Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

ANALISIS POTENSI PENAMBAHAN SERAT BATANG PISANG SEBAGAI BAHAN PEMBUAT PLAFOND UNTUK MENUNJANG TATA RUANG INTERIOR Soehartono Soehartono Soehartono; Adi Sasmito; Ummi Chasanah
Pondasi Vol 27, No 1 (2022): JUNI
Publisher : UNISSULA Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/pondasi.v27i1.18062

Abstract

ABSTRACT Pembangunan di Indonesia yang semakin meningkat pesat, menyebabkan permintaan perumahan rakyat cukup tinggi. Hal tersebut juga berdampak pada peningkatan kebutuhan bahan-bahan pembuat rumah termasuk plafon. Plafon atau yang sering disebut langit-langit, merupakan komponan bangunan yang berfungsi sebagai lapisan yang membatasi tinggi suatu ruangan [7]. Selain itu, plafon juga berguna untuk keamanan, kenyamanan, serta keindahan sebuah ruangan. Kualitas dan mutu plafon ditentukan oleh material yang digunakan sebagai bahan baku dan bahan pengisi serta bahan tambahan yang digunakan seperti abu sekam padi dan bahan-bahan selulosa seperti serat sabut kelapa, gipsum dan semen.Pohon pisang adalah tanaman yang mudah didapat di Indonesia dan memiliki banyak manfaat. Namun, pohon pisang hanya berbuah sekali dan harus ditebang. Alhasil, batang pisang akan dibiarkan begitu saja dan membusuk [8]. Batang pisang atau pelepah pisang sampai sekarang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan industri. Dari bahan- bahan tersebut dapat diolah menjadi barang industri dan bahan pengisi atau bahan tambahan untuk produk-produk yaitu untuk pembuatan plafon yang dapat membentuk produk yang bersifat komposit, sehingga dalam proses pembuatannya memerluhkan tekanan agar lebih menyatu dan dapat menghasilkan produk yang lebih padat. Diharapkan dengan penggunaan serat berbahan dasar batang pisang akan mampu menghasilkan plafon eternity yang ramah lingkungan.Tujuan dilakukannya penelitian mengenai penambahan serat batang pisang pada bahan baku pembuatan plafon eternit adalah untuk memperkuat kekuatan plafon gipsum dari sebelumnya. Batang pisang dapat dengan mudah ditemui di lingkungan sekitar sehingga cukup pantas untuk dimanfaatkan sebagai penambahan serat untuk plafon eternit. Teknologi pembuatan eternit atau plafon biasanya dibuat dari campuran semen dan gypsum serta serat-serat seperti rami, serat-serat pakaian bekas atau kertas sebagai pengganti asbes, bahan-bahan tersebut dicampur dalam perbandingan 25 bagian semen, 10 bagian gipsum atau mill dan 1 bagian serat. Lembaran-lembaran etrnit/plafon umumnya berukuran panjang 100 cm, lebar 100 cm dan tebal 0,4 cm. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode uji laboratorium dan pengumpulan literatur dari beberapa sumber. Dua metode yang sudah disebutkan tersebut diharapkan bisa memberikan data yang akurat dan teliti pada hasil penelitian yang dilakukan. Variabel penelitian adalah variasi perbandingan jumlah bahan penyusun plafon eternit dengan variasi 25:10:1, 25:10:3, dan 25:10:5.  Keywords : Plafon Eternit, Serat Alami, Batang pisang 
Program Pelatihan Desain Grafis Pemanfaatan Limbah Menghasilkan Produk Berkualitas Dan Menghasilkan Profitabilitas Di Semarang Rita Andini; Adi Sasmito
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.294 KB) | DOI: 10.55338/jpkmn.v3i1.285

