Articles
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA FISIK TERHADAP STRES KERJA DI PT PURADELTA LESTARI TBK (DELTAMAS)
Hoki Heriyono Putra;
Reza Fahlevi;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v6i1.414
Penelitian ini menganalisis data dan hasil pengujian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa lingkungan kerja fisik memiliki pengaruh negatif terhadap stres kerja karyawan di PT Pura Delta Lestari Tbk (Deltamas). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi fisik lingkungan kerja, seperti kebersihan, pencahayaan, suhu, dan kebisingan, secara signifikan memengaruhi tingkat stres yang dialami oleh karyawan. Lingkungan kerja yang kurang ideal dapat meningkatkan tekanan dan ketidaknyamanan, sehingga berkontribusi pada meningkatnya stres kerja. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan dan mengelola aspek fisik dari lingkungan kerja guna mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.
PENGARUH REWARD DAN RECOGNITION TERHADAP EMPLOYEE ENGAGEMENT KARYAWAN DALAM BEKERJA DI PT X
Agnes Agitza Jaya;
Reza Fahlevi;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v6i1.423
Penelitian ini menganalisis pengaruh reward recognition terhadap employee engagement pada karyawan divisi Sales PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh signifikan reward recognition terhadap employee engagement. Temuan lainnya mengungkap bahwa pengaruh reward recognition terhadap employee engagement adalah sebesar 29%, sedangkan 71% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi reward recognition meliputi: (1) Kesesuaian reward dengan kebutuhan karyawan, (2) Konsistensi dalam pemberian reward dan recognition, (3) transparansi dan keterbukaan, serta (4) recognition atas kontribusi yang signifikan (Latham & Pinder, 2005). Karyawan di divisi Sales PT X umumnya memiliki tingkat employee engagement dan reward recognition yang tinggi, dimana karyawan dengan reward recognition lebih tinggi cenderung memiliki employee engagement yang lebih tinggi, dan sebaliknya. Penelitian ini merekomendasikan agar penelitian selanjutnya mempertimbangkan faktor lain selain reward recognition, seperti variabel in role dan extra role behavior, serta menambahkan indikator dan referensi yang lebih beragam untuk memperluas cakupan penelitian, khususnya dalam konteks industri yang lebih luas.
PENGARUH ATTACHMENT STYLE TERHADAP LEADERSHIP STYLE KARYAWAN DI PT. X
Sefi Buana Putri;
Debora Basaria;
Reza Fahlevi
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v6i1.441
Penelitian ini menganalisis data dan hasil pengujian terhadap gaya attachment dan kepemimpinan karyawan di PT.X. Hasil menunjukkan bahwa 50,48% karyawan memiliki gaya attachment tipe Anxiety dalam kategori rendah, sedangkan 43,81% memiliki gaya attachment tipe Avoidant dalam kategori sedang. Kecenderungan gaya kepemimpinan Transformasional berada dalam kategori tinggi sebesar 78,10%, Transaksional dalam kategori sedang sebesar 61,90%, dan Laissez-faire dalam kategori rendah sebesar 61,90%. Gaya attachment dimensi Anxiety memiliki korelasi signifikan positif kuat dengan gaya kepemimpinan Transformasional, Transaksional, dan Laissez-faire. Gaya attachment dimensi Avoidant berkorelasi signifikan positif sangat kuat dengan gaya kepemimpinan Transaksional. Secara keseluruhan, gaya attachment dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan dan mampu menjelaskan 78,4% variasi dalam gaya kepemimpinan.
KEBAHAGIAAN PADA REMAJA DI DESA TS INDRAMAYU YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA
Nur Syayidah, Naulia;
Debora Basaria
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i1.22319.2023
Kasus perceraian di Indonesia mengalami peningkatan di tahun 2021. Salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus tersebut adalah Kota Indramayu. Perceraian yang terjadi memberikan dampak bagi remaja yang mengalaminya. Dampak tersebut dapat berpengaruh kepada kebahagiaan remaja setelah perceraian orang tua. Menurut Seligman (2002), kebahagiaan berasal dari identifikasi dan pengembangan kekuatan individu paling mendasar yang digunakan setiap hari. Kebahagiaan memiliki tiga aspek yaitu positive emotion, engagement, dan meaning. Selain itu, kebahagiaan juga dipengaruhi oleh faktor keadaan individu seperti faktor keadaan internal dan faktor keadaan eksternal. Jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah snowball sampling dengan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada tiga subjek berusia 15-18 tahun yang mengalami perceraian orang tua lebih dari tiga tahun dan tinggal di Desa TS. Subjek terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki yang berada pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hasil penelitian menunjukkan ketiga subjek memiliki ketiga aspek kebahagiaan dalam dirinya dan memiliki faktor keadaan internal serta eksternal setelah orang tua bercerai.
