Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

TRADISI PEMBUATAN TANGKAL UNTUK IBU HAMIL PADA SUKU MELAYU DI DESA SEI BEROMBANG KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU Rosramadhana, Rosramadhana; Malau, Waston; Pasaribu, Payerli
JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Vol 5, No 1 (2013): Penelitian Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masyarakat pesisir yang dinamakan orang Melayu yang tinggal di desa Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhan Batu ada suatu tradisi yang harus dilakukan oleh perempuan yang sedang hamil yaitu membuat “Tangkal”. Tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai saat ini, bahkan uniknya untuk membuat tangkal itu ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya untuk membuatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ritual kepercayaan yang dilakukan khususnya menggambarkan tentang proses pelaksanaan ritual kepercayaan pembuatan dan pemakaian tangkal pada ibu hamil, untuk mengetahui fungsi dan makna tangkal bagi masyarakat Melayu khususnya tangkal ibu yang sedang mengandung. Rancangan penelitian ini akan disusun dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etik dan emik. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Dianalisis secara kualitatif, Penelitian ini juga akan melakukan audit trail untuk menguji keakuratan data (catatan lapangan, hasil rekaman dokumen, dan foto. Dan dilakukan member check dengan informan. Tangkal juga diletakkan di bagian rumah yang disarankan seperti di atas pintu masuk di sudut ruangan dan di dapur. Menurut ibu Jurmiah Kalimantan (pembuat tangkal) setelah ritual sumpit selesai dilaksanakan dan diberikan kepada ibu hamil langsung dipakai dan tidak boleh dilangkahi. Selanjutnya beberapa macam tangkal seperti (1)kunyit (2) kunyit bungle, (3) jariango,(4) kencur, (5) duri landak,(6) kuku bajang, (7)pinang sundari, (8) buah kemiri, (9) bawang putih tunggal, (10) barang merah tunggal, (11) gambir, (12) kapur, (13) sirih, (14) bambu kuning, (15) Sogar ono/bargot, (15) ijok, (16) lidi gila, (17) sambok daro,  (18) benang 3 warna (hitam,kuning,merah) dimasukkan kedalam sumpit dan tidak boleh ditutup agar setan takut.
TRADISI PEMBUATAN TANGKAL UNTUK IBU HAMIL PADA SUKU MELAYU DI DESA SEI BEROMBANG KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU Rosramadhana, Rosramadhana; Malau, Waston; Pasaribu, Payerli
JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Vol 5, No 1 (2013): JUPIIS (Jurnal Pendidikan Ilmu Ilmu Sosial) JUNI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masyarakat pesisir yang dinamakan orang Melayu yang tinggal di desa Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhan Batu ada suatu tradisi yang harus dilakukan oleh perempuan yang sedang hamil yaitu membuat “Tangkal”. Tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai saat ini, bahkan uniknya untuk membuat tangkal itu ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya untuk membuatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ritual kepercayaan yang dilakukan khususnya menggambarkan tentang proses pelaksanaan ritual kepercayaan pembuatan dan pemakaian tangkal pada ibu hamil, untuk mengetahui fungsi dan makna tangkal bagi masyarakat Melayu khususnya tangkal ibu yang sedang mengandung. Rancangan penelitian ini akan disusun dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etik dan emik. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Dianalisis secara kualitatif, Penelitian ini juga akan melakukan audit trail untuk menguji keakuratan data (catatan lapangan, hasil rekaman dokumen, dan foto. Dan dilakukan member check dengan informan. Tangkal juga diletakkan di bagian rumah yang disarankan seperti di atas pintu masuk di sudut ruangan dan di dapur. Menurut ibu Jurmiah Kalimantan (pembuat tangkal) setelah ritual sumpit selesai dilaksanakan dan diberikan kepada ibu hamil langsung dipakai dan tidak boleh dilangkahi. Selanjutnya beberapa macam tangkal seperti (1)kunyit (2) kunyit bungle, (3) jariango,(4) kencur, (5) duri landak,(6) kuku bajang, (7)pinang sundari, (8) buah kemiri, (9) bawang putih tunggal, (10) barang merah tunggal, (11) gambir, (12) kapur, (13) sirih, (14) bambu kuning, (15) Sogar ono/bargot, (15) ijok, (16) lidi gila, (17) sambok daro,  (18) benang 3 warna (hitam,kuning,merah) dimasukkan kedalam sumpit dan tidak boleh ditutup agar setan takut.
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH ANTROPOLOGI PARIWISATA Simanjuntak, Daniel Harapan Parlindungan; Pasaribu, Payerli; Malau, Waston; Simarmata, Tumpal
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 2 (2017): Edisi Desember 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i2.8405

