Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Jurnal Himasapta

PERENCANAAN PENAMBANGAN BATUBARA PADA PIT B SELAMA TRIWULAN I TAHUN 2019 DI PT KALIMANTAN LINTAS KHATULISTIWA Misradin Misradin; Eko Santoso; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.29 KB) | DOI: 10.20527/jhs.v5i1.2048

Abstract

PT Kalimantan Lintas Khatulistiwa telah membuka pit di bagian selatan wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi. Awal tahun 2019 pit ini direncanakan dilanjutkan operasi produksinya dengan target seam B sehingga disebut Pit B. Selama triwulan I 2019, ekspansi pit dibatasi hanya menambah elevasi tanpa memperluas pit dan stripping ratio (SR) baik per bulan tidak lebih dari 2 BCM overburden per 1 ton batubara. Melalui penelitian ini disediakan rancangan pit, ramp, disposal, pushback, alat gali muat dan alat angkut untuk mencapai target produksi 150.000 ton batubara selama triwulan I tahun 2019.Perancangan pit dan pushback serta perhitungan volume overburden dan batubara dikerjakan dengan bantuan perangkat lunak Minescape menggunakan metode perhitungan blok strip dengan ukuran 25 x 20 x 5 meter. Jenjang kerja dimana alat gali muat dan angkut yang bekerja berupa Excavator Backhoe Hitachi EX350 dan Dumptruck Nissan CWB atau Hino FM260, dirancang 25 x 10 x 2,5 meter sehingga satu blok-strip dapat diselesaikan dengan 4 front. Disediakan akses jalan utama menuju pushback yang berpindah pindah setiap bulan. Kapasitas disposal disediakan lebih dari 10% dari volume overburden yang akan dibongkar selama triwulan I. Overburden dihamparkan dalam 1 lift karena lift kedua akan digunakan untuk menampung overburden pada triwulan berikutnya.Selama triwulan 1 akan ditambang 154.390,54 ton batubara dengan SR 1,35 sehingga volume overburden 209.035,57 bcm. Disposal dirancang di luar pit (outpit dump) yang terletak di sebelah barat laut Pit B dengan kapasitas 282.480,89 lcm. Bulan Januari akan ditambang 50.403,12 ton batubara dan digali 75.439,98 bcm overburden dengan SR 1,5 di bagian tenggara Pit B. Batubara disimpan di stock-ROM yang berjarak  dari 750 m, 900 m, sampai 1 Km dari front Pit B. Bulan Februari akan ditambang 51.459,62 ton batubara dan digali 42.887,64 bcm overburden dengan SR 0,83 di bagian utara Pit B. Bulan Maret akan ditambang 52.801,10 ton batubara dan digali 90.775,50 bcm overburden dengan SR 1,72 di bagian barat Pit B. Alat gali muat untuk penambangan batubara diperlukan 1 unit dan dilayani oleh 4 alat angkut. Penimbunan overburden dibagi menjadi 3 tahap, berurutan dari bagian selatan ke utara, dengan jarak angkut dari front berturut-turut dari Januari sampai Maret ±865 m, ±1013 m, dan ±1110 m. Alat gali muat untuk pembongkaran overburden diperlukan 1 unit berpasangan dengan 6 unit alat angkut yang ditambah menjadi 7 unit pada bulan Maret 2019. Desain pushback dan alat mekanis dari hasil penelitian ini realistis diterapkan untuk mencapai target penambangan Pit B selama triwulan I tahun 2019. Kata kunci: Disposal, penambangan batubara, pushback, short-term mine planning
KAJIAN GEOTEKNIK TAMBANG KAOLIN PADA PT GARDA BUMI ANUGRAH, KECAMATAN ASTAMBUL, KABUPATEN BANJAR, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Muhammad Mustakim; Marselinus Untung Dwiatmoko; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 03 Desember 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v5i3.2896

