Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA DIMANADO “NEWFACE” OF CORRECTIONAL INSTITUTION ‘PENERAPAN SUPERIMPOSISI OLEH BERNARD TSCHUMI’ Tambengie, Rendy G.; Tinangon, Alvin J.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila membuka pemikiran- pemikiran baru mengenai fungsi pemidanaan yang tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Beberapa fenomena yang menjadi kendala bagi sistem pembinaan dan pembimbingan di lembaga pemasyarakatan sampai saat ini belum mendapat titik penyelesaian, sehingga penilaian masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan tidak ada bedanya dengan penjara membuat mantan narapidana sulit diterima oleh masyarakat. Pendekatan perancangan yang dilakukan meliputi 3 aspek utama. Pendekatan Tipologi Objek : membahas pengertian, pemahaman, prospek, fisibilitas, dan program dasar fungsional Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA. Pendekatan Tapak dan Lingkungan : Membahas kriteria pemilihan lokasi dan tapak di kota manado. Pendekatan Tematik : Membahas tema perancangan yang tepat sebagai solusi dari permasahalan yang ada. Proses perancangan dalam  memecahkan permasalahan yang ada, mengarah pada model proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel, meliputi Fase I (Tahap Pengembangan Pengetahuan Komprehensif) dan Fase II (Siklus Image-Present-Test). Tema yang diambil adalah “Penerapan Superimposisi Oleh Bernard Tschumi”, yang dalam penerapannya menggabungkan dan menumpuk sistem layer titik, garis, dan bidang yang masing-masing independen atau berdiri sendiri (autonomous). Sehingga dari hasil rancangan dapat memecahkan masalah desain yang ada pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA, yaitu pola penataan ruang, program ruang, konfigurasi alur gerak, dan estetika bangunan. Hasil perancangan memberikan persepsi dan “wajah baru” pada lembaga pemasyarakatan sebagai lembaga yang memiliki peran  dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilitas dan resosialisasi pelanggar hukum, dan penanggulangan kejahatan (suppression of crime).   Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Superimposisi.
REST AREA TRANS SULAWESI ANTAR PROVINSI ARSITEKTUR BIOMIMICRY Tandjung, Adrian A.; Prijadi, Rachmat; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan Trans Sulawesi merupakan satu-satunya jalur transportasi darat yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Utara dengan Provinsi lain yang ada di pulau Sulawesi. Melihat betapa pentingnya jalan Trans Sulawesi ini maka seharusnya telah memiliki fasilitas yang memadai bagi para pengguna jalan.Jarak jauh dan perjalanan yang relatif lama sangat memungkinkan seseorang membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ketempat tujuan masing-masing. Kepadatan kendaraan terkadang membuat pengemudi kelelahan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kecelakaan.Selain karena kepadatan arus kendaraan, kelelahan juga terjadi akibat perjalanan yang cukup jauh, dimana pengendara tidak mempersiapkan kondisi fisik dan kondisi kendaraan untuk perjalanan tersebut. Untuk mengurangi kecelakaan dan menghilangkan lelah setelah menempuh perjalanan tersebut kebijakan yang diambil adalah dengan cara membangun tempat-tempat istirahat sesuai dengan jarak/interval dengan mempertimbangkan ketahanan pengemudi dalam berkendaraan. Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung dan pengguna rest area, maka pendekatan tema perancangan yang dipilih adalah Arsitektur Biomimicry. Dengan penerapan tema ini pada bangunan, diharapkan akan muncul bentuk-bentuk bangunan yang tereksplorasi berdasarkan konsep adaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga muncul wujud bangunan benar-benar merupakan hasil penyesuaian diri dengan keadaan sekitar serta memberikan perasaan senang dan nyaman bagi para pengguna rest area. Kata kunci :Trans Sulawesi, Perjalanan, Istirahat, Adaptasi.
