Dede Pramayoza
Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENAMPILAN JALAN KEPANG DI SAWAHLUNTO: SEBUAH DISKURSUS SENI POSKOLONIAL Dede Pramayoza
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 2 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.62 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v16i2.74

Abstract

Jalan Kepang merupakan nama salah satu seni penampilan rakyat di Sawahlunto, Sumatera  Barat, yang memiliki  kemiripan  nama dengan  salah satu kesenian  di pulau   Jawa.   Keunikan   jalan   kepang   mendorong   sebuah   kebutuhan   untuk memahami  maknanya  secara  lebih jauh.   Melalui  pembacaan  yang meminjam metode  semiotika  atas  foto-foto  penampilan   Jalan  Kepang,  terbukti  bahwa kesenian ini memiliki ciri-ciri yang mirip sekaligus berbeda dengan jaran kepang di Pulau Jawa. Fakta itu menghadirkan kebutuhan untuk membaca konteks masyarakat  pendukung kesenian ini, yakni masyarakat  ‘orang rante’. Hubungan antara teks penampilan dengan konteks sejarah dan budaya ‘orang rante’ menunjukkan  bahwa  kesenian  ini  merupakan  bentuk  mimikri,  yang  berfungsi sebagai   ritual  komunitas.   Secara  keseluruhan,   jalan  kepang   adalah  bentuk peristiwa budaya poskolonial, yang memantulkan narasi sejarah dan pengalaman masa kolonial dari masalalu komunitas ‘orang rante’.
THE HYBRID PERSEMBAHAN DANCE: CROSS-CULTURAL COLLABORATION AND ART TOURISM IN PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018 Fresti Yuliza; Visaka Saeui; Hasnah Sy; Dede Pramayoza
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 24, No 1 (2022): Edisi Januari-Juni 2022
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.281 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v24i1.1576

Abstract

This paper discusses the process of creating a collaborative dance work entitled Cross-Cultural Offering Dance, which was created jointly by three choreographers of different cultural backgrounds in the 2018 Pasa Harau Art and Culture Festival. The three choreographers involved in the collaboration are Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia). ), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), and Visaka Saeui (Thailand). The three of them tried to create a dance offering by offering the idea of a dance with the same theme, namely a dance to welcome guests in their respective cultural backgrounds. Applying a qualitative approach with research methods centered on performance events, this paper is intended to describe the stages of the creation process, and the modes of collaboration agreed upon by the three choreographers. Primary data was collected through involved observation, namely by participating directly as a choreographer, dramaturg, and administrator of the intended collaborative dance performance process. Secondary data were collected from narrative interviews with the three choreographers and by observing the responses and reactions of the audience and dancers. The results showed that the creation of the Performance Dance by the three choreographers was a hybridization process that began with sharing views on the world of traditional dance in order to build a shared spectrum, followed by a process of division of parts in the plot, where the embodiment of the atmosphere from solemn to joyful became the common thread. The result of the collaboration is a dance number entitled Cross-Cultural Offering Dance, which not only meets the criteria as a presentation in a festival, but can also be a tourism art presentation.Keywords: Persembahan Dance; Hybrid; Cross-Cultural Collaboration; Tourism Arts; FestivalTARI PERSEMBAHAN HIBRIDA: KOLABORASI LINTAS-BUDAYA DAN SENI PARIWISATA DALAM PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018AbstrakTulisan ini membahas tentang proses penciptaan sebuah karya tari kolaboratif bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang diciptakan bersama oleh tiga koreografer berbeda latar belakang budaya dalam kegiatan Pasa Harau Art and Culture Festival 2018. Ketiga koreografer yang terlibat di dalam kolaborasi adalah Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), dan Visaka Saeui (Thailand). Ketiganya mencoba menciptakan sebuah karya Tari Persembahan dengan menawarkan gagasan dari tari bertema sama, yakni tari penyambutan tamu di masing-masing latar budaya mereka. Menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yang berpusat pada peristiwa pergelaran, tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan perihal tahapan-tahapan proses penciptaan, dan moda kolaborasi yang disepakati oleh ketiga koreografer. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan terlibat, yakni dengan ikut serta secara langsung sebagai koreografer, dramaturg, dan administrator dari proses kolaborasi Tari Persembahan yang dimaksudkan. Data sekunder dikumpulkan dari wawancara naratif dengan ketiga koreografer serta dengan mengamati respons dan reaksi penonton dan penari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan Tari Persembahan oleh ketiga orang koreograger adalah suatu proses hibridisasi yang dimulai dengan sharing pandangan atas dunia tari tradisional guna membangun spektrum bersama, dilanjutkan dengan proses pembagian bagian dalam plot, di mana perwujudan suasana dari khidmat menuju riang gembira menjadi benang merahnya. Hasil dari kolaborasi adalah sebuah nomor tarian bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang tidak saja memenuhi kriteria sebagai sajian dalam festival, namun juga dapat menjadi sajian seni pariwisata.Kata Kunci: Tari Persembahan; Hibrida; Kolaborasi Lintas-Budaya; Seni Pariwisata; Festival
PENDEKATAN SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF SEBAGAI METODE PENCIPTAAN FILM EKSPERIMENTAL SAYA DAN SAMPAH (POLUSI VISUAL) GANGGA LAWRANTA; DEDE PRAMAYOZA
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 2 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.043 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i2.1700