Abstract

Sebelum melakukan perencanaan penambangan, diperlukan kajian geoteknik untuk menentukan geometri lereng yang aman dan stabil. Lokasi penelitian merupakan daerah rawa dengan formasi geologi aluvium. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk mendapatkan geometri lereng tunggal yang aman dan stabil.Jumalah sampel yang diambil sebanyak tiga sampel di lokasi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam pengambilan dan pengujian sampel pada laboratorium adalah menggunakan standar ASTM (American Society for Testing and Material). Material properties sampel 1 bobot isi (γ) 17,14 KN/   kohesi (C) 18,62 KN/  dan sudut gesek dalam (ϕ) 34,28º, sampel 2 γ 16,58  KN/ , C 33,32 KN/  ϕ 28,14º dan sampel 3 γ 19,12 KN/ , C 13,72 KN/  ϕ 45,28. Analis kestabilan lereng menggunakan software slide dengan metode kesetimbangan batas dan metode grafik Hoek-Bray. Tinggi muka air tanah mengacu pada analisis Hoek-Bray.Berdasarkan dari analisis yang telah dilakukan, rekomendasi desain lereng bisa dibuat dengan dua opsi. Opsi pertama yaitu desain lereng dibuat berbeda-beda di setiap zona sesuai dengan properties (kohesi dan sudut gesek dalam) masing-masing setiap sampel. Akan tetpai jika ingin menerapkan desain yang sama diseluruh bukaan tambang maka dapat mengacu pada sampel yang memiliki properties paling lemah yaitu pada sampel 3. Rekomendasi geometri lereng yang dihasilkan yaitu dengan analisis kesetimbangan batas pada software slide kondisi lereng jenuh dengan tinggi lereng 5 m dan kemiringan lereng 42º. Kata kunci : Bobot isi, kohesi, sudut gesek dalam, kesetimbangan batas, Hoek-Bray
PERBAIKAN JALAN ANGKUT TAMBANG : PENGARUH PERUBAHAN STRUKTUR LAPIS JALAN TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT ANGKUT Adip Mustofa; Jaka Guruh Wicaksono; Nurhakim Nurhakim; Afriko Afriko; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 1, No 01 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 01 April 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v1i01.906

Abstract

Jalan angkut memiliki peranan yang sangat penting dalam siklus operasi produksi penambangan.  Kualitas jalan angkut akan menjadi faktor penentu dalam pencapaian target produksi suatu perusahaan. Pencapaian target produksi antara lain dipengaruhi oleh produktivitas alat. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pengaruh perbaikan jalan angkut terhadap produktivitas alat angkut.Perbaikan yang diterapkan berupa perubahan struktur lapis jalan berdasarkan daya dukung material jalan yang diperoleh melalui uji lab serta beban maksimum yang diterima jalan. Penentuan rancangan ketebalan struktur lapis jalan mengacu pada nilai California Bearing Ratio (CBR). Sedangkan beban maksimum dihitung dari alat angkut terbesar dalam keadaan bermuatan penuh yang melewati jalan. Geometri jalan angkut yang meliputi panjang segmen, lebar jalan, dan kemiringannya merupakan perpaduan hasil pengukuran langsung dan pengolahan data dari peta jalan angkut. Data waktu edar alat diambil langsung di lapangan sebelum dan sesudah jalan diperbaiki untuk mengetahui dampaknya terhadap perubahan produktivitas.Alat angkut terbesar yang melewati jalan berupa Komatsu HD465-7 dengan berat bermuatan 97,875 kg dan distribusi beban maksimum terletak pada bagian belakang alat angkut sebesar 36,682.5 lbs. Tebal perkerasan di atas subgrade yang sesuai untuk menahan beban ini adalah setebal 28 inch, dengan minimal lapisan base coarse 8 inch, dan lapisan surface coarse 9 inch.  Hasil uji lab material yang tersedia di lapangan yaitu batulempung dan batulempung pasiran memiliki nilai CBR maksimum masing-masing 43% dan 48%. Batulempung digunakan sebagai material surface coarse dengan tebal 7 inch. Batulempung pasiran digunakan sebagai material base coarse dengan tebal 21 inch. Kecepatan rata-rata alat angkut yang sebelumnya 20.65 km/jam naik menjadi 22.19 km/jam setelah jalan diperbaiki sehingga terjadi peningkatan produktivitas alat angkut yaitu sebesar 2.1 BCM/ jam untuk setiap alat angkut. Kata-kata kunci: Jalan angkut tambang, perbaikan jalan, produktivitas alat angkut, struktur lapis jalan
Analisis coal losses pada kegiatan penambangan di Pit Inul Middle Panel 3 PT Kaltim Prima Coal Afif Irfandy; Agus Triantoro; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 2 Agustus 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v6i2.3960

