Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Dinamika dan Tantangan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah di Wilayah Pulau Kecil Sukmo Pinuji; Muh Arif Suhattanto; Tjahjo Arianto
BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan Vol. 4 No. 1 (2018): Bhumi: Jurnal Agraria dan Pertanahan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1139.112 KB) | DOI: 10.31292/jb.v4i1.218

Abstract

Abstract: Small island land resource management has specific characteristic, differ from its main island, due to its geographical characteristic. Moreover, small Island is also vulnerable due to climate changes. Located on Sumenep District, East Java, Masalembu is one of the example of inhabited small island in Indonesia, represent the dynamic and land use management in small island area. This research use DPSIR (drivers, pressures, states, impacts, and responses) method to capture those dynamics. The results show that thedynamics of land use and utilization in Masalembu are described as follow: (i) land use and utilization activities are highly influenced by economic growth, climate change due to the fluctuation of marine products, and population growth; (ii) climate change, together with exploitation of marine resources,resulting the decrease of marine products, thus drive the population to start and to cultivate the land for improving their income. In the long run, land products from agriculture and farming sectors become competitive commodities beside fisheries; (iii) the absence of zonation, strategic, and action plans on landuse and utilization control giving the consequences of unstructured, unplanned, and unsustainable land use and utilizationIntisari: Pengelolaan sumberdaya tanah di pulau kecil memiliki ciri khusus yang berbeda dengan pulau induk, terkait karakteristik geografisnya. Selain itu, pulau kecil juga memiliki kerentanan terhadap fenomena perubahan iklim. Masalembu, merupakan salah satu contoh dari ribuan pulau kecil berpenghuni di Indonesia yang dapat mewakili gambaran dinamika pengelolaan dan pemanfaatan lahan di wilayah pulau kecil. Penelitian ini menggunakan metode DPSIR (drivers, pressures, states, impacts, dan responses) untuk menangkap gambaran dinamika tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika penggunaan dan pemanfaatan lahan di Pulau Masalembu dapat dilihat sebagai berikut: (i) aktivitas penduduk atas tanah sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, perubahan iklim yang menyebabkan pasang surutnya hasil perikanan laut, dan pertumbuhan penduduk baik yang terjadi karena kelahiran maupun migrasi; (ii)perubahan iklim serta eksploitasi sumberdaya laut yang berlebihan sehingga tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat, menjadi faktor pendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan tanah sebagai alternatif penghasilan, yang kemudian beralih menjadi komoditas unggulan, serta (iii) tidak adanya rencana zonasi dan rencana strategis penggunaan dan pemanfaatan tanah membuat pola-pola penggunaan dan pemanfaatannya menjadi tidak terstruktur dan terencana, serta tidak memenuhi prinsip sustainability.
Kolaborasi Menyelesaikan Ketidaktuntasan Program Strategis Nasional (PTSL-K4) di Masyarakat Melalui Praktik Kerja Lapang (PKL) Rohmat Junarto; Muh. Arif Suhattanto
Widya Bhumi Vol. 2 No. 1 (2022): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v2i1.24

