Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENINGKATAN KONSUMSI GIZI DAN KEAMANAN PANGAN UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUBUH SELAMA MASA PANDEMIK COVID-19: PENINGKATAN KONSUMSI GIZI DAN KEAMANAN PANGAN UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUBUH SELAMA MASA PANDEMIK COVID-19 Djali, Mohamad; Deliana, Yosini; Lembong, Elazmanawati; Radiani A, Heni; Yarlina, Vira Putri
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.16

Abstract

Saat ini, akibat pandemi COVID-19 (corona virus) menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat terutama yang berkaitan dengan pola konsumsi pangan. Menjaga pola makan yang baik dan sehat sangatlah penting dilakukan selama pandemi COVID-19, karena dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan sehat serta aman dapat berkontribusi dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pangan dan gizi masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat, bergizi seimbang dan aman untuk meningkatkan imunitas tubuh terutama di masa pandemik, terutama terkait dengan pangan lokal yang tersedia. Hasil yang diperoleh dari kegiatan yaitu masyarakat mampu mengetahui dan memahami pengetahuan gizi yang sehat dan seimbang serta aman dikonsumsi berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama masa pandemi. Indikator keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat dari hasil survei dimana terdapat peningkatan persentase jawaban dari setiap quisioner pre test dan post test yang diberikan pada masyarakat sasaran mengenai pengetahuan makanan sehat, seimbang, bergizi, dan aman.
KADAR PROTEIN DAN TANIN NASI SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) DENGAN PENAMBAHAN KACANG TUNGGAK (Vigna unguiculata) [PROTEIN AND TANNIN CONTENTS OF SORGHUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RICE WITH ADDITION OF COWPEA (Vigna unguiculata)] Wulandari, Endah; Muthia, Husna; Lembong, Elazmanawati; Filiant, Fitry
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 1 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorghum is the fifth most important cereal and is a staple food for people living in semiarid tropical regions such as Africa, Asia and Latin America. Sorghum contains nutrients that are equivalent to rice so it can be used as rice and become a staple food for Indonesian people, but sorghum has a low protein quality due to its low lysine content and contains antinutrients, tannins, so it is necessary to do several ways to improve the quality of sorghum protein. The addition of cowpea aims to increase the level of rice sorghum lysine, while germination is done to reduce the level of sorghum rice tannins. The purpose of this study was to determine the protein content and levels of sorghum rice tannin with the addition of cowpea. The results showed that the addition of cowpea caused increased levels of tannin and rice sorghum protein, while germination could reduce tannin levels and increase the protein content of sorghum rice. ABSTRAKSorgum adalah serealia terpenting kelima dan merupakan makanan pokok bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis semi kering seperti Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sorgum mengandung nutrisi yang setara dengan beras sehingga dapat dimanfaatkan sebagai nasi dan menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia, namun sorgum memiliki kualitasprotein yang rendah karena kandungan lisin yang rendah dan mengandung zat antinutrisi yaitu tanin, sehingga perlu dilakukan beberapa cara untuk meningkatkan kualitas protein sorgum. Penambahan kacang tunggak bertujuan untuk meningkatkan kadar lisin nasi sorgum,sedangkan perkecambahan dilakukan untuk mengurangi kadar tanin nasi sorgum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan kadar tanin nasi sorgum dengan penambahan kacang tunggak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kacang tunggak menyebabkan meningkatnya kadar tanin dan protein nasi sorgum, sedangkan perkecambahan dapat menurunkan kadar tanin dan meningkatkan kadar protein nasi sorgum.Kata kunci: Kacang tunggak, nasi sorgum, perkecambahan, protein, tanin
Characteristics of Spanish Mackerel (Scomberomorus commerson) Bone Gelatin for Ice Cream Stabilizer Rahimah, Souvia; Fadhila, Anisa; Lembong, Elazmanawati; Sukri, Nandi; Cahyanto, Tri
Indonesian Journal of Halal Research Vol. 2 No. 1 (2020): February
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijhar.v2i1.7820