Abstract

This article describes the creative process of an experimental film entitled Saya dan Sampah which is one of the experimental films that departs from the political phenomenon in 2019, where general elections took place in Indonesia starting from the City or District, Provincial, Legislative, to Presidential elections. The experimental film Saya dan Sampah was created using a subjective point of view which aims to show that the presence of campaign props in public spaces, which are not well-organized, both in terms of design, irregular placement and uncommunicativeness, produce visual waste or visual pollution, where people's rights in the public sphere are ignored. The process of creating the experimental film Saya dan Sampah shows that basically the impact of visual pollution is public space that is neither environmentally friendly nor visually friendly, as well as long-term impacts that can dull human reasoning. Therefore, society does not have to be permissive towards the freedom to use public space, which is basically their space.AbstrakArtikel ini menguraikan tentang proses penciptaan film eksperimental berjudul Saya dan Sampah yang merupakan salah satu film eksperimental yang berangkat dari fenomena politik di tahun 2019, di mana pemilihan umum terjadi di Indonesia dimulai dari tingkat Kota atau Kabupaten, Provinsi, Legislatif hingga pemilihan Presiden. Film eksperimental Saya dan Sampah  diciptakan dengan menggunakan sudut pandang subjektif yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa keberadaan alat peraga kampanye di ruang publik, yang tidak tertata rapi, baik dari bentuk desain, penempatan yang tidak beraturan dan tidak komunikatif, menghasilkan sampah visual atau polusi visual, di mana hak masyarakat di ruang publik diabaikan. Proses penciptaan karya film eksperimental Saya dan Sampah menunjukkan bahwa pada dasarnya dampak dari polusi visual adalah ruang publik yang tidak ramah lingkungan maupun secara visual, begitu juga dengan dampak jangka panjang yang dapat menumpulkan daya nalar manusia. Karenanya masyarakat tidak harus bersifat permisif terhadap kebebasan penggunaan ruang publik, yang pada dasarnya merupakan ruang mereka.
Event Management of Kurenah Ibuah Festival in Payakumbuh as a Domestic Tourism Alternative during the Pandemic: A Study of Community Festival Fresti Yuliza; Dede Pramayoza
International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events Vol. 6 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.365 KB) | DOI: 10.31940/ijaste.v6i1.1-12