Abstract

Tujuan dari Pengabdian adalah untuk menghasilkan produk berkualitas dan menghasilkan profitabilitas di Semarang. Pengembangan upaya pengendalian sampah plastik secara berdikari bagi rakyat pada Semarang memakai metode 3R (reduce, reuse & recycle) supaya bisa meminimalisir produksi sampah plastik yg bisa mencemari lingkungan & memperindah kawasan. Hal ini bisa menaikkan peningkatan perekonomian & sebagai galat satu potensi yg ada.Suatu produk yg bisa mendongkrak perekonomian & mengurangi pengangguran Industri mempunyai kiprah akbar pada penyerapan energi kerja, peningkatan pendapatan rakyat, & membantu pertumbuhan ekonomi daerah supaya bisa tercapai ekuilibrium antara pertumbuhan ekonomi pada pedesaan & pada perkotaan. Metode yg dipakai pada darma ini merupakan menggunakan transfer of knowledge melalui aplikasi pembinaan, pendampingan & pengenalan mengenai pengolahan sampah plastik & karung bekas secara berdikari memakai metode desain grafis supaya membuat produk yg berkualitas & membuat profitabilitas bagi kesejahteraan, menggunakan tentu saja mengimplementasikan 3R (reduce, reuse & recycle). Secara jangka panjang maka output menurut pembinaan dilakukan supervisi & penilaian buat perkembangannya. Tujuan yg ingin dicapai merupakan, rakyat bisa mengidentifikasi & mengklasifikasi jenis-jenis sampah plastik & bahayanya bagi lingkungan, bisa memasak sampah plastik secara berdikari galat satunya menggunakan metode desain grafis menggunakan memanfaatkan sampah plastik & karung bekas, & rakyat desa mengetahui metode 3R (reduce,reuse & recycle) pada pengendalian sampah plastik.
Place Attachment pada Gedung Juang 45 Pati sebagai Bangunan Bersejarah dan Ruang Publik Aldin Bimo Wicaksono; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.464 KB) | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.120

Abstract

Public space in the city center is an area that is very prominent in its growth, this is driven by various activities including: trade, entertainment/recreation, culture and government. Emotional attachment to a place or place attachment is important to understand, especially because of its potential role in developing public facilities, special places, and communities that work in those places, and also to anticipate conflicts that arise in the management of a place. The building, which was formerly known as Societeit Soekarame, was built during the Dutch government in the 1930s and was used as a place for the elite of Dutch colonialism to gather. During the war of independence, around 1947- 1948, Societeit Soekarame changed its name to Gedung Juang 45. Along with the times, Gedung Juang 45 was renovated with a concept that had been determined to become a Diorama Museumor an educational gallery entitled "Galeri Pati Mbiyen". This study shows that there are two factors driving place attachment in the Juan 45 Pati Building, namely the historical value attached to the building and the social value of society that grows in conjunction with space utilization activities 
ART GALLERY WITH A MODERN ARCHITECTURAL APPROACH GALERI SENI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MODERN Annisa Rizqi Al Rosali; Adi Sasmito; Taufik Rizza Nuzuluddin
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 2 No 2 (2022): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v2i2.25

Abstract

Galeri seni dalam perancangan ini merupakan suatu galeri seni yang terletak dipusat Kota Semarang dekat dengan Tugu Muda. Galeri seni tersebut menampilkan karya-karya dari seni lukis dan batik. Tidak hanya menampilkan ataupun memamerkan karya-karyanya saja, akan tetapi pada dalam galeri tersebut juga terdapat kegiatan-kegiatan seperti pembuatan lukisan dan juga pembuatan batik yang mana kegiatan tersebut dapat diikuti juga oleh pengunjung-pengunjung yang datang sehingga pengunjung yang datang ke galeri dapat teredukasi dengan adanya kegiatan tersebut. Arsitektur modern adalah suatu gaya yang berkarakter pada bangunan dengan kesederhanaan bentuk dan juga mengutamakan bentuk bangunan dibanding ornamen-ornamen ataupun hiasan. Pada kemajuan teknologi yang membuat orang-orang lebih menyukai sesuatu hal yang praktis membuat adanya kemunculan arsitektur modern itu sendiri dikarenakan arsitektur modern memiliki ciri yang fungsional dan juga efisien. Fungsional artinya bangunan tersebut harus mampu menampung berbagai aktivitas yang ada didalam bangunan itu sendiri dan efisien yang dimaksud yaitu mulai dari efisien waktu, biaya dan maintenance. Adapun denganmemanfaatkan banyaknya ruang terbuka dan memaksimalkan sumber cahaya dapat menambah kenyamanan bagi pengunjung yang datang.
SPORT CENTER IN JAKARTA SPORT CENTER DI JAKARTA Bayu Murti Hidayat; Adi Sasmito; Anityas Dian Susanti
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 2 No 2 (2022): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v2i2.27

