Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Aplikasi pendekatan metode probabilistik dalam menentukan match factor alat mekanis di PT Sinar Nirwana Sari Eko Santoso; Nuri Pirnia Sari; Karina Shella Putri; Adip Mustofa
Jurnal Himasapta Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 02 Agustus 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v8i2.9946

Abstract

Ketidakpastian nilai keserasian alat yang diakibatkan oleh bervariasinya data cycle time akan menyebabkan rata-rata nilai keserasian alat yang dihasilkan kurang sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Penelitian ini mengaplikasikan metode probabilistik yaitu Monte Carlo pada penentuan keserasian alat. Perhitungan nilai probabilitas match factor (MF) dilakukan untuk mengetahui kemungkinan nilai keserasian alat sama dengan satu, kurang dari satu dan lebih dari satu dan kemudian dapat diketahui rentang cycle time yang optimal untuk alat angkut dan alat gali muat. Hasil yang didapatkan pada MF1, probabilitas nilai MF < 0,8 adalah 99,1%, 0,8 < MF ≤ 1 adalah sebesar 0,9% (dari fungsi log logistik) dan MF > 1 adalah 0%. Pada MF2, probabilitas nilai MF < 0,8 adalah 78,8% (dari fungsi logistik) dan 0,8 < MF ≤ 1 adalah sebesar 18,2% (dari fungsi logistik) dan MF > 1 adalah 3%. Probabilitas menggunakan dua kali standar deviasi (MF2) yang dipakai untuk menentukan rentang cycle time alat angkut maupun alat gali muat yang perlu dijaga agar lebih optimal dalam bekerja. Rentang cycle time yang optimal untuk mendapatkan 0,8 < MF ≤ 1 adalah 900-1300 detik untuk alat angkut dan 15-35 detik untuk alat gali muat.
Determination of the Optimum Stiffness Ratio to Achieve Optimal Blasting Fragmentation Muhamad Athoriqi; Eko Santoso; Annisa Annisa; Satrio Ramadhan; Muhammad Fajerin Dinata
Jurnal Himasapta Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Himasapta Volume 11 Nomor 1
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v11i1.18496

Abstract

PT Adaro Indonesia operates in the coal mining industry, where overburden stripping is a critical stage of the production process. In several areas, this activity is carried out using drilling and blasting methods. The success of blasting operations can be evaluated through indicators such as the achievement of production targets, explosive efficiency, the quality of rock fragmentation, and potential environmental impacts. Optimal fragmentation is essential because it directly affects the efficiency of subsequent loading and hauling operations. One important parameter influencing fragmentation quality is the stiffness ratio used in blasting design. According to Decree of the Minister of Energy and Mineral Resources No. 1827 of 2018, the stiffness ratio is defined as the ratio between blast hole depth and burden distance. Theoretically, higher stiffness ratio values tend to produce better fragmentation. This study was conducted in the operational area of PT Adaro Indonesia by measuring actual blasting geometries in the field, with observations carried out on six blasting events. The results show that stiffness ratio values of 0.90, 0.98, 1.05, 1.18, and 1.21 produced rock fragmentation exceeding 85%. Among these, stiffness ratios of 1.21 and 1.18 generated the most optimal fragmentation performance. These findings highlight the importance of proper stiffness ratio design to improve blasting effectiveness and operational efficiency.
Analisis Korelasi antara Ground Vibration dengan Fragmentasi Aktual Hasil Peledakan pada PT Borneo Alam Semesta Jobsite PT Binuang Mitra Bersama Sukma Afifah; Eko Santoso; Romla Noor Hakim
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.5862