GAMBARAN KECEMASAN SOSIAL SEBAGAI DAMPAK DARI POLA ASUH YANG DITERIMA (STUDI KASUS PADA DEWASA AWAL)
Adelia Yulindasari;
Debora Basaria;
Willy Tasdin
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v6i2.678
Penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih lanjut mengenai gambaran kecemasan sosial sebagai dampak dari pola asuh yang diterima pada dewasa awal. Pola asuh merupakan cara orang tua merawat dan mendidik anak dengan tujuan membentuk karakter kepribadian anak. Orang tua di Indonesia saat ini masih banyak yang mengasuh anak mereka hingga dewasa, disertai dengan memberikan kontrol atau kebebasan yang berlebihan. Hal tersebut membuat anak memiliki perasaan mampu mengelola diri yang rendah, hingga mengalami kecemasan sosial. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 391 orang, dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan dalam penelitian ini mengalami kecemasan sosial saat sedang diperhatikan ketika melakukan suatu pekerjaan. Partisipan yang mengalami kecemasan paling banyak berasal dari pola pengasuhan permisif, disusul oleh otoriter dan otoritatif. Berdasarkan data uji beda, didapatkan bahwa partisipan yang berada pada usia pertengahan dewasa awal memiliki tingkat kecemasan sosial yang tinggi, seperti partisipan yang berusia 30 tahun keatas dan telah menempuh pendidikan S-2.
GAMBARAN KECEMASAN SOSIAL SEBAGAI DAMPAK DARI POLA ASUH YANG DITERIMA (STUDI KASUS PADA DEWASA AWAL)
Adelia Yulindasari;
Debora Basaria;
Willy Tasdin
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v6i2.678
Penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih lanjut mengenai gambaran kecemasan sosial sebagai dampak dari pola asuh yang diterima pada dewasa awal. Pola asuh merupakan cara orang tua merawat dan mendidik anak dengan tujuan membentuk karakter kepribadian anak. Orang tua di Indonesia saat ini masih banyak yang mengasuh anak mereka hingga dewasa, disertai dengan memberikan kontrol atau kebebasan yang berlebihan. Hal tersebut membuat anak memiliki perasaan mampu mengelola diri yang rendah, hingga mengalami kecemasan sosial. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 391 orang, dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan dalam penelitian ini mengalami kecemasan sosial saat sedang diperhatikan ketika melakukan suatu pekerjaan. Partisipan yang mengalami kecemasan paling banyak berasal dari pola pengasuhan permisif, disusul oleh otoriter dan otoritatif. Berdasarkan data uji beda, didapatkan bahwa partisipan yang berada pada usia pertengahan dewasa awal memiliki tingkat kecemasan sosial yang tinggi, seperti partisipan yang berusia 30 tahun keatas dan telah menempuh pendidikan S-2.
ANALISIS KORELASI ANTARA PERILAKU IMPULSIVE BUYING DENGAN SUBJECTIVE WELL BEING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL
Jollyn;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v5i2.131
Berkembangnya dunia pemasaran membuat banyak Perusahaan yang melakukan pemasaran dengan ide-ide yang unik dan dapat menarik pelanggan untuk membeli barang produksinya. Hal ini juga menyebabkan kemunculan fenomena impulsive buying, menurut beberapa studi impulsive buying sendiri dapat menimbulkan emosi negatif bagi individu sehingga memiliki dampak yang buruk untuk kehidupan sehari-hari. Impulsive buying sendiri juga sering dialami oleh individu dewasa awal. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara impulsive buying dengan subjective well-being pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara online sesuai kebutuan peneliti. Partisipan dari penelitian ini juga terdiri dari 366 partisipan yang memiliki rentang umur 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur impulsive buying adalah Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) sedangkan subjective well-being menggunakan alat ukur Satisfaction with life scale (SWLS) dan positive affect and negative affect scale (PANAS). Hasil penelitian yang didapat juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perilaku impulsive buying dengan subjective well-being, dengan nilai r= -.140 dan p= .007 < .05. Hasil lain yang didapatkan juga terdapat hubungan positif antara impulsive buying dengan emosi negatif dan terdapat hubungan yang negatif antara impulsive buying dengan kepuasan hidup dan emosi positif. Hal ini menyatakan bahwa semakin rendah impulsive buying maka semakin tinggi subjective well-being.
