Claim Missing Document
Check
Articles

Soaking up the Sun: Solar Energy Optimization during Pandemic, Study Case at Micro, Small and Medium Enterprises (MSME) Rattan Crafts Center in Trangsan Village, Sukoharjo, Central Java Sujarwanto Dwiatmoko; Archibald Nagel; Jaka Windarta
Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol. 13 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Pencegahan Pencemaran Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21771/jrtppi.2022.v13.no1.p12-19

Abstract

The National Energy General Plan has set a target of achieving the Renewable Energy mix by 23% by 2030, to achieve this the transition of energy to RE must be done immediately. Solar energy is one of the opportunities of renewable energy that is very abundant in Indonesia. Along with the issuance of the Minister of Energy and Mineral Resources Regulation number 49 of 2018 concerning the Use of Rooftop Solar Power System by Consumers of PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) which provides opportunities for the utilization of PV Rooftop for household and commercial sector. In view of this, the Central Java Government plans to install Rooftop Power Plant in the Micro, Small and Medium Enterprises (MSME) Sector to develop the utilization of RE in the productive sector while improving the economic recovery of the Covid-19 pandemic. The use of renewable energy (EBT) is expected to save electricity costs in MSMEs. The results of planning using Helioscope software showed that in the three MSMEs with different PLTS capacities, namely 1 Kwp, 2.04 KWp and 4 KWp can produce annual energy production of 1,191 MWh, 2,433 MWh and 5,352 MWh respectively. After the installation of the PLTS, it was proven that in the first two months after installation energy consumption can decrease to minimum usage.
Rooftop PV Plant Development Planning at the Central Java Provincial DPRD Secretariat Office Andrian Mayka Ariawan; Jaka Windarta; Sujarwanto Dwiatmoko
Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol. 13 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Pencegahan Pencemaran Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21771/jrtppi.2022.v13.no1.p43-52

Abstract

Central Java Province targets the achievement of the new and renewable energy (EBT) portion in the energy mix by 2030 at 22.55%. In order to achieve this target, the Central Java Provincial Government has consistently developed the use of EBT, one of which is through the construction of rooftop solar power plants (Rooftop PV Plant) in government buildings. In addition to requiring a fairly high initial investment cost, the construction of a Rooftop PV plant connected to the PT. PLN (Persero) requires a fairly complicated process, so proper planning must obtain optimal results. This paper will discuss an example of a Rooftop PV Plant development plan at the Secretariat Office of the Central Java Provincial DPRD, including the use of electrical energy prior to the installation of a Rooftop PV Plant; an analysis of the condition and availability of the location; the design and system of a Rooftop PV Plant; an estimate of the total potential energy that can generate; the investment costs of a Rooftop PV Plant; as well as evaluating the results of using Rooftop PV Plant. The electricity bill at the Central Java Provincial DPRD Secretariat Office prior to installing Rooftop PV Plant is Rp. 91.308.323,- per month. The recommended PV design, built on an area of ​​197 m2, is a rooftop on-grid PV Plant system with 6 PV arrays, each of which PV arrays are installed with as many as 20 solar modules arranged in series. The total number of solar modules installed is 120 solar modules with a total capacity equivalent to 30 kWp. Based on the simulation results using the PVSyst 6.4.3 software, the Rooftop PV Plant system can generate electrical energy of up to 43,420kWh per year or equivalent to 118.9kWh per day with a performance ratio of 79.4%. The potential for saving electricity costs from the simulation results can reach Rp. 4,034,441.- per month. The results of the evaluation of the utilization of the Rooftop PV Plant through the recording of the inverter monitoring system within 1 (one) year after installation shows the amount of electrical energy produced is 40,558 kWh, so that the manager of the Secretariat of the DPRD Central Java Province office can save a budget of Rp. 3,768,514.- per month from the use of the Rooftop PV Plant. This figure is not much different from the simulation results at planning. There is a difference in the cost savings of electricity payments at the Central Java Provincial DPRD Secretariat Office during 2020 of Rp. 4,493,300,- excluding savings due to the use of Rooftop PV Plant due to implementing the work from home (WFH) system during the COVID-19 pandemic, which resulted in a significant reduction in the use of electrical energy.
Perencanaan PLTS Roof Top On-Grid Untuk Gedung Kantor PLTU Amurang Sebagai Upaya Mengurangi Auxiliary Power dan Memperbaiki Nilai Nett Plant Heat Rate Pembangkit Ardian Burhandono; Jaka Windarta; Nazaruddin Sinaga
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13051

