Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Antena Monopole Swa-bentang Uhf Untuk Ttc (telemetry, Tracking, & Command) Dan Antena Susunan Pifa Untuk Pemancar S-band Pada Nano Satelit Christian Budi Eko Saputro; Heroe Wijanto; Agus Dwi Prasetyo
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di tengah berkembangnya teknologi komunikasi jarak jauh dengan menggunakan satelit, Universitas Telkom bersama dengan Laboratorium Nanosatelit sedang mengembangkan sistem komunikasi satelit orbit rendah yang dinamakan Tel-U SAT 1 dengan ukuran satelit kelas nano (nano satelit). Untuk komunikasi antara space segment dan ground segmentnya menggunakan TTC (Telemetry, Tracking, and Command). TTC menggunakan frekuensi UHF 437 MHz[1]. Agar dapat berkomunikasi maka antena mutlak dibutuhkan. Selain TTC, sebagai komunikasi TEL-U SAT 1 membawa sebuah misi yaitu remote sensing (penginderaan jarak jauh). Untuk membantu misi ini maka perlu sebuah link bandwidth untuk mengirimkan data yang sudah diproses oleh sensor satelit. Supaya memenuhi misi dari satelit diperlukan S-Band Transmitter. S-Band Transmitter menggunakan frekuensi radio amatir pada 2,35 GHz[1]. Dalam Tugas Akhir ini dirancang swa-bentang antena untuk komunikasi TTC dan S-Band Transmitter yang berada pada satelit (space segment). Antena yang digunakan TTC adalah monopole, antena yang digunakan S-Band Transmitter susunan PIFA , dengan sistem swa-bentang antena di bagian TTC. Setelah dirancang dan direalisasikan, maka didapatkan dua antena monopole dengan frekuensi 437 MHz, VSWR 1,18, Gain 3,82 dB, Polaradiasi Omnidirectional, Polarisasi elips. Sedangkan antena susunan PIFA memiliki frekuensi 2,35 GHz, VSWR 1,07, Gain 7,02 dB, Polaradiasi Unidirectional, Polarisasi LHCP. Groundplane dibuat dari bahan alumunium dengan ukuran 10x10x10 cm dengan tebal 1 mm. Kata kunci : nano satelit, TTC, swa-bentang antena, monopole, susunan PIFA
Perancangan Dan Realisasi Antena Quadrifilar Heliks Pada Frekuensi 145,825 Mhz Sebagai Penerima Sinyal Aprs Satelit Lapan-a2 Farid Nur Hammadi; Bambang Setia Nugroho; Agus Dwi Prasetyo
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

