Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

UJI RESISTENSI KLON KARET HARAPAN IRR SERI 400 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA PADA SKALA LABORATORIUM Sayurandi; Roby Maulana; Sri Murti Tarigan; Syarifah Aini Pasaribu
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 10 No 1 (2023): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jupas.v10i1.7576

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resistensi klon IRR seri 400 terhadap penyakit gugur daun Corynespora di laboratorium. Penelitian tingkat resistensi klon karet IRR seri 400 dilakukan di laboratorium Proteksi Unit Riset Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember tahun 2020. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial, dengan tiga ulangan. Karakter pengamatan yang diamati adalah intensitas serangan yang diamati pada hari ke 2, 4, 6, 8 hari setelah inokulasi (hsi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klonIRR 425, IRR 434, IRR 440, IRR 450, IRR 455 dan klon pembanding PB 260 tergolong moderat. Klon IRR 428, IRR 429 dan IRR 449 tergolong agak rentan, sedangkan klon IRR 431 dan IRR 451 tergolong rentan. Nilai heritabilitas pada delapan hari setelah inokulasi tergolong tinggi, hal ini menandakan bahwa tingkat ketahanan genetik klon IRR seri 400 terhadap penyakit daun Corynepora lebih dipengaruhi faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan.
UJI KETAHANAN GENETIK BEBERAPA KLON KARET HARAPAN TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN PESTALOTIOPSIS DI KEBUN ENTRES Sayurandi, Sayurandi; Mara Kaya Habib Rambe; Eka Bobby Febrianto; Syarifah Aini Pasaribu
Agro Estate Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Teknologi Sawit Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47199/jae.v7i1.140

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketahanan genetik  klon karet harapan terhadap serangan penyakit Pestalotiopsis di kebun entres. Penelitian ini dilaksanakan  di  kebun entres  milik Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet yang dimulai pada bulan Oktober - Desember 2020. Sebanyak lima klon karet harapan dan klon PB 260 diuji dalam penelitian ini dengan menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah menghitung intensitas serangan penyakit setelah diinokulasi dengan isolat Pestalotiopsis yang diamati pada hari ke 7, 14, dan 21 hari setelah inokulasi (hsi). Dari hasil penelitian  menunjukkan bahwa klon IRR 429 tergolong agak resisten terhadap penyakit daun Pestalotiopsis,  klon IRR 440 dan IRR 431 tergolong moderat, sedangkan klon IRR 455 , IRR 437, dan PB 260 tergolong agak rentan. Nilai heritabilitas pada pengamatan 21 hsi tergolong tinggi yaitu sebesar 0,72. Nilai heritabilitas tersebut  menunjukkan bahwa tingkat ketahanan genetik klon karet harapan yang diamati pada penelitian ini lebih dipengaruhi oleh faktor genetik tanaman dibandingkan faktor lingkungan.
KEUNIKAN DAN KESERAGAMAN KLON KARET IRR 220 DAN IRR 429 Pasaribu, Syarifah Aini; PRASETYO, Nur Eko; OKTAVIA, Fetrina
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 41, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v41i2.866

Abstract

Klon karet unggul baru harus diidentifikasi secara detail melalui karakter morfologi tanaman untuk mengetahui nilai keunikan dan keseragaman. Data-data tersebut akan digunakan sebagai bahan dasar dalam penilaian oleh pihak perlindungan varietas tanaman (PVT) untuk melindungi dan melepas klon karet unggul baru ini agar dapat digunakan oleh masyarakat secara luas. Klon karet unggul IRR 220 dan klon unggul harapan IRR 429 merupakan salah satu calon klon karet unggul baru yang akan dilepas dan akan dilindungi oleh negara. Sehingga perlu dilakukan suatu penilaian terhadap keunikan dan keseragaman klon tersebut dari beberapa karakter penting yang dapat membedakan antar keduanya dengan klon populer atau salah satu tetua. IRR 220 hasil persilangan PB 260 x IAN 873 dan IRR 429 hasil persilangan IRR 111 x PB 260. Penilaian dilakukan dengan metode deskriftif kuantitatif dan kualitatif dari karakter helaian daun, tangkai daun, karangan daun, dan batang tanaman di kebun entres yang berumur tujuh tahun dengan stadia cabang berumur satu tahun (terdiri atas 4-6 payung daun tua). Sebanyak 17 karakter helaian daun, 5 karakter tangkai daun, 4 karakter karangan daun, dan 4 karakter batang yang diamati. Masing-masing karakter dikarakterisasi dan diidentifikasi secara kualitatif dengan mengamati semua karakter secara visual. Sedangkan untuk karakter kuantitatif diukur dengan menggunakan penggaris. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karakter kualitatif yang menunjukkan perbedaan di antara dua klon yang diidentifikasi yaitu warna daun, bentuk potongan memanjang dan melintang, nektar tangkai daun, jarak antar karangan, dan bentuk karangan daun.
KORELASI DAN SIGNIFIKANSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN: SEBUAH PENDEKATAN EFISIENSI BIAYA JUNAIDI, JUNAIDI; Pasaribu, Syarifah Aini; Saputra, Jamin; Bukit, Ernita
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 42, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v42i2.975