Abstract

The world of tourism in West Sumatra, including in Payakumbuh City, experienced a significant degradation during the Covid-19 pandemic. Various tourism events are not held in line with the recommendation for social distancing. This study aims to analyze the Kurenah Ibu Festival activities as an alternative to domestic tourism during the Covid 19 pandemic in West Sumatra. This research was conducted with a qualitative approach adapted to the context of tourism and event research, with content analysis methods that consider several factors from the festival management. The results showed that the management of the Kurenah Ibu Festival as an alternative domestic tourism destination during the Covid 19 pandemic was made possible by several factors, namely: first, choosing a strategic location that is easily accessible by visitors from various directions; second, materials are varied choices that can attract visitors of all ages; three, the application of the CHSE protocol which guarantees health, safety, and security; and four, combining online and offline formats that allow the public from far away to access activities while reducing the number of visitors at the festival. The concept of the Community Festival offered by Kurenah Ibuah Festival, can be a model for the implementation of Tourism Events in the context of the post-pandemic resilience process.
PELATIHAN PROMOSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) DI PADANGPANJANG: MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL SECARA KREATIF DI MASA PANDEMI Fresti Yuliza; Rina Armeniza Aziz; Dede Pramayoza
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 6 No. 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v6i2.2328

Abstract

Berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Padangpanjang masih menghadapi kendala promosi, di mana masyarakat sekitar belum mengetahui dengan baik tentang koleksi, program, dan manfaat dari keberadaan TBM. Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Abdimas) bertajuk “Strategi Promosi TBM 2020” adalah program Kerjasama antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padangpanjang dengan ISI Padangpanjang dan Akpar Paramitha Bukittinggi. Kegiatan Abdimas ini bertujuan untuk mendesiminasikan strategi promosi sederhana dengan memanfaatkan media sosial kepada TBM di Padangpanjang. Cara promosi yang diterapkan adalah pemanfaatan Media Sosial, dengan dua alasan, yakni: pertama, biaya murah dan cepat; dan kedua, situasi pandemi. Perancangan strategi TBM diawali dengan Diskusi Kelompok Terpumpun bersama pengelola TBM untuk memahami prinsip-prinsip promosi, dilanjutkan dengan proses pemetaan bersama tentang potensi promosi yang dimiliki, evaluasi diri sebagai dasar promosi, praktik dan pendampingan perancangan materi promosi dan penyusunan strategi promosi, dan diakhiri dengan diskusi tentang pengembangan promosi TBM yang dapat dilakukan, antara lain dengan membangun TBM sebagai tempat rekreasi keluarga, mengembangkan edu-wisata, dan atau mengembangkan eko-wisata.Kata kunci: Taman Bacaan Masyarakat, Padangpanjang, strategi promosi, media social, pandemi
TATA KELOLA FESTIVAL WARGA: MENATA RANGKA KERJA KOLEKTIF Dedi Novaldi; Dede Pramayoza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1019

Abstract

This article presents the results of research on various Festival Warga management in several places in Indonesia. Festival Warga is a concept that is growing and developing today as part of the cultural literacy movement, as part of the ideals of sustainable cultural development. The purpose of research is to describe and analyze the development model of the Festival Warga, as a reference for the development of community-based festivals, with an emphasis on the development of the Festival Warga ecosystem. The research was conducted qualitatively, with primary data from involved observations and literature studies. The results of the research are presented in a descriptive analysis method, containing an offer of concepts and basic principles of developing Festival Warga. The results of the study indicate that there are three basic principles in the development of the Festival Warga: (1) Sense of Ownership and Involvement in the Festival; (2) Principles of Cadre in the Development of Production Teams; and (3) the Mutual Cooperation Pattern as an Indicator of Implementation Success.Keywords: management; festival warga; a sense of ownership; cultural ecosystem; mutual cooperation AbstrakArtikel ini menyajikan hasil penelitian tentang berbagai Tata Kelola Festival Warga di beberapa tempat di Indonesia. Festival Warga adalah sebuah konsep yang tumbuh dan berkembang dewasa ini sebagai bagian dari gerakan literasi budaya, sebagai bagian cita-cita pembangunan kebudayaan berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis model pengembangan Tata Kelola Festival Warga, sebagai referensi bagi pembangunan festival berbasis masyarakat, dengan empasis pada pembangunan ekosistem festival warga. Penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan data primer hasil observasi terlibat dan studi pustaka. Hasil penelitian disajikan dengan metode analisis deskriptif, memuat tawaran konsep dan prinsip-prinsip dasar pengembangan festival warga di Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga prisip dasar dalam pembangunan Festival Warga, yakni: (1) Rasa Kepemilikan dan Keterlibatan dalam Festival; (2) Prinsip Pengkaderan dalam Pembangunan Tim Produksi; dan (3) Pola Gotong Royong sebagai Indikator Keberhasilan Pelaksanaan.Kata Kunci: tata kelola; festival warga; rasa kepemilikan; ekosistem budaya; gotong royong
FROM POETRY TO PERFORMANCE; A TEXT ANALYSIS OF NOSTALGIA SEBUAH KOTA BY ISWADI PRATAMA, A REVIEW OF POST-DRAMATIC DRAMATURGY (DARI PUISI KE PEMENTASAN; TEKS TEATER NOSTALGIA SEBUAH KOTA KARYA ISWADI PRATAMA DALAM TINJAUAN DRAMATURGI POSTDRAMATIK) Gusrizal Gusrizal; Dede Pramayoza; Afrizal H; Saaduddin Saaduddin; Rusdeen Suboh
Jurnal Gramatika Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1044.13 KB) | DOI: 10.22202/jg.2021.v7i2.5008

