico molecular docking method by tethering the 3D structure of 25 active compounds from H. sabdariffa L obtained from Pubchem, and target protein IcsA S. flexneri (5KE1) obtained from RCSB using a docking server with Ciprofloxacine as control.Results: H. sabdariffa L compound has better affinity than Ciprofloxacine. The five compounds with the best free bond energy values are Quercetin-3-rutinoside (-9.21 kcal/mol), Leucoside (kaempferol-3-O-sambioside) (-8.83 kcal/mol), Quercetine-3-glucoside (-8.23 kcal/mol), Tiliroside (-7.86 kcal/mol), Caffeoylquinic acid isomer (Isochlorogenic acid (-7.43 kcal/mol), the value of the inhibition constanta is 178.61 nM, 337.61 nM, 924.29 nM, 1.15 uM, dan 1.69 uM, the value of the surface interactions is 525.416 Å, 751.689 Å, 564.99 Å, 803.103 Å, 572.111 Å, and the number of amino acid residues is 3,9,5,9,8.Conclusion: Quercetine-3-rutinoside, Leucoside (kaempferol-3-O-sambioside), Quercetine-3-glucoside, Tiliroside, Caffeoylquinic acid isomer (Isochlorogenic) can bind to S. flexneri and has the potential to be used as an anti-adhesion.Keywords: Antiadhesion, Hibiscus sabdariffa, Shigella flexneri, Fluoroquinolone ciprofloxacine, in silico.
Piper betle L. SEBAGAI PEWARNA BAKTERI : UJI AKURASI DAN PRESISI WARNA PADA Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Annur Affin Niswah; Yoni Rina Bintari; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1640.901 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Tanaman Piper betle L.(PB) memiliki kandungan pigmen antosianin dan tannin warna hijau kecoklatanyang dapat digunakan sebagai zat warna pada pewarnaan bakteri sederhana untuk mengurangi dampak negatifpenggunaan pewarna sintesis. Namun, tingkat efektivitas PB sebagai pewarnaan sederhana bakteri belum diketahuisehingga perlu dilakukan uji akurasi dan presisi PB sebagai pewarnaan sederhana bakteri.Metode: Penelitian eksperimental in vitro menggunakan bakteri S. aureus dan E. coli yang dilakukan pewarnaansederhana dengan ekstrak metanol PB (2,5%, 5%, 10%)v/v, methylene blue (kontrol positif) dan metanol (kontrolnegatif). Hasil pewarnaan diamati secara deskriptif kualitatif oleh tiga pengamat pada lima lapang pandang dari gambarmikroskop cahaya. Perhitungan kuantitatif dilakukan dengan imageJ yang dihitung nilai akurasi dan presisinya secaramatematis. Hasil dianalisa dengan Mann-Whitney dan signifikasi ditetapkan pada p<0.05.Hasil: Pewarna methylene blue (MB) memberikan hasil pewarnaan kualitatif 100% sedangkan metanol 0%. Pewarnaanekstrak metanol PB konsentrasi 2,5%, 5%, 10% menunjukkan hasil pengamatan deskriptif kualitatif yaitu 2,40, 5,38,3,22 pada S. aureus dan 2,77, 4,94, 2,68 pada E. coli. Hasil kuantitatif didapatkan nilai akurasi S. aureus yakni 240,51%,158,49%, 160,91% dan 81,22%, 107,02%, 63,01% pada E. coli dengan nilai presisinya yaitu 35,21%, 26,28%, 31,51%pada S. aureus dan 42,14%, 23,78%, 26,23% pada E. coli. Hasil analisa kualitatif dan kuantitatif menunjukkan bahwaekstrak metanol PB 5% memiliki kualitas lebih baik daripada 2,5% dan 10%. Adanya bias berupa genangan minyak(micelles) diperkirakan mengganggu perhitungan bakteri dengan imageJ dan kelemahan dalam pemilihan metodepenelitian.Kesimpulan: Ekstrak metanol PB mengandung pigmen zat warna. Namun, uji akurasi dan presisi menunjukkan lebihrendah daripada kontrol positif.Kata Kunci: Daun sirih, pewarnaan sederhana, S. aureus, E. coli, akurasi, presisi
EFEK PEMBERIAN KOMBINASI JAMU TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber L.) DENGAN AMOKSISILIN TERHADAP DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus Shabrina Yasyfi Hanifati; Noer Aini; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.817 KB)

