Dede Pramayoza
Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

MENUJU PADANGPANJANG SEBAGAI KOTA LITERATUR DUNIA: PKM PENYUSUNAN DOSSIER UNESCO CITY OF LITERATURE Saaduddin, Saaduddin; Pramayoza, Dede; H, Afrizal; Muliati, Roza; HR, Hafif; Sena, Alvi; Aldo, Yoni
Batoboh Vol 7, No 1 (2022): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v7i1.1707

Abstract

Borang Dossier UNESCO merupakan satu borang pengajuan untuk mendapatkan status kota sebagai predikat yang diusulkan sesuai kompetensi kota dan skim pengajuan. Borang ini sudah direncanakan dari tahun 2017 semenjak gerakan literasi kota dicanangkan oleh Pemerintahan Daerah. Namun, baru pada tahun 2021 pembuatan ini dapat dilaksanakan dan diselesaikan. Pengajuan ini diusulkan berdasarkan penilaian strategis bahwa pengusulan, terlepas dari lulus atau tidak lulus boring pengajuan sudah terwujud dan ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam penataan ekosistem kota baik dalam bidang literature ataupun bidang kebudayaan. Pelaksanaan  Program Kemitraan Masyarakat (PkM) Penyusunan Borang Dossier UNESCO City Of Literature Kota Padangpanjang dilaksanakan di Kota Padangpanjang. Tempat yang digunakan antara lain; Ruang VIP Balaikota Padangpanjang, Rumah Gadang Gajah Maaram PDIKM Padangpanjang, dan Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padangpanjang. Metode yang digunakan dalam penyusunan ini adalah melakukan komparasi terhadap borang Dossier yang telah didapatkan, dan borang Dossier dari kota Literature dunia. Menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang didapatkan selama pengumpulan data, artikel ini diuraikan sebagai pemadatan dari boring yang telah disusun
ANALISIS SEMIOTIKA ARSITEKTUR BANGUNAN PELABUHAN TELUK NIBUNG SEBAGAI WUJUD IDENTITAS TANJUNG BALAI KOTA KERANG Panjaitan, Sri Wahyuni; Pramayoza, Dede
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 1 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.181 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i1.1618

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang Pelabuhan Teluk Nibung yang terletak di Kota Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Pelabuhan tersebut kini mengalami perubahan arsitektur, yang memberikan ciri khas dari kota Tanjung Balai Asahan sebagai Kota Kerang. Mengunakan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce, tulisan ini menguraikan perihal semiotika arsitektur bangunan, yang dipandang sebagai bahasa simbol atau tanda yang dapat memberikan informasi melalui bentuk-bentuk dan pesan tertentu kepada target audience. Penelitian menunjukkan bahwa jika dilihat berdasarkan objek semiotika, yakni ikon, indeks dan simbol, maka arsitektur bangunan Pelabuhan Teluk Nibung merupakan wujud identitas kota Tanjung Balai Asahan, yang dikenal kota Kerang. Salah satu wujudnya adalah bangunan berbentuk seperti salah satu jenis cangkang kerang yaitu jenis kerang Kepah.AbstractThis article discusses the Teluk Nibung Harbor located in Tanjung Balai Asahan City, North Sumatra. The port is now undergoing architectural changes, which give the characteristics of the city of Tanjung Balai Asahan as the City of Shells. Using the semiotic analysis method of Charles Sanders Peirce, this paper describes the semiotics of building architecture, which is seen as a language of symbols or signs that can provide information through certain forms and messages to the target audience. The research shows that when viewed based on semiotic objects, namely icons, indexes, and symbols, the Teluk Nibung Harbor building architecture is a manifestation of the identity of the city of Tanjung Balai Asahan, which is known as the city of Shells. One of its forms is a building shaped like one type of clamshell, namely the Kepah type of shell.
Resepsi Atas Dokumentasi Opera Minangkabau Malin Nan Kondang: Suatu Kajian Penonton Teater Pemula Mustika, Novia; Hs, Wendy; Pramayoza, Dede
Creativity And Research Theatre Journal Vol 5, No 1 (2023): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v5i1.2561