Abstract

ABSTRAKFragmentasi dan ground vibration merupakan indikator penting hasil peledakan. Fragmentasi yang distribusi ukuran fragmen dan ground vibration yang dinyatakan dengan nilai PPV (peak particel velocity), harus memenuhi kriteria dan ambang batas yang efektif dan aman. Usaha pencapaian target distribusi fragmentasi seringkali berbenturan dengan upaya untuk mencegah tingginya tingkat ground vibration. Oleh karena itu, pada penelitian ini korelasi antara ukuran fragmen dan PPV dikaji tingkat pengaruh dan korelasinya. Korelasi tersebut adalah antara besar energi yang dilepaskan saat peledakan dengan ukuran fragmentasi juga nilai getaran tanah yang dihasilkan. Sebagaimana hipotesa awal dari penelitian ini adalah “PPV yang semakin besar dihasil dari energi yang semakin besar dan energi yang semakin besar akan menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil, maka seharusnya semakin besar PPV menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil”. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data berupa nilai PPV ground Vibration terbesar di setiap peledakan, juga pengambilan foto beraian batuan hasil peledakan. Image anlaysis menggunakan aplikasi Split Dekstop dilakukan terhadap foto-foto beraian batuan hasil peledakan guna mendapatkan distribusi fragmentasi aktual, dengan output distribusi fragmentasi aktual berupa persentase fragmen berukuran kurang dari 50 cm dan persentase boulder. Setelah didapatkan nilai PPV Ground Vibration tertinggi, analisis korelasi linear dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel PPV maksimum dan persentase fragmen berukuran < 50 cm. Nilai PPV ground vibration selama penelitian berkisar antara 0,49 mm/s sampai 1,56 mm/s. Data ukuran fragmen aktual rata-rata baik, boulder kurang dari 15%. Korelasi antara Ground Vibration terhadap fragmentasi batuan size  kurang dari 50 cm membentuk hubungan linear dengan persamaan y = 8,5967x + 79,237, dengan koefisien determinasi R2 = 0,5359. Artinya, keduanya memiliki hubungan yang positif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar, maka persentase fragmentasi size kurang dari 50 cm semakin banyak. Apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil, maka persentase fragmentasi batuan size kurang dari 50 cm semakin sedikit. Korelasi antara ground vibration terhadap persentase fragmentasi batuan boulder berupa hubungan linear dengan persamaan y = -8,5967x + 20,763. Artinya, memiliki hubungan yang negatif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar maka persentase fragmentasi boulder semakin kecil, apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil maka persentase fragmentasi boulder semakin besar. Kata-kata kunci: Peledakan, getaran, fragmentasi, korelasi linier ABSTRACTFragmentation and ground vibration are critical indicators of blasting performance. Fragmentation, represented by the fragment size distribution, and ground vibration, quantified by the Peak Particle Velocity (PPV), must both satisfy effective and safe operational thresholds. However, efforts to achieve optimal fragmentation distribution often conflict with the necessity to minimize excessive ground vibration levels. This study investigates the correlation between fragment size and PPV, examining both the influence and degree of their relationship. The correlation is assessed based on the energy released during blasting and its simultaneous effect on fragmentation size and ground vibration intensity. The initial hypothesis of this research posits that: “Larger PPV values result from higher explosive energy, and higher energy levels produce finer fragmentation; therefore, higher PPV should be associated with smaller fragment sizes.” The research began with data collection, including the highest PPV value recorded in each blast and photographs of blasted rock piles. Image analysis was conducted using Split-Desktop software to determine the actual fragmentation distribution. The outputs include the percentage of fragments smaller than 50 cm and the percentage of boulders. Subsequently, a linear correlation analysis was performed between maximum PPV and the percentage of fragments smaller than 50 cm. During the study, PPV values ranged from 0.49 mm/s to 1.56 mm/s. Overall, the actual fragment size distribution was satisfactory, with boulders accounting for less than 15%. The correlation between ground vibration (PPV) and the percentage of fragments smaller than 50 cm showed a positive linear relationship, described by the equation: y = 8.5967x + 79.237, with a coefficient of determination R² = 0.5359. This indicates that an increase in PPV is associated with a higher percentage of fragments smaller than 50 cm. Conversely, lower PPV values correspond to a reduced proportion of fine fragmentation. On the other hand, the correlation between PPV and the percentage of boulders exhibited a negative linear relationship, described by the equation: y = -8.5967x + 20.763. This implies that higher PPV values result in a lower proportion of boulders, while lower PPV values lead to a higher boulder content. Keywords: Blasting, Fragmentation, Ground Vibration, Linear Correlation 
Perancangan pit dan penjadwalan tambang batubara menurut analisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio Diyan Adiatma; Eko Santoso; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18170