Abstract

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian mengenai implementasi pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan berfikir kritis mahasiswa pada mata kuliah Antropologi Pariwisata. Pemilihan model pembelajaran di masing-masing mata kuliah  diharapkan dapat mengembangan pemikiran kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai permasalahan di masyarakat. Pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Antropologi Pariwisata mampu meningkatan berfikir kritis mahasiswa. Penerapan enam penugasan dalam model pembelajaran kontekstual pada mata kuliah Antropologi Pariwisata dapat membantu merangsang peningkatan berfikir kritis mahasiswa. Berfikir kritis mahasiswa yang dimaksud dalam tulisan ini dapat dilihat berupa artikel ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa. Mahasiswa berfikir kritis tentang kondisi pariwisata dan kendala yang dihadapkan pariwisata di kota Medan serta memberikan ide-ide sebagai upaya merekayasa solusi untuk pengembangan kepariwisataan di kota Medan khususnya.
TRADISI PANJOPPUTAN SAAT MEMASUKI MASA PANEN PADI PADA MASYARAKAT DI DESA POLDUNG KECAMATAN AEK NATAS KABUPATEN LABUHANBATU UTARA Situmorang, Sintauli Edlina; Pasaribu, Payerli
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 1 (2017): Edisi Juni 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i1.8555

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang pelaksanaa tradisi panjopputan, proses pelaksanaan tradisi panjopputan, simbol-simbol dan makna yang terkandung dalam tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi di Desa Poldung Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhanbatu Utara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui penelitian lapangan (field research) dalam teknik observasi non partisipasi (non partisipan observer) dengan teknik observasi, wawancara (interview) dan dokumentasi untuk menambah data yang relevan. Informan ditentukan dengan purposive sampling. Adapun yang menjadi informan dalam penelilitan ini adalah tiga orang penatua desa, tiga orang aparatur desa dan sembilan petani padi yang melakukan tradisi panjopputan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Latar belakang pelaksanaan tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi berasal dari mitos yang berkembang ditengah masyarakat akan janji seorang nenek untuk menjemput bulir-bulir padi miliknya setelah tamu nenek kembali kerumahnya masing-masing. (2) Proses pelaksanaan tradisi panjopputan dikenal dalam tiga tahapan yaitu mamulung (tahap persiapan), partumonaan (tahap pelaksanaan), dan marhobas (tahap akhir pelaksanaa) yang dilakukan satu hari di waktu pagi. Pelaksanaan tradisi panjopputan biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. (3) Simbol-simbol dan makna yang terkandung dalam tradisi panjopputan  merupakan bentuk interaksi dan penghormatan kepada jiwa atau roh yang bersemayam pada tanaman padi, nenek moyang penguasa alam yang memiliki kekuatan atau makhluk lain yang menghuni lahan pertanian padi. Meskipun demikian penghormatan tertinggi tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesimpulan menunjukkan bahwa tradisi panjopputan saat memasuki masa panen padi merupakan warisan dari nenek moyang terdahulu yang hingga saat ini masih dilaksanakan oleh petani padi di Desa Poldung. Tradisi panjopputan pada masyarakat petani padi di Desa Poldung mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat petani padi juga percaya bahwa tradisi panjopputan dapat mendatangkan keberkahan terhadap hasil panen. 
STRATEGI PENERAPAN ENAM PENUGASAN PADA MATA KULIAH ANTROPOLOGI PERKOTAAN DI PRODI. PENDIDIKAN ANTROPOLOGI Pasaribu, Payerli; Malau, Waston; Simarmata, Tumpal; Simanjuntak, Daniel Harapan Parlindungan
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 2 (2017): Edisi Desember 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i2.8396

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang menggambarkan penerapan enam penugasan, pada awalnya dipandang oleh sebagian mahasiswa menjadi tugas berat yang tidak memberikan dampak. Focus Group Discussion yang dilakukan sebagai metode pengumpulan data berhasil mengungkap berbagai kesan dan pandangan mahasiswa terhadap penerapan enam penugasan. Berbagai kendala menambah kesan negatif terhadap pemberian enam penugasan. Beberapa kendala yang dihadapi mahasiswa yang terungkap diantaranya pemberian tugas dan pengumpulan tugas yang secara bersamaan, pedoman atau panduan yang tidak memadai, kurangnya pendanaan, dan  keterbatasan buku sumber. Enam penugasan sesungguhnya sangat bermanfaat baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen bahkan bagi program studi apabila dijalankan dengan tepat dan benar. Ada beberapa strategi penerapan enam penugasan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa yaitu penerapan enam penugasan secara kolaboratif, revisi pedoman/panduan pelaksanaan dan rubrik penilaian, perubahan strategi belajar, dan pemetaan serta pengadaan sumber buku.
Penguatan Nilai Kearifan Lokal “Poda Na Lima” Dalam Pembentukan Karakter Generasi-Z Desa Lintongnihuta Kecamatan Ronggurnihuta Kabupaten Samosir Naibaho, Zanrison; Marlina, Murni Eva; Pasaribu, Payerli; Malau, Waston
Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia Vol 3, No 1 (2024): April
Publisher : Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11092799

