Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA PARIWISATA DI KECAMATAN KAIDIPANG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA Humagi, Fitri; Moniaga, Ingerid L; Prijadi, Rachmat
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prasarana pariwisata adalah fasilitas utama yang menjadikan tempat wisata dapat hidup dan berkembang dalam rangka memberikan pelayanan kepada para wisatawan yang berkunjung. Sedangkan sarana pariwisata adalah fasilitas yang disediakan oleh perusahaan guna memberikan pelayanan kepada para wisatawan, karena maju mundurnya sarana pariwisata tergantung pada jumlah kunjungan wisatawan. Prasarana dan sarana dapat menjadi salah satu penunjang yang sangat penting agar daya tarik wisata banyak diminati wisatawan. Karena apabila prasarana dan sarana tidak dikembangkan dengan baik akan berakibat berkurangnya minat wisatawan yang berkunjung. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji tentang ketersediaan prasarana dan sarana pariwisata di Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan kebutuhan prasarana dan sarana pariwisata di Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis pengolahan data dan analisis skala likert. Analisis pengolahan data yaitu menentukan frekuensi (presentase), serta angka-angka yang disusun dalam tabel, analisis skala likert digunakan untuk mengukur persepsi sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai sebuah peristiwa atau fenomena sosial di objek wisata. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini bahwa kebutuhan prasarana dan sarana pariwisata di Kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yaitu sebagai acuan terhadap pemerintah untuk penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA). Kata Kunci: Prasarana dan Sarana Pariwisata
MODEL HARGA LAHAN DI KORIDOR JALAN A.A.MARAMIS KECAMATAN MAPANGET KOTA MANADO Tumanken, Caroline Helena; Lakat, Ricky M S; Prijadi, Rachmat
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koridor jalan merupakan suatu lorong ataupun penggal jalan yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain dan menpunyai batasan fisik satu lapis bangunan dari jalan (kamus tata ruang,1997). Fungsi jalan di koridor jalan A.A. Maramis memiliki fungsi yaitu pada nilai lahan, dimana nilai lahan akan tinggi ketika lahan tersebut memiliki jarak yang dekat dengan koridor Jalan A.A. Maramis, dan nilai lahan yang tinggi juga berpengaruh pada harga pasar lahan dan untuk penetapan NJOP dimana harga NJOP yang tinggi dikarenakan nilai lahan juga yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui model harga lahan minimum di koridor jalan A.A. Maramis, untuk mengetahui model harga lahan maksimum di koridor jalan A.A.Maramis, dan untuk menemukan model harga lahan ideal di koridor jalan A.A.Maramis. Metode yang digunakan ialah metode analisis regresi sederhana sebuah metode pendekatan untuk pemodelan hubungan antara satu variabel dependen dan satu variabel independen. Hasil dari uji regresi harga transaksi cenderung mengalami penurunan, namun dengan adanya jarak koridor maka harga lahan akan mengalami peningkatan, dan NJOP akan mengalami penurunan apabila jarak koridor adalah nol. Kata Kunci : Harga lahan, Koridor Jalan, Analisis regresi sederhana.
Analisis Kebutuhan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum Permukiman Pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara: Analysis of Needs for Infrastructure, Facilities, and Public Utilities of Coastal Settlements in North Bolaang Mongondow Regency Utami, Azzahra Putri; Mononimbar, Windy; Prijadi, Rachmat
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45984