Abstract

Ice cream is a milk-processed-based product that provides enough nutrients. The ice cream making process requires a stabilizer. The stabilizer used in this study was gelatin. This research used mackerel fish bones as the basic material for the gelatin, where the protein content is high enough to be made as gelatin. The purpose of this research was to determine the right amount of mackerel to make ice cream with good characteristics. The descriptive experimental method with an advanced regression analysis method was used to analyze the results of ice cream physical characteristics, while randomized block design (RBD) and descriptive method were used on the organoleptic results of the ice cream. The experiment consisted of four repetition sessions with different gelatin concentrations of 0%, 0.1%, 0.3%, and 0.5%, each treatment was repeated three times. The results showed additions of gelatin concentration on ice cream making had a very strong relationship with the characteristics of the ice cream namely overrun value, melting power, and viscosity with a correlation coefficient of 0.94, 0.911, and 0.995 respectively. While in terms of organoleptic, the higher the concentration gelatin, the softness of ice cream is higher, therefore more panelists preferred it.
KADAR PROTEIN DAN TANIN NASI SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) DENGAN PENAMBAHAN KACANG TUNGGAK (Vigna unguiculata) [PROTEIN AND TANNIN CONTENTS OF SORGHUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RICE WITH ADDITION OF COWPEA (Vigna unguiculata)] Endah Wulandari; Husna Muthia; Elazmanawati Lembong; Fitry Filiant
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorghum is the fifth most important cereal and is a staple food for people living in semiarid tropical regions such as Africa, Asia and Latin America. Sorghum contains nutrients that are equivalent to rice so it can be used as rice and become a staple food for Indonesian people, but sorghum has a low protein quality due to its low lysine content and contains antinutrients, tannins, so it is necessary to do several ways to improve the quality of sorghum protein. The addition of cowpea aims to increase the level of rice sorghum lysine, while germination is done to reduce the level of sorghum rice tannins. The purpose of this study was to determine the protein content and levels of sorghum rice tannin with the addition of cowpea. The results showed that the addition of cowpea caused increased levels of tannin and rice sorghum protein, while germination could reduce tannin levels and increase the protein content of sorghum rice. ABSTRAKSorgum adalah serealia terpenting kelima dan merupakan makanan pokok bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis semi kering seperti Afrika, Asia dan Amerika Latin. Sorgum mengandung nutrisi yang setara dengan beras sehingga dapat dimanfaatkan sebagai nasi dan menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia, namun sorgum memiliki kualitasprotein yang rendah karena kandungan lisin yang rendah dan mengandung zat antinutrisi yaitu tanin, sehingga perlu dilakukan beberapa cara untuk meningkatkan kualitas protein sorgum. Penambahan kacang tunggak bertujuan untuk meningkatkan kadar lisin nasi sorgum,sedangkan perkecambahan dilakukan untuk mengurangi kadar tanin nasi sorgum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan kadar tanin nasi sorgum dengan penambahan kacang tunggak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kacang tunggak menyebabkan meningkatnya kadar tanin dan protein nasi sorgum, sedangkan perkecambahan dapat menurunkan kadar tanin dan meningkatkan kadar protein nasi sorgum.Kata kunci: Kacang tunggak, nasi sorgum, perkecambahan, protein, tanin
Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Edible Cup Cookies Berbasis Tepung Kulit Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Sebagai Alternatif Cangkir Plastik Pangan Kendra, Audrey; Djali, Mohamad; Hanidah, In In; Lembong, Elazmanawati; Jaluwardhana, Rivan Satria
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2026): TEKNOTAN, April 2026
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol20n1.16

Abstract

Pemanfaatan Kulit Biji Kakao (KBK), yang merupakan produk samping dari industri pengolahan cokelat, masih sangat terbatas dan umumnya hanya digunakan sebagai pakan ternak dengan nilai ekonomi yang rendah, faktanya bahan ini tinggi akan protein, serat, serta senyawa bioaktif. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan formulasi ideal substitusi tepung KBK pada komposisi produk agar menghasilkan edible cup cookies dengan karakteristik fisikokimia serta organoleptik terbaik dan diterima oleh konsumen sebagai alternatif cangkir plastik pangan komersial. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, yaitu A (100% tepung terigu), B (90% tepung terigu dan 10% tepung KBK), C (80% tepung terigu dan 20% tepung KBK), D (70% tepung terigu dan 30% tepung KBK), dan E (60% tepung terigu dan 40% tepung KBK), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diuji meliputi kadar air, protein, kekerasan, daya patah, uji organoleptik hedonik serta dilakukan uji aktivitas antioksidan dan serat pangan sebagai konfirmasi lanjutan terhadap 2 sampel perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan substitusi KBK menurunkan kadar air (2,70-3,22%) tetapi meningkatkan protein (7,31-9,16%). Nilai kekerasan meningkat (1.419,45–2.415,18 g/force) serta nilai daya patah berkisar (11,49-15,68 mm). Uji organoleptik menunjukkan perlakuan D (70% tepung terigu dan 30% KBK) paling disukai panelis, sedangkan perlakuan E (60% tepung terigu dan 40% KBK) unggul secara fungsional tetapi kurang diterima sensoris. Hasil uji kadar serat pangan (15,86 dan 22,01%) meningkat berbanding lurus dengan penambahan tepung KBK dan aktivitas antioksidan (12.878,40 dan 21.841,51 ppm) mengindikasikan bahwa sampel edible cup cookies dengan KBK rentan terdegradasi bahkan inaktif kemampuan antioksidannya akibat pengolahan.
Sifat Fisikokimia dan Fungsional Tepung Nanopartikel Kulit Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Dari Kategori Mutu Edel dan Bulk Terfermentasi Djali, Mohamad; Mooira, Lumongga; Indiarto, Rossi; Subroto, Edy; Fetriyuna, Fetriyuna; Utama, Gemilang Lara; Lembong, Elazmanawati
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2026): TEKNOTAN, April 2026
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol20n1.7

