Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH PELATIHAN "THE SECRET MEANING OF BROKER" TERHADAP KETERIKATAN KERJA PADA BROKER SAHAM Karlina, Yovita; Probowati, Yusti
CALYPTRA : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol 2, No 2 (2013): CALYPTRA : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya
Publisher : University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to know about correlation of work meaning as a calling and workengagement in Broker work life. How “the secret meaning of broker” training can improve thelevel of work engagement. This research discuss about Job Resources and PersonalResources as a factor to predict high or low level of work engagement. The method of thisresearch is single case experimental pretest-posttest only. Participant (N=15) is the populationof PT.X Securities. The method of data collection using questionnaire, observation andinterview. The result of this research “the secret meaning of broker” training as a personalresources and job resources as a environmental, supervisory, organization system, socialsupport togetherness increased work engagement.
Proses Diversi Anak yang Berkonflik dengan Hukum: Belajar dari Sistem Diversi di Amerika Serikat Maran, Alfian Mela; Probowati, Yusti; Ajuni, Ajuni; Elisabeth, Mary Philia
Binamulia Hukum Vol. 13 No. 2 (2024): Binamulia Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37893/jbh.v13i2.957

Abstract

Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke mekanisme di luar peradilan pidana. Diversi bertujuan untuk melindungi hak-hak anak yang berkonflik dengan hukum (ABH). Pelaksanaan diversi menjadi penting karena proses peradilan pidana dapat memberikan dampak negatif pada anak, seperti stigma sosial, kesulitan mendapatkan pekerjaan, risiko terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, dan kemungkinan menjadi residivis akibat pengaruh lingkungan pergaulan di sekitar mereka. Namun, implementasi diversi di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Beberapa penelitian mengungkapkan kendala, seperti kurangnya pemahaman masyarakat tentang diversi, rendahnya kompetensi hakim dalam menangani perkara anak, kesulitan mencapai kesepakatan antara pelaku dan korban, serta terbatasnya fasilitas untuk mendukung pelaksanaan kesepakatan diversi. Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan diversi di Indonesia sekaligus mengulas proses diversi di Amerika Serikat sebagai bahan pembelajaran dalam meningkatkan pelaksanaan diversi di Indonesia. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah purposive review, di mana penulis secara sistematis menentukan langkah-langkah dalam mencari dan menyortir sumber yang relevan untuk pembahasan ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa beberapa proses diversi yang berhasil diterapkan di Amerika Serikat, seperti Probation Camp, Community Service, dan Functional Family Therapy, dapat menjadi referensi dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan diversi di Indonesia. Keberhasilan pendekatan-pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat, keluarga, dan otoritas terkait dalam mendukung keberhasilan program diversi. Oleh karena itu, diharapkan temuan ini dapat menjadi solusi dalam memperbaiki dan memperkuat sistem diversi di Indonesia.
The Effects of Gender and Question Variation on Number of False MemoryThe Effects of Gender and Question Variation on Number of False Memory Maria, Paulina; Mulya, Teguh Wijaya; Probowati, Yusti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v26i3.4202

Abstract

False memory is different from fact. In justice, false memory of eye witness could make mistakes that affect judge’s decision. False memory is influenced by many factors, namely gender and question variation. Gender is linked with episodic memory, while question variation is linked with recall and recognition. The purpose of this study was to see the effects of gender and question variation on false memory. Factorial design was used with 29 students of many faculties in Surabaya University as sample. Result shows that females make less false memory than males although the difference is not significant. Recognition questions result in higher scores than recall questions. Specifically, recognition questions with true information result in less false memory than recall questions, whereas recognition questions with wrong information result in lower scores than recall. Ingatan palsu (false memory) merupakan ingatan yang berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Pada bidang hukum, false memory dapat membuat kesalahan dalam kesaksian saksi mata yang berpengaruh pada putusan hakim. False memory dipengaruhi banyak faktor, dimana penelitian yang masih menghasilkan hasil berbeda adalah faktor jenis kelamin dan variasi pertanyaan. Variabel jenis kelamin berkaitan dengan memori episodik, sedangkan variabel variasi pertanyaan berkaitan dengan pertanyaan berbasis recall dan recognition. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh jenis kelamin dan variasi pertanyaan terhadap jumlah false memory. Penelitian mengunakan metode eksperimen dengan factorial design kepada 29 mahasiswa yang berasal dari berbagai Fakultas di Universitas Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan menghasilkan jumlah false memory yang lebih sedikit daripada laki-laki walaupun perbedaan ini tidak signifikan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pertanyaan recognition menghasilkan jumlah false memory yang lebih sedikit daripada per- tanyaan recall. Secara spesifik, pertanyaan recognition dengan informasi benar menghasilkan skor yang lebih tinggi daripada recall, sedangkan pertanyaan recognition dengan informasi salah menghasilkan skor yang lebih rendah daripada recall.
Leukemia and Its Impact on the Quality of Life of a Child: A Case Study Rahmawati, Mila; Nanik; Probowati, Yusti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v26i2.4214