Abstract

Coal Losses merupakan proses hilangnya batubara yang terjadi pada saat proses penambangan berlangsung sampai pada saat pengiriman batubara ke tujuan. Proses penambangan batubara seperti clean up roof batubara, proses pemuatan batubara, serta saat pengangkutan batubara menuju stockpile berpotensi menimbulkan coal losses. PT Kalimantan Prima Coal menetapkan coal recovery criteria sebesar 98,5%, lebih ketat dari yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung coal losses pada proses clean up batubara, pemuatan batubara di loading point, dan pengangkutan batubara; mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya coal losses; dan memberi rekomendasi upaya penanganan coal losses.Penelitian dilakukan di Pit Inul Middle Panel 3 pada PT KPC bulan Mei dan Juni 2019. Ada lima seam batubara yang diamati, yaitu seam  K17LR, K13, K12, K9 dan K4. PT KPC menggunakan survey yang dibandingkan dengan truck count untuk menghitung coal recovery. Total coal losses yang didapat dari setiap seam dibagi menjadi tiga proses penambangan batubara, yaitu coal losses pada saat clean up roof batubara, di loading point, dan saat hauling.Coal Losses yang didapatkan pada seam K17LR bulan Mei dan Juni 2019 sebesar 4,49% dan 3,93%; seam K13 bulan Mei dan Juni 2019 sebesar 2,83% dan 1,47%; seam K12 bulan Mei dan Juni 2019 sebesar 3,57% dan 2,71%; seam K9 bulan Mei dan Juni 2019 sebesar 4,24% dan 4,15%; seam K4 bulan Mei dan Juni 2019 sebesar 4,3% dan 1,11%. Coal losses yang terjadi masih di atas dari kriteria yang diberikan oleh ESDM sehingga masih memenuhi batas kriteria. Persentase coal losses terbesar terjadi di loading point sehingga dilakukan simulasi pengurangan coal losses di loading point. Total losses 19.43% pada Bulan Mei and dan 13.38% pada Bulan Juni berhasil diturunkan menjadi 9,44% and 6,98%. Kata-kata kunci : batubara, recovery, clean up, loading point, hauling
PEMODELAN ENDAPAN BATUBARA DAN PERANCANGAN LIFE OF MINE PIT F PADA PT BORNEO INDOBARA (BIB) KECAMATAN ANGSANA Gerry Alfrits Yizreel Kawalo; Uyu Saismana; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Himasapta Volume 04 Nomor 02 Agustus 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v4i2.1082

Abstract

PT Borneo Indobara, sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara, berniat meningkatkan produksi tahun 2019 dengan membuka pit baru yang bernama Pit F, yang berlokasi pada blok timur di sebelah barat dari Pit Kusan atas. Sebelum kegiatan penambangan dilakukan, terlebih dahulu perlu diketahui bagaimana model endapan batubara dan sebaran kualitas di lokasi tersebut. Kemudian baru dapat disusun rencana penambangan yang setidaknya terdiri atas rancangan akhir pit, jumlah cadangan batubara, volume overburden, luas dan kedalaman pit, serta umur tambangnya. Ketidakpastian kondisi ekonomi, terutama karena harga batubara yang cenderung turun akhir-akhir ini, menyebabkan perencanaan tambang yang dibuat harus fleksibel. Pada penelitian ini dianalisis pengaruh empat skenario alternatif rencana dengan kriteria stripping ratio (SR) terhadap rencana penambangan Pit F. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan PT Borneo Indobara untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada pengambilan keputusan mana rancangan yang akan pilih.Pemboran eksplorasi detil dilakukan sebanyak 142 titik bor dengan spasi 200 m dan pola pengeboran staggered, rata-rata kedalaman sekitar 100 meter. Sedangkan untuk mendapatkan kualitas batubara diambil 5 titik bor quality. Survey pemetaan topografi awal wilayah juga dilaksanakan untuk memperoleh model permukaan tanah. Model endapan batubara dikonstruksi melalui korelasi data seam-seam dan lithologi yang terdapat dalam titik-titik bor menggunakan perangkat stratmodel. Geometri lereng di batas akhir penambangan yang dirancang yaitu kemiringan lereng keseluruhan di low wall mengikuti kemiringan batubara. Lereng higwall dan side wall kemiringan lereng tunggal pada overburden 35-45°, ketinggian lereng 10 meter, kemiringan lereng pada batubara 70°, dan lebar jenjang 5 m. Batas penambangan ekonomis ditentukan dari resgraphic, yaitu perangkat informasi distribusi volume overburden dan tonase batubara dalam model solid batter block berukuran 100 x 100 m. Skenario stripping ratio untuk kriteria analisis sensitivitas penentu batas penambangan yang dipakai adalah 3; 3,5; 4; dan 4,5.Kontur struktur roof dan floor batubara hasil pemodelan endapan menunjukan strike/dip Seam F N 176° E/ 3,41°. Dari kontur iso-thickness diketahui ketebalan seam F £ 5 meter. Berdasarkan model resgraphic diperoleh untuk SR 3 terdapat 65 blok ekonomis, SR 3,5 78 blok ekonomis, SR 4 94 blok ekonomis, dan SR 4,5 terdapat 115 blok ekonomis. Rancangan batas akhir penambangan didapatkan kemiringan lereng keseluruhan 32° dengan kedalaman pit berturut-turut 36,78 meter;  40,82 meter; 44,14 meter; dan 48,26 meter. Pit F dengan kriteria SR 3 seluas 21,96 Ha akan menghasilkan 0,72 juta ton batubara dan selesai ditambang dalam jangka waktu 1,19 tahun. Pit F dengan kriteria SR 3,5 seluas 25,72 Ha akan menghasilkan 0,85 juta ton batubara dan selesai ditambang selama 1,42 tahun. Pit F dengan kriteria SR 4 seluas 30,38 Ha akan menghasilkan 1,03 juta ton batubara dan selesai ditambang dalam jangka waktu 1,71 tahun. Pit F dengan kriteria SR 4,5 seluas 35,73 Ha akan menghasilkan 0,72 juta ton batubara dan selesai ditambang selama 2 tahun. Perusahaan dapat menerapkan rancangan life of mine Pit F sesuai dengan nilai SR ekonomis yang berlaku saat kegiatan penambangan mulai berlangsung.
ANALISIS KORELASI STRIPPING RATIO DAN OVERBURDEN RATIO BERDASARKAN KEMIRINGAN LERENG TUNGGAL PADA PERANCANGAN TAMBANG BATUBARA Lofty Rinaldi Sirnipson; Agus Triantoro; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 02 Agustus 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v5i2.2340

