Rina Triasih
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada/Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, Central Java

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan antara Riwayat Kejang pada Keluarga dengan Tipe Kejang Demam dan Usia Saat Kejang Demam Pertama Atut Vebriasa; Elisabeth S. Herini; Rina Triasih
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.753 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.137-40

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor risiko kejang demam adalah riwayat kejang pada keluarga, dihubungkan dengan tipe kejang demam pertama dan usia saat terjadi kejang demam pertama. Beberapa penelitian menunjukkan riwayat kejang meningkatkan risiko kejang demam kompleks sebagai tipe kejang demam pertama dan berhubungan dengan usia kejang demam pertama yang lebih dini.Tujuan. Mengetahui hubungan riwayat kejang pada keluarga dengan tipe kejang demam pertama dan usia saat kejang demam pertama.Metode. Penelitian dilaksanakan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito,Yogyakarta sejak Januari 2009-Juli 2010. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif dan dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya riwayat kejang pada keluarga, tipe kejang demam pertama, dan usia saat terjadi kejang demam pertama.Hasil. Seratus lima puluh anak usia 6 bulan–5 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Terdapat 91 (60,6%) anak yang mempunyai riwayat kejang pada keluarga dan kejang demam pertama terjadi pada usia yang lebih dini pada kelompok ini (median usia 13,0 vs 17,0 bulan; IK95%: 0,00-0,03; p=0,01). Anak dengan riwayat kejang lebih banyak mengalami kejang demam sederhana dibandingkan kejang demam kompleks (61,4% vs 59,2%), meskipun perbedaannya tidak bermakna (IK95%: 0,78-1,37; p=0,80)Kesimpulan. Anak dengan riwayat kejang pada keluarga cenderung mengalami kejang demam pertama pada usia yang lebih dini. Riwayat kejang pada keluarga tidak meningkatkan risiko terjadi kejang demam kompleks sebagai tipe kejang demam pertama.
Faktor Risiko Kejadian Sakit Tuberkulosis pada Anak yang Kontak Serumah dengan Penderita Tuberkulosis Dewasa Nevita Nevita; Retno Sutomo; Rina Triasih
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.5-10

Abstract

Latar belakang. Anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa berisiko tinggi untuk terinfeksi dan sakit TB. Pelacakan terhadap anak kontak serumah (contact screening) berpotensi menurunkan morbiditas dan mortalitas TB pada anak. Namun demikian, kegiatan itu belum rutin dilakukan di negara-negara endemis karena keterbatasaan tenaga dan fasilitas.Tujuan. Mengetahui faktor risiko sakit TB pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasaMetode. Penelitian kasus kontrol pada anak usia ≤15 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa yang diobati di 18 Puskesmas, 2 balai pengobatan paru, dan 3 rumah Sakit di Kotamadya Yogyakarta antara bulan agustus 2010 dan Juni 2012. Kami melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, uji tuberkulin, dan foto Rontgen dada pada semua anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk menentukan ada tidaknya sakit TB. Dikatakan sakit TB apabila terdapat paling sedikit satu gejala TB dan foto Rontgen dada yang sugestif TB atau ditemukannya gejala dan tanda extrapulmonary TB.Hasil. Terdapat 126 anak, 21 sebagai kasus dan 105 sebagai kontrol. Karakteristik anak (usia balita (OR 1,94 95% CI (0,76–4,93), telah mendapatkan vaksinasi BCG (OR 1,09 95% CI (0,12–8,83)) karakteristik kasus indeks (derajat BTA sputum positif (OR 2,72 95% CI (0,76 -9,78), orang tua sebagai kasus indeks (OR 1,05 95% CI (0,42–2,67)) dan karakteristik lingkungan (polusi asap rokok dalam rumah (OR 1,07 95% CI (0,38–2,99) dan jumlah anggota keluarga >6 (OR1,85 95% CI (0,70–4,88) tidak berhubungan dengan risiko terjadinya sakit TB pada anak kontak serumah.Kesimpulan. Risiko kejadian sakit TB pada anak tersebut tidak berhubungan dengan karakteristik anak, kasus indeks, dan lingkungan yang diteliti.
Berat Badan Lahir Rendah sebagai Faktor Risiko Stunted pada Anak Usia Sekolah Aulia Fakhrina; Neti Nurani; Rina Triasih
Sari Pediatri Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.1.2020.18-23