Abstract

The purpose of this study was to allow a leukemia patient to describe their health related quality of life (HRQoL) in their own words, in order psychologists could understand the impact that leukemia has on children. Four semistructured interview questions guide the interviews. Each question related to a domain identified in previous researches as having an effect on HRQoL. Areas explored were (a) physical well-being and symptoms, (b) psychological well-being, (c) social well-being, and (d) functional well-being. Five themes were identified: (a) fatigue, (b) the effect on activities, (c) medi- cation and treatment effects, (d) relationship changes, and (e) hair loss. In addition, based on content analysis, the result showed that there is an interactive effect between the diseases and the level of QoL. The results reveal that the social, physical and emotional health and well-being of children with acute lymphocytic leukemia (ALL) is significantly poorer than their community-based peers. Tujuan penelitian ini adalah menuntun penyandang leukemia limfostik akut mendeskripsikan kualitas hidupnya yang terkait kesehatan dengan kata-katanya sendiri, agar para psikolog dapat memahami dampak leukimia pada anak. Wawancara dipandu empat pertanyaan interviu semi- terstruktur. Tiap pertanyaan terkait ranah yang teridentifikasi penelitian terdahulu memiliki dampak pada kualitas hidup terkait kesehatan. Wilayah yang dieksplorasi adalah (a) kesejahteraan dan gejala fisik, (b) kesejahteraan psikologis, (c) kesejahteraan sosial, (d) kesejahteraan fungsional. Ditengarai lima tema: (a) kelelahan, (b) akibat pada aktivitas, (c) akibat pengobatan dan perawatan, (d) perubahan hubungan, (e) kehilangan rambut. Selain itu, berdasarkan analisis isi, hasil menunjukkan bahwa terdapat akibat interaktif antara penyakit dan tingkat kualitas hidup. Hasil menunjukkan bahwa kesehatan sosial, fisik dan emosi, serta kesejahteraan anak penyandang leukimia limfositik akut lebih rendah secara bermakna daripada teman sebayanya di masyarakat
Marginalized Society in the City of Surabaya: A Proposal for Effective Solution Probowati, Yusti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4247

Abstract

Advance development of a city as big as Surabaya has created a sophisticated physical development. Nevertheless, on the other side it has enlarged the marginalized society. Marginalized society is a group of people which is due to many factors, they cannot take roles properly in the society. The number of marginalized society in East Java has been up to 26.27 % of total population, and most of them live in Surabaya. The aim of this article is to provide a description of marginalized society (such as street children, sex workers, beggars, the homeless, the homeless with psychosomatic disorder, and criminals), treatment by the government, and a proposal for effective solution from the perspective of psychology. Perkembangan pesat kota sebesar Surabaya telah menciptakan perkembangan fisik yang canggih. Namun, di sisi lain hal tersebut telah meningkatkan jumlah masyarakat yang terpinggirkan. Masyarakat yang terpinggirkan adalah kelompok orang yang karena berbagai sebab, tak mampu berperan secara tepat dalam masyarakat luas. Jumlah masyarakat terpinggirkan di Jawa Timur telah meningkat hingga 26.27 % dari seluruh populasi, dan sebagian besar tinggal di Surabaya. Tujuan artikel ini adalah mengenali masyarakat terpinggirkan (seperti anak jalanan, pekerja seks komersial, pengemis, tuna wisma, tuna wisma dengan kelainan psikosomatik, dan kriminal), penanganan oleh pemerintah, dan menyampaikan solusi efektif dari sudut pandang psikologi.
Psikologi Forensik: Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional Probowati, Yusti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i4.4373