Abstract

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor usaha yang memiliki potensi pendapatan tinggi, namun juga diikuti oleh tingkat risiko yang besar. Risiko tersebut dapat berasal dari fluktuasi kondisi ekonomi, khususnya perubahan harga komoditas, serta keterbatasan dan karakteristik bahan galian yang ditambang. Oleh karena itu, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, diperlukan beberapa alternatif desain pit agar rencana penambangan dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang terjadi selama umur tambang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio (BESR) sebagai kriteria utama dalam perancangan Pit Alfa, merancang Pit Alfa berdasarkan tiga nilai BESR, serta menyusun penjadwalan penambangan untuk masing-masing desain pit. Analisis sensitivitas dilakukan dengan memvariasikan nilai BESR sebesar ±10%. Alternatif rancangan pit disusun dalam tiga skenario, yaitu kondisi yang diharapkan, kondisi peningkatan sebesar 10%, dan kondisi penurunan sebesar 10%. Perancangan pit dilakukan menggunakan perangkat lunak Minescape dengan model topografi dan endapan batubara yang telah tersedia. Geometri lereng Pit Alfa mengikuti geometri lereng yang diterapkan pada Pit Clara. Tahapan penambangan dirancang untuk memenuhi target produksi sebesar 50.000 ton batubara per bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa BESR paling sensitif terhadap perubahan harga batubara. Pada harga batubara USD 42,39/ton, Pit Alfa dirancang dengan BESR 5,31, menghasilkan luas pit 24,4 ha, cadangan batubara 770.135 ton, dan umur tambang 14 bulan. Pada kondisi harga turun 10%, BESR sebesar 4,24 menghasilkan luas pit 18,2 ha, cadangan 546.884 ton, dan umur tambang 11 bulan. Sebaliknya, pada harga naik 10%, BESR sebesar 6,39 menghasilkan luas pit 30 ha, cadangan 936.780 ton, dan umur tambang 18 bulan. Kata kunci : analisis sensitivitas, BESR, penjadwalan tambang, perancangan pit ABSTRACTThe mining sector is one of the industries with high revenue potential; however, it is also associated with significant risks. These risks arise from fluctuations in economic conditions, particularly changes in commodity prices, as well as the availability and characteristics of the mined mineral resources. Therefore, prior to mining operations, several alternative pit designs must be prepared to allow flexibility in adapting to economic conditions throughout the mine life.This study aims to analyse the sensitivity of the Break Even Stripping Ratio (BESR) as a key criterion in the design of Pit Alfa, to develop Pit Alfa designs based on three BESR values, and to establish mining schedules for each pit design. The sensitivity analysis was conducted by varying the BESR parameter by ±10%. Three pit design scenarios were evaluated, representing the expected condition, a 10% increase, and a 10% decrease.Pit design was performed using Minescape software, utilizing available topographic and coal deposit models. The slope geometry of Pit Alfa was designed to follow the slope geometry applied at Pit Clara. Mining stages were developed to achieve a production target of 50,000 tons of coal per month.The results indicate that BESR is most sensitive to changes in coal price. At a coal price of USD 42.39 per ton, Pit Alfa was designed with a BESR of 5.31, resulting in a pit area of 24.4 ha, coal reserves of 770,135 tons, and a mine life of 14 months. When coal prices decrease by 10%, a BESR of 4.24 produces a pit area of 18.2 ha, coal reserves of 546,884 tons, and a mine life of 11 months. Conversely, when coal prices increase by 10%, a BESR of 6.39 yields a pit area of 30 ha, coal reserves of 936,780 tons, and a mine life of 18 months. Keywords: sensitivity analysis, break even stripping ratio, mine scheduling, pit design
Estimasi biaya operasional kegiatan coal getting dan match factor Komatso PC400 pada PT Semesta Centramas Meilita Sari; Eko Santoso; Karina Shella Putri; Satrio Ramadhan
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.17962