ANALISIS KORELASI GAYA PENGASUHAN ORANG TUA DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING REMAJA GENERASI Z
Liani Cynthia;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v5i2.211
Asuh dibedakan menjadi empat tipe, yaitu pola asuh otoritatif, pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh neglectful. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua dalam tumbuh kembang individu akan membentuk karakteristik individu di kemudian hari. Maka, bimbingan dan intervensi yang baik diperlukan untuk menciptakan suatu perkembangan yang baik pada individu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan psychological well-being generasi Z. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan teknik non-probability sampling, yaitu convenience sampling dan snowball sampling untuk mengambil sampel secara online. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 371 orang dengan rentang usia 18 dan 19 tahun yang tersebar di berbagai domisili tempat. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Adolescent Parenting Attitude Four Factor Questionnare dari Shyny Y. (2017) dan Psychological Well-Being Scale dari Ryff. Keduanya diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia melalui expert judgement. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan dan positif antara pola asuh orang tua dengan psychological well-being remaja generasi Z dengan nilai r = .524 dan p = .000 < .05. Oleh karena itu, semakin tinggi pola asuh orang tua yang diberikan, maka semakin tinggi psychological well-being individu dan begitu juga sebaliknya.
ANALISIS KORELASI ANTARA FUTURE ANXIETY DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR
Queeny Callista;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v5i2.212
Beberapa penelitian menemukan bahwa mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi cenderung merasakan yang dinamakan kecemasan akan masa depan (future anxiety). Fenomena ini umum terjadi dikarenakan usia ini adalah usia awal untuk mulai memiliki pekerjaan dan keluarga. Mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi adalah kelompok individu yang akan mendominasi kelompok kerja kita di beberapa tahun yang akan datang, sehingga fungsi sosial dan keadaan psikologis mereka sangat perlu kita perhatikan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara future anxiety dengan psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan Teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara online sesuai kebutuhan peneliti. Partisipan dari penelitian ini terdiri dari 377 partisipan yang memiliki rentang umur 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur Future Anxiety adalah Future Anxiety Scales (FAS) sedangkan psychological well-being menggunakan alat ukur psychological well-being scales. Hasil penelitian yang didapat juga menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara perilaku future anxiety dengan psychological well-being, dengan nilai r= .523** dan p= .000 < .05. Hal ini juga berarti semakin tinggi future anxiety maka semakin rendah psychological well-being, dan semakin rendah future anxiety maka akan semakin tinggi rasa psychological well-being pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi.
ANALISIS KORELASI SELF COMPASSION DENGAN PSYCHOLOGICAL WELLBEING PADA ANAK SULUNG PEREMPUAN DEWASA AWAL
Fifian Prahayuningtyas;
Debora Basaria
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v5i2.219
Pada sebuah keluarga, anak berperan menjadi sumber bahagia dan harapan utama bagi orang tuanya. Terdapat pengaruh tertentu dalam perkembangan bagi setiap anak yang dilahirkan berdasarkan dengan urutan kelahirannya. Subjek penelitian ini yaitu anak sulung perempuan dewasa awal dengan jumlah subjek partisipan 386 orang. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu mengkaji hubungan self compassion terhadap psychological well-being anak sulung perempuan dewasa awal. Penelitian ini dilaksanakan memanfaatkan angket berbentuk gform yang diberikan lewat social media. Kuesioner ini diberikan untuk mengukur 2 variabel penelitian diantaranya self compassion scale menggunakan Cronbach’s Alpha yakni 0.904. Sementara itu, variabel psychological well being mendapatkan Cronbach’s Alpha yakni 0.894. Analisa data berupa uji korelasi dalam mengkaji hubungan self compassion terhadap psychological well being anak sulung perempuan dewasa awal, dengan hasil skor r = 0,777 dan p=<0,00. Menurut data itu, menunjukkan adanya hubungan diantara kedua variabel. Dengan demikian, bisa disimpulkan peneliti yaitu tinggi rendahnya self compassion seseorang akan mempengaruhi dan sejalan dengan tingkat psychological well being orang tersebut. Semakin tinggi tingkat self compassion yang dimiliki individu, semakin tinggi juga psychological well-being yang dimiliki individu tersebut, begitu juga sebaliknya.