Abstract

Eksplorasi merupakan kegiatan penyelidikan suatu daerah yang diperkirakan atau yang diketahui mengandung endapan batubara sekaligus membuktikan kuantitas dan kualitas dari endapan batubara tersebut. Tahap eksplorasi berikutnya sampai pada menentukan ukuran, bentuk, letak sebaran kuantitas dan kualitas untuk kemudian dapat dilakukan kajian kemungkinan dilakukannya penambangan. Pada umumnya penetapan batas penambangan didasarkan pada kriteria stripping ratio. Tetapi pada perangkat lunak perencanaan dan perancangan minescape misalnya, untuk menggambarkan distribusi stripping ratio diperlukan expression. Sedangkan minescape sendiri menyediakan penggambaran otomatis distribusi overburden ratio untuk menentukan batas penambangan. Dengan penelitian ini saya mencoba menghubungkan keduanya.Penelitian dilakukan di CV Rizki Bintang Pit 1 blok tengah IUP Rizki Bintang yang belum dilakukan kegiatan penambangan. Permodelan batubara, pembuatan tiga variasi sudut lereng tunggal pada tiga variasi kedalaman desain Pityang menggunakan perangkat lunak komputer minescape 5.7 dan perhitungan volume (overburden dan batubara) menggunakan metode triangulasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu analisis hubungan nilai overburden ratio terhadap nilai stripping ratiodengan nilai koefisien determinasi secara linear > 0,9 dan nilai koefisien determinasi secara polynomial sama dengan 1. Keyword : Eksplorasi, Perhitungan, Triangulasi, Stripping Ratio, Overburden Ratio
Optimalisasi fuel ratio alat gali muat dan alat angkut PT Borneo Alam Semesta jobsite PT BMB Audy Dhata Ramadhani; Adip Mustofa; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Himasapta Volume 7 Nomor 02 Agustus 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v7i2.6438