Abstract

The Minangkabau Opera Malin Nan Kondang combines drama, dance, music, and visual arts performances, departing from the kaba Malin Kundang, a folklore from West Sumatra about a boy named Malin who is disobedient to his mother and is cursed to turn to stone. Contrary to the kaba version, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang tells about Malin's loyalty and sacrifice to his mother and lover, Nilam. This research treats the reception of novice audiences as a formal object intended to see responses to the structure or texture of the performance, which is witnessed through documentation. Data was collected through questionnaires, direct observation, and interview techniques. Research data analysis is directed to see three things from the novice audience, namely: (1) the horizon of expectations; (2) body reaction; and (3) the segmentation effect. Based on these three things, a general conclusion is formulated, namely the reception of the novice audience. Research shows that structural aspects (plot, characters, and themes) attract more beginner audiences than the performance's texture (atmosphere, dialogue, and spectacle, be it music, dance, costumes, make-up, or lighting). The tendency to respond more to the structure than the texture of this performance through documentation shows that for novice audiences, the story aspect is more interesting than the spectacle aspect. But at the same time, it has also been proven that this performance style, called 'Minangkabau Opera,' tends to be effective in conveying stories to novice audiencesReception Of The Documentation Of Malin Nan Kondang Minangkabau Opera : A Studies Of Beginning Theater AudienceAbstrakOpera Minangkabau Malin Nan Kondang merupakan perpaduan antara pertunjukan drama, tari, musik serta seni visual, yang berangkat dari kaba Malin Kundang, sebuah cerita rakyat dari Sumatera Barat tentang seorang anak bernama Malin yang durhaka kepada ibunya, hingga dikutuk menjadi batu. Berkebalikan dengan versi kaba itu, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang mengisahkan tentang kesetian dan pengorbanan Malin, baik kepada Ibunya, maupun kepada kekasihnya, Nilam. Penelitian ini menjadikan resepsi penonton pemula sebagai objek formal, yang ditujukan untuk melihat tanggapan atas struktur atau tekstur pertunjukan, yang disaksikan melalui dokumentasi. Data dikumpulkan melalui teknik kuisioner, pengamatan langsung, yang diteruskan dengan teknik wawancara. Analisis data penelitian diarahkan untuk melihat tiga hal dari penonton pemula, yakni: (1) horizon harapan; (2) reaksi tubuh; dan (3) pengaruh segmentasi. Berdasarkan ketiga hal tersebut, diformulasikan suatu kesimpulan umum, yakni resepsi penonton pemula. Penelitian menunjukkan bahwa aspek struktur (alur, karakter dan tema) lebih menarik perhatian penonton pemula ketimbang tektur pertunjukan (suasana, dialog dan spektakel, baik itu musik, tarian, kostum, rias, maupun pencahayaan). Kecenderungan untuk lebih menanggapi stuktur ketimbangan tekstur pertunjukan ini melalui dokumentasi menunjukkan bahwa bagi penonton pemula aspek cerita lebih menarik perhatian ketimbang aspek tontonan. Namun pada saat yang sama, terbukti pula bahwa pihan gaya pertunjukan yang dinamakan ‘Opera Minangkabau’ ini cenderung efektif untuk menyampaikan cerita kepada penonton pemula
Mewujudkan Tokoh Sayoko dalam Naskah Sari Jeli Almond Karya Wishing Chong dengan Metode Akting Stanislavski ‘Magic If’ Fatriza, Dinda; Birowo, Pandu; Pramayoza, Dede
Creativity And Research Theatre Journal Vol 6, No 2 (2024): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v6i2.4976