Abstract

The activity of registering land plots ownership from village to village faces challenges in terms of quantity and reliability of data quality. The problem of incomplete document digitization, land plots that have not been georeferenced and/or incompatibility with the real conditions requires an emphasis on improving service quality. This study aims to determine how quality control is applied to PTSL, the implementation of street vendors, and the significance of technology as a step to improve the land data quality. This research uses descriptive qualitative method. Primary and secondary data comes from a series of land registration activities or street vendors that synergize between students, instructors, and the community in Grogol Village, Gunungkidul Regency. The data analysis were done by examining all research data, reducing it, and compiling abstractions to logically proportional statements. The results show that the latest PTSL scheme emphasizes quality control as an integrated part in every stage. Public participation (academics and community) is able to realize an intact village with the best quality. Optimizing the use of digital-based technology is a necessity in digital transformation for electronic services. Discipline, accuracy, portability, interoperability, and spatial representation of land registration activities are the keys to the realization of guaranteed land rights/laws. Kegiatan pendaftaran kepemilikan bidang tanah pada suatu desa demi desa menghadapi tantangan dari sisi kuantitas maupun keandalan kualitas datanya. Masalah digitalisasi dokumen yang tidak lengkap, bidang tanah yang belum tergeoreferensi dan/atau ketidaksesuaian dengan kondisi di lapangan memerlukan penekanan peningkatan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontrol mutu diterapkan pada PTSL, implementasi PKL dan signifikansi teknologi sebagai langkah meningkatkan kualitas data pertanahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer dan sekunder berasal dari rangkaian kegiatan pendaftaran tanah atau pun PKL yang menyinergikan antara mahasiswa, instruktur dan masyarakat di Desa Grogol, Kabupaten Gunungkidul. Analisis datanya dengan menelaah seluruh data penelitian, mereduksinya, menyusun abstraksi hingga pernyataan proporsional secara logis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema terbaru PTSL menekankan kontrol kualitas sebagai bagian terintegrasi di setiap tahapan. Partisipasi publik (akademisi dan masyarakat) mampu mewujudkan desa lengkap dengan kualitas terbaik. Optimasi penggunaan teknologi berbasis digital menjadi sebuah keniscayaan dalam transformasi digital untuk layanan elektronik. Kedisiplinan, akurasi, portabilitas, interoperabilitas dan representasi spasial atas kegiatan pendaftaran tanah menjadi kunci terwujudnya jaminan kepastian hak/hukum tanah
Kualitas Data Pertanahan Menuju Pelayanan Sertifikat Tanah Elektronik Muh Arif Suhattanto; Sarjita Sarjita; Sukayadi Sukayadi; Dian Aries Mujiburohman
Widya Bhumi Vol. 1 No. 2 (2021): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.263 KB) | DOI: 10.31292/wb.v1i2.11

Abstract

ABSTRACT The quality of land data is a very important part to prepare for the implementation of electronic land certificates, so the purpose of this study is to analyze the quality of land data, especially at the Semarang Regency Land Office. This study uses a qualitative descriptive method to see the precision of spatial data so that the data can be categorized as valid data. The results showed that the criteria for valid land parcel data were fulfilling the aspects of the correctness of the location, shape, area and numbering standards, but there were still land parcels with valid status in the Computerized Land Activities (KKP) application that did not meet the criteria set out in the Technical Guidelines. Thus, it will affect the implementation of electronic land certificates, because between the quality of data and the implementation of electronic land certificates is a unity, good land data will produce quality electronic land certificates that can provide a sense of security and legal certainty and are not easily sued, because the resulting land data from transfer of media as electronic documents. Keywords : Land Data Quality, Electronic Land Certificate, Spatial Data   INTISARI Kualitas data pertanahan merupakan bagian yang sangat penting untuk mempersiapkan pelaksanaan sertifikat tanah elektronik, maka tujuan penelitian ini adalah hendak menganalisis kualitas data pertanahan, khususnya di Kantor Pertanahan kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melihat presisi data spasial sehingga data dapat dikategorikan sebagai data yang valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria data bidang tanah yang valid yaitu memenuhi aspek kebenaran letak, bentuk, luas dan standar penomoran, namun masih terdapat bidang-bidang tanah yang berstatus valid di aplikasi Komputerisasi Kegiatan Pertanahan (KKP) belum sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Juknis. Dengan demikian akan berpengaruh pada pelaksanaan sertifikat tanah elektronik, karena antara kualitas data dan pelaksanaan sertifikat tanah elektronik merupakan satu kesatuan, data pertanahan yang baik akan menghasilkan kualitas sertifikat tanah elektronik yang dapat memberikan rasa aman dan berkepastian hukum serta tidak mudah digugat, karena data pertanahan hasil dari alih media sebagai dokumen elektronik. Kata kunci : Kualitas Data Pertanahan, Sertifikat Tanah Elektronik, Data Spasial
Penggunaan Mobile Base Station South Tipe Galaxy G1 untuk Percepatan Pengukuran Bidang Tanah Raden Dani Fauzan; Tanjung Nugroho; Muhammad Arif Suhattanto
Tunas Agraria Vol. 2 No. 1 (2019): Jan-Tunas Agraria
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.168 KB) | DOI: 10.31292/jta.v2i1.24