Abstract

Perkembangan dunia olahraga di tahun 2022 telah terjadi perkembangan yang signifikan. Bangunan gedung olahraga, merupakan salah satu fasilitas yang mewadahi seseorang untuk melakukan aktivitas olahraga baik dari kalangan umum (masyarakat sipil), maupun para atlit dari masing-masing cabang olahraga tersebut. Dengan perkembangan Jakarta yang semakin pesat, ada masyarakat yang sangat mensyukuri kemajuan pada bidang olahraga. Olahraga sebagai kebutuhan fisik dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Jakarta, terbukti dengan semakin banyaknya kelompok olahraga yang berbeda di Jakarta. Tumbuhnya minat pada bidang olahraga itu sendiri tidak dibarengi terhadap kemajuan kualitas dan kuantitas sarana olahraga di kota Jakarta, bahkan cenderung menurunkan kualitas sarana olahraga karena kurang terpeliharanya. Berlatih di fasilitas seadanya atau lokasi yang kurang representatif. Hal ini dapat menghambat perkembangan olahraga di kota Jakarta baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu, fasilitas olahraga di Jakarta sering tersebar, dan sulit untuk menikmati berbagai olahraga di satu fasilitas olahraga.
RESIDENTIAL HOTEL DESIGN IN TEGAL CITY WITH A MODERN ARCHITECTURAL APPROACH PERANCANGAN HOTEL RESIDENSIAL DI KOTA TEGAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MODERN Rizaq Pandu Khasbi; Anityas Dian Susanti; Adi Sasmito
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 2 No 2 (2022): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v2i2.36

Abstract

Hotel residensial merupakan sebuah hotel yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota namun tetap mudah dalam mencapai tempat untuk usaha, dan lebih ditujukan untuk orang-orang yang ingin tinggal lebih lama di kota tersebut dengan segala fasilitas yang lengkap untuk menunjang segala kegiatan selama tinggal di hotel tersebut. Banyaknya bidang usaha skala besar khususnya di Kota Tegal ini, mulai dari sektor pabrik hingga sektor wisata akhirnya berdampak pada kebutuhan hotel di Kota Tegal juga. Hotel residensial di Kota Tegal ini didesain dengan pendekatan arsitektur modern yang menitikberatkan pada pengolahan ruang dan tampil lebih sederhana serta dapat mewadahi beberapa fungsi sekaligus dapat menghemat waktu, biaya, dan efisiensi perawatan. Arsitektur modern muncul dari kemajuan teknologi dan juga keinginan masyarakat yang menginginkan sesuatu yang bagus dan sederhana serta terjangkau.
PENINGKATAN KESADARAN PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI MAKANAN PADA MASYARAKAT DUKUH GUNDI, DESA SURUH, KABUPATEN SEMARANG Niyar Candra Agustin; Sri Subekti; Adi Sasmito; Fariz Nizar
urn:nbn:de:00001miji.v2i11
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan aditif atau bahan tambahan pada umumnya digunakan dalam proses dan pasca produksi dalam Industri makanan dan minuman salah satunya adalah pewarna makanan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan Masyarakat di Dukuh Gundi, Desa Suruh untuk membuat dan menggunakan bahan pewarna alami pada makanan dalam kehidupan sehari-hari. Metode pengabdian yang digunakan adalah diawali dengan survey ke lokasi tujuan pengabdian, sosialisasi, dan praktek pembuatan serta penggunaan zat pewarna alami pada makanan. Hasil dari kegiatan pengabdian ini produk makanan dengan pewarna alami dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan pewarna alami yang berasal dari bahan-bahan yang ada disekitar.
IDENTIFIKASI, RISIKO DAN PENCEGAHAN STUNTING DI KELURAHAN TLOGOSARI KULON KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG Ummi Chasanah; Eny Apriyanti; Adi Sasmito; Soehartono Soehartono
urn:nbn:de:00001miji.v2i027
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting di Indonesia merupakan permasalahan gizi kronis, hal ini disebabkan karena asupan gizi pada balita yang kurang dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga stunting ini berdampak menyebabkan gangguan pertumbuhan anak pada masa pertumbuhan yang ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia. Faktor penyebab stunting ini antara lain adalah pemahaman dan pengetahuan seorang ibu terhadap pola makan dan asuh anak sejak kecil. Usaha pencegahan stunting antara lain dengan :pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan setelahnya memberi makanan tambahan, memantau rutin perkembangan balita, dan peningkatan air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Aspek Signifikan Langgam Kolonial Pada Bangunan Lawang Sewu Di Kota Semarang: Significant Aspects of Colonial Style in Lawang Sewu Building in Semarang City Choirul Amin; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i1.413

