Pang S Asngari
Department of Sciences Communication and Community Development, Faculty of Human Ecology Institut Pertanian Bogor

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Partisipasi Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan dalam Penanganan Sampah di Sub DAS Cikapundung Jawa Barat Helnafri Ankesa Ankesa; Siti Amanah; Pang S Asngari
Jurnal Penyuluhan Vol. 12 No. 2 (2016): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.864 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v12i2.10929

Abstract

Pengelolaan sampah membutuhkan dukungan dari masyarakat. Isu tentang sampah juga di temukan di Sub DAS Cikapundung. Isu lingkungan di Cikapundung Sub DAS telah mengundang perempuan untuk berpartisipasi dalam bentuk gerakan kelompok. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik kelompok dan (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi upaya ibu rumah tangga dalam menjaga gerakan kelompok peduli lingkungan di Sub DAS Cikapundung. Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga April 2015 yang melibatkan 106 responden dari kelompok perempuan peduli lingkungan. Kelompok-kelompok yang terletak di tiga wilayah: Sunten Jaya Desa (hulu DAS), Lebak Siliwangi Desa (tengah DAS) dan Dayeuh Kolot Desa (hilir DAS). Wawancara menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dan diskusi kelompok yang digunakan untuk mengumpulkan data. Korelasi Rank-Spearman digunakan untuk menguji tingkat korelasi antara variabel-variabel berikut: a) profil dan dinamika kelompok, b) dukungan keluarga, c) persepsi dan partisipasi kelompok wanita peduli lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemauan, dan kemampuan kelompok wanita untuk mengolah limbah adalah faktor yang meningkatkan partisipasi. Mayoritas wanita tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kelompok peduli lingkungan. Faktor yang signifikan dengan tingkat persepsi dan partisipasi wanita dalam kelompok peduli lingkungan adalah profil dan dinamika kelompok, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat dan program penyuluhan.
Persepsi Perempuan terhadap Pemanfaatan Pekarangan Mendukung Diversifikasi Pangan di Sulawesi Utara Conny Naomi Manoppo; Siti Amanah; Pang S Asngari; Prabowo Tjitropranoto
Jurnal Penyuluhan Vol. 13 No. 1 (2017): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.287 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v13i1.13560

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis persepsi perempuan tentang fungsi dan manfaat pekarangan, diversifikasi pangan dan makanan sehat. Penelitian dilakukan di Kabupaten Minahasa dan Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan mulai Maret hingga Desember 2015, melibatkan 267 responden terdiri dari 140 responden di Minahasa dan 127 responden di Bitung, dipilih dari 803 perempuan peserta program pemanfaatan pekarangan Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisisis korelasi Rank Spearman dan uji Mann Whitney. Hasil analisis statistik deskriptif menyatakan, tingkat persepsi responden terhadap fungsi dan manfaat pekarangan, diversifikasi pangan dan makanan sehat berada pada kategori tinggi. Terdapat perbedaan persepsi terhadap diversifikasi pangan antara Minahasa dan Bitung. Persepsi tentang fungsi dan manfaat pekarangan berhubungan dengan: ketersediaan dan kesesuaian informasi, ketersediaan sarana produksi, dukungan keluarga, peran kelompok dan penyuluhan. Persepsi tentang diversifikasi pangan berhubungan nyata dengan jumlah anggota keluarga, kesesuaian informasi, kredibilitas pemberi informasi, dan ketersediaan sarana produksi. Persepsi tentang makanan sehat berhubungan negatif dengan curahan waktu dan berhubungan positif dengan kesesuaian informasi, ketersediaan sarana produksi, peran kelompok, dan penyuluhan. Untuk membangun persepsi positif terhadap pemanfaatan pekarangan diperlukan informasi berupa materi penyuluhan sesuai kebutuhan perempuan, penguatan kelompok, dan dukungan sarana produksi.
Persepsi Petani terhadap Hutan Rakyat Pola Agroforestri di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah Indiyah Hudiyani; Ninuk Purnaningsih; Pang S Asngari; Hardjanto Hardjanto
Jurnal Penyuluhan Vol. 13 No. 1 (2017): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.75 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v13i1.14709

Abstract

Keberhasilan pembangunan hutan rakyat pola agroforestri di Kabupaten Wonogiri tidak terlepas dari persepsi petani mengenai hutan rakyat pola agroforestri. Persepsi individu terhadap lingkungannya merupakan faktor penting dan sangat menentukan tindakan yang dilakukannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi petani mengenai hutan rakyat pola agroforestri dan menemukan karakteristik petani yang berhubungan dengan persepsi petani tentang hutan rakyat pola agroforestri di Kabupaten Wonogiri. Penelitian dilakukan pada Desember 2015 hingga April 2016 di Kabupaten Wonogiri. Populasi penelitian adalah kepala keluarga/ rumah tangga petani hutan rakyat dengan jumlah 2.431 orang dan pengumpulan data dilakukan kepada 246 petani hutan rakyat. Teknik penentuan sampel dilakukan secara simple random sampling. Data penelitian meliputi data primer dan data sekunder. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan digunakan Uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani memiliki persepsi yang tinggi terhadap pengelolaan hutan rakyat pola agroforestri (3,14 Skala Likert) dan manfaat hutan rakyat pola agroforestri (3,09 Skala Likert). Karakteristik petani yang berkorelasi dengan persepsi petani adalah pendidikan formal, pendidikan non formal, dan jumlah tanggungan keluarga.
Persepsi Petani Terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Aceh Utara Zul Fikar Mulieng; Siti Amanah; Pang S Asngari
Jurnal Penyuluhan Vol. 14 No. 1 (2018): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.204 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v14i1.17556