Abstract

Abstract: The problem of the cadastral measurement utilize the Continuosly Operating Reference Stations/Jaringan Referensi Satelit Pertanahan (CORS/JRSP) is the uneven distribution of the base stations that are installed in several land offices which causes The Rover needs to take a long time to achieve The Fixed Solution. The use of Mobile base station can be used as a solution to the prob-lem because by using Mobile base station the base station can be installed at the measurement lo-cation. The objectives of this research are (1) to tested the accuraccy of the difference aspect of co-ordinate and the land area, (2) to tested the efficiency of cadastral measurement times using Mo-bile Base Station South Type Galaxy G1. The research method used is comparative experiment with quantitative approach. The selected samples are 30 plots of agricultural land in 1 (one) block, and Total Station as the comparison data. The data were analyzed by using fT test with signifi-cance level (?) 5%. The results showed no significant differences between the coordinates of the land area measurement using Mobile Base Station South Type Galaxy G1 and the measurement using Total Station. The land area of the measurement results has met tolerance based on PMNA / KBPN number 3 of 1997. Compared with Total Station, the cadastral measurement using Mobile Base Station is more efficient in terms of times needed.Keywords: the measurement of land, mobile base station, south galaxy G1Intisari: Permasalahan yang muncul pada pengukuran bidang tanah dengan memanfaatkan Jarin-gan Referensi Satelit Pertanahan (JRSP) adalah tidak meratanya persebaran base station yang dipasang di beberapa kantor pertanahan yang menyebabkan baseline yang terbentuk akan se-makin panjang dan rover memerlukan waktu lama mencapai solusi fixed. Penggunaan Mobile base station merupakan solusi masalah tersebut karena dengan menggunakan Mobile base station maka base station dapat dipasang pada lokasi pengukuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketelitian dari aspek perbedaan koordinat, perbedaan luas bidang tanah dan mengetahui efisiensi waktu pengukuran bidang tanah menggunakan mobile base station Receiver GNSS South Galaxy G1. Metode penelitian yang digunakan adalah perbandingan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel yang dipilih adalah 30 bidang tanah pertanian yang berbatasan dan pengukuran dengan Total Station sebagai data pembanding. Analisis data adalah uji t dengan taraf signifikansi (?) 5%. Hasil penelitian menunjukan tidak ada perbedaan koordinat yang signifikan hasil pengukuran mobile base station dengan pengukuran Total Station. Luas bidang tanah hasil pengukuran memenuhi toleransi berdasarkan PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997. Pengukuran menggunakan mobile base station lebih efisien dari segi waktu yang dibutuhkan.Kata Kunci: pengukuran bidang tanah, mobile base station, south galaxy G1
Penggunaan Mobile Base Station South Galaxy G1 untuk Pengukuran Batas Bidang Tanah di Kawasan Padat Bangunan Hanggas Wirapradeksa; Tanjung Nugroho; Muhammad Arif Suhattanto
Tunas Agraria Vol. 2 No. 2 (2019): Mei-Tunas Agraria
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.459 KB) | DOI: 10.31292/jta.v2i2.28