Abstract

Penelitian observatif dilakukan untuk membandingkan intensitas pemeliharaan dengan pertumbuhan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) karet di Sumatra Utara, meliputi wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel), Simalungun dan Serdang Bedagei (Sergei). Data kondisi lingkungan dan kultur teknis dikumpulkan dari laporan tahun 2023. Analisis statistik yang dilakukan meliputi Analysis of Variance (ANOVA), Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC), dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase kemurnian klon karet tidak berbeda nyata antar wilayah yang diamati. Variasi lilit batang di wilayah Tapsel mencapai 23,86 + 5,25%, tidak berbeda nyata dibanding Simalungun (20,02 + 3,87%), sedangkan Sergei (12,45 + 4,81%) nyata lebih rendah dibanding dua wilayah lainnya. Persentase deviasi lilit batang di wilayah Tapsel (-32,06 + 12,24%) lebih rendah dibanding Simalungun dan Sergei (masing-masing -9,66 + 15,72% dan 0,43 + 5,73%). Hasil PCA untuk parameter lingkungan dan kondisi tanaman menunjukkan bahwa lilit batang berkorelasi negatif terhadap ketinggian tempat, rata-rata hari hujan dan rata-rata curah hujan. Faktor-faktor agronomis meliputi frekuensi pengendalian lalang, frekuensi pengendalian gulma khemis, frekuensi pemupukan anorganik, frekuensi pengendalian penyakit, dan frekuensi deteksi penyakit berkorelasi positif terhadap lilit batang, sedangkan frekuensi pemupukan organik lilit batang berkorelasi negatif. Parameter lainnya yaitu frekuensi manajemen tajuk, frekuensi penyulaman, frekuensi pemeliharaan Mucuna bracteata, frekuensi dongkel anak kayu, frekuensi pengendalian gulma manual, frekuensi sensus dan konsolidasi, dan dosis pemupukan anorganik tidak berpengaruh signifikan terhadap lilit batang. Upaya efisiensi biaya dapat dilakukan dengan menurunkan intensitas pemeliharaan untuk parameter yang berkorelasi negatif dan tidak signifikan terhadap lilit batang.
PERFORMA TANAMAN KARET MENGGUNAKAN BAHAN TANAM ASALAN Andriyanto, Mochlisin; Pasaribu, Syarifah Aini; Bukit, Ernita; Saputra, Jamin
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.985

Abstract

Indikator keberhasilan agribisnis karet salah satunya dipengaruhi oleh kualitas bahan tanam. Bahan tanam karet klonal merupakan hasil perbanyakan tanaman secara okulasi. Okulasi ditentukan oleh kualitas batang atas dan batang bawah. Sebagian besar areal pertanaman karet skala petani masih menggunakan bahan tanam asalan tidak sesuai anjuran. Kendala lain juga dipengaruhi oleh terbatasnya para penangkar benih karet yang bersertifikat. Penggunaan bahan tanam karet asalan tidak hanya dipengaruhi oleh penanaman langsung dari biji batang bawah, namun teknis budidaya yang tidak tepat menjadikan kualitas bahan tanam menjadi rendah. Dampak penggunaan bahan tanam karet asalan diketahui dari keragaan sumber mata entres, heterogenitas, tingginya penurunan populasi dan tidak tercapainya produktivitas sesuai potensi genetik. Upaya untuk mengatasi penggunaan bahan tanam karet asalan terlihat dari karateristik bahan tanam berkualitas yaitu sudut tunas sumber mata entres yang juvenil 30o dari jaringan dewasa 50o-60o, kulit mata tunas asal entres memiliki alur halus atau bergaris, warna tunas bewarna hijau hingga minggu ke 15 dan setelah minggu ke 16 menjadi hijau kehitaman, pecah mata tunas 14-16 hari, pertumbuhan tinggi tunas 20-25 cm per bulan, jumlah payung daun setelah 19 hari setelah tanaman yaitu 1-1,5 payung per tanaman, 6-7 petiole daun setiap karangan.
PENGEMBANGAN KLON KARET UNGGUL BARU IRR 309 DAN IRR 310 RESPONSIF TERHADAP STIMULAN ETEFON Oktavia, Fetrina; Ismawanto, Sigit; Syafaah, Afdholiatus; Pasaribu, Syarifah Aini; Sayurandi, Sayurandi; Darojat, M. Rizki
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.1141

Abstract

Klon unggul merupakan salah satu komponen teknologi penting yang mempengaruhi produktivitas perkebunan karet. Pusat Penelitian Karet telah melepas klon karet unggul anjuran yang diberi nama IRR (Indonesian Rubber Research) yang terdiri dari IRR seri 00, seri 100, seri 200 dan yang terbaru adalah klon IRR seri 300. Terdapat dua klon terpilih dari pengujian IRR seri 300 yaitu IRR 309 dan IRR 310. Kedua klon tersebut memiliki pertumbuhan yang jagur sehingga buka sadap dapat dilakukan pada umur 4,5-5 tahun. Dengan menggunakan sistem sadap S/2 d3+ET 2.5% 10/y, IRR 309 memiliki potensi hasil lateks mencapai 2.221 kg/ha/tahun dan 2.059 kg/ha/tahun pada klon IRR 310, lebih tinggi dibanding klon kontrol BPM 24 yang hanya 1.805 kg/ha/tahun. Kedua klon resisten terhadap penyakit gugur daun Corynespora dan Colletotrichum, serta tergolong moderat resisten terhadap Pestalotiopsis. Klon IRR 309 dan IRR 310 memiliki keunggulan responsif terhadap aplikasi stimulan etefon, rata-rata peningkatan produksi dengan penggunaan etefon selama 5 tahun mencapai 130% pada IRR 309 dan 87% pada IRR 310. Hasil pengamatan menunjukkan gejala penyakit batang yang minim. Selain itu, lateks yang dihasilkan memenuhi syarat untuk diolah menjadi lateks pekat, RSS, maupun SIR. Berdasarkan pertumbuhan dan potensi hasil lateks, klon IRR 309 dan IRR 310 digolongkan sebagai klon penghasil lateks. Dengan sistem sadap yang tepat, penggunaan kedua klon tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan agribisnis karet saat ini dan meningkatkan produktivitas karet nasional.