Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

SUKU FABACEAE DI KAMPUS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH, JAKARTA, BAGIAN 1: TUMBUHAN POLONG BERPERAWAKAN POHON Irsyam, Arifin Surya Dwipa; Priyanti, Priyanti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 9, No 1 (2016): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.871 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v9i1.3257

Abstract

Abstrak Suku Fabaceae (polong-polongan) merupakan salah satu kelompok tumbuhan berbunga bernilai ekonomi tinggi. Berbagai jenis yang ditanam sebagai tanaman hias dan pohon peneduh di tempat umum, termasuk di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai keanekaragaman jenis tumbuhan polong berperawakan pohon di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah dan studi pustaka. Pengamatan lapangan dilakukan di kampus I dan II. Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan sebanyak 10 jenis anggota suku Fabaceae berperawakan pohon di lingkungan kampus. Kesepuluh jenis tersebut tercakup dalam 3 anak suku, 8 puak, dan 10 marga. Suku Fabaceae juga dipakai sebagai bahan ajar untuk mata kuliah Sistematika Tumbuhan.Abstract Fabaceae (legumes family) is one of the flowering plant families, which is economically important. Various species of Fabaceae were planted as ornaments and shade trees in public places, including in UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Therefore, this research aimed to provide information on the diversity of legume trees in UIN Syarif Hidayatullah. Research was conducted by using survey method and literature review. Field observations were conducted in Campus I and II. This research obtained 10 species of Fabaceae family members, which were grouped into 3 subfamilies, 8 tribes, and 10 genera. Fabaceae family is also used as teaching material in Plant Systematics study/course.
Fitoplankton sebagai Bioindikator Saprobitas Perairan di Situ Bulakan Kota Tangerang Sinta Ramadhania Putri Maresi; Priyanti Priyanti; Etyn Yunita
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 8, No 2 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.839 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v8i2.2697

Abstract

Industry, homes activites, and aquaculture around situ or lake could contaminate and affect the water quality. This study aimed to determine the diversity of phytoplankton and water pollution level in Situ Bulakan Kota Tangerang based on saprobite index. The research was conducted on December 2014 until March 2015 at Situ Bulakan Kota Tangerang. Observations were made based on 4 points sampling with three repetitions for one day that could represented existing condition. Sampling sites in this study were at inlet flow, middle, outlet, and alleged utilized areas such as floating fish net. The result showed  26 species of phytoplankton from four classes, namely 9 species of Cyanophyceae, 4 species of Bacillariophyceae, 11 species of Chlorophyceae, and 2 species of Euglenophyceae with moderate diversity index (H' = 1.77─2.05). Monoraphidium sp. was a species dominated in Situ Bulakan Kota Tangerang which was found 215 individuals. So it can be said as saprobite bioindicator. Saprobite index in Situ Bulakan Kota Tangerang showed moderate to severe contaminated with α-mesosaprobic (0.14).
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN OBAT PADA PLOT CUPLIKAN DI HUTAN TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, INDONESIA Irpan Fahrurozi; Priyanti Priyanti; Sri Astutik
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 8, No 2 (2015): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v8i2.2696