Abstract

Abstract: GNSS CORS as one of land and area measuring instrument has the weakness of limited range of base station and can only be used in open area. Nowadays, this weakness can be overcome by mobile base station technology. One GNSS tool that uses mobile base station technology is Galaxy G1, South type. Another advantage is that, it can capture the Beidou satellite signal so that the satellite configuration becomes better. Thus, the researcher conducted a study with the aims (1) to know the difference between accuracy of measurement MBS South Galaxy G1 with and without Beidou satellites; (2) to test the accuracy of the results of measurements using Mobile Base Station South Galaxy G1 type towards the results of measurements with Electronic Total Station (ETS) in the densely building area. This research used a comparison experimental research method with a quantitative approach. The results of the analysis show that (1) the coordinates of the observation with Beidou have an average horizontal accuracy of 0.025 m, while the results of the calculation of coordinates without Beidou have an average horizontal accuracy of 0.421 m. (2) The difference between the MBS South Galaxy G1 coordinate value and the terrestrial coordinate value is 0.132 m on average. The results of the t-test with a significance level of 5% found that the MBS South Galaxy G1 coordinate value has a significant difference to the terrestrial coordinate value. Keywords: mbs, south galaxy g1 Intisari: CORS sebagai salah satu alat ukur bidang tanah mempunyai kelemahan terbatasnya jangkauan base station dan hanya dapat digunakan di daerah terbuka. Kelemahan tersebut kini dapat diatasi dengan adanya teknologi MBS. Salah satu alat GNSS yang menggunakan teknologi MBS adalah South tipe Galaxy G1. Kelebihan lain adalah dapat menangkap sinyal satelit Beidou sehingga konstalasi satelitnya lebih baik. Berdasarkan hal tersebut peneliti ini bertujuan (1) mengetahui perbedaan ketelitian hasil pengukuran MBS South Galaxy G1 dengan dan tanpa satelit Beidou; (2) menguji ketelitian hasil pengukuran menggunakan MBS South Tipe Galaxy G1 terhadap hasil pengukuran dengan Electronik Total Station (ETS) pada kawasan padat bangunan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen perbandingan dengan pendekatan kuantitatif. Hasil analisis diketahui (1) Koordinat pengamatan dengan Beidou memiliki ketelitian horisontal rata-rata sebesar 0.025 m, sedangkan hasil perhitungan koordinat tanpa Beidou memiliki ketelitian horisontal rata-rata sebesar 0.421 m. (2) Perbedaan nilai koordinat MBS South Galaxy G1 terhadap nilai koordinat terestris rata-rata sebesar 0.132 m. Hasil uji t dengan taraf signifikansi 5% diperoleh bahwa nilai koordinat MBS South Galaxy G1 memiliki perbedaan yang signifikan terhadap nilai koordinat terestris. Kata Kunci: mbs, south galaxy g1.
Strategi Percepatan Peningkatan Kualitas Data Pertanahan di Kantor Pertanahan Kabupaten Karanganyar Adittya Bayu Handono; Muh. Arif Suhattanto; Aristiono Nugroho
Tunas Agraria Vol. 3 No. 3 (2020): Sept-Tunas Agraria
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.431 KB) | DOI: 10.31292/jta.v3i3.125

Abstract

The improving of land data quality of land data is one of the objectives of the Complete Systematic Land Registration (called as PTSL). The land data quality that was originally in the KW 4, 5, and 6 was upgraded to KW 1. However, there are many land offices experienced a number of problems. The Karanganyar Land Office on PTSL 2019  has become the one of an office that capable of working on improvement data quality activities with large volumes, namely 46.976 parcels. This study aims to determine the strategy that used and the validity of the land data. Through a sequential mix method with an exploratory approach, it was found that Kantah Karanganyar is applied the right strategy. This is indicated from the number of the increasing land data quality and 86% of 60 samples have a good validity.
Dinamika Perubahan Tutupan Lahan dan Tantangan Kebijakan Tata Ruang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia Nurhadi, Rofi; Suhattanto, Muh. Arif
Widya Bhumi Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v5i2.249

