Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Online Student Team Achievement Division (STAD) Learning Model on Nursing Competency Test Ability Kaluku, Suratno; Hariawan, Hamdan; Tatisina, Cut Mutia; Ningsih, Mira Utami
Jurnal Keperawatan Terpadu (Integrated Nursing Journal) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jkt.v6i1.526

Abstract

The COVID-19 pandemic also has an impact on the transition from conventional education to digital education. Digital learning requires software as a medium during the learning process. Currently, the most widely used media in teaching nursing practice is social media in the form of WhatsApp and Telegram. The effectiveness of the implementation of cooperative learning, one of which is the STAD model in improving the quality of learning. The purpose of conducting research on improving the ability of nursing students in answering various Competency Test questions through the STAD model approach by utilizing social media WhatsApp. This study was a quasi-experimental study (quasi-experimental) with a research design in the form of a pre-posttest design with a control group (pretest-posttest control design) involving two groups, namely the treatment group and the control group. Both were given a pretest, and a posttest about learning the STAD method with WhatsApp media and was given an intervention. The study was conducted on July 14 to September 27, 2021 as many as 60 people. The results of the study stated that there was a significant difference in the ability to answer questions about the research subjects of the intervention and control groups in learning through WhatsApp online media (p <0.05). The increase in the average delta ability to answer competency test questions with the STAD method is better than without going through the STAD method, with d value of 56.95.
Komunikasi Terapeutik Sebagai Strategi Peningkatan Patient-Centered Care Dalam Keperawatan Suratno Kaluku; Cut Mutia Tatisina
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 4 No 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1198

Abstract

ABSTRACT Therapeutic communication is a core competency in nursing practice that plays a crucial role in improving the quality of patient-centered care. This approach emphasizes active patient involvement in the care process and a collaborative relationship between nurses and patients. This study aims to analyze the influence of therapeutic communication on improving patient-centered care in nursing practice. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 100 inpatients was selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The results showed that therapeutic communication significantly influenced patient-centered care (β = 0.52; p < 0.001). In conclusion, effective therapeutic communication can improve patient satisfaction, patient engagement, and the quality of nursing services. Keywords: Therapeutic Communication, Patient-Centered Care, Nursing, Patient Satisfaction ABSTRAK Komunikasi terapeutik merupakan salah satu kompetensi utama dalam praktik keperawatan yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan berbasis patient-centered care. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif pasien dalam proses perawatan serta hubungan yang kolaboratif antara perawat dan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik terhadap peningkatan patient-centered care dalam praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 pasien rawat inap dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap patient-centered care (β = 0,52; p < 0,001). Kesimpulannya, komunikasi terapeutik yang efektif mampu meningkatkan kepuasan pasien, keterlibatan pasien, serta kualitas pelayanan keperawatan. Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik, Patient-Centered Care, Keperawatan, Kepuasan Pasien
Pengaruh Edukasi Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Mental Emosional Dan Pengetahuan Remaja Cut Mutia Tatisina; Fransina Tubalawony; Sitti johri Nasela; Mintje M Nendissa; Nurma Y. Pary Usemahu; Rony A. Latuminase
Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2026): Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35892/djik.v21i2.3484

Abstract

Gangguan mental emosional (GME) merupakan masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi fungsi psikososial individu, mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, serta berdampak pada kualitas hidup. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami GME akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa perkembangan. Tingginya kerentanan tersebut menjadikan deteksi dini dan edukasi kesehatan jiwa sebagai strategi penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan jiwa terhadap kesehatan mental emosional dan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan jiwa. Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Deteksi dini GME dilakukan menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk mengidentifikasi kondisi mental emosional remaja, sedangkan intervensi dilakukan melalui penyuluhan kesehatan jiwa. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 3 Ambon dengan melibatkan 50 remaja sebagai responden penelitian. Penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skrining SDQ, sebanyak 50% responden berada pada kategori normal, 24% kategori borderline, dan 26% kategori abnormal. Selain itu, terjadi peningkatan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan jiwa setelah intervensi edukasi, ditunjukkan oleh peningkatan proporsi responden dengan kategori pengetahuan baik dari 20% pada pretest menjadi 68% pada posttest. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi kesehatan jiwa efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental remaja dan mendukung upaya deteksi dini gangguan mental emosional. Oleh karena itu, integrasi program skrining kesehatan mental dan edukasi kesehatan jiwa di lingkungan sekolah perlu dikembangkan sebagai strategi preventif untuk meningkatkan kesehatan mental remaja secara berkelanjutan