Ery Olivianto
Divisi Respirologi-Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : sari pediatri

Hubungan Pemakaian Steroid Inhalasi dengan Osteoporosis pada Pasien Asma Anak Tjahjono, Harjoedi Adji; Sayyaf Haydar, Farel Muhammad; Yuliarto, Saptadi; Olivianto, Ery
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.158-63

Abstract

Latar belakang. Asma merupakan penyakit saluran napas akibat adanya peradangan kronis pada saluran napas yang sering terjadi pada anak-anak dengan prevalensi mencapai 20%. Steroid merupakan anti-inflamasi yang dinilai paling efektif dalam terapi penyakit peradangan kronis seperti asma. Akan tetapi, penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa steroid memiliki potensi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang atau osteoporosis. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemakaian steroid inhalasi dengan osteoporosis pada pasien asma anak. Metode. Studi observasional analitik ini menggunakan desain penelitian cross-sectional terhadap 13 pasien asma anak yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar, Malang, yang didapat melalui purposive sampling. Pasien asma anak yang memenuhi kriteria inklusi dalam rentang usia 5-18 tahun serta telah menjalani pengobatan steroid inhalasi minimal 3 bulan dilakukan pemeriksaan bone mass density (BMD) melalui alat dual energy x-ray absorptiometry (DXA) kemudian dicatat hasil z-score. Analisis data menggunakan metode korelasi Rank Spearman untuk variabel bebas, yaitu dosis steroid inhalasi dan durasi pemakaian steroid inhalasi dengan variabel terikat yaitu nilai z-score BMD. Hasil. penelitian ini didapatkan hubungan signifikan berkorelasi negatif kuat antara dosis steroid inhalasi kumulatif dengan nilai z-score BMD (p=0.000, r=-0.827) dan hubungan signifikan berkorelasi negatif sedang antara durasi pemakaian steroid inhalasi dengan nilai z-score BMD (p=0.043, r=-0.568). Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemakaian steroid inhalasi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang dan berisiko menyebabkan osteoporosis.
Manifestasi Sindrom Metabolik pada Berbagai Regimen Dosis dan Durasi Terapi Steroid pada Anak dan Remaja Tjahjono, Harjoedi Adji; Labetubun, Nia Sahra; Permadi, Prasetya Ismail; Olivianto, Ery; Wibowo, Satrio
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.371-6

Abstract

Latar belakang. Penggunaan steroid jangka panjang pada anak dengan penyakit kronis berisiko memicu efek samping metabolik serius, namun saat ini masih terdapat kesenjangan data mengenai bagaimana dosis spesifik memengaruhi komponen sindrom metabolik secara individual pada populasi pediatrik. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dosis dan lama terapi steroid terhadap manifestasi klinis sindrom metabolik pada anak dan remaja, dengan fokus mengevaluasi hubungan antara dosis steroid dan lama terapi terhadap obesitas sentral, tekanan darah, kadar glukosa, serta profil lipid. Metode. Pendekatan penelitian menggunakan desain observasional analitik cross sectional pada lima puluh lima subjek anak yang menerima terapi steroid di Rumah Sakit Dokter Saiful Anwar Malang. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan antropometri, pengukuran tekanan darah, serta uji laboratorium profil lipid dan glukosa darah puasa. Hasil. Paparan steroid dosis tinggi memiliki nilai statistik signifikan terhadap kejadian sindrom metabolik dengan nilai p sebesar 0,03. Manifestasi yang berhubungan signifikan dengan paparan dosis tinggi adalah obesitas sentral dengan nilai p sebesar 0,02. Sebaliknya, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada parameter tekanan darah, glukosa darah, dan profil lipid antarkelompok paparan. Pemberian kombinasi terapi steroid secara intravena dan peroral juga menunjukkan hubungan bermakna terhadap manifestasi hipertrigliseridemia dengan nilai p sebesar 0,02. Kesimpulan. Terapi steroid paparan tinggi terbukti meningkatkan risiko obesitas sentral meskipun komponen metabolik lainnya belum menunjukkan perubahan bermakna. Praktisi klinis disarankan melakukan pemantauan lingkar pinggang dan antropometri lainnya secara rutin selama masa terapi steroid untuk memantau risiko sindrom metabolik.