Abstract

Lintongnihuta Village, Ronggurnihuta District, Samosir Regency is a partner village that is the target audience for the Community Partnership Program with the activity of Implementing Local Wisdom Values "Poda Na Lima" in forming the character of the z generation. Generation-Z of the people of Lintongnihuta Village cannot be separated from very advanced technological developments, this has a negative impact on the character of the younger generation if it is not balanced with strengthening local wisdom values that have been passed down from their ancestors. The community partnership program activity of implementing the local wisdom values "Poda Na Lima" in forming Generation-Z's character offers several alternative solutions, including: providing outreach about the urgency of Generation-Z's character amidst the development of information technology. Providing assistance to Generation-Z, through seminars, discussions and mutual cooperation in cleaning the surrounding environment.
Kearifan Lokal Raja Bondar dalam Sistem Pengairan Sawah pada Masyarakat Batak Toba Simangunsong, Indri Yollanda; Pasaribu, Payerli
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12013

Abstract

Raja bondar is the name given to farmers who manage the irrigation of rice fields in Partoruan Lumban Lobu. This article aims to describe the background of Raja bondar, the requirements for becoming a Raja bondar and the local wisdom practiced by Raja bondar. The research method used are descriptive qualitative. The data collection techniques used are observation, interviews, and documentation.  The results of this study show that Raja bondar are motivated by the physical conditions of the rice field environment, the distant location of water sources, the susceptibility of irrigation channels to damage, the varying sizes of farmers land and seasonal changes. The requirements to become a Raja bondar include owning rice fields, residing in partoruan lumban lobu village and being known as a diligent person. The local wisdom practiced by Raja bondar includes leading mutual cooperation or called mamampe bondar, determining the seeding time, providing irrigation water using bamboo pieces or sibulu-bulu, maintaining waterways or mangaligi aek, mediating conflict, and getting reward in the form of rice or money from farmers.Abstrak: Raja bondar merupakan sebutan bagi petani yang mengelola irigasi sawah di Desa Partoruan Lumban Lobu. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang adanya Raja bondar, syarat terpilihnya Raja bondar dan bentuk-bentuk kearifan lokal Raja bondar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Raja bondar dilatar belakangi oleh keadaan fisik lingkungan persawahan yaitu sumber air yang jauh, jaringan irigasi yang rentan rusak, luas lahan petani yang berbeda serta perubahan musim. Syarat menjadi Raja bondar adalah memiliki sawah, bertempat tinggal di Desa Partoruan Lumban Lobu dan dikenal sebagai seorang yang rajin. Kearifan lokal yang dilakukan Raja bondar ialah memimpin gotong royong atau mamampe bondar, menentukan waktu membibit, membagi air menggunakan potongan bambu atau sibulu-bulu, pemeliharaan saluran air atau mangaligi bondar, menengahi konflik, dan mendapatkan imbalan berupa padi atau uang dari para petani.
NIHOPINGAN SEBAGAI MAKANAN PERSEMBAHAN KEPADA LELUHUR DI DESA RIANIATE KABUPATEN SAMOSIR Wati Manik, Tiarmaida; Pasaribu, Payerli; Ekomila, Sulian
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 10 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i10.2024.4271-4274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi proses pemberian Nihopingan kepada leluhur, alasan Nihopingan sebagai makanan persembahan serta makna yang terkandung dalam Nihopingan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori W. Robertson Smith tentang upacara bersaji dan teori Interpretasi Simbolik Geerzt. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melalui observasi partisipasi yang dimana penulis ikut serta dalam pembuatan dan acara ritual. Selain itu juga melakukan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Adapun hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Nihopingan selain menjadi makanan tradisional tetapi juga menjadi makanan sakral yang digunakan sebagai persembahan kepada leluhur oleh masyarakat di Desa Rianiate. Proses pemberian Nihopingan diadakan di dua tempat yaitu di dalam rumah yang disajikan di Sibuaton dan diluar yaitu dibawah Pohon Hariara. Masyarakat di Desa Rianiate menyajikan Nihopingan kepada leluhur karena sudah menjadi tradisi turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, selain itu Nihopingan menjadi perantara doa masyarakat di Desa Rianiate kepada leluhurnya. Masyarakat memberikan Nihopingan kepada leluhur sebagai harapan akan kesehatan, terhindar dari hal-hal buruk, kelancaran pekerjaan, rencana ketika masyarakat ingin membangun rumah ataupun tugu. Masyarakat memiliki keyakinan dan filosofil dalam terlihat dengan unsur Nihopingan seperti beras yang melambangkan kekuatan roh, kunyit melambangkan kekayaan dan kelimpahan, pisang melambangkan kelembutan, daun sirih sebagai lambang kesopanan, Jeruk purut lambang kebersihan dan itak gur-gur sebagai lambang pengharapan dan keikhlasan.
PERSEPSI MASYARAKAT DESA TOMOK TERHADAP INKONSISTENSI ADAT PADA UPACARA KEMATIAN SARI MATUA DAN SAUR MATUA DI DESA TOMOK KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Jhon Levi Gultom, Bryan; Pasaribu, Payerli
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 4 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i4.2024.1359-1369

