Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

DESIGN OF WORKERS FLATS COMPLEX IN CANDI INDUSTRIAL AREA WITH NEO-VERNACULAR ARCHITECTURE APPROACH IN SEMARANG PERANCANGAN KOMPLEK RUMAH SUSUN PEKERJA KAWASAN INDUSTRI CANDI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEOVERNAKULAR DI SEMARAN Muhammad Tian Ichsanudin; Carina Sarasati; Adi Sasmito
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 3 No 1 (2023): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v3i1.42

Abstract

Kawasan industri adalah kawasan yang berisi berbagai macam kegiatan indutri dan berdampak menarik banyak pekerja asing maupun pekerja lokal. Kegiatan dikawasan indutri harus memikirkan hunian atau tempat tinggal pekerja. Besarnya lahan yang dibutuhkan untik kawasan industri membuat lahan untuk hunian atau tempat tinggal menjadi menyempit. Dibutuhkan solusi hunian yng nyaman dan aman dan layak huni bagi pekerja kawasan industri. Perancangan kaliini akan mendisain kawasan hunian yang nyaman bagi pekerja di Kawasan Industri Candi. Sesuai dengan Pemerintah dan standat Pembuatan Rumah Layak Huni mebuat metode rencana bangunan rumah vertikal / rumah susun menjadi solusi bagi pekerja. Sesuai kreteria rusun harus memiliki fasilitas dan kenaymanan bagi penghuninya dengan biyaya sesuai APBN dan APBD setempat selain hunian nyaman dan aman harsu terjangkau bagi pekerja di Kawasan Industri Candi. Selain hunian terjangkau kawasan hunian ini harus memikirkan keamanan dari penghuni dengan pendekatan desain yang ramah lingkungan dan harus memikirkan estetika dari bangunan rusun dengan pendekatan arsitektur Neo- Vernakular. Desain ramahlingkungan membuat kawasan industri menjadi lebih nyaman dan aman dan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular diharapkan hunian menjadi lebih menarik dan lebih membuat lingkungan sepeti pada daerah setempat yang kental kebudayaannya namun mengunakan material daur ulang untuk menekan biaya produsi karena memanfatkan limbah produksi.
ASPEK MONUMENTAL GEREJA BLENDUK DI KOTA SEMARANG Choirul Amin; Adi Sasmito
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v3i1.39

Abstract

Gereja Blenduk merupakan suatu salah satu bangunan tua yang cukup ikonik di Kota lama Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya sebagai sebuah bangunan peribadatan umat kristiani, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota lama Semarang. Aspek Monumentalitas sebuah bangunan dapat ditinjau dari beberapa aspek yang dapat dikategorikan untuk memperkuat kedalaman makna filosofis bangunan tersebut, seperti Kekhasan Arsitektur, Sejarah, Asimilasi Budaya, Fungsi Bangunan, Landmark Kawasan, Kesan Lingkungan, Lokasi, Image di masyarakat dan Hirarki bangunan terhadap kawasan sekitar. Tujuan dan maksud dari penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek monumentalitas sebuah bangunan Gereja Blenduk. Ruang lingkup dari obyek material penelitian ini adalah bangunan Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama Semarang, sedangkan pada ruang lingkup formal dalam penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam aspek monumentalitas bangunan Gereja Blenduk pada kawasan lingkungan Kota Lama Semarang. Hasil yang diharapkan dari adanya penelitian ini adalah mendapatkan bukti kedalaman atas aspek monumentalitas pada bangunan Gereja Blenduk di kawasan lingkungan Kota Lama Semarang.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENJADI KOMPOS UNTUK PUPUK TANAMAN OBAT DI DESA BANDUNGREJO MRANGGEN DEMAK Sri Subekti; Adi Sasmito; Sinta Petri Lestari; Niyar Candra Agustin; Fariz Nizar
urn:nbn:de:00001miji.v3i11
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk menimbulkan dampak negative bagi lingkungan karena limbah yang meningkat dan bervariasi. Perlunya pengelolaan sampah rumah tangga memanfaatkan sampah organic diolah menjadi kompos. Kompos dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman obat keluarga yang ditanam di pekarangan atau dalam pot. Metode pelaksanaan dilakukan dengan penyuluhan, menjelaskan pemilahan dan pengelolaan sampah rumah tangga. Pemilahan sampah basah dan sampah kering menjadi kunci utama dalam proses pengomposan. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga sebagai salah satu upaya gerakan peduli lingkungan dengan melibatkan masyarakat secara keseluruhan, pemerintah setempat, pendidik pada usia dini sampai perguruan tinggi. Dengan memanfaatkan sampah dan diolah menjadi kompos dan hasil panen dari tanaman obat menjadi lebih aman karena meggunakan kompos dari sampah organic rumah tangga. Perlunya sosialisasi secara berkesinambungan dalam pengelolaan sampah sehingga tidak memberikan dampak negative terhadap lingkungan.
Place Attachment pada Gedung Juang 45 Pati sebagai Bangunan Bersejarah dan Ruang Publik Aldin Bimo Wicaksono; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 16 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v16i1.120