Abstract

In addressing various legal issues and problems, psychology has much to contribute. Psychological expertise is needed, for instance, in legal cases involving children experiencing domestic violence; in creating criminal profiles of terrorists; in the process of psychological rehabilitation; and in trials which involve judgements about mental health. The psychological study of legal issues/problems is called forensic psychology. This article describes the contributions that forensic psychologists can make and have made, both as researchers/scientists and as practitioners. This article also presents the challenges faced by forensic psychology, along with reflections on the future of this important field in Indonesia. Ada berbagai kontribusi yang dapat diberikan psikologi kepada penanganan masalah hukum. Misalnya, keahlian psikologi diperlukan dalam penanganan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga; dalam pembuatan profil kriminal teroris; dalam proses rehabilitasi psikologis di lembaga pemasyarakatan; serta dalam persidangan yang menyangkut penilaian kesehatan mental. Kajian psikologis atas berbagai masalah hukum ini disebut sebagai psikologi forensik. Artikel ini memaparkan kontribusi yang dapat dan telah disumbangkan oleh psikolog forensik, baik dalam kapasitas sebagai peneliti/ilmuwan maupun sebagai praktisi. Artikel ini juga mendiskusikan tantangan yang dihadapi psikologi forensik, beserta refleksi mengenai masa depan bidang penting ini di Indonesia.
Penyusunan Alat Ukur Perkembangan Bahasa Reseptif Anak Usia 8-36 Bulan Dianovinina, Ktut; Probowati, Yusti; Rahaju, Soerjantini
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i4.4443

Abstract

The aim of this research was to arrange the receptive language development instrument for children aged 8 to 36 months. Receptive language development is the ability to understand what people tell them and to respond it correctly. This research adopted the language development theories, such as Owens (1996), Bowen (1998), Child Development Institute (1998), American Academy of Pediatrics (2000), Oesterreich (2004), Arnold Palmer Hospital & Howard Phillips Center (2008), and William (2008). The participants were children aged 8 to 36 months (N=112) during assessment period and (N=95) try out period. The reliability score is rπ= -0,222 to 0,682. The result shows that the instrument which the author had constructed might be used to separate children with normal re- ceptive language development and children with receptive language development delay. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun alat ukut perkembangan bahasa reseptif pada anak usia 8-36 bulan. Dalam penyusunannya, peneliti mengacu pada beberapa teori perkembangan bahasa, antara lain berdasarkan Owens (1996), Bowen (1998), Child Development Institute (1998), American Academy of Pediatrics (2000), Oesterreich (2004), Arnold Palmer Hospital & Howard Phillips Center (2008), dan William (2008). Perkembangan bahasa reseptif adalah kemampuan untuk memahami kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicara dan anak dapat menanggapinya dengan tepat. Subjek yang digunakan adalah anak usia 8-36 bulan (N=112) untuk tahap survei awal dan (N=95) untuk tahap uji coba. Nilai reliabilitas alat ukur ini berkisar antara rπ = -0,222 sampai dengan 0,682. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang disusun dapat digunakan sebagai alat penyaring dalam membedakan antara perkembangan bahasa reseptif yang normal dengan yang menyimpang atau terlambat.
Identification of Psychological Factors That Cause And How to Handle Suicide in South Korea Based on Psychological Autopsi Febianti, Hasna Nafila; Probowati, Yusti; Elisabeth, Mary Philia
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 1 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i1.13925