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor yang melatarbelakangi adanya Inkonsistensi adat pada upacara kematian Sari matua dan Saur matua dan Pandangan/persepsi Masyarakat desa Tomok terhadap Inkonsistensi adat dalam upacara kematian Sari matua dan Saur matua di desa Tomok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah reduksi data,penyajian data dan penarikan kesimpulan.hasil dari penelitian ini menunjukan  bahwa di desa Tomok kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir telah terjadi suatu Inkonsistensi pada upacara kematian Sari matua dan Saur matua yang dilatarbelakangi oleh : perkembangan zaman saat ini, adanya rasa toleransi/berperasaan, tergantung kepada status orang yang melaksanakan. Persepsi Masyarakat desa Tomok yang mencakup : Penatua adat, natuatua ni huta, orang yang melakukan Inkonsistensi dan Masyarakat desa Tomok memiliki kesamaan yaitu jika ditanya melalui pribadi masing-masing mereka menolak akan adanya inkonsistensi tersebut. Namun pada kenyataannya mereka juga dapat menerima jika ada permintaan permintaan yang tidak sesuai dengan peraturan adat namun dengan satu persyaratan yaitu alasan yang diberikan harus jelas dan dapat diterima serta tidak bertolak belakang dengan aturan adat yang sebenarnya.
IMPLEMENTASI FILOSOFI “BORU NI RAJA” DALAM STATUS DAN PERAN PEREMPUAN BATAK TOBA DI DESA TOMOK PARSAORAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Rebecca Manurung, Patricia; Pasaribu, Payerli
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 1 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i1.2025.273-284

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ciri-ciri filosofi boru ni raja pada perempuan Batak Toba. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi filosofi boru ni raja dalam status dan peran perempuan Batak Toba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan dilakukan di Desa Tomok Parsaoran, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Boru Ni Raja dalam budaya Batak Toba menggambarkan perempuan sebagai sosok yang dihormati, dihargai, dan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keharmonisan serta martabat keluarga. Sebagai boru ni raja, perempuan Batak diharapkan memiliki sikap parbahul-bahul na bolon, yaitu tidak mudah marah atau emosi, serta mampu tetap tenang dan bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan di rumah tangga, keluarga, dan masyarakat. Implementasi dari sikap parbahul-bahul na bolon terlihat dalam perilaku boru ni raja di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ciri-ciri boru ni raja pada perempuan Batak ialah tegas dan berani, mandiri dan pekerja keras, setia dan mengutamakan anak, bijaksana, santun, berbicara, sopan berpakaian, singap dan teladan, menjunjung tinggi adat istiadat, hemat. Implementasi filosofi boru ni raja pada perempuan Batak harus dapat mencerminkan sikap bertanggung jawab, tegar dan bijaksana dalam menghadapi tantangan kehidupan dalam keluarga maupun masyarakat. Filosofi boru ni raja ini juga dapat menjadi landasan moral dan etika bagi perempuan Batak dalam menjalani kehidupan mereka. Boru ni raja adalah gelar adat yang diberikan kepada anak perempuan dari seorang raja atau pemimpin adat di masyarakat Batak Toba. Gelar ini memiliki makna dan fungsi penting dalam masyarakat Batak Toba. Boru ni raja memiliki  kedudukan  yang  tinggi  dan  dihormati oleh masyarakat.  Mereka  juga  memiliki  peran penting dalam menjaga adat istiadat dan budaya Batak Toba.