Abstract

Abstrak Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki kawasan pesisir pantai dan terdapat 48 desa di enam desa yang memiliki garis pantai dan termasuk dalam kawasan pesisir. Prasarana, sarana dan utilitas umum di permukiman pesisir Kabupaten Bolaang Mongondow Utara juga masih ada yang belum tersedia dan terlayani. Penelitian ini betujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan serta menganalisis kebutuhan prasarana, sarana dan utilitas umum permukiman pesisir di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang menggunakan analisis deskriptif kualitatif, analisis spasial dan analisis kuantitatif. Dari hasil analisis kebutuhan prasarana sarana dan utilitas umum maka sampai dengan tahun 2040 terdapat prasarana yang perlu ditambahkan agar bisa memenuhi Standar Pelayanan Minimal seperti jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan air minum. Untuk sarana sampai dengan tahun 2040 sarana yang tersedia saat ini masih SNI 03-1733-2004 dan belum membutuhkan penambahan namun perlu ada peningkatan atau perbaikan. Untuk kebutuhan utilitas umum sampai dengan tahun 2040 masih membutuhkan penambahan untuk jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan proteksi kebakaran. Dari hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa masih terdapat prasarana dan utilitas umum yang perlu ditambah agar kebutuhan prasarana, sarana dan utilitas di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara terpenuhi sampai tahun 2040. Kata Kunci : Analisis, Permukiman Pesisir, Prasarana, Sarana, Utilitas Umum Abstract North Bolaang Mongondow Regency is one of the regencies in North Sulawesi Province which has a coastal area and there are 48 villages in six sub-districts that have a coastline and are included in the coastal area. Infrastructure, facilities and public utilities in coastal settlements in North Bolaang Mongondow Regency are also still unavailable and underserved. This research aims to identify the availability and analyse the need for infrastructure, facilities and public utilities for coastal settlements in North Bolaang Mongondow Regency using qualitative descriptive analysis, spatial analysis and quantitative analysis. From the analysis of the needs for public facilities and utilities, until 2040 there are infrastructures that need to be added in order to meet the Minimum Service Standards such as drainage networks, waste networks and drinking water networks. For facilities up to 2040, the currently available facilities are still SNI 03-1733-2004 and do not require addition, but there needs to be an increase or improvement. For the needs of public utilities until 2040, they still require additions for the electricity network, telecommunications network and fire protection. From these results, it can be shown that there are still public infrastructure and utilities that need to be added so that the needs for infrastructure, facilities and utilities in North Bolaang Mongondow Regency are met until 2040. Keyword : Analysis, Coastal Settlements, Infrastructure, Facilities, Public Utilities
Persepsi Pengguna Pedestrian di Koridor Jalan Pierre Tendean dan Jalan Sam Ratulangi Arif, Nugrah Rhisandy; Egam, Pingkan Peggy; Prijadi, Rachmat
Fraktal : Jurnal Arsitektur, Kota dan Sains Vol. 9 No. 1 (2024): Vol 9, No 1 (2024): Volume 9 Nomor 1, Maret 2024
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/fraktal.v9i1.56744

Abstract

Jalan Pierre Tendean and Jalan Sam Ratulangi are the main roads in Manado City which are classified as primary arterial roads in Manado City. Due to the status of these two roads, quite a few pedestrians pass through the pedestrian paths on both roads. This research aims to identify the condition of pedestrian paths on Jalan Pierre Tendean and JalanSam Ratulangi and to determine the perceptions of pedestrians who use pedestrian path facilities on these two road corridors. To determine the perceptions of pedestrians who pass this road, a questionnaire was used which was distributed to respondents and measured using a Likert scale. To differentiate the condition of pedestrian paths, researchers divided the two roads into five segments. Based on the research results, the best pedestrian conditions were found in Segments I and II on Jalan Pierre Tendean and from the research results, good scores were in Segments I and II, while Segments III, IV and V received quite good scores.
RE-DESAIN LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II DI KOTA TOMOHON DENGAN METODE PENDEKATAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PARADOKS Van Rate, Yeremi Y. R; Wuisang, Cynthia Erlita Virgin; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol. 19 No. 2 (2022): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v19i2.46389