Abstract

Nostalgia Sebuah Kota adalah sebuah pertunjukan teatrikal yang dibangun dari unsur-unsur ekspresi tubuh simbolik dan berbagai dialog puitis. Hal ini membedakan pertunjukan dengan pertunjukan teater, yang umumnya secara konvensional menghadirkan tubuh sehari-hari dan dialog prosaik, dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Artikel ini dimaksudkan untuk menyelidiki pertunjukan untuk menemukan konsep di balik pilihan idiom dan ekspresi khusus ini. Pertunjukan didekati dengan teori teater pasca-dramatis Hans-Thies Lehmann, di mana deskripsi teater tidak lagi ditujukan untuk menjelaskan karakter, tema, dan plot, tetapi konstruksi lima komponen baru, yaitu: teks; ruang; waktu; tubuh; dan media. Menerapkan metode analisis deskriptif, dengan data yang diperoleh dari studi teks, wawancara naratif, dan studi dokumentasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa Nostalgia Sebuah Kota adalah sebuah pertunjukan yang dipicu dari penggalan-penggalan puisi. Iswadi Pratama memilih daya puitis sebagai sutradara yang juga penyair, untuk memperluas ekspresi puisi yang ditulisnya. Berdasarkan proses eksplorasi puisi tersebut, Nostalgia Sebuah Kota kemudian menghasilkan tiga produk sekaligus, yaitu teks pertunjukan, teks drama, dan teks puisi baru.
FROM POETRY TO PERFORMANCE; A TEXT ANALYSIS OF NOSTALGIA SEBUAH KOTA BY ISWADI PRATAMA, A REVIEW OF POST-DRAMATIC DRAMATURGY (DARI PUISI KE PEMENTASAN; TEKS TEATER NOSTALGIA SEBUAH KOTA KARYA ISWADI PRATAMA DALAM TINJAUAN DRAMATURGI POSTDRAMATIK) Gusrizal Gusrizal; Dede Pramayoza; Afrizal H; Saaduddin Saaduddin; Rusdeen Suboh
Jurnal Gramatika Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2021.v7i2.5008

Abstract

Nostalgia Sebuah Kota adalah sebuah pertunjukan teatrikal yang dibangun dari unsur-unsur ekspresi tubuh simbolik dan berbagai dialog puitis. Hal ini membedakan pertunjukan dengan pertunjukan teater, yang umumnya secara konvensional menghadirkan tubuh sehari-hari dan dialog prosaik, dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Artikel ini dimaksudkan untuk menyelidiki pertunjukan untuk menemukan konsep di balik pilihan idiom dan ekspresi khusus ini. Pertunjukan didekati dengan teori teater pasca-dramatis Hans-Thies Lehmann, di mana deskripsi teater tidak lagi ditujukan untuk menjelaskan karakter, tema, dan plot, tetapi konstruksi lima komponen baru, yaitu: teks; ruang; waktu; tubuh; dan media. Menerapkan metode analisis deskriptif, dengan data yang diperoleh dari studi teks, wawancara naratif, dan studi dokumentasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa Nostalgia Sebuah Kota adalah sebuah pertunjukan yang dipicu dari penggalan-penggalan puisi. Iswadi Pratama memilih daya puitis sebagai sutradara yang juga penyair, untuk memperluas ekspresi puisi yang ditulisnya. Berdasarkan proses eksplorasi puisi tersebut, Nostalgia Sebuah Kota kemudian menghasilkan tiga produk sekaligus, yaitu teks pertunjukan, teks drama, dan teks puisi baru.
The Transition of Dramaturgy During Pandemic: From Staging to Streaming Dede Pramayoza; Pandu Birowo
Journal of Urban Society's Arts Vol 9, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v9i1.6697