Abstract

Land cover changes in Wonogiri Regency are closely related to increased urbanization and development in the Subosukowonosraten area, which has an impact on increasing the risk of disasters such as landslides and floods. This study aims to analyze the patterns and trends of land cover changes in 2019, 2022, and 2025 as a basis for evaluating the implementation of the Wonogiri Regency Spatial Plan (RTRW). A spatial quantitative method was used by classifying 10-meter-resolution Sentinel-2 imagery using the Random Forest algorithm through the Google Earth Engine platform. The results of the analysis show a decrease in natural/semi-natural vegetation cover and an increase in residential/mixed land areas, especially in Eromoko, Wonogiri, and Baturetno Districts. Natural/semi-natural vegetation cover decreased from 61.87% (2019) to 60.30% (2025), while residential/mixed buildings increased from 5.40% (2019) to 6.62% (2025). Other cultivated land tends to be stable. This finding indicates the need for regular evaluation of the implementation of the Spatial Planning (RTRW) and spatial use control interventions to reduce disaster risk and maintain the region's ecological function. This study provides multi-temporal empirical evidence based on Sentinel-2 imagery and the Random Forest algorithm in GEE to assess the suitability of the RTRW at the district level and identify priority locations for spatial planning policy revision and mitigation strategies. Perubahan tutupan lahan di Kabupaten Wonogiri menunjukkan keterkaitan erat dengan peningkatan urbanisasi dan pembangunan kawasan Subosukowonosraten, yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana seperti longsor dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola dan tren perubahan tutupan lahan pada tahun 2019, 2022, dan 2025 sebagai dasar evaluasi terhadap implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Wonogiri. Metode kuantitatif spasial digunakan dengan mengklasifikasikan citra Sentinel-2 beresolusi 10 meter menggunakan algoritma Random Forest melalui platform Google Earth Engine. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan tutupan vegetasi alami/semi-alami dan peningkatan luas lahan permukiman/campuran, terutama di Kecamatan Eromoko, Wonogiri, dan Baturetno. Tutupan vegetasi alami/semi-alami menurun dari 61,87% (2019) menjadi 60,30% (2025), sementara bangunan permukiman/campuran meningkat dari 5,40% (2019) menjadi 6,62% (2025). Lahan tanaman budidaya lainnya cenderung stabil. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi berkala terhadap pelaksanaan RTRW serta intervensi pengendalian pemanfaatan ruang guna mengurangi risiko bencana dan menjaga fungsi ekologis wilayah. Studi ini memberikan bukti empiris multi-temporal berbasis citra Sentinel-2 dan algoritma Random Forest di GEE untuk menilai kesesuaian RTRW di tingkat kabupaten, serta mengidentifikasi lokasi prioritas bagi revisi kebijakan tata ruang dan strategi mitigasi.
Tipologi Permasalahan Kualitas Data Pertanahan PTSL Terintegrasi Tahun 2023 di Kantor Pertanahan Kabupaten Blora Luluk Qoniah Khoirunisa; Suhattanto, Muh. Arif; Kusmiarto, Kusmiarto
Kadaster: Journal of Land Information Technology Vol. 2 No. 2 (2024): Kadaster: Journal of Land Information Technology
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/kadaster.v2i2.33

Abstract

Improving the quality of land data is one of the key steps in completing the Systematic Land Registration (PTSL) program for registered land parcels. At the Land Office of Blora Regency, there are registered land parcels that cannot be mapped in the registration map, categorized under K4.2. The purpose of this research is to describe the process of identifying K4.2, the typology of problems, and potential solutions at the Land Office of Blora Regency. Using a qualitative research method with a practical action research approach, the findings reveal that the condition of K4.2 PTSL integrated in 2023 is not entirely pure K4.2, as an analysis in Jejeruk Village and Ngloram Village found several land parcels that could have their data quality improved. The typology of problems for K4.2 land parcels is classified into three main categories: land data anomalies, overlapping certificates on old rights, and untraceable locations. Potential solutions for resolving K4.2 land parcels include improving physical data and the Land Office Computerization System (KKP) data, cancelling rights based on the owner's declaration of land rights relinquishment, and publishing K4.2 in village offices. Additionally, a follow-up regulation is needed to address the resolution of K4.2 issues. Keywords: Improvement of Land Data Quality, Integrated Systematic Land Registration, Blora Land Office, Overlapping Certificates, Land Rights Relinquishment.   INTISARI Peningkatan kualitas data pertanahan merupakan salah satu penyelesaian kegiatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) untuk bidang tanah yang sudah terdaftar. Di Kantor Pertanahan Kabupaten Blora terdapat bidang tanah terdaftar yang tidak dapat dipetakan dalam peta pendaftaran yang dikategorikan dalam K4.2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses identifikasi K4.2, tipologi permasalahan, dan potensi solusinya pada Kantor Pertanahan Kabupaten Blora. Melalui metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan praktis didapatkan hasil bahwa kondisi bidang tanah K4.2 PTSL terintegrasi tahun 2023, tidak serta merta murni K4.2 karena setelah dilakukan analisis di Desa Jejeruk dan Desa Ngloram terdapat beberapa bidang tanah yang dapat ditingkatkan kualitas datanya. Tipologi permasalahan bidang-bidang tanah K4.2 digolongkan menjadi tiga kategori utama yaitu anomali data pertanahan, tumpang tindih sertipikat di atas hak lama, dan lokasi tidak ditemukan. Potensi solusi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan bidang-bidang tanah K4.2 yaitu perbaikan data fisik dan data KKP (Komputerisasi Kantor Pertanahan), penghapusan hak dengan dasar surat pernyataan pelepasan hak atas tanah oleh pemilik, dan publikasi K4.2 di kantor desa serta diperlukan aturan tindak lanjut tentang penyelesaian K4.2. Kata Kunci: Peningkatan Kualitas Data Pertanahan, Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Terintegrasi, Kantor Pertanahan Blora, Tumpang Tindih Sertipikat, Pelepasan Hak Atas Tanah.
Strategi Integrasi Data Multisumber untuk Pembuatan Peta Persil dalam Mendukung RDTR di Desa Selodoko Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Novariyanto, Jodi; Suhattanto, Muh Arif; Kusmiarto, Kusmiarto
Kadaster: Journal of Land Information Technology Vol. 3 No. 2 (2025): Kadaster: Journal of Land Information Technology
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/kadaster.v3i2.83