Abstract

Pendahuluan: Tanaman tapak liman (Elephantopus scaber L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus. Kombinasi fraksi semi-polar dan polar ekstrak metanolik tapak liman dengan amoksisilin didapatkan peningkatan aktivitas amoksisilin terhadap penghambatan pertumbuhan S. aureus. Namun, penelitian serupa dengan menggunakan jamu belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui interaksi kombinasi jamu tapak liman dengan amoksisilin terhadap bakteri S. aureus.Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratorium secara in vitro. Jamu tapak liman yang telah terdaftar pada Badan Pengawas Obat dan Makanan dilarutkan berdasarkan dosis anjuran minum (166,67 ppm) dan setengah dosis anjuran (83,33 ppm). Larutan diresapkan dalam cakram kosong dan disusun dengan cakram amoksisilin 30 μg sesuai ketentuan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Uji zona hambat dilakukan dengan metode Kirby-Bauer. Interaksi kombinasi diinterpretasikan berdasarkan metode AZDAST.Hasil: ZOI kombinasi dan interaksi kombinasi larutan sampel jamu tapak liman 166,67 ppm dan amoksisilin tidak dapat diidentifikasi. ZOI kombinasi pada konsentrasi 83,33 ppm lebih besar dibandingkan amoksisilin akan tetapi tidak berbeda signifikan (p>0,05). Interaksi kombinasi jamu tapak liman 83,33 ppm dan amoksisilin adalah not distinguishable. Saponin, fenol, flavonoid, tannin dan alkaloid tidak terdeteksi pada larutan jamu tapak liman.Kesimpulan: Penambahan larutan sampel jamu tapak liman konsentrsi 83,33 ppm tidak mempengaruhi zona hambat amoksisilin terhadap S. aureus. Interaksi kombinasi larutan sampel jamu tapak liman 83,33 ppm dengan amoksisilin adalah not distinguishable terhadap S. aureus.Kata Kunci: Elephantopus scaber L., Amoksisilin, Uji Kombinasi Antibiotik dan Herbal
EFEK KOMBINASI FRAKSI ALANG-ALANG (Imperata cylindrica, L.) DENGAN Amoxicilin ATAU Chloramphenicol TERHADAP DAYA HAMBAT Staphylococcus aureus Faris Akbar Maulana; Rio Risandiansyah; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.902 KB)