Abstract

Dalam kegiatan penambangan harus menggunakan metode dan peralatan mekanis yang sesuai dalam kegiatan tersebut. Salah satu penentu keberhasilan metode penambangan adalah seberapa besar produktivitas peralatan mekanis dapat dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin agar diperoleh hasil yang maksimal. Penggunaan fuel sangat mempengaruhi biaya produksi dari aktifitas penambangan, semakin banyak fuel yang digunakan maka semakin besar pula biaya produksinya. Untuk meminimalisir penggunaan bahan bakar maka harus mengetahui hal-hal yang mempengaruhinya agar penggunaan fuel dapat diminimalisir oleh perusahaan. Metode yang digunakan adalah dengan mensimulasikan hasil produktivitas dengan fuel burn jika delay time dihilangkan dari pengolahan data yang didapatkan dilapangan. Setelah melakukan simulasi hasil pencapaian fuel burn untuk alat gali muat Komatsu PC300 yaitu 36,86 Liter/Jam dengan produktivitas rata-rata sebesar 145,00 BCM/jam. Fuel burn rata-rata untuk alat angkut Nissan CWB45 yaitu 10,27 Liter/Jam dengan produktivitas rata-rata sebesar 21,84 BCM/jam. Fuel ratio aktual untuk alat gali muat Komatsu PC300 yaitu 0,25 Liter/BCM.  Sedangkan untuk alat angkut Nissan CWB45 yaitu 0,47 liter/BCM. Fuel ratio alat gali muat turun menjadi 0,22-0,28 liter/BCM dan fuel ratio alat angkut turun menjadi 0,41-0,48 liter/BCM, jika di simulasikan komponen delay tidak ada atau efisiensi kerja 100%.
Optimalisasi fuel ratio alat gali muat dan alat angkut PT Borneo Alam Semesta Audy Dhata Ramadhani; Adip Mustofa; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 7, No 3 (2022): Jurnal Himasapta Volume 7 Nomor 03 Desember 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v7i3.7504

Abstract

Dalam kegiatan penambangan harus menggunakan metode dan peralatan mekanis yang sesuai dalam kegiatan tersebut. Salah satu penentu keberhasilan metode penambangan adalah seberapa besar produktivitas peralatan mekanis dapat dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin agar diperoleh hasil yang maksimal. Penggunaan fuel sangat mempengaruhi biaya produksi dari aktifitas penambangan, semakin banyak fuel yang digunakan maka semakin besar pula biaya produksinya. Untuk meminimalisir penggunaan bahan bakar maka harus mengetahui hal-hal yang mempengaruhinya agar penggunaan fuel dapat diminimalisir oleh perusahaan. Metode yang digunakan adalah dengan mensimulasikan hasil produktivitas dengan fuel burn jika delay time dihilangkan dari pengolahan data yang didapatkan dilapangan. Setelah melakukan simulasi hasil pencapaian fuel burn untuk alat gali muat Komatsu PC300 yaitu 36,86 Liter/Jam dengan produktivitas rata-rata sebesar 145,00 bcm/jam. Fuel burn rata-rata untuk alat angkut Nissan CWB45 yaitu 10,27 Liter/Jam dengan produktivitas rata-rata sebesar 21,84 bcm/jam. Fuel ratio aktual untuk alat gali muat Komatsu PC300 yaitu 0,25 Liter/bcm.  Sedangkan untuk alat angkut Nissan CWB45 yaitu 0,47 liter/bcm. Fuel ratio alat gali muat turun menjadi 0,22-0,28 liter/bcm dan fuel ratio alat angkut turun menjadi 0,41-0,48 liter/bcm, jika di simulasikan komponen delay tidak ada atau efisiensi kerja 100%.
Perancangan dan penjadwalan tambang batu andesit kuari blok 2 di PT Mosa Indo Palma Moh Suhudi; Romla Noor Noor Hakim; Sari Melati
Jurnal Himasapta Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 01 April 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v8i1.8725