Abstract

The absence of a parcel map in Selodoko Village has constrained the preparation of a parcel-based Detailed Spatial Plan (RDTR) for Ampel Subdistrict and has limited village-level land administration. This study aims to describe the process of developing a parcel map in Selodoko Village and to formulate acceleration strategies through multi-source land data integration. A qualitative descriptive method was applied through observation, structured interviews, document analysis, spatial data integration, and descriptive SWOT analysis. The data consisted of downloaded parcel data from the land office, copies of land certificates or survey documents, Land and Building Tax Assessment List data, administrative maps, and supporting aerial imagery. The result shows that the final parcel map contains 2,333 parcels, developed by integrating 2,066 downloaded parcels, 1,731 certificate or survey document copies, and 2,131 tax objects from the DHKP PBB dataset. The process identified overlapping parcels, incomplete certificate copies, outdated ownership attributes, and limited spatial accuracy of tax data. The proposed acceleration strategy includes GIS-based multi-source integration, participatory field verification, periodic spatial audits, technical standard operating procedures, and capacity building for mapping personnel. Keywords:  parcel map; data integration; RDTR; land administration; SWOT analysis   INTISARI Ketiadaan peta persil di Desa Selodoko menjadi kendala dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) berbasis bidang di Kecamatan Ampel dan pengelolaan administrasi pertanahan di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan peta persil Desa Selodoko dan merumuskan strategi percepatan pembuatannya melalui integrasi data pertanahan multisumber. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara terstruktur, studi dokumen, integrasi data spasial, dan analisis SWOT deskriptif. Data yang digunakan meliputi data unduh persil dari kantor pertanahan, salinan sertipikat atau surat ukur, data Daftar Himpunan Ketetapan Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (DHKP PBB), peta administrasi, dan foto udara pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta persil akhir Desa Selodoko mencakup 2.333 bidang tanah. Peta tersebut dibangun melalui integrasi 2.066 bidang data unduh persil, 1.731 salinan sertipikat atau surat ukur, dan 2.131 objek pajak dari data DHKP PBB. Proses integrasi masih menghadapi kendala berupa tumpang tindih bidang, ketidaklengkapan dokumen sertipikat, atribut kepemilikan yang belum mutakhir, dan keterbatasan akurasi spasial data pajak. Strategi percepatan yang diusulkan meliputi integrasi multidata berbasis GIS, verifikasi lapangan partisipatif, audit spasial berkala, penyusunan SOP teknis, dan peningkatan kapasitas SDM pemetaan. Kata Kunci: peta persil; integrasi data; RDTR; administrasi pertanahan; analisis SWOT
Strategi Peningkatan Kualitas Data Spasial Bidang Tanah Terpetakan pada Kasus Tumpang Tindih Persil di Kelurahan Miroto Kota Semarang Refania Salsa Aurelia; Suhattanto, Muh Arif; Wulansari, Harvini
Kadaster: Journal of Land Information Technology Vol. 3 No. 2 (2025): Kadaster: Journal of Land Information Technology
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/kadaster.v3i2.84