Abstract

Pendahuluan: Penelitian sebelumnya menyebutkan ekstrak alang-alang berpotensi meningkatkan kerja antibiotik. Belum diketahui senyawa aktif spesifik yang berperan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan senyawa aktif dengan metode fraksinasi untuk melihat daya hambat tunggal dan kombinasinya dengan amoxicillin atau chloramphenicol terhadap S. aureus.Metode: Ekstraksi dilakukan dengan maserasi selama 24 jam menggunakan metanol, dipisahkan cair-cair menggunakan heksana, diuapkan pada 55oC. Fraksinasi dilakukan menggunakan aquadest (fraksi 1), etil asetat (fraksi 2) dan methanol (fraksi 3). Uji fitokimia secara kualitatif dengan melihat isi senyawa aktif. Uji Zone of Inhibition (ZOI) dilakukan untuk mengetahui efek kombinasi fraksi fenolik alang-alang dengan antibiotik terhadap S. aureus dengan metode Kirby-Bauer. ZOI diukur menggunakan jangka sorong satuan mm. Interpretasi hasil berdasarkan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test.Hasil: : Pada semua fraksi ditemukan senyawa aktif alkaloid. Kombinasi fraksi 1 (9,26 ± 0,89 mm) dan 3 (7,65 ± 1,88 mm) dengan amoxicillin (9,56 ± 2,37 mm) menunjukkan penurunan zona bening dengan p valeu 0,986 dan 0,175. Fraksi 2 (9,56 ± 1,38 mm) menunjukkan rata-rata yang sama dengan p valeu 1,000. Kombinasi fraksi 1 (13,46 ± 0,23 mm) dengan chloramphenicol (13,26 ± 1,82 mm) menunjukkan peningkatan zona bening dengan p valeu 0,709. Fraksi 2 (10,91 ± 0,31 mm) dan 3 (13,15 ± 0,6 mm) dengan chloramphenicol menunjukkan penurunan zona bening dengan p valeu 0,806 dan 0,851.Kesimpulan: Kombinasi fraksi 1-3 Imperata cylindrica, L. dengan antibiotik amoxicillin atau chloramphenicol terhadap bakteri Staphylococcus memiliki jenis interaksi yang not distinguishable (ND).
KOMBINASI Momordica charantia DENGAN KLINDAMISIN ATAU AMOKSISILIN PADA PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus Muhamad Hudaya Setio Utari; Yoni Rina Bintari; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.007 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Obat Herbal Terstandar (OHT) buah pare (Momordica charantia) merupakan salah satu produk obat herbal yang diklaim bermanfaat sebagai terapi antidiabetes, namun juga memiliki potensi antibakteri yakni sebagai adjuvan antibiotik. Terapi kombinasi herbal dan antibiotik dapat menimbulkan interaksi farmakokinetik seperti sinergis, aditif, potensiasi, not-distinguishable, dan antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri pada kombinasi produk OHT M. charantia dengan klindamisin dan amoksisilin pada koloni Staphylococcus aureus.Metode: Penelitian dilakukan secara in vitro yang mengkombinasikan herbal dengan antibiotik terhadap koloni S. aureus. Produk OHT M. charantia dilarutkan dengan metanol berdasarkan lima variasi dosis: 200.000, 100.000, 50.000, 25.000 dan 12.500 ppm. Kemudian melakukan uji kombinasi dengan klindamisin 2 µg atau amoksisilin 25 µg pada koloni S. aurues menurut metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Analisis data menggunakan uji One-Way Anova  yang dilanjutkan dengan post-test Least Significant Difference (LSD) untuk uji OHT M. charantia dengan klindamisin dan uji Kruskal-Wallis dengan post-test Mann-Whitney untuk uji OHT M. charantia dengan amoksisilin berdasarkan tingkat signifikansi P<0,05.Hasil: Diameter ZOI kombinasi OHT M. charantia dengan amoksisilin 25 µg berinteraksi aditif pada dosis 200.000, 100.000, 50.000, 25.000 dan 12.500 ppm adalah 51,07 ± 1,97; 51,57 ± 1,44; 50,33 ± 1,17; 50,47 ± 2,20 dan 50,80 ± 0,80 mm pada koloni S. aureus. Sedangkan diameter ZOI kombinasi OHT M. charantia dengan klindamisin 2 µg berinteraksi aditif pada dosis 200.000, 100.000, 50.000 dan 25.000 ppm adalah 40,85 ± 1,20; 41,57 ± 2,00; 37,93 ± 2,48 dan 38,73 ± 1,64 mm namun berinteraksi not distinguishable pada dosis 12.500 ppm 35,07 ± 1,01 mm pada koloni S. aureus.Kesimpulan: Kombinasi OHT M. charantia baik dengan amoksisilin 25 µg maupun dengan klindamisin 2 µg berpotensi meningkatkan aktivitas antibiotik dalam menghambat koloni S. aureus.Kata Kunci: Momordica charantia, Adjuvan Antibiotik, Kombinasi Herbal dan Antibiotik
Peran Flavonoid Kelopak Bunga Rosella dalam Perlekatan pada Protein Fimbriae SafD Salmonella enterica serotype Typhi Menggunakan Studi In Silico Ghazi Ghazi; Zainul Fadli; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.01 KB)