Abstract

PT Mosa Indo Palma sudah melaksanakan operasi produksi sejak tahun 2017 dengan target peningkatan produksi pada tahun 2019, oleh karena itu untuk mewujudkannya diperlukan perencanaan dan perancangan seperti membuat permodelan lapisan batu andesit, penentuan desain akhir, perhitungan cadangan batu andesit dan volume overburden dalam batas desain akhir, perancangan tambang meliputi geometri jenjang, jalan angkut, disposal, penentuan tahapan penambangan (pushback) dan penjadwalan produksi serta penentuan kebutuhan alat mekanis. Perencanaan dan perancangan tambang pada penelitian ini menggunakan aplikasi pertambangan Geovia Surpac 6.5.1. Penyajian peta menggunakan software ArcGIS 10.5. Penelitian ini hanya terfokus pada area blok 2 di PT Mosa Indo Palma. Target produksi andesit pertriwulan adalah sebesar 60.000 m3. Pada rancangan geometri kuari dan disposal menggunakan geometri yang disarankan oleh PT Mosa Indo Palma. Hasil permodelan menunjukkan bahwa bentuk endapan andesit tersebut terdapat pada area sebesar 5,57 Ha yang mana permukaan andesit semakin ke arah utara memiliki elevasi yang semakin dalam dan semakin ke arah selatan akan semakin dangkal terhadap topografi yang ada. Diketahui ketebalan endapan bervariasi dengan ketebalan antara 25 meter sampai dengan 50 meter. Jumlah cadangan andesit sebesar 1.086.315 m3 dan overburden sebesar 1.219.726 BCM dengan stripping ratio (SR) sebesar 1,1. Pertimbangan SR mengacu pada nilai SR yang semakin kecil, semakin kecil nilai SR akan mengurangi cost yang dikeluarkan. Umur kuari blok 2 berdasarkan desain adalah 4 tahun 6 bulan. Desain disposal hanya dibuat 20% dari total overburden yang dikeluarkan karena keterbatasan lokasi. Jenis isposal yang digunakan adalah Valley Fill/Crest Dump diamana dump dibangun pada lereng. Kapasitas disposal yang disediakan adalah sebesar 356.335 LCM. Pembongkaran overburden  menggunakan 2 unit Excavator Komatsu PC200 dan 4 unit dump truck Mitsubisi Fuso  FM257ML sedangkan pembongkaran endapan andesit menggunakan peledakan dan pengangkutan diperlukan  1 unit Excavator Komatsu PC300 dan 3 unit dump truck Mitsubisi Fuso  FM257ML.
Kestabilan lereng kritis pada tambang terbuka batubara menggunakan metode kesetimbangan batas Akbar, Muhammad Fadlillah; Santoso, Eko; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i1.16533

Abstract

Genangan air dalam bekas pit (void) akan mempengaruhi re-distribusi tegangan dan kondisi massa batuan pada lereng. Adanya creek di sisi luar lereng tersebut menyebabkan interaksi antara creek, lereng, dan void, menjadi lebih kompleks dan berdampak pada kestabilan lereng. Pada penelitian ini mengaplikasikan metode Limit Equilibrium dengan kriteria Mohr-Coulomb serta prangkat lunak MineScape 5.7 dan Rocsience Slide 6.0 untuk menganalisis Lereng X yang langsung berbatasan dengan sungai. Membuat simulasi pesimistik yang mempengaruhi tingkat kestabilan lereng aktual dengan membuat simulasi pengaruh level muka air sungai dan void terhadap lereng, membuat pengaruh pelapukan material penyusun lereng dan pengaruh jarak sungai terhadap tingkat kestabilan lereng. Hasil analisis kondisi aktual pada Lereng X nilai FK semua penampang >2,0 dengan kondisi lereng di antara sungai dan ­void. Hasil simulasi penurunan level muka air sungai 11 m dan ­void 39 m hingga surut mempengaruhi tingkat kestabilan lereng di indikasikan adanya gaya hidrostatis terhadap lereng yang mempengaruhi nilai FK dari 2,011 menjadi 0,927. Lereng yang terlapukan oleh air juga mempengaruhi nilai FK dari 1,773 menjadi 0,790 kondisi kritis. Simulasi penambahan jarak sungai terhadap lereng berdampak baik bagi lereng dari faktor keamanan awal 0,927 pada jarak 6,4 m menjadi 1,977 pada jarak 500 m. ABSTRACTThe accumulation of water in former pit (void) affects stress redistribution and rock mass condition of the slope. The presence of a creek on the outer side of slope further increases the complexity of interaction between creek, slope, and void, thereby influencing overall slope stability. This study applies Limit Equilibrium Method with the Mohr-Coulomb failure criterion, utilizing MineScape and Rocscience Slide 6.0 software to analyze Slope X, which is directly adjacent to the creek. A series of pessimistic simulations were conducted to assess actual slope stability, including the effects of creek and void water level fluctuations, the effects of material weathering on slope stability, and the impact of creek distance on slope safety factor. The analysis of actual condition of Slope X indicates that Factor of Safety (FoS) in all cross-sections is >2.0, with the slope located between creek and void. The simulation results show that a decrease in creek water level by 11 m and void water level by 39 m significantly affects slope stability, as indicated by hydrostatic forces acting on the slope, reducing the FoS from 2.011 to 0.927. Furthermore, slope material weathering due to water infiltration decreases FoS from 1.773 to a critical value of 0.790. Increasing distance between creek and slope improves its stability, which is the initial FoS of 0.927 at a distance of 6.4 m increases to 1.977 at a distance of 500 m.