Abstract

This study discusses the transition of performances dramaturgy during the Covid-19 pandemic from analog to digital formats, from live performances commonly called staging to mediated performances which can be called performance streaming. The aim of study is to understand the application of ‘dramaturgical tactics’; and the reasons. Applying the dramaturgical analysis method investigation is directed at the transformation process from the basic concept of the performance to the practice of its presentation. The research departs from the premise that a dramaturgical process, namely the pre-production, production, and presentation of performance is permanently connected by a dramaturgical awareness. The analysis was carried out: (1) the idea of streaming; (2) performance technique; and (3) the form of performance streaming. Research shows that the critical changes in dramaturgy during the pandemic were triggered by the necessity to shift the mode of performance from staging to streaming, resulting in three dramaturgical awareness about transition, namely: (1) medium: from analog to digital performance; (2) creativity: from performer to content creator; and (3) the spectatorship: from spectator to voyeur. Perubahan Dramaturgi di Masa Pandemi: Dari Pementasan ke Siaran. Artikel ini membahas perihal transisi dramaturgi pertunjukan di masa pandemi Covid-19 dari format analog ke format digital, dari moda pertunjukan langsung yang lazim dinamakan pementasan ke pertunjukan termediasi yang dapat dinamakan siaran pertunjukan. Tujuannya untuk memahami bentuk penerapan ‘siasat dramaturgi’ serta alasan di baliknya. Mengunakan metode analisis dramaturgis, berupa investigasi atas proses transformasi dari konsep dasar pertunjukan menuju praktik presentasinya, penelitian berangkat dengan premis bahwa suatu proses  dramaturgi, yakni tahap pra-produksi, produksi, dan presentasi pertunjukan selalu terhubung oleh satu kesadaran dramaturgis. Analisis dilakukan terhadap: (1) gagasan siaran pertunjukan; (2) teknik siaran pertunjukan; dan (3) bentuk siaran pertunjukan. Penelitian menunjukkan bahwa, perubahan penting dramaturgi di masa pandemi dipicu oleh suatu keharusan untuk memindahkan moda pertunjukan dari pementasan ke siaran, menghasilkan tiga kesadaran dramaturgis tentang peralihan, yakni: (1) medium: dari pementasan analog ke siaran digital; (2) kreativitas: dari penampil menjadi pembuat konten; dan (3) kepenontonan: dari spektator menjadi voyeur.
Tradisi Arak-Arakan Si Muntu dan Strategi Pengembangannya dalam Perspektif Kepariwisataan di Sumatera Barat Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda; Dede Pramayoza; Fresti Yuliza
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.424

Abstract

Penelitian ini mengambil objek tradisi arak-arakan Si Muntu yang terdapat di Sumatera Barat. Tradisi Arak-arakan Si Muntu umumnya merupakan sebagai sarana kolektif masyarakat yang merupakan bagian dari alek Nagari atau upacara adat.Tradisi Arak-arakan Si Muntu memiliki potensi yang begitu besar dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan menemukan dan memetakan potensi tradisi arak-arakan Si Muntu dalam perspektif kepariwisataan berkelanjutan. Menggunakan analisis secara deskriptif dari data-data kepustakaan yang didapatkan, maka dapat digambarkan potensi pemetaan tersebut yang memiliki relasi terhadap ekosistem industri kreatif. Antaralain, tradisi arak-arakan Si Muntu memiliki potensi sebagai pengembangan pariwisata, penghasil sumber ekonomi, dan memiliki peluang dalam pengembangan industry kreatif.