Abstract

Kulit biji kakao merupakan hasil samping agroindustri yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal mengandung senyawa bioaktif penting seperti polifenol (katekin, epikatekin, antosianin, tannin), alkaloid (theobromine dan kafein), serat pangan, protein, serta mineral esensial yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional. Melalui teknologi nano, kulit biji kakao dapat dimodifikasi menjadi nanopartikel sehingga memiliki sifat fisikokimia, fungsional, dan amilografi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fungsional, amilografi, dan fisikokimia nanopartikel kulit biji kakao terfermentasi dari kategori mutu edel, bulk, serta campuran keduanya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan deskriptif menggunakan tiga jenis sampel dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kategori mutu tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fungsional, amilografi, dan fisikokimia. Namun, kategori mutu edel memiliki nilai kelarutan (41,27%), swelling volume (96 mL/g), dan daya serap air (3,05 g/g) tertinggi. Hal ini diduga terkait dengan kadar serat dan amilosa yang lebih tinggi serta kadar lemak yang lebih rendah. Secara umum, ketiga sampel menunjukkan profil viskositas rendah yang menandakan kemampuan pengembangan terbatas, namun memiliki kapasitas penyerapan air yang tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kulit biji kakao, khususnya kategori edel, berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional dalam bentuk nanopartikel yang aplikatif untuk industri.
Physicochemical and Sensory Characteristics of Biscuits with Cocoa Bean Shell Flour Addition: Pengaruh Penambahan Tepung Kulit Biji Kakao terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Biskuit Lembong, Elazmanawati; Subroto, Edy; Djali, Mohamad; Nazhifa Az-Zahra, Nisrina
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 14 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2026.014.02.3

Abstract

Abstract Biscuits are widely consumed convenience foods, but often have limited nutritional value. This study aimed to evaluate the effect of cocoa bean shell (CBS) flour as a partial substitute for wheat flour on the physicochemical and sensory properties of biscuits and to determine the best formulation. The study employed a Completely Randomized Design with five treatments: A (0% CBS/control), B (5%), C (10%), D (15%), and E (20%), each conducted in triplicate. The parameters analyzed included proximate composition, texture (hardness and fracturability), color (L*, a*, b*, and ∆E), and sensory evaluation. The results showed that increasing CBS concentration significantly (p<0.05) increased moisture, ash, protein, and fat content, as well as hardness and fracturability of the biscuits. In contrast, carbohydrate content and sensory acceptability decreased with higher CBS levels. The lightness value (L*) decreased, indicating a darker biscuit color. The best formulation based on sensory evaluation was treatment B (5% CBS), while treatment D (15% CBS) showed the best results based on proximate composition.   Abstrak Biskuit merupakan produk pangan praktis yang banyak dikonsumsi, namun umumnya memiliki kandungan gizi yang kurang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan tepung kulit biji kakao (KBK) sebagai substitusi parsial tepung terigu terhadap sifat fisikokimia dan sensoris biskuit serta menentukan formulasi terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu A (0% KBK/kontrol), B (5%), C (10%), D (15%), dan E (20%) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi analisis proksimat, tekstur (hardness dan fracturability), warna (L*, a*, b*, dan ∆E), serta uji sensoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi KBK secara signifikan (p<0,05) meningkatkan kadar air, abu, protein, dan lemak, serta meningkatkan nilai hardness dan fracturability biskuit. Sebaliknya, kadar karbohidrat dan tingkat kesukaan panelis (sensoris) menurun seiring peningkatan KBK. Nilai kecerahan (L*) menurun, menunjukkan warna biskuit menjadi lebih gelap. Formulasi terbaik berdasarkan uji sensoris adalah B (5% KBK), sedangkan berdasarkan parameter proksimat adalah D (15% KBK).
EFFECT OF BUFFALO MILK ADDITION ON THE QUALITY OF SWEET CORN FERMENTED BEVERAGE (Zea Mays L.) Lembong, Elazmanawati; Djali, Mohamad; Lara Utama, Gemilang; Pratiwi Ramadhani, Abbya
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2026.027.01.3

Abstract

Sweet corn based fermented beverages represent a promising innovation in cereal based products with potential as functional foods. However, the low lactose content in corn extract limits the growth of Lactic Acid Bacteria (LAB), thereby necessitating the addition of lactose sources from animal milk. This study aimed to evaluate the effect of buffalo milk addition on the physicochemical, microbiological, and sensory characteristics of a sweet corn based fermented beverage and to determine the optimal formulation. The study employed a completely randomized design with five levels of buffalo milk addition: 0%, 10%, 20%, 30%, and 40%. The parameters analyzed included ash content, protein content, fat content, titratable acidity, total LAB, and sensory properties. The results showed that buffalo milk addition significantly affected all measured parameters. Increasing buffalo milk concentration led to higher ash, protein, fat, titratable acidity, and LAB counts. However, none of the formulations met the minimum protein requirement specified by SNI 2981:2009. The formulation containing 30% buffalo milk was selected as the optimal treatment, as it provided the best balance among physicochemical properties, microbial quality, and sensory acceptability, although it did not yield the highest values for all parameters. The resulting product is more appropriately classified as a corn-based fermented beverage with buffalo milk addition and can be considered to partially meet the requirements of SNI 2981:2009.