Abstract

Artikel ini menguraikan tentang proses penciptaan peran dan pemeranan tokoh Sayoko dalam Naskah Sari Jeli Almond karya Wishing Chong. Sebagai suatu bentuk penciptaan dan penyajian, pemeranan tokoh Sayoko diawali dengan analisis karakter. Tokoh Sayoko adalah karakter yang memiliki kompleksitas masalah dalam kehidupannya yakni permasalahan dalam rumah tangga, yang dibayang-bayangi pula pula oleh permasalahan masa lalu. Masalah itu membuat Sayoko selalu memiliki konflik dengan suaminya, Tatsuro, yang dipertajam oleh tidak pekaan suaminya atas konflik yang juga dialaminya dengan kedua orang tuanya. Karakteristik tokoh Sayoko ini dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu; dimensi-dimensi tokoh Sayoko meliputi fisiologis, psikologis dan sosiologis, kedudukan tokoh Sayoko dalam teks, dan bentuk tokoh Sayoko. Perwujudan tokoh Sayoko dalam proses penciptaan ini menggunakan metode akting Stanislavski yaitu magic if. Magic If atau pengandaian yang ajaib harus pemeran wujudkan dengan beberapa tahapan, meliputi; observasi, imajinasi, ingatan emosi, dan mendandani tokoh.
Kreativitas Versus Dehumanisasi Seni Desain: Keterampilan Manusia di Tengah Tantangan Kecerdasan Buatan dalam Era Digital Zuharmando Ghaffara, Muhammad; Dede Pramayoza; Asril
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): Besaung : Desember-Maret
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v10i1.5017

Abstract

This article examines the significant changes experienced by digital design artists in the era of artificial intelligence (AI), especially related to transformations in the creative process, originality and human values ​​in art. The main problem of this research is that the current development of AI technology with all its advances can create works of art quickly and with high quality, which previously could only be done by artists. This raises concerns among artists regarding the potential for commodification of works of art, loss of emotional elements and a decrease in the value of originality due to automatic processes that are less personal. But on the other hand, AI also opens up new opportunities in artistic exploration, allowing artists to integrate traditional techniques with technological innovations to speed up the creation process. Through a qualitative descriptive approach, the main aim of this research is to investigate artists' views regarding the use of AI, both as a partner and as a threat. The analysis results show that AI influences the role and identity of artists, especially in maintaining emotion and meaning in digital art. It is hoped that these findings can provide an understanding of the balance between technology and human expression in art, as well as answer ethical and aesthetic challenges in the context of art that continues to develop.
Festival Teater Sebagai Sumber Data Bagi Investigasi Perkembangan Dramaturgi: Sebuah Studi Awal Efendi, Leni; Yuliza, Fresti; Pramayoza, Dede
Creativity And Research Theatre Journal Vol 7, No 1 (2025): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v7i1.5761

Abstract

Artikel ini membahas tentang festival teater sebagai suatu sumber kajian atas sejarah perkembangan dramaturgi. Tujuannya adalah menyediakan kerangka dasar untuk studi tentang peran festival teater dalam perkembangan dramaturgis teater kontemporer di berbagai daerah di Indonesia, khususnya Sumatera Barat di masa yang akan datang. Pembahasan dilakukan dengan membandingkan antara sejarah perkembangan dramaturgi dunia yang tampak melalui penyelenggaraan berbagai festival teater dengan perkembangan dramaturgi teater kontemporer yang tampak melalui berbagai festival teater di Indonesia. Menggunakan metode studi pustaka, data digali dari berbagai sumber tertulis, yang dianalisis secara deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan peran festival teater signifikan dalam membentuk dan menjadi pemicu perkembangan dramaturgi, dimulai dengan mendorong pertumbuhan naskah lakon baru, lahirnya konsep pementasan teater yang baru, dan secara keseluruhan juga mendorong konsep dramaturgi yang lebih kontektual dan relevan pada masing-masing periode.
Galanggang Arang sebagai Perancangan Pengalaman Keindahan: WTBOS dalam Perspektif Dramaturgi dan Kurasi Seni Pertunjukan Pramayoza, Dede
Puitika Vol. 20 No. 3 (2024): Edisi Khusus Pemetaan dan Pendokumentasian Warisan Tambang Batu Bara Ombilin S
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v20i3.625