Abstract

Pembangunan pertanian untuk mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia sebagai bangsa yang dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan secara berdaulat. Kedudukan penyuluh sangat strategis dalam pembangunan, khususnya dalam merubah perilaku pelaku utama dan pelaku usaha. Pembangunan pertanian membutuhkan inovasi yang selalu berkembang. Pemanfaatan inovasi pertanian untuk peningkatan produktivitas melalui optimalisasi teknologi yang telah ada ataupun dengan pengembangan inovasi. Faktor yang mempengaruhi persepsi dan respon petani terhadap inovasi adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal berupa aspek fisik, nonfisik, dan lingkungan. Persepsi petani yang positif terhadap inovasi teknologi tidak berarti diikuti respons positif dalam mengadopsi. Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh seseorang dalam memahami informasi tentang lingkungan. Persepsi merupakan inti dari komunikasi sebab jika persepsi tidak akurat, maka komunikasi tidak akan berjalan secara efektif. Sehingga akan menentukan seseorang memilih pesan dan mengabaikan pesan karena setiap orang memiliki persepsi berbeda. Penelitian ini bertujuan mengukur persepsi petani terhadap kompetensi penyuluh pertanian tanaman pangan di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode survei. Data dikumpulkan secara deskriptif dan kualitatif melalui pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Hasil analisis secara deskriptif dan inferensial menemukan bahwa karakteristik petani yang berhubungan dengan kompetensi penyuluh pertanian tanaman pangan adalah status kepemilikan lahan terhadap penerapan metode penyuluhan
Implementasi Penyuluhan Hortikultura Berkelanjutan di Provinsi D.I. Yogyakarta Epsi Euriga; Siti Amanah; Anna Fatchiya; Pang S Asngari
Jurnal Penyuluhan Vol. 14 No. 2 (2018): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.297 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v14i2.19555

Abstract

Sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, implementasi penyuluhan mulai memfokuskan pada aspek keberlanjutan yaitu meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Hortikultura berkelanjutan merupakan salah satu inovasi dalam melaksanakan pertanian tanpa merusak lingkungan. Adopsi hortikultura berkelanjutan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh petani hortikultura di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meskipun telah dilaksanakan penyuluhan. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi suatu adopsi adalah penyuluhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi implementasi penyuluhan hortikultura berkelanjutan di Provinsi DIY. Survey dilakukan pada 350 petani hortikultura di Kabupaten Sleman, Kulonprogo dan Bantul, Provinsi DIY. Hasil survey menunjukkan bahwa efisiensi implementasi penyuluhan di DIY berada dalam kategori tinggi, yaitu: materi penyuluhan, metode penyuluhan dan kompetensi penyuluh pada kategori tinggi, sedangkan keterlibatan petani pada kategori sedang. Materi penyuluhan perlu diperkuat dalam hal penggunaan mulsa dan pemasaran dengan mempertimbangkan aspek kelayakan lingkungan dan ekonomi. Metode penyuluhan ditingkatkan dengan pelatihan (training) dan sekolah lapang. Penyuluh harus berkompetensi mengajak petani agar mengurangi penggunaan bahan kimia dalam memberantas hama dan gulma. Untuk meningkatkan partisipasi petani penyuluh harus meningkatkan frekuensi pertemuan dengan petani. 
Strategy to Develop Traditional Fishery Business in Implementing the Principle of Sustainable Business Helvi Yanfika; Siti Amanah; Anna Fatchiya; Pang S Asngari
Jurnal Penyuluhan Vol. 14 No. 2 (2018): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.503 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v14i2.20162

Abstract

The importance of sustainable development in fishery has been clearly seen in Indonesia through the existence of Law No.31 Year 2004 on Fishery. It is stated that fishery development is aimed to create job opportunities, fish farmer and fisherman welfare, and to maintain the sustainability of fishery resource and environment. Therefore, all aspects of fishery development activities, including traditional fish processing business should be based on the view of sustainable development. According to the description, the objectives of this study are: (1) to analyze traditional fish processing business; (2) to determine factors influencing one another in sustainable fishery business; and (3) to formulate strategy to improve the competence of traditional processing workers. This research was conducted through the method of survey in three regencies in Lampung Province; namely Tanggamus Regency, Pringsewu Regency, and East Lampung Regency, with a number of samples amounting to 235 respondents; later on the number of samples in each group was determined using the technique of proportional random sampling. Assessment towards the fish processing workers in sustainable traditional processing business generated quite good result since the processing workers were confident that the business developed well and sustainably. The competence of processing workers is influenced by non-formal education and entrepreneurial characteristics. The competence and implementation of extension has a direct influence, while individual characteristics of processing workers indirectly influence the sustainable traditional fishery business. Strategy to improve the competence of sustainable traditional fishery business is done by: (a) strengthening the competence of traditional fish processing workers particularly in technical and managerial aspects through the development of entrepreneurial characteristics; and (b) strengthening the extension intensity through extension method and media to create changes in behavior in running a sustainable traditional fishery business (economy, social, and environment).Keywords: Sustainable, fishery, traditional processing workers, strategy