Abstract

 ABSTRAK Pencapaian target produksi pada kegiatan penggalian batubara sangat dipengaruhi oleh produktivitas peralatan serta keseimbangan antara unit muat dan unit angkut, yang dikenal sebagai match factor. Match factor yang tidak sesuai dapat menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai kondisi match factor terhadap produktivitas dan biaya operasi guna menentukan konfigurasi peralatan yang paling optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis match factor untuk mengevaluasi alternatif komposisi peralatan. Operasi penambangan menggunakan satu unit excavator PC400 dengan kapasitas bucket 2,2 m³ sebagai alat muat dan dump truck Hino DT500 sebagai alat angkut dengan kapasitas muatan 20 ton dan 30 ton. Tiga skenario operasi dianalisis, yaitu kondisi under-trucking (match factor = 0,8), kondisi serasi (match factor = 1,0), dan kondisi over-trucking (match factor = 1,1). Perhitungan produktivitas dan biaya operasional dilakukan untuk masing-masing skenario. Pada kondisi under-trucking, produktivitas yang dihasilkan sebesar 189,22 ton/jam atau 95% dari target produksi. Kondisi seimbang menghasilkan produktivitas sebesar 216,84 ton/jam (109% dari target), sedangkan kondisi over-trucking menghasilkan produktivitas tertinggi sebesar 227,64 ton/jam (115% dari target). Biaya operasional masing-masing kondisi berturut-turut adalah USD 0,03745/ton, USD 0,003357/ton, dan USD 0,00361/ton. Meskipun kondisi over-trucking menghasilkan produktivitas tertinggi, kondisi seimbang memberikan biaya operasional terendah. Biaya paling optimal sebesar USD 0,003357/ton dicapai dengan penggunaan sepuluh unit dump truck berkapasitas muatan 30 ton, yang menunjukkan bahwa match factor yang seimbang memberikan kombinasi terbaik antara produktivitas dan efisiensi biaya. Kata-kata Kunci: faktor keserasian, produktivitas, biaya operasi  ABSTRACTThe achievement of production targets in coal getting activities depends on equipment productivity and the balance between loading and hauling units, commonly expressed by the machinery match factor. An inappropriate match factor can reduce efficiency and increase operational costs. This study evaluates the influence of different match factor conditions on productivity and operating costs in order to identify the most optimal equipment configuration. This study applied quantitative match factor analysis to assess alternative equipment compositions. The mining operation utilizes a PC400 excavator with a bucket capacity of 2.2 m³ as the loading unit and Hino DT500 dump trucks as hauling units with payload capacities of 20 tons and 30 tons. Three operating scenarios were analyzed: under-trucking (match factor = 0.8), matched condition (match factor = 1.0), and over-trucking (match factor = 1.1). Productivity and operational cost calculations were performed for each scenario. Under the under-trucking condition, productivity reached 189.22 tons/hour, equivalent to 95% of the production target. The matched condition resulted in a productivity of 216.84 tons/hour (109% of target), while the over-trucking condition achieved the highest productivity of 227.637 tons/hour (115% of target). Operational costs were USD 0.03745/ton, USD 0.003357/ton, and USD 0.00361/ton for under-trucking, matched, and over-trucking conditions, respectively. Although over-trucking produced the highest productivity, the matched condition yielded the lowest operational cost. The most optimal cost of USD 0.003357/ton was achieved using ten dump trucks with a payload capacity of 30 tons, indicating that a balanced match factor provides the best trade-off between productivity and cost efficiency. Keywords: match factor, productivity, operation costs
Kajian powder factor peledakan terhadap fragmentasi hasil peledakan pada pit Aster PT Madhani Talatah Nusantara Risky Amrullah; Eko Santoso; Satrio Ramadhan; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.16338