APRS Repeater yang dibawa oleh LAPAN-A2 adalah salah satu upaya cepat tanggap bencana, APRS Repeater LAPAN-A2 akan mengirimkan sinyal yang bisa berisi data lokasi, koordinat, peta, gambar, maupun suara melalui frekuensi radio amatir (144-148 MHz) kepada siapapun yang berada di dalam jaringan. Salah satu komponen penting penerima sinyal APRS di Bumi ialah antenna, diperlukan antenna yang mempunyai polarisasi sirkular dan juga punya area penangkapan (Beam-Width) yang lebar. Antena Quadrifilar Heliks (AQH) adalah salah satu jenis antena yang sering digunakan untuk komunikasi satelit karena karakteristiknya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan juga karena AQH adalah antena yang fleksibel, pola radiasi, polarisasi, impedansi, dan gain dari antena dapat diatur berdasarkan dimensi fisiknya. Maka dari itu pada penelitian ini dirancang Antena Quadrifilar Heliks yang bekerja pada frekuensi APRS yaitu 145,825 MHz. Pola radiasi dari AQH realisasi adalah uni-directional dengan lebar HPBW 130° untuk azimuth dan 110° untuk elevasi, antena juga mempunyai polarisasi sirkular dengan beam-width ≥120°, serta nilai gain sebesar 3,97 dB. Hasil tersebut menunjukkan bahwa antena memenuhi spesifikasi untuk digunakan sebagai antena penerima sinyal APRS satelit LAPAN-A2. Kata Kunci : LAPAN-A2, Automatic Packet Reporting System (APRS), Antena Quadrifilar Heliks
A Characterization of Super Wideband Planar Antenna With Cpw Feed And Circular Shape Patch Mahendra Diwasasri Reka Pravyana; Agus Dwi Prasetyo; Trasma Yunita
eProceedings of Engineering Vol 9, No 2 (2022): April 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Super-wideband (SWB) antenna become eagerly demanding to cover both short and long range transmission for ubiquitous services because UWB antenna are not efficient enough to diverse the communication systems. Distinctively, SWB does not have predefined range of operating frequency and need to maintain a return loss less than -10 dB and VSWR less than 2 over the entire frequency range of 10:1 bandwidth ratio whereas UWB should attain an absolute minimum bandwidth of 500 MHz or a minimum fractional bandwidth of 20%. This thesis use insertion of slot method to improve the bandwidth ratio of 1-30 GHz on the antenna system expected to achieve SWB. This thesis also use microstrip circular patch, the tapered coplanar waveguide (CPW) feed and spline curved ground plane method. This thesis gradually simulated and analyzed 4 model SWB planar antenna with tapered CPW feed, circular shape patch, and curved spline groundplane using slot in frequency range of 1-30 GHz. Simulated with FR4 substrate with 4.3 dielectric constant, and thickness of 1.6 mm. The SWB planar antenna with tapered CPW feed, circular shape patch, and curved spline groundplane using slot have achieve total bandwidth of 96.01% (single-band) that achieve SWB bandwidth ratio of 13.91:1. The final result managed to get a SWB antenna that works in 2.1579 - 30 GHz and deeper minimum return loss at -45.5482 GHz. Keyword— ultra wideband antenna, super wideband antenna, coplanar waveguide, ground plane, microstrip circular patch antenna, slot antenna.
Antena Susunan Planar 2×2 Mikrostrip Petak Rektangular Untuk Uav Quadcopter Pita Ism 2,45 GHz Danang Hary Nursidik; Heroe Wijanto; Agus Dwi Prasetyo
eProceedings of Engineering Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin maju di era ini membuat semua menjadi mudah dan efisien, sama seperti perkembangan telekomunikasi yang semakin pesat. Terlebih dalam pemantauan dalam dunia militer menggunakan UAV saat ini. UAV sangatlah beragam dalam jenisnya terutama pada UAV berjenis quadcopter. Dalam pembuatan quadcopter agar bisa dikendalikan maka diperlukan sebuah antena. Pada pembuatan quadcopter sebelumnya menggunakan antena yang berjenis cavity yaitu cloverleaf dan monopole memiliki dimensi antena lebih besar. Untuk melakukan fungsi tersebut maka dibutuhkan kanal transmisi nirkabel yang menghubungkan antara quadcopter dengan ground station. Pada penelitian ini dirancang dan direalisasikan susunan antena mikrostrip planar 2×2 menggunakan patch rectangular yang bertujuan memudahkan pengendalian yang sudah cukup memenuhi spesifikasi dari antena sebelumnya. Menggunakan teknik pencatuan mikrostrip feed line dan metode t-junction untuk matchingkan impedansi antar antena. Hasil dari realisasi antena menggunakan bahan FR-4 menghasilkan pola radiasi omnidirectional, polarisasi linier, dan nilai gain 8,9 dB bekerja pada frekuensi ISM band 2.45 GHz dengan impedansi antena 56,86 Ω. Kata Kunci: Antena, mikrostrip, planar array. quadcopter.
Perancangan Bandpass Filter Pita Sempit pada Frekuensi L-Band untuk Aplikasi Synthetic Aperture Radar (SAR) Budi Syihabuddin; Dwi Andi Nurmantris; Agus Dwi Prasetyo
JURNAL INFOTEL Vol 9 No 2 (2017): May 2017
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v9i2.230

Abstract

Pada sistem Synthetic Aperture Radar (SAR), lebar pita menentukan resolusi yang diinginkan. Jika lebar pita sempit, maka resolusi yang didapatkan akan tinggi sehingga objek yang diamati akan lebih presisi. Untuk mendapatkan performa tersebut, dibutuhkan filter yang dapat menjaga lebar pita dari keluaran generator sinyal Chirp. Penelitian ini merancang filter dengan selektivitas tinggi pada frekuensi 1,27 GHz dengan lebar pita sebesar 10 MHz. Dengan karakteristik tersebut, perancangan filter dapat menggunakan resonator berbentuk kotak karena dapat menghasilkan lebar pita yang sempit. Dari hasil perancangan menggunakan duroid 5880 dengan permitivitas relative sebesar 2,2 didapatkan respon frekuensi pada 1,27 GHz dengan nilai S11 sebesar -36,25 dB dan nilai S21 sebesar -0,92 dB. Untuk lebar pita pada rentang frekuensi 1,265 - 1,275 GHz didapatkan nilai S11 dan S21 secara berurutan sebesar -14,37 dB dan -1,09 dB serta -14,43 dB dan -1,08 dB
Design of Dual Band Microstrip Antenna at L-Band and S-Band Frequencies for Synthetic Aperture Radar (SAR) Sensors Binarti Fauziah Fitriani; Heroe Wijanto; Agus Dwi Prasetyo
JURNAL INFOTEL Vol 10 No 1 (2018): February 2018
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v10i1.333