Abstract

Public space in the city center is an area that is very prominent in its growth, this is driven by various activities including: trade, entertainment/recreation, culture and government. Emotional attachment to a place or place attachment is important to understand, especially because of its potential role in developing public facilities, special places, and communities that work in those places, and also to anticipate conflicts that arise in the management of a place. The building, which was formerly known as Societeit Soekarame, was built during the Dutch government in the 1930s and was used as a place for the elite of Dutch colonialism to gather. During the war of independence, around 1947- 1948, Societeit Soekarame changed its name to Gedung Juang 45. Along with the times, Gedung Juang 45 was renovated with a concept that had been determined to become a Diorama Museumor an educational gallery entitled "Galeri Pati Mbiyen". This study shows that there are two factors driving place attachment in the Juan 45 Pati Building, namely the historical value attached to the building and the social value of society that grows in conjunction with space utilization activities 
Aspek Signifikan Langgam Kolonial Pada Bangunan Lawang Sewu Di Kota Semarang: Significant Aspects of Colonial Style in Lawang Sewu Building in Semarang City Choirul Amin; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i1.413

Abstract

Lawang Sewu merupakan suatu bangunan monumental yang ikonik di Kota Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya pada waktu itu sebagai sebuah kantor perusahaan kereta api, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota Semarang. Berkaitan dengan periode waktu pembangunan, fungsinya dan juga letaknya, ditengarai sebagai dugaan awal gaya bangunan lawang sewu merupakan perpaduan antara bangunan klasik eropa yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan langgam kolonial. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek signifikan sebuah langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Ruang lingkup obyek material penelitian ini adalah bangunan lawang sewu, sedangkan ruang lingkup formal penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam langgam kolonial signifikan pada bangunan Lawang Sewu. Hasil dari penelitian ini adalah bukti kedalaman atau signifikansi langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu.
Penerapan Konsep Aerotropolis pada Pengembangan Bandar Udara: Application of Aerotropolis Concept in Airport Development Mutia Mandaka; Abdul Hafidz Al Rasyid; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i2.567

Abstract

Aerotropolis memberikan konsep bisnis yang mana tempatnya berlokasi pada kawasan bandar udara. Penerapan aerotropolis juga bisa dijadikan sebagai alat dalam memanfaatkan lahan untuk kegiatan komersil secara bersamaan, agar tidak tertinggal dengan wilayah-wilayah lainnya. Tujuan konsep ini adalah untuk memperoleh manfaat untuk bandar udara tersebut, wilayah yang ada di sekitar bandar udara, ataupun secara skala nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran terkait dengan konsep aerotropolis di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kuala Lumpur International Airport, dan Singapore Changi Airport. Dengan menggunakan metode studi komparatif didapatkan hasil yaitu hanya Kuala Lumpur International Airport dan Singapore Changi Airport yang sangat baik dalam menerapkan konsep aerotropolis. Untuk Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto sendiri masih banyak memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam memenuhi prinsip-prinsip aerotropolis seperti prinsip struktur tata ruang wilayah, prinsip tata guna lahan, prinsip peruntukan utama dari fungsi suatu kawasan, prinsip penyediaan kawasan bisnis, serta prinsip konektivitas transportasi.
CULTURAL CENTER BUILDING PLAN IN CENTRAL JAVA WITH NEO VERNACULAR ARCHITECTURE APPROACH PERENCANAAN GEDUNG PUSAT KEBUDAYAAN DI JAWA TENGAH DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR Anas Saifuddin; Adi Sasmito; Carina Sarasati
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 3 No 2 (2023): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v3i2.82