STASIUN TELEVISI TVM DI MANADO (REGIONALISME DALAM ARSITEKTUR) Pasuhuk, Lifiana; Egam, Pingkan P.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangan arsitektur modern muncullah sebuah paham baru yang diperkiran berkembang sekitar tahun 1960, yaitu Regionalisme yang merupakan sebuah perhatian besar terhadap ciri kedaerahan. Menurut Suha Ozkan sendiri cirri utama regionalisme adalah menyatunya arsitektur tradisional dan arsitektur modern. Menurut William Curtis sendiri diharapkan dapat menghasilkan bangunan yang bersifat abadi, melebur atau menyatukan antara yang lama dan yang baru, antara regional dan universal. Pendekatan ini adalah salah satu kritik terhadap Arsitektur Modern yang memandang arsitektur pada dasarnya bersifat universal. Regionalisme Dalam Arsitektur pada Stasiun TV Swasta TVM di Manado merupakan salah satu wujud nyata dari peleburan antara arsitektur modern dan arsitektur tradisional. Selain itu, dengan penerapan tema tersebut tentunya dapat menambah nilai estetika dari desain bangunan. Tujuan dari penerapan Regionalisme Dalam Arsitektur yaitu untuk menunjang tujuan dari objek rancang. Sebagai stasiun tv tentu saja unsur modern sangat berkaitan erat tetapi sebagai representative daerah khususnya Manado unsur tradiosional juga tidak kalah pentingnya. Sehingga dengan upaya ini diharapkan agar unsur-unsur daerah dapat dikenal kembali oleh pemirsanya juga diharapkan bisa dikenal oleh seluruh pemirsa Indonesia. Dengan dihadirkannya desain Stasiun Televisi Swasta TVM ini diharapkan dapat menunjang kegiatan pertelevisian kota Manado yang ada ataupun dapat menjadi salah satu wadah bagi para pemuda dan pemudi Manado mengarahkan kekreatifitasan mereka. Selain dari penerapan Regionalisme Dalam Arsitektur sebagai tema perancangan dari Stasiun Televisi Swasta TVM di Manado, tentunya desain stasiun televisis secara keseluruhan harus sesuai dengan standar kenyamanan karena bangunan tersebut berhubungan langsung dengan individu-individu pengguna. Kata kunci : Regionalisme Dalam Arsitektur, Stasiun Televisi Swasta TVM
TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN SEMAYANG DI BALIKPAPAN Kontemporerisasi Budaya Dayak secara Arsitektural Hutagalung, Gabriel P.; Van Rate, Johannes; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktifitas perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain merupakan salah satu indikasi dari perkembangan ekonomi suatu daerah. Inilah yang terjadi di Kota Balikpapan yang memiliki pertumbuhan pendatang dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kelahirannya. Kondisi ini bisa menjadi sebuah keuntungan bagi Balikpapan, terutama jika dibarengi dengan infrastruktur transportasi yang memadai. Pelabuhan Semayang di Balikpapan contohnya, merupakan infrastruktur kebanggaan karena peranannya sebagai pintu gerbang dari provinsi Kalimantan Timur. Salah satu fasilitas tersibuk di Pelabuhan Semayang adalah terminal penumpangnya. Menurut survey tahun 2014, terminal ini tak lagi mampu memenuhi standar pelayanan dan besaran ruang sudah tidak mampu menampung banyaknya penumpang. Tak hanya itu, sistem sirkulasi penumpang tidak berjalan dengan baik menyebabkan kemacetan dan ketidakaturan dalam bangunan. Melihat kondisi tersebut, penulis merasa perlu untuk mendesain kembali terminal penumpang Pelabuhan Semayang, mengingat kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yang lebih layak. Tema yang dipakai untuk proses perancangan diambil dari keterkaitan antara objek bangunan dengan lokasi objek,yakni Kontemporerisasi Budaya Dayak secara Arsitektural. Tema ini mengangkat/menampilkan nilai-nilai budaya lokal, yaitu Dayak dan Kontemporerisasi yang diartikan sebagai suatu pembaharuan, kekinian atau tidak kaku. Penerapan tema ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas transportasi laut, dapat melestarikan kebudayaan local, dan mempromosikan nilai-nilai budaya Dayak. Objek rancangan dibuat dengan mengupayakan keseimbangan dari segi visual dan dari segi fungsi agar dapat menunjang tuntutan aktifitas dan kebutuhan dari masyarakat kini yang modern dan aktif. Kata Kunci : Dayak, Kontemporerisasi, Pelabuhan,Terminal