Abstract

Powder Factor (PF) adalah salah satu faktor yang sangat diperhatikan dalam suatu kegiatan peledakan. Powder Factor (PF) adalah perbandingan antara jumlah bahan peledak yang digunakan terhadap volume batuan yang akan diledakkan. Pada kegiatan peledakan nilai powder factor ini dijadikan suatu acuan dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan. Dari nilai powder factor ini, akan mempengaruhi beberapa faktor diantaranya fragmentasi batuan hasil peledakan dan digging time alat gali muat.Metode analisis fragmentasi batuan hasil peledakan yang digunakan adalah dengan menggunakan software split desktop 2.0 untuk mengetahui nilai persentase fragmentasi aktual peledakan. Peledakan overburden pada PT Madhani Talatah Nusantara menetapkan standar nilai powder factor yakni 0,17 – 0,24 Kg/m3 dan persentase fragmentasi ukuran boulder ≥ 117 cm yang ditargetkan tidak lebih dari 15%. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 7 hari peledakan, didapatkan nilai powder factor berada pada 0,21 – 0,24 Kg/m3. Kemudian fragmentasi aktual boulder ≥ 117 cm didapatkan persentase rata-rata sebesar 0.1% dan sudah memenuhi standar perusahaan. Ditinjau dari fragmentasi batuan aktual setelah dilakukan uji coba peledakan dengan nilai PF 0,21 sampai 0,24 didaptkan  nilai powder factor yang paling optimal adalah 0,21 Kg/m3. ABSTRACTPowder Factor (PF) is one of factors that is highly considered in blasting activities. Powder Factor (PF) is the ratio between amount of explosives used and volume of rock to be blasted. In blasting operations, Powder Factor value serves as a benchmark for assessing the success of a blasting operation. This value influences several factors, including fragmentation of the blasted rock and digging time of excavation equipment.The method used to analyze rock fragmentation resulting from blasting is to use Split Desktop 2.0 software to determine actual percentage of fragmentation from blasting. Blasting of overburden at PT Madhani Talatah Nusantara sets the standard powder factor value at 0.17–0.24 kg/m³ and targets a fragmentation percentage for boulder-sized fragments (≥117 cm) of no more than 15%.Based on the results of research in 7 days of blasting, powder factor value was found between 0.21 and 0.24 kg/m3. Then, the actual fragmentation of boulders ≥ 117 cm was found to have an average percentage of 0.1% and met Ccompany standards. Based on the actual rock fragmentation after conducting blasting tests with a powder factor (PF) of 0.21 to 0.24, the most optimal powder factor value was found to be 0.21 kg/m³. 
Estimasi sumberdaya batubara dengan metode elemen hingga dan cross section wilayah IUP CV Rizki Bintang Muhammad Alfian Noor; Eko Santoso; Hafidz Noor Fikri
Jurnal Himasapta Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 01 April 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v8i1.8723

Abstract

Operasional di CV Rizki Bintang diawali dengan penyelidikan umum untuk batasan luas daerah, mengetahui keadaan geologi dan pencarian singkapan. Penyelidikan umum dilanjutkan dengan eksplorasi pendahuluan dan eksplorasi detail. Pada Eksplorasi pendahuluan dilakukan kegiatan pemetaan topografi dan pemetaan geologi singkapan, sebagai dasar pertimbangan dalam pelaksanaan eksplorasi detail. Adapun eksplorasi detail lebih difokuskan pada kegiatan pemboran yang bertujuan untuk mengetahui bentuk dan geometri endapan batubara serta ketebalan batubara (model geologi endapan), data parameter kualitas batubara.Keadaan geologi tergolong geologi moderat terdapat 26 seam dengan 2 seam percabangan dengan dip (27°-30°), strike dari Barat Daya ke Barat Laut. Permodelan   dan perhitungan sumberdaya menggunkan software  Minescape 5.7.Hasil perhitungan sumberdaya batubara dengan cross section seam A terukur 489.405 ton, seam B terukur 418.344 ton, seam C terukur 652.730 ton, seam D terukur 25.828 ton, seam D1 terukur 563.680 ton, seam D2 terukur 891.700 ton, seam E terukur 945.016 ton, seam F terukur 1.042.928 ton, seam F1 terukur 95.475 ton, seam F2 terukur 532.167 ton, seam G terukur 643.410 ton, seam H terukur 410.966 ton, seam I terukur 294.766 ton, seam J terukur 348.239 ton, seam K terukur 888.382 ton, seam L terukur 1.113.603 ton, seam M terukur 2.209.607 ton, seam N terukur 1.665.147 ton, seam O terukur 1.227.507 ton, seam P terukur 1.582.067 ton, seam Q terukur 3.547.801 ton, seam R terukur 1.312.240 ton, seam S terukur 1.632.667 ton, seam T terukur 1.314.951 ton, seam U terukur 898.516 ton, seam V terukur 926.558 ton. Metode elemen hingga terukur 25.955.357 ton.Perhitungan perbandingan relatif sumberdaya menggunakan metode elemen hingga dan cross sectionnya sebesar 1.09 %. Nilai ini menunjukkan bahwa kedua metode ini menghasilkan nilai estimasi volume yang tidak jauh berbeda.