Abstract

Synthetic Aperture Radar (SAR) is a remote sensing system using radar for high resolution image capture. The higher frequency used, the higher accuracy of the image detail that obtained, while, the lower frequency has a better image penetration capabilities. To combine these two advantages of the image result characteristic, SAR is designed to operate in two bands (dual-band). In this study, a dual-band antenna on 1.27 GHz (L-Band) and 3 GHz (S-Band) using slotted patch technique and proximity coupled feeding is designed. The material that used is the FR4 Epoxy dielectric with the relative permittivity of 4.6. As a result, the antenna operates at the frequency of 1.27 GHz with the return loss of -25.131 dB, VSWR 1.1201, and 19.9 MHz (return loss <= -10 dB) bandwidth. While the return loss of 3 GHz is -16.802 dB, VSWR 1.3381, and bandwidth (return loss <= -10 dB) 125.3 MHz
Perhitungan Jarak Paparan Radiasi Base Transceiver Station pada Frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, dan 2100 MHz Berdasarkan Standar World Health Organization Desi Nurqamarina Ramadhani; Ahmad Tri Hanuranto; Agus Dwi Prasetyo; Nachwan Mufti Adriansyah
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 17 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2019.170203

Abstract

Abstrak Teknologi telekomunikasi yang banyak dimanfaatkan untuk berkomunikasi di era internet saat ini adalah teknologi Long Term Evolution (LTE). Dalam menyelenggarakan layanan LTE, diperlukan suatu penghubung antara jaringan akses dengan core yang biasa dikenal dengan istilah backhaul. Salah satu backhaul yang biasa digunakan untuk menyambungkan suatu link komunikasi ini adalah backhaul microwave. Penerapan dari link microwave ini biasa digunakan untuk komunikasi line of sight (LOS). Oleh karena itu, perencanaan link microwave ini tidak mudah karena akan ada banyak faktor yang mempengaruhi link komunikasi ini, diantaranya: penghalang, fading, atenuasi, noise maupun jarak. Pada penelitian ini akan dilakukan perencanaan link microwave antara Kota Semarang dengan Kota Magelang dengan 3 skenario. Skenario pertama dilakukan dengan komunikasi langsung singlehop, skenario kedua dengan memanfaatkan repeater aktif, dan skenario ketiga dilakukan dengan repeater pasif. Hasil akhir menunjukan bahwa skenario yang paling sesuai untuk diimplementasi pada link microwave Semarang-Magelang ini adalah skenario kedua. Penggunaan repeater aktif yang memantulkan dan menguatkan sinyal site Tx menuju site Rx ini mampu menjadi solusi untuk lintasan link yang terdapat obstacle dan berjarak sangat jauh. Penggunaan skenario 2 dalam penelitian ini menunjukan kekuatan signal di site Semarang dan Magelang adalah masing-masing -54,67 dBm dan -48,66 dBm. Kekuatan sinyal ini berada di atas Rx threshold pada kedua site, yaitu -67,50 dBm.  Abstract Exposure to electromagnetic wave radiation from Base Transceiver Station can cause a negative impact on human health, can cause headache, brain tumors, cancer, and fetal disorders in pregnant women. In addition, to minimize the adverse effects of electromagnetic radiation exposure on the human body, the construction of Base Transceiver Station must comply with regulations regarding the safe distance of Base Transceiver Station from residential areas, such as electromagnetic field regulations that have been implemented in South Korea. From the results of mathematical calculations in accordance with World Heatlh Organization standards and electromagnetic field regulations in South Korea, it can be seen that the minimum safe distance of Base Transceiver Station to residential areas is influenced by the frequency, gain, and power of the Base Transceiver Station. This can be seen in the results od the classification of the radiation zone base on electric fields, with the use of 30 dBm power and 20 dBi gain with a frequency of 900 MHz for the Class 2 zone distance, which is 14.317 m from BTS, for 1800 MHz frequency is 7.668 m from BTS, and for 2100 MHz frequency is 2.702 m from BTS. As for the use of 43 dBm power and 20 dBi gain with a frequency of 900 MHz for the Class 2 zone distance, which is 39.86 m from BTS, for the 1800 MHz frequency is 19.939 m from BTS, and for 2100 MHz frequency is 13.638 m from the BTS.
REDUCE, REUSE, RECYCLE (3R) PENGELOLAAN SAMPAH DESA KEPUHKEMIRI Wulan, Vieqi Rakhma; Prasetyo, Agus Dwi
Jurnal Penamas Adi Buana Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Penamas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.421 KB)