MUSEUM SENI DI TALAUD. Simbolisme Arsitektur Batara, Chandrika O.; Prijadi, Rachmat; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Museum Seni di Talaud merupakan suatu wadah atau tempat yang terpusat dari seluruh karya, keahlian, serta seluruh aspek adat istiadat yang diturunkan, dipelajari, dan dikembangkan oleh para pelaku seni dan budaya yang terletak di Kabupaten Kepulauan Talaud.Tema perancangan yang digunakan ialah Simbolisme Architecktur dimana tujuan utamanya ialah merancang bangunan sebagai daya tarik dan menggunakan hal-hal visual serta spesifikasi / karakter tertentu dari sebuah benda. Selain itu karya arsitektur yang hadir harus bisa menunjukkan keunggulan tapak, baik melalui site planning maupun bentuk serta tampilan massa bangunan.Sesuai dengan RTRW Kabupaten Kepulauan Talaud, lokasi pengembangan daerah terletak pada penulis mengambil lokasi di Perkantoran Kabupaten Kepulauan Talaud.Dengan adanya Museum Seni di Talaud ini diharapkan mampu menunjang kebutuhan masyarakat akan pentingnya kesenian di Kabupaten Kepulauan Talaud. Kata Kunci : Kabupaten Kepulauan Talaud, Museum Seni, Simbolisme Arsitektur
TERMINAL PENUMPANG ANGKUTAN LAUT DI TAHUNA (Arsitektur Perilaku) Dalip, Almiritia; Prijadi, Rachmat; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Perkembangan pembangunan bidang transportasi laut yang semakin pesat dewasa ini menuntut adanya sistem penunjang sarana dan prasarana transportasi laut yang memadai, sehingga dapat mewujudkan sistem pelayaran yang aman dan layak. Kabupaten Kepulauan Sangihe sebagai wilayah kepulauan memiliki banyak keuntungan dan kerugian dalam berbagai hal. Keberadaan pelayaran sebagai salah satu penghubung antar pulau memiliki peran besar bagi aspek-aspek kehidupan di daerah ini baik, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, dan  pertahanan keamanan. Ketergantungan akan sarana trasportasi laut sangat dirasakan bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Menigkatnya jumlah penumpaang, mengakibatkan jumlah kapal pun meningkat sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan akan sarana transportasi laut. Peningkatan jumlah pelayanan kapal dan penumpang ini menjadi masalah yang cukup jelas yang mengakibatkan kondisi terminal yang ada menjadi sangat padat, dengan kata lain kapasitas gedung terminal yang sebagai titik awal dan akhir dimulainya aktivitas pelayaran, tidak mampu lagi menampung lonjakan kenaikan penumpang. Hal lain yang juga menjadi masalah adalah  perilaku pemakai yang kurang memperhatikan fungsi dari fasilitas yang ada di terminal sehingga kerap kali mengganggu kenyamanan dan aktivitas pemakai lain. Oleh sebab itu perlu diadakan suatu perancangan terminal yang baru sebagai solusi pemecahan masalah-masalah yang ada di terminal, sehingga di harapkan bisa menjadi terminal yang baik. Baik disini tidak terbatas dengan perbaikan fisik terminal saja, diperlukan juga usaha untuk mengelola terminal agar menjadi sebuah terminal yang nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Tema atau konsep yang diterapkan dalam perancangan objek ini adalah Arsitektur Perilaku. Dari konsep ini disimpulkan untuk mendapatkan kapasitas bangunan yang meadai, kondisi sirkulasi yang tertib, nyaman, serta penggunaan fasilitas yang sesuai dengan fungsinya. Kata kunci: Angkutan laut, Arsitektur Perilaku, Terminal Penumpang
RUSUNAWA DI TERNATE. TROPICAL GARDEN DALAM GUBAHAN BENTUK DAN RUANG ARSITEKTURAL Soselisa, Megaelvi; Warouw, Fela; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin menipis lahan suatu hunian pada pusat Kota yang mengakibatkan harga lahan untuk hunian tapak (landed house) mahal. Ditambah pertumbuhan warga kota yang meniingkat menjadi suatu masalah dalam menyediakan kebutuhan hunian bagi warga Kota . Kehadiran Rusunawa di Kota Ternate memiliki konsep utama perancangan yang mengacu pada kebutuhan akan tempat tinggal yang nyaman ditengah Kota dengan sarana dan prasarana lingkungan yang terencana dengan baik. Bahkan bisa menjadi  keharusan bagi warga kota yang ingin memiliki hunian berdekatan dengan tempat kerja, fasilitas umum, fasilitas pendidikan dan pusat – pusat kegiatan lainnya. Selain tipisnya lahan hunian, lahan untuk ruang terbuka hijau semakin sedikit. Cara menanam dapat dilakukan secara vertikal pada tanaman tropis yang lebih dikenal dengan tropical garden. Taman tropis akan dilakukan secara vertikal ini dapat menciptakan ruang hijau pada Rusunawa, dapat menambah estetika dan mampu meredam panas dari luar kedalam bangunan. Dengan memanfaatkan pendekatan tersebut, akan menghasilkan rancangan Rusunawa yang seimbang antara kebutuhan hunian perkotaan dan ruang terbuka hijau. Kata Kunci : Rusunawa, Tropical Garden Dalam Gubahan Bentuk dan Ruang Arsitektural