Abstract

Latar belakang. Stunted pada usia sekolah menyebabkan kemampuan kognitif rendah, fungsi fisik tidak optimal, dan produktivitas masa depan yang rendah.Tujuan. Mengidentifikasi apakah berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan faktor risiko stunted pada anak usia sekolah. Metode. Kami melakukan penelitian kasus-kontrol dari bulan Mei – Desember 2016 yang melibatkan siswa sekolah dasar berusia 6-7 tahun yang dipilih secara cluster random sampling di lima kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Stunted didefinisikan sebagai nilai Z score untuk tinggi badan menurut usia <-2 standar deviasi berdasarkan kriteria WHO 2005. Data klinis dan demografi diperoleh menggunakan kuesioner yang diisi oleh orang tua. Hasil. Kejadian stunted adalah 11,8%. Riwayat BBLR (adjusted Odd Ratio (aOR) 3,38; IK 95% 2,03 -5,63), jenis kelamin laki-laki (aOR 1,62; IK 95% 1,160-2,27), usia kehamilan kurang bulan (aOR 4,23; IK 95% 2,18-8,24), pola pemberian MPASI dini (aOR 1,65; IK 95% 1,11-2,45) dan tinggal di daerah pedesaan (aOR 1,68; IK 95% 1,01-2,62) merupakan faktor risiko terjadinya stunted pada usia sekolah. Stunted pada usia sekolah tidak berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orang tua.Kesimpulan. Anak-anak yang lahir dengan BBLR berisiko mengalami stunted pada masa sekolah.
Skor Prediksi Kematian Pneumonia pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun Ambarsari Latumahina; Rina Triasih; Kristia Hermawan
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.214-9

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang. Pengembangan sistem skor yang sederhana untuk memprediksi kematian pada pneumonia dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan menurunkan angka kematian anak akibat pneumonia.Tujuan. Menyusun skor prediksi kematian pada anak dengan pneumonia.Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak (umur 2 bulan sampai 5 tahun) yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito dengan pneumonia sejak Januari 2009 sampai Desember 2014. Anak dengan rekam medis tidak lengkap atau dengan infeksi HIV dieksklusi. Digunakan metode Spiegelhalter Knill-Jones untuk penyusunan skor kematian. Prediktor kematian dengan likelihood ratio (LHR) ≤0,5 atau ≥2 dimasukkan dalam sistem skor. Cut off point dari skor total ditentukan dengan kurva receiver operating characteristic (ROC).Hasil. Di antara 225 anak yang memenuhi kriteria, 42 (18,7%) meninggal. Prediktor kematian yang memenuhi kriteria LHR adalah usia <6 bulan (LHR 2,05), takikardia (LHR 2,11), saturasi oksigen (SpO2) <92% (LHR 2,54), anemia (LHR 0,38) dan leukositosis (LHR 2,04). Skor prediksi kematian terdiri atas usia (skor=5 bila usia <6 bulan dan 0 bila >6 bulan); frekuensi nadi skor=6 bila takikardia dan -8 bila normal); saturasi oksigen (skor=3 bila SpO2 <92% dan 0 bila SpO2 >92%); hemoglobin (skor=4 bila anemia dan -6 bila normal), leukosit (skor=3 bila leukosit dan 0 bila normal). Total skor >3 Mempunyai sensitivitas dan spesifitas terbaik, yaitu 85,7% dan 72,1%.Kesimpulan. Skor prediksi kematian pneumonia >3 dapat digunakan untuk memprediksi kematian pada anak dengan pneumonia.