Abstract

Pendahuluan: Bakteri Salmonella sp. dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti demam tifoid. Pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman herbal telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun hingga sekarang. Kelopak bunga dari Rosella (Hibiscus sabdariffa) dinilai memiliki manfaat dibidang kesehatan, sehingga banyak dikaji dan diteliti. Manfaat yang didapatkan berasal dari kandungan senyawa aktif yang dimiliki tanaman herbal. Kelopak bunga Rosella mengandung berbagai macam senyawa flavonoid yang memiliki efek anti-adhesi. Namun mekanisme pengikatan senyawa aktif flavonoid pada fimbriae bakteri tersebut belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian mengenai mekanismenya secara in silico perlu untuk dilakukan.Metode: Penambatan senyawa aktif flavonoid kelopak bunga Rosella terhadap protein target SafD Salmonella enterica serotype Typhi dievaluasi secara in silico menggunakan docking server dengan kontrol ciprofloxacin. Paramerter penilaian penambatan dengan menganalisis nilai energi ikatan bebas, konstanta inhibisi, interaksi permukaan dan residu asam amino.Hasil: Senyawa flavonoid kelopak bunga Rosella yang diidentifikasi memiliki afinitas yang tinggi dengan nilai diatas kontrol ciprofloxacin. Senyawa dengan nilai energi ikatan bebas terbaik yaitu Kaempferol-3-O-sabubioside pada protein target fimbriae SafD -9,14 kcal/mol.Kesimpulan: Senyawa aktif flavonoid kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) berpotensi tinggi sebagai anti-adhesi pada protein target fimbriae SafD Salmonella enterica saerotype Typhi.Kata Kunci : Anti-adhesi, Hibiscus sabdariffa, Molecular docking
PENGARUH MENYIKAT MENGGUNAKAN KOMBINASI SIWAK (Salvadora persica) DAN PASTA GIGI TERHADAP Streptococcus mutans Khalfia Abdan Firani; Rio Risandiansyah; Arif Yahya
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.459 KB)

Abstract

Latar Belakang: Tingkat populasi Streptococcus mutans pada rongga mulut memiliki potensi terhadap kesehatan secara sistemik seperti plak ateroma, endokarditis infektif dan aterosklerosis. Sodium Lauryl Sulfat (SLS) dan flouride pada pasta gigi berfungsi sebagai antibakteri. Benzyl isothiocyanate (BITC) yang terdapat pada siwak memiliki fungsi sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah mangamati pengaruh menyikat menggunakan kombinasi siwak (Salvadora persica) dan pasta gigi terhadap bakteri Streptococcus mutans pada saliva dan gingiva.Metode: Penelitian eksperimental dengan desain pre dan post test group. Sejumlah 36 responden dibagi menjadi 2 kelompok, menyikat menggunakan pasta gigi dan menyikat menggunakan kombinasi pasta gigi dan siwak selama 10 hari. Sampel dari saliva dan mukosa gingiva diambil sebelum dan setelah perlakuan dan ditumbuhkan pada media Sucrose Agar. Data dianalisa dengan uji wilcoxon signed ranks test.Hasil: Penyikatan dengan pasta gigi setelah perlakuan meningkatkan jumlah bakteri Streptococcus mutans pada saliva sebesar 3% dan menurunkan pada gingiva sebesar 64%. Penyikatan dengan kombinasi pasta gigi dan siwak setelah perlakuan meningkatkan jumlah bakteri Streptococcus mutans pada saliva 48% dan meningkatkan pada gingiva sebesar 24%.Kesimpulan: Kombinasi menyikat dengan menggunakan siwak dan pasta gigi selama 10 hari tidak mampu menurunkan jumlah bakteri Streptococcus mutans pada sampel saliva dan gingiva.Kata Kunci: Salvadora persica, pasta gigi, Streptococcus mutans
Perbandingan Isolasi DNA Bakteri Escherichia coli dengan Metode Heat Treatment dan Filter Based Kit Berdasarkan Nilai Limit of Detection dan Limit of Quantification Brillian Nur Muhammad; Zainul Fadli; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.111 KB)