Abstract

Di era revolusi 4.0 kecanggihan teknologi saat ini dimanfaatkan dengan secara optimal dan di gunakan oleh masyarakat terlebih juga anak-anak. Era ini merupakan peralihan generasi yaitu generasi Z dan generasi Alfa. Generasi Z adalah anak dengan kelahiran pada tahun 1990 - 2015 dan generasi Alpha adalah anak dengan kelahiran dimulai pada tahun 2015. Teknologi memberikan berbagai manfaat dan pengaruh yang baik maupun buruk. Salah pemanfaatan teknologi tersebut justru memberikan dampak negatif bagaikan “boomerang” bagi anak-anak seperti terjadinya cyberbullying, penyebaran video pornografi, penipuan (hoax) dan masih banyak lagi. Dari isu permasalahan, tujuan dari perancangan ini yaitu menghadirkan sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak sebagai wadah yang layak bagi anak bermasalah (konflik hukum atau sosial), tempat mereka dibina dan didik di era revolusi 4.0 dimana kegiatan pembinaan terkait pemanfaatan teknologi pada saat ini secara layak dan semestinya sehingga dapat menjadikan anak-anak cerdas, terampil dalam berkarya serta menghadirkan ruang wadah aktivitas dengan sarana dan fasilitas yang memadai sehingga dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa anak didik bisa terlatih kreatif, telaten dan bisa diterima kembali di lingkungan masyarakat. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu metode “glassbox” dengan mempertimbangkan Data objek, analisa, sintesis serta luaran. Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II di Kota Tomohon, salah satu lembaga pemasyarakatan anak di Sulawesi Utara. Berdasarkan survey, pembinaan dari segi pendidikan, layanan kegiatan pembelajaran, ruang berinteraksi belum teroptimalisasikan. terkait dengan paradoks seperti pertentangan antara hukum dan kebebasan, Penggunaan tema Arsitektur Paradoks digunakan sebagai acuan karena paradoks identik dengan bertentangan, berbeda, berubah dari sekitar atau yang ada. Kata Kunci – Pembinaan, Anak, Arsitektur, LPKA, Tomohon. Abstract In the era of revolution 4.0, technological sophistication is currently optimally utilized and used by the public, especially children. This era is a generation transition, namely the Z generation and the Alpha generation. Generation Z are children born between 1990 - 2015 and Generation Alpha are children born starting in 2015. Technology provides various benefits and influences, both good and bad. Incorrect use of this technology actually has a negative impact like a "boomerang" for children such as cyberbullying, the spread of pornographic videos, fraud (hoaxes) and many more. From the problem issues, the purpose of this design is to present a Special Child Development Institution as a suitable place for troubled children (legal or social conflicts), where they are fostered and educated in the 4.0 revolution era where coaching activities are related to the use of technology at this time in a proper and appropriate manner. should be so that it can make children smart, skilled at work and present a space for activities with adequate facilities and facilities so that they can prove to the community that students can be trained creatively, painstakingly and can be accepted back into society. The method used in this design is the "glassbox" method by considering object data, analysis, synthesis and output. Class II Child Special Development Institution in Tomohon City, one of the children's correctional institutions in North Sulawesi. Based on the survey, coaching in terms of education, service learning activities, interaction space has not been optimized. related to paradoxes such as the conflict between law and freedom, the use of the theme of Paradox Architecture is used as a reference because paradox is synonymous with contradictory, different, changing from around or existing. Keywords – Development, Children, Architecture, LPKA, Tomohon.
PUSAT KERAJINAN TANGAN PAPUA DI KOTA JAYAPURA: Arsitektur Neo Vernakular Rungkat, Cindy F.; Prijadi, Rachmat; Tilaar, Sonny
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papua memiliki budaya yang unik, salah satunya yaitu kerajinan tangan. Kerajinan tangan seperti noken, batik Papua, ukiran kayu, dan koteka bukan hanya memiliki nilai estetika dan nilai fungsi, tetapi juga terkandung makna simbolis didalamnya. Pada zaman modern ini, akses informasi semakin pesat dan perkembangan teknologi semakin maju. Hal tersebut sangat mempengaruhi gaya hidup manusia, dimana kehidupan semakin modern dan perlahan meninggalkan budaya bangsa sendiri. Karena itu, perlu untuk melestarikan warisan budaya agar nilainya tetap terjaga dan tidak tergerus oleh budaya asing. Khususnya terhadap identitas masyarakat Papua tetap dipertahankan ditengah perkembangan zaman. Pusat Kerajinan Tangan Papua di Kota Jayapura hadir sebagai respon dari kekhawatiran tersebut dan permasalahan minimnya fasilitas di Kota Jayapura yang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas terkait pembuatan, pelatihan, dan pemasaran produk kerajinan tangan. Pengadaan Pusat Kerajinan Tangan Papua memberi peluang pekerjaan dan pendapatan pada pelaku ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam upaya mengembangkan pendapatan ekonomi daerah. Penggunaan tema pada objek rancangan ini adalah Arsitektur Neo Vernakular. Dengan mengimplementasikan Arsitektur Neo Vernakular pada objek rancangan, desain yang dihasilkan mencerminkan budaya lokal namun tetap memiliki sentuhan modern. Kata kunci : Kerajinan Tangan, Arsitektur Neo Vernakular, Papua
RE-DESAIN LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II DI KOTA TOMOHON DENGAN METODE PENDEKATAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PARADOKS Van Rate, Yeremi Y. R; Wuisang, Cynthia Erlita Virgin; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol. 19 No. 2 (2022): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v19i2.46389