Abstract

Lawang Sewu merupakan suatu bangunan monumental yang ikonik di Kota Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya pada waktu itu sebagai sebuah kantor perusahaan kereta api, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota Semarang. Berkaitan dengan periode waktu pembangunan, fungsinya dan juga letaknya, ditengarai sebagai dugaan awal gaya bangunan lawang sewu merupakan perpaduan antara bangunan klasik eropa yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan langgam kolonial. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek signifikan sebuah langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Ruang lingkup obyek material penelitian ini adalah bangunan lawang sewu, sedangkan ruang lingkup formal penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam langgam kolonial signifikan pada bangunan Lawang Sewu. Hasil dari penelitian ini adalah bukti kedalaman atau signifikansi langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu.
LITERASI MEDIA MENUJU GENERASI EMAS BEBAS STUNTING DESA MENUR KECAMATAN MRANGGEN KABUPATEN DEMAK Adi Sasmito; Rekno Sulandjari; Leonardo Budi Hasiholan; Sri Praptono
Jurnal Egaliter Vol 7, No 12 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Didorong dengan adanya target tahun 2024 angka stunting secara nasional bisa turun hingga 14 persen. Maka dari itu, banyak program yang diimplementasikan guna mencapai penurunan kasus stanting di 12 provinsi yang diprioritaskan. Saat ini angka stunting nasional masih tinggi yaitu sekitar 24,4% atau kira-kira 5,33 juta balita mengalami stunting.Namun demikian fenomena stanting di desa Menur hampir tidak ditemui. Oleh karenanya untuk preventif fenomena stunting ini, perlu digiatkan berbagai program yang mendukung pemahaman warga akan gejala dan karakteristik stanting itu sendiri. Dari program yang dijalankan, didsapatkan hasil bahwa masyarakat Desa Menur yang memiliki anak balita sebanyak 33 orang dan 4 orang ibu yang sedang hamil sangat memahami dan antusias dalam menerima sosialisasi media menuju generasi emas bebas stunting di lingkungannya. Ditemukan juga adanya fenomena stanting yang semakin dipahami sebagai salah satu bentuk keperdulian orang tua dalam mengasuh, membesarkan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain dengan memaksimalkan asupan gizi dari semenjak ibu hamil hingga bayi terlahir perlu ASI dan makanan pendamping ASI jika bayi telah mencukupi usianya yaitu minimal 6 bulan.Hasil dari kegiatan ini terlihat ada peningkatan adanya pemahaman jenis-jenis indikator dan ciri-ciri serta karakteristik penderita stanting bukan hanya indikator berat, namun indikator ringan juga sudah mulai dipahami. Sehingga antisipasi dan pemulihannya lebih cepat. Capaian fenomena stanting sampai di angka zero bukan mustahil jika terdapat kesadaran bersama antara warga setempat dan aparat terkait. Harapan ke depan tak ada balita yang mengalami stanting dan mencetak generasi emas bukan lagi sebuah masalah yang sulit. Kata Kunci: Literasi, Media, Stanting Encouraged by the 2024 target, the national stunting rate can drop to 14 percent. Therefore, many programs have been implemented to achieve a reduction in stunting cases in the 12 priority provinces. Currently, the national stunting rate is still high, namely around 24.4% or approximately 5.33 million children under five are stunted.However, the phenomenon of stunting in Menur village is almost non-existent. Therefore, to prevent the phenomenon of stunting, it is necessary to activate various programs that support people's understanding of the symptoms and characteristics of stunting itself. From the program implemented, it was found that the people of Menur Village, who have 33 toddlers and 4 pregnant mothers, are very understanding and enthusiastic about receiving media socialization towards a golden generation free of stunting in their environment. It was also found that there is a phenomenon of stunting which is increasingly understood as a form of parental concern in caring for, raising their children and other family members by maximizing nutritional intake from the time a pregnant woman is born until the baby is born. minimum 6 months.The results of this activity show that there is an increase in understanding of the types of indicators and the characteristics and characteristics of stunting sufferers, not only indicators of severe, but light indicators have also begun to be understood. So that anticipation and recovery are faster. The achievement of the stunting phenomenon to zero is not impossible if there is shared awareness among local residents and related officials. The hope is that in the future no toddlers will experience stunting and creating a golden generation will no longer be a difficult problem.Key Words: Literacy, Media, Stunting