Abstract

The Complete City Development Program requires accurate, integrated, and valid spatial land parcel data to support legal certainty in land administration. One key problem found in mapped land parcels is topological anomaly, particularly overlap and gap errors. This study aims to examine the condition of mapped land parcels in quality categories KW 1, KW 2, and KW 3, analyze technical improvement strategies, and identify constraints and solutions in improving spatial data quality in Miroto Subdistrict, Central Semarang District, Semarang City. This study used a qualitative descriptive method supported by descriptive quantitative data. Data were collected through observation, interviews, and document analysis involving key informants from the Semarang City Land Office. Spatial analysis was conducted through topology error checking, identification of overlap, gap, and sliver anomalies, document verification using Survey Letters, Measurement Drawings, and Land Books, and validation of parcel data using digital registration maps, analog registration maps, and orthophoto data. The results show that from 1,445 mapped land parcels, 445 overlap indications and 78 gap indications were identified, resulting in 523 spatial errors. These errors were classified into three characters: overlap or sliver errors, overlap with parent parcels from subdivision or consolidation, and duplicate parcels. After technical improvement, the number of errors decreased from 523 to 46, indicating an overall completion rate of 91.20%. The main contribution of this study is the formulation of a technical classification and improvement workflow for mapped parcels with overlap anomalies in KW 1, KW 2, and KW 3 data. The main constraints include limited budget, limited personnel, incomplete physical documents, weak land history information at the village level, and reliance on routine land services. These findings highlight the need for systematic spatial data audits, clearer validation standards, and stronger institutional support for Complete City Development. Keywords: spatial data quality; mapped land parcels; overlap; complete city; land data   INTISARI Program Pembangunan Kota Lengkap membutuhkan data spasial bidang tanah yang akurat, terintegrasi, dan valid untuk mendukung kepastian hukum pertanahan. Salah satu masalah utama pada bidang tanah terpetakan adalah anomali topologi, terutama tumpang tindih dan celah antarpersil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi bidang tanah terpetakan pada kategori kualitas data KW 1, KW 2, dan KW 3, menganalisis strategi teknis peningkatan kualitas data, serta mengidentifikasi kendala dan solusi dalam peningkatan kualitas data spasial di Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang didukung data kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen dengan melibatkan informan dari Kantor Pertanahan Kota Semarang. Analisis spasial dilakukan melalui pemeriksaan topology error, identifikasi anomali overlap, gap, dan sliver, pemeriksaan dokumen Surat Ukur, Gambar Ukur, dan Buku Tanah, serta validasi data bidang menggunakan peta pendaftaran digital, peta pendaftaran analog, dan foto tegak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1.445 bidang tanah terpetakan, ditemukan 445 indikasi overlap dan 78 indikasi gap, sehingga terdapat 523 kesalahan spasial. Kesalahan tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga karakter, yaitu overlap atau sliver, tumpang tindih dengan bidang induk hasil pemecahan atau penggabungan, dan bidang duplikat ganda. Setelah perbaikan teknis, jumlah kesalahan menurun dari 523 menjadi 46, dengan tingkat penyelesaian sebesar 91,20%. Kontribusi utama penelitian ini adalah perumusan klasifikasi teknis dan alur perbaikan bidang tanah terpetakan KW 1, KW 2, dan KW 3 yang mengalami anomali tumpang tindih. Kendala utama meliputi keterbatasan anggaran, keterbatasan pelaksana, ketidaklengkapan dokumen fisik, lemahnya informasi riwayat tanah di tingkat kelurahan, dan ketergantungan pada layanan pertanahan rutin. Temuan ini menunjukkan perlunya audit data spasial secara sistematis, standar validasi yang lebih jelas, dan dukungan kelembagaan yang lebih kuat dalam Pembangunan Kota Lengkap. Kata kunci: kualitas data spasial; bidang tanah terpetakan; tumpang tindih; kota lengkap; data pertanahan