Abstract

Di era revolusi 4.0 kecanggihan teknologi saat ini dimanfaatkan dengan secara optimal dan di gunakan oleh masyarakat terlebih juga anak-anak. Era ini merupakan peralihan generasi yaitu generasi Z dan generasi Alfa. Generasi Z adalah anak dengan kelahiran pada tahun 1990 - 2015 dan generasi Alpha adalah anak dengan kelahiran dimulai pada tahun 2015. Teknologi memberikan berbagai manfaat dan pengaruh yang baik maupun buruk. Salah pemanfaatan teknologi tersebut justru memberikan dampak negatif bagaikan “boomerang” bagi anak-anak seperti terjadinya cyberbullying, penyebaran video pornografi, penipuan (hoax) dan masih banyak lagi. Dari isu permasalahan, tujuan dari perancangan ini yaitu menghadirkan sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak sebagai wadah yang layak bagi anak bermasalah (konflik hukum atau sosial), tempat mereka dibina dan didik di era revolusi 4.0 dimana kegiatan pembinaan terkait pemanfaatan teknologi pada saat ini secara layak dan semestinya sehingga dapat menjadikan anak-anak cerdas, terampil dalam berkarya serta menghadirkan ruang wadah aktivitas dengan sarana dan fasilitas yang memadai sehingga dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa anak didik bisa terlatih kreatif, telaten dan bisa diterima kembali di lingkungan masyarakat. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu metode “glassbox” dengan mempertimbangkan Data objek, analisa, sintesis serta luaran. Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II di Kota Tomohon, salah satu lembaga pemasyarakatan anak di Sulawesi Utara. Berdasarkan survey, pembinaan dari segi pendidikan, layanan kegiatan pembelajaran, ruang berinteraksi belum teroptimalisasikan. terkait dengan paradoks seperti pertentangan antara hukum dan kebebasan, Penggunaan tema Arsitektur Paradoks digunakan sebagai acuan karena paradoks identik dengan bertentangan, berbeda, berubah dari sekitar atau yang ada. Kata Kunci – Pembinaan, Anak, Arsitektur, LPKA, Tomohon. Abstract In the era of revolution 4.0, technological sophistication is currently optimally utilized and used by the public, especially children. This era is a generation transition, namely the Z generation and the Alpha generation. Generation Z are children born between 1990 - 2015 and Generation Alpha are children born starting in 2015. Technology provides various benefits and influences, both good and bad. Incorrect use of this technology actually has a negative impact like a "boomerang" for children such as cyberbullying, the spread of pornographic videos, fraud (hoaxes) and many more. From the problem issues, the purpose of this design is to present a Special Child Development Institution as a suitable place for troubled children (legal or social conflicts), where they are fostered and educated in the 4.0 revolution era where coaching activities are related to the use of technology at this time in a proper and appropriate manner. should be so that it can make children smart, skilled at work and present a space for activities with adequate facilities and facilities so that they can prove to the community that students can be trained creatively, painstakingly and can be accepted back into society. The method used in this design is the "glassbox" method by considering object data, analysis, synthesis and output. Class II Child Special Development Institution in Tomohon City, one of the children's correctional institutions in North Sulawesi. Based on the survey, coaching in terms of education, service learning activities, interaction space has not been optimized. related to paradoxes such as the conflict between law and freedom, the use of the theme of Paradox Architecture is used as a reference because paradox is synonymous with contradictory, different, changing from around or existing. Keywords – Development, Children, Architecture, LPKA, Tomohon.
PEMETAAN GAS RUMAH KACA DI KOTA MANADO Palar, Mawar Sharon; Sangkertadi, Sangkertadi; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan global dan perubahan iklim disebabkan oleh gas-gas rumah kaca seperti CO2, CH4, dan NOx yang menyerap dan memancarkan radiasi inframerah, menyebabkan peningkatan suhu global. Aktivitas manusia seperti industri, pertanian, deforestasi, dan penggunaan energi fosil menyebabkan peningkatan emisi gas tersebut. Pencemaran udara menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 12 mengenai Pencemaran Lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Kota Manado, sebagai ibu kota Sulawesi Utara, memiliki peran penting dalam konteks perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Peningkatan aktivitas manusia, pertumbuhan populasi, dan perkembangan ekonomi telah berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca di kota tersebut. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,31 persen dan kepadatan penduduk mencapai 2.934 penduduk/km2, aktivitas kegiatan yang memicu naiknya konsentrasi GRK juga meningkat. Pemahaman yang lebih baik tentang pola emisi gas rumah kaca di Manado menjadi kunci dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim dan melindungi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan penting bagi pemerintah daerah, dan masyarakat untuk merancang kebijakan yang berkelanjutan serta berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.
Kajian Intensitas Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Wenang Paiman, Josua Gabriel; Kindangen, Jefrey I.; Prijadi, Rachmat
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59262