Abstract

Introduction: One simple and rapid DNA isolation method is by heat treatment. However, it unknown whether the result of this method has the same quality compared to the more commonly used filter based kit. This research aims compare heat treatment and filter based kit DNA isolation methods based on its limit of detection (LOD) and limit of quantification (LOQ) from DNA isolation yield from E. coli.Method: This research is an in vitro laboratorium experimental research method. The E. coli concentration in this study is obtained through purposive samplingwith a concentration of 101 – 104 CFU/ml. Heat treatment and filter based kit method are DNA isolation methods used in this study. The data analysis uses ANOVA and Least Significant Diference (LSD) test.Result: Optimal yield of heat treatment method was found at a bacterial concentration of 10.000 CFU/ml (p=0.000) and 1000 CFU/ml (p=0.002). While the optimal yield of filter based kit was found at 10.000 CFU/ml (p=0.003), 1000 CFU/ml (p=0.009) and 100 CFU/ml (p=0.033). The purity value of both heat treatment and filter based kit method did not reach 1,7-2,0. The heat treatment's LOD was 2,39 ng/µl, while the filter based kit's LOD was 4,06 ng/µl. The heat treatment's LOQ was 6, 43 ng/µl, while the filter based kit's LOQ was 8, 10 ng/µl.Conclusion: According to limit of detection, the heat treatment method has the minimum bacterial concentration of 1000 CFU/ml. Whereas, the filter based kit method has the minimum bacterial concentration of 10 CFU/ml. Based on the method comparison, filter based kit method has higher yield than heat treatment method. Keyword: DNA isolation, heat treatment, filter based kit, Escherichia coli
EFEK PAPARAN KRONIK CADMIUM CHLORIDE (CdCl2) DOSIS RENDAH TERHADAP HIPERPLASIA LAMELA SEKUNDER INSANG DAN NEKROSIS SEL TUBULUS PROKSIMAL GINJAL IKAN ZEBRA DEWASA (Danio rerio) Evilya Fitra Indriana; Rio Risandiansyah; Noer Aini
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.72 KB)

Abstract

Introduction: Cadmium (Cd) is a toxic heavy metal, and can water soluble. Chronic low-dose exposure of the metal causes disturbances on the respiratory system and kidneys. In adult zebrafish the toxic effect causes hyperplasia gill and necrotic nuclei of kidney cell in adult fish. This research studies the effect of chronic toxicity of CdCl2 on secondary lamella of gills and kidney cell nucleus in zebrafish  exposed to CdCl2 since juvenile phase to adulthood.Methods: Juvenile zebrafish (Danio rerio), age 3 months, were divided into 4 groups, namely the control group, 3 groups receiving CdCl2 dose of 0,5 ppm, 1 ppm, and 1,5 ppm respectively, for 30 days. Hiperplasia secondary lamella of gills and necrotic nuclei of kidney cells were histologically observed. Prior to the observations the gill and kidney were stained by HE. Secondary lamella gill data were tested by One-Way Anova followed by Post Hoc Tests, data of renal proximal tubular cell nuclei necrosis was tested by Kruskal Wallis followed by Mann Whittney test (p <0.05).Results: Exposure to CdCl2 doses of 0,5 ppm, 1 ppm, and 1,5 ppm significantly increased the amount of hyperplasia secondary lamella of the gills by 67%, 78%, and 86% respectively compared to those of the control group. Exposure to CdCl2 doses of 0.5 ppm, 1 ppm, and 1.5 ppm significantly increased the core necrosis of kidney cells nucleus in adult zebrafish 75%, 79%, and 84% compared to the control group.Conclusion: Exposure to CdCl2 doses of 0.5 ppm, 1 ppm, and 1.5 ppm increases the number of hyperplasia secondary lamella of gills and necrotic nuclei of kidney cells adult zebrafish.Keywords: Cadmium chloride (CdCl2), secondary lamella hyperplasia of gills, kidney cell nucleus necrosis, adult zebrafish.