Abstract

Based on a report by Van Lier (1917), it was written that the Sawahlunto community had utilized coal exposed to the surface as fuel for cooking long before the exploitation and exploration activities by the Dutch East Indies Government. The term used for the coal was charcoal tongue (daagzoom), and the community used boats on the Ombilin River to sell the commodity to the South of Sawahlunto. Based on historical records from PT Bukit Asam, an entity that was once the manager of the largest coal mine in Sawahlunto in the era of independence, the excavation and utilization of coal increased significantly after the discovery of coal reserves around the Ombilin River as much as 205 million tons by Willem Hendrik de Greve in 1867. The pioneering of mining was carried out by the Dutch East Indies Government in 1876 and began operating in 1891, with production records in 1892 of 48 thousand tons and peak production in 1995 of 1.2 million tons based on data from PT Bukit Asam. Of the many mining business permits (IUP) managed by several state-owned and private companies, several former mining areas have been appropriately reclaimed and become tourist areas. However, some former mining areas must be appropriately managed and have turned into critical land. On the other hand, several mining company assets are currently not being utilized, and the Ombilin Steam Power Plant (PLTU) is still operating using coal fuel. Is it possible to utilize critical former mining areas to plant energy crops whose harvests can be processed in such a way by a business unit into renewable fuel to be used as an alternative fuel, for example, by a power plant? By doing so, it is hoped that Sawahlunto, which has long been known as a fuel producer, can maintain its status as a Fuel Producer. This article will present this potential, including stakeholders who can be involved in realizing it.
Rancangan Dramaturgi Naskah Lakon Mesin Jemaat Karya Ahda Imran dengan Gaya Teater Epik dan Genre Komedi Satir Artika, Yulia; Pramayoza, Dede; Efendi, Leni
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 3 No 01 (2024): Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v3i01.27841

Abstract

Artikel ini menguraikan tentang rancangan dramaturgi atas naskah lakon Mesin Jemaat karya Ahda Imran. Tujuan penulisan artikel ini adalah memberi pemahaman tentang isi dari naskah lakon Mesin Jemaat karya Ahda Imran sebagai bahan rujukan bagi mereka yang ingin mementaskan naskah ini di masa yang akan datang. Tulisan ini berangkat dari kerangka teoretik Teater Epik yang dicetuskan oleh Bertolt Brecht dengan konsep dasar Alinasi, Montase, dan V-effek. Skripsi ini menjabarkan terlebih dahulu tentang analisis tekstual dari naskah lakon Mesin Jemaat, untuk kemudian memproyeksikannya ke dalam bentuk rancangan dramaturgis. Hasilnya adalah sebuah rancangan dramaturgi naskah lakon Mesin Jemaat karya Ahda Imran dengan gaya Teater Epik dan genre komedi satir, yang siap untuk diimplementasikan dalam bentuk pementasan.
Aesthetics of the Babuai Dance and the Transformation of Tradition at the Singo Barantai Traditional Arts Institute, Padang Nofa, Yosi; Yuliarni, Yuliarni; Harun, Afrizal; Asril, Asril; Pramayoza, Dede
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.5886

Abstract

Babuai dance is one of the traditional Minangkabau dances that developed at the Singo Barantai Padang Traditional Arts School. This dance is one of the unique traditional dances. Because the movements of this dance depict agility, softness, firmness and sharpness. In every movement is full of accents (movement jerks) besides that there is also acceleration and deceleration. This dance is used for body exercise for a silat athlete before they carry out silat training. The object of this research uses Dance as its formal object, "Babuai Dance" as its material object. This research uses a qualitative method with a descriptive analytical approach. This research was conducted at a silat school, namely the Singo Barantai Padang City Traditional Arts School, which is located in Lubuk Leetah, Kuranji District, Padang. Singo Barantai Traditional Arts College is one of the non-formal educational institutions engaged in the field of arts and culture, where the activities or materials taught at this College include traditional martial arts with the SilekPauh flow, randai, traditional dance, traditional Minangkabau music, and traditional pasambahan speeches. This journal examines the tradition of challenging change in the study of dance aesthetics. Babuai dance is viewed using aesthetic studies with the aim of revealing and exploring in depth everything related to the beauty of the Babuai Dance and changes in the development of the babuai dance at the Singo Barantai Traditional Arts College. In this study, the author was actively involved in the Singo Barantai Traditional Arts College, namely as a participant observer, which means that the author directly enters and is involved in the membership of the Singo Barantai College