Abstract

AbstrakKecamatan Wenang sebagai kawasan pusat kota manado, merupakan wilayah perkotaan inti dan memiliki keterkaitan fungsional dengan wilayah di sekitarnya, yang kemudian mengakibatkan banyaknya perdagangan dan jasa berskala kawasan yang ikut dalam perkembangan pemanfaatan ruang. kajian intensitas pemanfaatan ruang diperlukan agar dapat dikatahui tentang seberapa sering manusia memanfaatkan ruang di sekitar mereka, sehingga bisa mengatur arahan pembangunan yang ada di Kecamatan Wenang. Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis sebagai alat untuk menganalisis intensitas pemanfaatan ruang yang diukur melalui KDB, KDH, dan KLB. Perhitungan intensitas pemanfaatan ruang menggunakan Metode Analisis ArcGis Model Builder. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, seluruh kawasan yang ada di kecamatan wenang, belum sepenuhnya memiliki KDB, KDH, dan KLB yang sesuai dengan ketentuan yg telah di atur dalam RTRW Kota Manado 2023-2042. Nilai rata-rata intensitas pemanfaatan ruang di kecamatan wenang adalah KDB 70.70%, KDH 29.30%, dan KLB 1.8. berdasarkan hasil analisis tersebut, kecamatan wenang memiliki intensitas pemanfaatan ruang dengan kategori sangat padat.Kata kunci: Intensitas Pemanfaatan Ruang, Sistem Informasi Geografis, ArcGis Model Builder. AbstractWenang District, as the central area of Manado, is the core urban area and has a functional relationship with the surrounding areas, which has resulted in a significant amount of trade and services on a district scale, contributing to the development of space utilization. A study on the intensity of space utilization is necessary to understand how often people use the space around them, so that development directions in Wenang District can be better managed. This research uses Geographic Information Systems (GIS) as a tool to analyze the intensity of space utilization, measured through the Building Coverage Ratio (KDB), Floor Area Ratio (KDH), and Building Density Ratio (KLB). The calculation of space utilization intensity employs the ArcGIS Model Builder Analysis Method. Based on the analysis, the entire area in Wenang District does not yet fully meet the KDB, KDH, and KLB requirements as outlined in the Manado City Spatial Planning (RTRW) for 2023-2042. The average intensity values for space utilization in Wenang District are KDB 70.70%, KDH 29.30%, and KLB 1.8. Based on this analysis, Wenang District is categorized as having a very high intensity of space utilization.Keyword: Intensity of Space Utilization, Geographic Information System, ArcGis Model Builder
PEMETAAN GAS RUMAH KACA DI KOTA MANADO Palar, Mawar Sharon; Sangkertadi, Sangkertadi; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan global dan perubahan iklim disebabkan oleh gas-gas rumah kaca seperti CO2, CH4, dan NOx yang menyerap dan memancarkan radiasi inframerah, menyebabkan peningkatan suhu global. Aktivitas manusia seperti industri, pertanian, deforestasi, dan penggunaan energi fosil menyebabkan peningkatan emisi gas tersebut. Pencemaran udara menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 12 mengenai Pencemaran Lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Kota Manado, sebagai ibu kota Sulawesi Utara, memiliki peran penting dalam konteks perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Peningkatan aktivitas manusia, pertumbuhan populasi, dan perkembangan ekonomi telah berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca di kota tersebut. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,31 persen dan kepadatan penduduk mencapai 2.934 penduduk/km2, aktivitas kegiatan yang memicu naiknya konsentrasi GRK juga meningkat. Pemahaman yang lebih baik tentang pola emisi gas rumah kaca di Manado menjadi kunci dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim dan melindungi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan penting bagi pemerintah daerah, dan masyarakat untuk merancang kebijakan yang berkelanjutan serta berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.