Abstract

Bangunan pusat budaya adalah satu atau lebih bangunan yang berfungsi sebagai tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan hiburan dan kebudayaan yang berlangsung berdampingan dengan kegiatan kebudayaan lainnya. Arsitektur neo vernakular yang menerapkan unsur budaya dan iklim lokal pada bentuk arsitektural merupakan konsep yang digunakan dalam pembangunan pusat budaya ini. Karena arsitektur neo vernakular memadukan desain modern dengan batu bata dari abad ke-19, strategi ini dipilih. Lokasi yang dipilih untuk perancangan ini adalah di Kabupaten Boyolali, bersebelahan dengan Bandara Adisumarmo. Ini merupakan lokasi yang ideal untuk membangun gedung pusat budaya karena mudah diakses dan strategis dekat dengan bandara. Diperkirakan seni budaya Jawa akan terus berkembang dengan adanya gedung pusat kebudayaan di Jawa Tengah. Budaya Jawa dikenal dan dikembangkan oleh banyak anak muda, yang akan membantunya berkembang dan berubah menjadi budaya yang diakui di luar.
PEMANFAATAN SAMPAH DI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) JATIBARANG SEBAGAI SUMBER ENERGI BARU TERBARUKAN Sri Subekti; Adi Sasmito; Boby Rahman
urn:nbn:de:00001miji.v3i11
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertambahnya penduduk menyebabkan peningkatan volume sampah setiap tahunnya, mengakibatkan bertambah luas tempat penampungan sampah di TPA. Metode penelitian dengan mengumpulkan data sekunder, studi literatur agar terpenuhi kajian terhadap konsep dalam pemanfaatan sampah menjadi tenaga listrik. Pengelolaan sampah yang berkelanjutan merupakan bentuk tanggung jawab atas konsumsi dan produksi yang dilakukan (SDG’s 12). Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada ekosistem laut (SDG’s 14) Sampah yang tidak dikelola memberikan pengaruh negatif pada ekosistem darat dan tidak dapat di urai di tanah sehingga banyak sampah terutama plastik yang menyumbat saluran air maupun sungai, dapat tertelan oleh hewan (SDG’s 15). Pemilahan sampah organik dan anorganik merupakan suatu tahapan sehingga tidak menghambat proses dekomposisi anaerob. Inovasi yang dapat diterapkan adalah dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) dengan memanfaatkan sampah organik sebagai upaya mengurangi emisi gas karbon di lingkungan, perlunya kajian tentang inovasi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) sebagai alternatif pengelolaan sampah.
Penerapan Konsep Aerotropolis pada Pengembangan Bandar Udara: Application of Aerotropolis Concept in Airport Development Mutia Mandaka; Abdul Hafidz Al Rasyid; Adi Sasmito
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 17 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v17i2.567

Abstract

Aerotropolis memberikan konsep bisnis yang mana tempatnya berlokasi pada kawasan bandar udara. Penerapan aerotropolis juga bisa dijadikan sebagai alat dalam memanfaatkan lahan untuk kegiatan komersil secara bersamaan, agar tidak tertinggal dengan wilayah-wilayah lainnya. Tujuan konsep ini adalah untuk memperoleh manfaat untuk bandar udara tersebut, wilayah yang ada di sekitar bandar udara, ataupun secara skala nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran terkait dengan konsep aerotropolis di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kuala Lumpur International Airport, dan Singapore Changi Airport. Dengan menggunakan metode studi komparatif didapatkan hasil yaitu hanya Kuala Lumpur International Airport dan Singapore Changi Airport yang sangat baik dalam menerapkan konsep aerotropolis. Untuk Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto sendiri masih banyak memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam memenuhi prinsip-prinsip aerotropolis seperti prinsip struktur tata ruang wilayah, prinsip tata guna lahan, prinsip peruntukan utama dari fungsi suatu kawasan, prinsip penyediaan kawasan bisnis, serta prinsip konektivitas transportasi.