HOTEL RESORT DI DANAU TONDANO RECREATIONAL WATERFRONT Tumembouw, Eunike D. K.; Prijadi, Rachmat; Mononimbar, Windy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hotel Resort adalah sebuah wadah arsitektural dalam bentuk hunian penginapan yang dibangun untuk memfasilitasi para wisatawan mancanaegara atau wisatawan lokal yang datang berkunjung ke sebuah daerah atau objek wisata untuk menikmati fasilitas-fasilitas atau tempat-tempat wisata yang ada. Keberadaan wadah ini sudah cukup banyak tetapi masih sedikit yang menyediakan hunian Hotel Resort dengan kualitas dan pelayanan  terbaik. Selain itu tingkat kunjungan wisatawan asing maupun lokal terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang membuka peluang untuk dihadirkannya sebuah hunian Hotel Resort dengan fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang terbaik. Recreational Waterfront merupakan tema yang diambil dalam perancangan Hotel Resort, mengingat Danau Tondano memiliki potensi alam serta perairan yang sangat bagus. Penerapan pola-pola mengikuti gaya dorong kearah danau yang diharapkan agar mempunyai view yang bagus sehingga dapat menepis citra buruk Danau Tondano yang saat ini sudah tidak terawat lagi. Melalui perancangan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal wujud perhatian terhadap potensi pariwisata di Danau Tondano, sehingga kehadiran Hotel Resort di Danau Tondano ini tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan akan fasilitas rekreasi serta akomodasi saja, tapi banyak dampak positifnya untuk danau, lingkungan sekitar, serta masyarakat yang tinggal dan hidup disekitarnya. Kata Kunci : Hotel Resort, Danau Tondano, Waterfront
PENGARUH PERMUKAAN JALUR PEDESTRIAN TERHADAP KEPUASAN & KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI PUSAT KOTA MANADO Prijadi, Rachmat; Sangkertadi, .; Tarore, Raymond D. Ch.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakManado sebagai kota wisata dan kota jasa perdagangan, memerlukan fasilitas pedestrian yang nyaman agar menyenangkan bagi wisatawan maupun warganya. Fakta menunjukkan bahwa di bagian pusat kota Manado, pedestrian nampak belum nyaman dipakai oleh para pejalan kaki karena beberapa hal. Diantaranya adalah penggunaan material pelapis pedestrian yang kurang tepat seperti kondisinya yang terlalu licin, mudah rusak, tampilannya kurang menarik serta penyelesaian konstruksi yang beresiko mengganggu kelancaran gerak pengguna, atau mengganggu kenyamanan bagi pejalan kaki.Tulisan ini fokus pada hasil penelitian mengenai dua hal, pertama adalah pengungkapan kondisi fisik jalur pedestrian ditinjau terhadap resiko gangguan kenyamanan gerak bagi pejalan kaki, pada “siang hari”. Kedua untuk mendapatkan respon dari pengguna tentang “tingkat kepuasan” dari pejalan kaki terhadap kualitas material pelapis pedestrian. Lokasi kajian meliputi bagian pusat kota dan juga merupakan area wisata belanja. Metode yang di gunakan adalah campuran cara kualitatif dan kuantitatif. Temuan studi ini meliputi dua hal, yakni pengungkapan adanya 4 skala tingkat kepuasan pejalan kaki, dan pengungkapan bahwa di area studi, respon pengguna menunjukkan skala antara “kurang puas/kurang nyaman” dan “agak puas/ agak nyaman”. Hanya sedikit yang merasa puas dan juga sangat sedikit yang menyatakan tidak puas.Diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pengembangan teori bagi perancangan pedestrian dan masukan bagi pembangunan arsitektur kota Manado.Kata kunci :  pedestrian, trotoir, pusat kota, tekstur, warna, tingkat kepuasan gerak
REAKTUALISASI RAGAM ART DECO DALAM ARSITEKTUR KONTEMPORER Gunawan, D. Enjelina K.; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia,berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain : seni,teknik,ruang/tata ruang, geografis,sejarah. Oleh karna itu beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur,tergantung dari segi mana memandangnya. Dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termaksud didalamnya bentuk dan ragam hias. Perkembangan arsitektur dunia sejalan dengan perkembangan budaya berbagai bangsa semakin kompleks, rumit dan cepat karna adanya percampuran, saling pengaruh dan perubahanperubahan. Oleh karna itu semakin sulit menentukan batasan social-budaya. Dalam hal ini arsitektur art deco menjadi batasan secara filosofis,sejarah, dan asalnya. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa arsitektur berkembang dari masa kemasa dalam kurun waktu sejak manusia pertama hingga sekarang,diseluruh muka bumi luas tak terbatas. Pada kehidupan saat ini yang bersifat lebih modern dan teknologi,dunia arsitektur pun melahirkan bentuk desain yang semakin modern yang dikenal dengan sebutan arsitektur kontemporer. Arsitektur kontemporer menonjolkan bentuk unik, diluar kebiasaan, atraktif, dan sangat komplek. Sehingga dalam penulisan ini diberi batasan bagaimana mereaktualisasikan ragam art deco dalam arsitektur modern.Kata kunci : art deco, reaktualisasi, modern