Abstract

Desa Kepuh Kemiri merupakan desa yang terletak di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Penduduk desa mayoritas adalah petani, peternak, pedagang dan wirausaha. Kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam menangani sampah seperti kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah ke kali/sungai merupakan hal yang menjadi perhatian bagi pemerintah setempat. Hal tersebut dapat menyebabkan permasalahan lain seperti polusi dan banjir. Anak-anak desa sebagai penerus bangsa juga akan meniru tindakan tersebut sehingga hal ini kurang baik bagi perkembangannya. Kurangnya bak-bak sampah dianggap sebagai salah satu pemicu pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Oleh karena itu tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) melakukan suatu kegiatan penyuluhan maupun praktek untuk menyadarkan masyarakat dalam hal pembuangan dan pengolahan sampah yang tepat melalui sistem pemilahansampah yaitu Reduce, Reuse dan Recycle (3R). Hasil yang dicapai adalah masyarakat dapat melakukan pengelolaan sampah yang tepat. Selain itu melalui praktek pembuatan kreasi dari sampah, masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya. Terutama anak-anak, cukup senangdengan kegiatan ini karena mereka dapat berkreasi sesuai keinginannya. Harapan kedepan, kreatifitas mereka dapat lebih terasah dalam menangani sampah serta muncul kader-kader peduli lingkungan di desa mereka.
Pengaruh Kualitas Pelayanan Acoount Representative (AR) terhadap Kepuasan dan Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi kasus pada KPP Pratama Malang Utara) Prasetyo, Agus Dwi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 1 No. 2
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan yang diberikan Account Representative (AR) sebagai wujud adanya modernisasi administrasi perpajakan terhadap kepuasan dan kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Kualitas pelayanan diukur berdasarkan bukti langsung, keandalan, daya tanggap, keterjaminan dan empati responden. Penelitian ini dilaksanakan di KPP Pratama Malang Utara. Data yang didapat berupa data primer yang berasal dari penyebaran 100 kuesioner oleh peneliti kepada 100 orang dengan menggunakan metode Accidental Sampling. Data  penelitian kemudian  diuji  dengan  regresi  linier  berganda menggunakan aplikasi program SPSS 16. Hasil analisis untuk model regresi I menunjukkan bahwa secara simultan, variabel bukti langsung, keandalan, daya tanggap, keterjaminan dan empati berpengaruh signifikan terhadap kepuasan wajib pajak orang pribadi. Sedangkan secara parsial model regresi I menunjukkan bahwa variabel keandalan, keterjaminan dan empati tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan wajib pajak orang pribadi, dan variabel bukti langsung dan ketanggapan berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan wajib pajak orang pribadi. Hal ini berarti bahwa kepuasan wajib pajak orang pribadi dipengaruhi oleh variabel bukti langsung dan ketanggapan. Selanjutnya hasil analisis untuk model regresi II menunjukkan bahwa secara simultan, variabel bukti langsung, keandalan, daya tanggap, keterjaminan dan empati berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Sedangkan secara parsial model regresi II menunjukkan bahwa variabel bukti langsung, keandalan, keterjaminan dan empati tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi, dan variabel ketanggapan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hal ini berarti bahwa kepatuhan wajib pajak orang pribadi dipengaruhi oleh variabel ketanggapan.   Kata Kunci : Kualitas pelayanan Account Representative (AR), kepuasan wajib pajak orang pribadi dan kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
Bandwidth Optimization of Spline-Based Planar Sensor Using GA, PSO, and CMA-ES for EMC Testing and Wireless Communications Prasetyo, Agus Dwi; Hamdani, Deny; Munir, Achmad
Journal of ICT Research and Applications Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : DRPM - ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.ict.res.appl.2025.19.1.5

Abstract

The expansion of communication technology and the increasing usage of the frequency spectrum drive the need for compatible device testing. Wideband antennas play a crucial role in supporting modern communication systems and applications, including those used as the sensors in electromagnetic compatibility (EMC) testing. Optimization techniques, such as genetic algorithm (GA), particle swarm optimization (PSO), and covariance matrix adaptation–evolution strategy (CMA-ES), are widely applied to enhance the bandwidth of electromagnetic devices. However, most studies focus on individual algorithms or limited comparisons, resulting in a lack of systematic evaluation within a unified framework. This paper fills that gap by directly comparing GA, PSO, and CMA-ES on the same planar sensor design, assessing their effectiveness in achieving the widest bandwidth. The planar sensor had a basic spline-based configuration using quadratic Bezier equation. A performance comparison based on a simulation showed that the planar sensor configuration with the best bandwidth was 17.77 GHz, spanning a frequency range from 2.23 GHz to 20 GHz, which was limited by the highest observation frequency of the available measuring instrument. Furthermore, verification of the realized planar sensor showed that the bandwidth reached 17.86 GHz, from 2.14 GHz to 20 GHz, with a geometric bandwidth of 273%.