Abstract

Abstrak Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan kawasan yang kaya akan keanekaragaman jenis tumbuhan obat. Hal tersebut disebabkan tanah yang subur dan iklim mikro hutan tropis yang lembab di kawasan ini. Jenis-jenis tumbuhan obat yang beragam ini perlu dikaji potensi dan penyebarannya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutannya. Pengambilan sampel tumbuhan menggunakan metode kuadrat berukuran 2x2 m2, 5x5 m2, 10x10 m2, dan 20x20 m2 pada ketinggian 1400, 1500, dan 1600 meter di atas permukaan laut (m dpl). Tumbuhan diidentifikasi secara langsung menggunakan buku identifikasi tumbuhan obat dan jasa parataksonom. Metode wawancara dilakukan terhadap masyarakat lokal di sekitar hutan TNGGP yang memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Data dianalisis secara kuantitatif dengan Excel 2007 dan dideskripsikan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Tumbuhan obat yang berhasil diidentifikasi sejumlah 45 jenis yang termasuk ke dalam 40 marga dan 29 suku. Suku dengan anggota terbanyak yaitu 4 jenis ditemukan pada Urticaceae, sedangkan suku lainnya beranggotakan satu hingga tiga jenis. Anggota suku Urticaceae diyakini dapat digunakan dalam pengobatan demam, batuk, mata, organ vital wanita, dan anti kanker. Bagian tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat adalah daun (42%) dibandingkan akar, batang, bunga, dan buah. Tingkat keanekaragaman tumbuhan obat tergolong sedang (1≤H’≤3). Kekayaan jenis tumbuhan berperawakan herba tergolong tinggi (R’>5), pancang dan pohon tergolong sedang (R’=3,5─5), dan tiang berkategori rendah (R’<3,5). Informasi tentang potensi tumbuhan obat di hutan TNGGP diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan pada khususnya dan mendukung upaya konservasi agar tetap terjaga kelestariannya.  Abstract Mount Gede Pangrango National Park stores tremendous of medicinal plants due to soil fertility and humid microclimate of tropical forest. This diversity and distribution need to be further explored to maintain its sustainability.  The method of measurement used vegetation analysis by applying quadratic sample plots as follows: 2x2 m2, 5x5 m2, 10x10 m2, and 20x20 m2 on the elevation of 1400, 1500, and 1600 meters above sea level.  Plant identification was referred to literature and parataxonomist. Meanwhile, utilization data were collected by interview technique to the local people who are knowledgeable about medicinal plants. The quantitative data was analyzed by Excel 2007. At least about 45 species belonged to 40 genus and 29 families. The most numbers found was Urticaceae and it is convinced to cure fever, cough, eye diseases, woman vital organ, and anti-cancer. The most frequently used part is the leaves (42%), followed by root, stem, flower and fruit. The diversity of those medicinal plants was categorized as moderate (1≤H≤3). Meanwhile, herbaceous possessed the highly rich index (R’>5), boundary pole and tree R’=3.5─5, and bar R’<3.5. This finding is supposed to be useful for local people in supporting conservation sustainably. 
Populasi dan Intensitas Serangan Spodoptera frugiperda J.E. Smith Pada Tanaman Jagung di Kecamatan Pacet dan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Aulia, Nurul; Priyanti, Priyanti; Bagariang, Willing
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44893

Abstract

Spodoptera frugiperda J.E. Smith merupakan hama penting yang mengganggu produktivitas tanaman jagung di seluruh dunia. Serangan S. frugiperda dilaporkan pertama kali ditemukan di Jawa Barat pada tahun 2019. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan S. frugiperda pada sentra tanaman jagung di Kecamatan Pacet dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan pada tanaman jagung berumur 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam (MST). Rataan populasi kelompok telur (0,036 ± 0,01), larva (0,29 ± 0,03), dan intensitas serangan (22,47%) S. frugiperda di Kecamatan Pacet lebih tinggi dibandingkan dengan Kecamatan Cimaung (rataan populasi telur sebesar 0,004 ± 0,00, larva 0,10 ± 0,01, intensitas serangan 14,87%). Tingkat serangan S. frugiperda dipengaruhi oleh umur tanaman dan jenis varietas jagung. Intensitas serangan S. frugiperda akan mengalami peningkatan mulai dari fase vegetatf (2 MST) dan akan menurun saat memasuki fase generatif (8 MST). Rataan intensitas serangan S. frugiperda lebih rendah pada jagung varietas Scada (14,76 ± 1,82%) dibandingkan varietas Paragon (30,40 ± 2,89%). Spodoptera frugiperda merupakan hama pada pertanaman jagung yang perlu dikendalikan populasinya.
Populasi dan Intensitas Serangan Spodoptera frugiperda J.E. Smith Pada Tanaman Jagung di Kecamatan Pacet dan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Aulia, Nurul; Priyanti, Priyanti; Bagariang, Willing
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44893

Abstract

Spodoptera frugiperda J.E. Smith merupakan hama penting yang mengganggu produktivitas tanaman jagung di seluruh dunia. Serangan S. frugiperda dilaporkan pertama kali ditemukan di Jawa Barat pada tahun 2019. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan S. frugiperda pada sentra tanaman jagung di Kecamatan Pacet dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan pada tanaman jagung berumur 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam (MST). Rataan populasi kelompok telur (0,036 ± 0,01), larva (0,29 ± 0,03), dan intensitas serangan (22,47%) S. frugiperda di Kecamatan Pacet lebih tinggi dibandingkan dengan Kecamatan Cimaung (rataan populasi telur sebesar 0,004 ± 0,00, larva 0,10 ± 0,01, intensitas serangan 14,87%). Tingkat serangan S. frugiperda dipengaruhi oleh umur tanaman dan jenis varietas jagung. Intensitas serangan S. frugiperda akan mengalami peningkatan mulai dari fase vegetatf (2 MST) dan akan menurun saat memasuki fase generatif (8 MST). Rataan intensitas serangan S. frugiperda lebih rendah pada jagung varietas Scada (14,76 ± 1,82%) dibandingkan varietas Paragon (30,40 ± 2,89%). Spodoptera frugiperda merupakan hama pada pertanaman jagung yang perlu dikendalikan populasinya.