Abstract

The suicide rate in South Korea is high among OECD countries with a total of 4657 suicides in Incheon city and only 1% participating in psychological autopsies. This article focuses on the psychological factors that cause suicide and the government's efforts to prevent suicide. The purpose of this study is to identify based on psychological factors regarding the causes and ways of handling suicides in South Korea seen based on the results of psychological autopsi. This research was conducted using a qualitative approach using the library research method. The results showed that the highest causes of suicide are mental health problems, physical health, financial problems. The most common methods of suicide are hanging and jumping from a height. The South Korean Government's efforts to reduce suicides The Ministry of Health and Welfare established the Korea Psychological Autopsy Center (Korea Foundation for Suicide Prevention) to establish evidence-based suicide prevention policies. The Korea Foundation for Suicide Prevention developed the Korean Psychological Autopsy Checklist (K-PAC), a semi-structured interview tool, by extracting common questions through a review of domestic and foreign literature and selecting items appropriate to the Korean situation. The implications of this study can be a reference for guidelines for other countries to address and prevent the high number of suicides in other countries, especially Indonesia. In addition, South Korea's preventive measures can be a morning focus for mental health survivors in IndonesiaTingkat bunuh diri di Korea Selatan tergolong tinggi diantara negara OECD yaitu total 4657 orang bunuh diri di kota Incheon dan hanya ada 1% yang berpartisipasi dalam autopsi psikologis. Artikel ini berfokus pada faktor psikologis penyebab terjadinya bunuh diri serta upaya pemerintah dalam mencegah bunuh diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berdasarkan faktor psikologis mengenai penyebab dan cara penanganan kasus bunuh diri di Korea Selatan yang dilihat berdasarkan hasil autopsi psikologis. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode kajian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan penyebab paling tinggi bunuh diri yaitu masalah kesehatan mental, kesehatan fisik, masalaah keuangan. Metode bunuh diri yang paling sering dilakukan adalah gantung diri dan lompat dari ketinggian. Upaya Pemerintah Korea Selatan untuk mengurangi kasus bunuh diri Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan mendirikan Pusat Autopsi Psikologi Korea (Korea Foundation for Suicide Prevention) untuk menetapkan kebijakan pencegahan bunuh diri berbasis bukti. Yayasan Korea untuk Pencegahan Bunuh Diri mengembangkan Daftar Periksa Autopsi Psikologi Korea (K-PAC), alat wawancara semi-terstruktur, dengan mengekstrak pertanyaan umum melalui tinjauan literatur domestik dan asing dan memilih item yang sesuai dengan situasi Korea. Implikasi penelitian ini dapat menjadi referensi pedoman bagi negara lain untuk mengatasi dan mencegah tingginya kasus bunuh diri  khususnya Indonesia. Selain itu, tindakan preventif yang dilakukan Korea Selatan dapat menjadi fokus pagi para penyintas kesehatan mental di Indonesia.
Studi Autopsi Psikologis: Identifikasi Faktor Psikologis Penyebab Bunuh Diri di Beberapa Negara di Asia Ramadhani, Rr Zahra Maghfira; Probowati, Yusti
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i4.13755

Abstract

Suicide remains a critical public health issue in many Asian countries, with increasing rates observed across diverse cultural and social contexts. Understanding the psychological factors underlying suicide is essential for developing effective prevention strategies. This study aimed to identify the psychological factors contributing to suicide in several Asian countries and to explore potential patterns through a literature-based psychological autopsy approach. The data analyzed consisted of psychological autopsy studies on suicide cases from South Korea, Japan, Nepal, Bangladesh, China, and Indonesia. A narrative synthesis was conducted on selected full-text articles published within the last ten years that met the inclusion criteria. The findings revealed that the dominant psychological factors varied across countries. In South Korea, China, and Indonesia, mental health problems particularly mood disorders were identified as the most prominent psychological factors associated with suicide. In Japan, sleep disorders emerged as the most dominant psychological factor. In Bangladesh, negative life experiences were found to be the primary psychological contributors, while in Nepal, exposure to physical violence and witnessing or being aware of suicidal behavior among close individuals played a significant role. These findings indicate that suicide in Asian countries is shaped by a complex interaction of psychological vulnerabilities and sociocultural stressors. Despite these variations, mental health problems remain a recurring core factor across multiple contexts. This study highlights the importance of culturally sensitive suicide prevention strategies that consider country-specific psychological risk factors. The results provide valuable insights for mental health professionals, policymakers, and researchers in designing evidence-based interventions tailored to the sociocultural characteristics of different Asian societies.