Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hijrah dan Pembentukan Civil Society Dedi Iskandar Batubara; Muhammad Rahmat
All Fields of Science Journal Liaison Academia and Sosiety Vol. 3 No. 3: September 2023
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/afosj-las.v3i3.455

Abstract

Jika melihat data dan fakta sosio geografis tidak ada yang bisa membantah Indonesia sebagai salah satu negara paling majemuk dan heterogen Dengan luas mencapai 8 3 juta kilometer persegi Indonesia punya 17 499 pulau dihuni oleh 273 8 juta jiwa 300 kelompok etnik 1 340 suku bangsa 742 bahasa daerah dan 6 agama resmi yang diakui negara Data ini menempatkan Indonesia pada posisi ke 2 negara dengan bahasa daerah terbanyak di dunia Hanya kalah dari Papua Nugini yang punya 840 bahasa daerah Indonesia juga berada di posisi ke 2 sebagai negara dengan keragaman suku di dunia Hanya kalah dari India yang punya 2 000 kelompok etnis Dengan tingkat heterogenitas yang begitu tinggi di semua aspek kehidupan wajar jika diskursus tentang multikulturalisme tetap aktual untuk didiskusikan Apalagi realitas muttakhir menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kegamangan peradaban Ketika negara negara yang secara tegas mengklaim sebagai kapitalis komunis dan Islamis berkompetisi meretas kemajuan Indonesia justru terkesan masih sibuk mencari formula yang paling tepat yang bisa membuncahkan semua potensi bangsa Pancasila memang telah ditetapkan sebagai dasar negara dan sudah terbukti bisa dijadikan sebagai titik temu sekaligus pemersatu semua identitas dan kepentingan Tapi ibarat rumah persatuan hakikatnya adalah pondasi yang menempati posisi terbawah pada suatu bangunan Menyelesaikan pembuatan pondasi bukan berarti sudah menyelesaikan pendirian bangunan Tapi baru menuntaskan tahapan pertama saja Masih banyak tahapan lain yang harus dilakukan Dalam konteks ini kita bisa meneladani sejarah hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Yatsrib atau Madinah Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mempersatukan Anshar dan Muhajirin
Pendidikan Al Washliyah dan Implementasi Kurikulum Merdeka Tahun 2024 Muhammad Rahmat; Dedi Iskandar Batubara
All Fields of Science Journal Liaison Academia and Sosiety Vol. 3 No. 3: September 2023
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/afosj-las.v3i3.456

Abstract

Komitmen ini akan terus kita rawat dan kita wariskan pada generasi berikut Pasalnya khittah sekaligus ruh organisasi kita adalah pendidikan Lahir dari kelompok diskusi Debating Club di Maktab Islam Tapanuli MIT saya pastikan hanya orang tidak belajar sejarah yang bisa meragukan jasa dan sumbangsih Al Washliyah dalam meningkatkan kecerdasan bangsa Karel A Steenbrink saja tidak ragu menegaskan bahwa: mendiskusikan tema pendidikan di tanah Melayu takkan lengkap tanpa melibatkan Al Washliyah Fakta ini sejatinya membuktikan kualitas pendidikan Al Washliyah yang mampu menjawab tantangan zaman Bisa merespon dinamika yang berkembang di setiap era dan masa Mampu memberikan solusi bagi seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat Serta sanggup menawarkan perpektif baru dalam menyongsong setiap perubahan Rezim boleh berganti Pemegang kebijakan bisa berubah Kebudayaan akan terus memproduksi hal hal baru Dan lembaga pendidikan Al Washliyah akan selalu hadir untuk memproduksi manusia manusia unggul di negeri ini