Abstract

Pembangkit listrik adalah kumpulan dari beberapa mesin yang sumber utamanya dari listrik tergabung dalam beberapa sistem atau sub sistem untuk menjalankan proses produksi menghasilkan energi listrik. Tidak semua listrik yang di hasilkan dari Generator disalurkan ke pelanggan namun juga ada listrik yang di pakai sendiri untuk menggerakkan motor-motor listrik atau tempat-tempat lain yang memerlukan listrik yang ada di dalam area pembangkit tersebut. Saat ini kebutuhan listrik untuk gedung kantor diambilkan dari unit pembangkit PLTU Amurang sehingga membebani auxiliary power pembangkit tersebut. Perencanaan pembangunan PV sel surya roof top on grid sebagai salah satu alternatif sebagai sumber energi listrik di kantor PLTU Amurang sehingga bisa mengurangi auxiliary power pembangkit utama dan memperbaiki Nett Plant Heat Rate (NPHR).  Hasil perhitungan diperlukan 6 modul panel sel surya dengan nominal power per panel 300 Wp dan satu inverter kapasitas 2000 W dengan estimasi biaya Rp 71.500.000,-. Setelah pemasangan PLTS, terdapat perkiraan penghematan rata-rata 133 kWh setiap bulan dan nilai NPHR mengalami penurunan minimal 20,15 kCal/kWh setiap bulannya yang menandakan unit pembangkit utama semakin efisien.
Pemanfaatan Mikrohidro Air Terjun Lawang Bromo Untuk Menerangi Dusun Tanpa Listrik di Kabupaten Probolinggo Syarief Albar; Jaka Windarta
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13075

Abstract

Desa Ngepung Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo adalah satu desa yang belum mendapatkan aliran listrik dari PLN karena letak geografinya yang terletak dibawah kaki gunung Bromo. Kebutuhan energi dimasa pandemi ini mendorong diadakannya upaya lebih untuk tetap bergulirnya roda ekonomi. Salah satu upaya adalah dengan memanfaatkan air terjun dan sungai untuk digunakan sebagai pembangkit listrik mikrohidro yang lebih dikenal dengan PLTMH dan tempat wisata air terjun lawang bromo. PLTMH yang akan dibangun rencananya adalah bagian dari CSR PT. POMI – PAITON ENERGY dengan nama program Rumah Belajar Energi 3, dengan kapasitas 14,6 KW dan mengunakan model turbin Kaplan. Pemanfaatan PLTMH/mikrohidro dan air terjun akan dikelola oleh BUMDES agar kelangsungan bisa terjaga dan peran serta masyarakat tetap terwujud.
Tinjauan Potensi dan Kebijakan Pengembangan PLTA dan PLTMH di Indonesia Listya Nurina Rahayu; Jaka Windarta
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13327

Abstract

Kebutuhan energi listrik yang terus meningkat mencapai 6,9% per tahunnya, tidak diimbangi dengan ketersediaan energi fosil sebagai energi primer yang terus menurun. Untuk itu pemerintah Indonesia mulai melakukan percepatan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dimana target pemanfaatan EBT nasional pada tahun 2050 diharapkan mencapai 31%. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana mengembangkan program Renewable Energy Based Industry (REBID) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala besar. Dalam rangka mendukung Kebijakan Energi Nasional penggunaan energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 diwujudkan dengan berbagai macam kebijakan salah satunya adalah pengembangan PLTA maupun PLTMH di Indonesia. Sebagai energi yang ramah lingkungan, serta mengurangi efek rumah kaca juga mendukung program pemerintah mengenai penyediaan energi dari sumber energi baru terbarukan. Adanya kebijakan diharapkan mampu mendukung untuk memaksimalkan potensi energi air yang ada di Indonesia. Regulasi teknis maupun non teknis harus terus diperbaharui untuk mendukung investasi pengembangan PLTA maupun PLTMH di Indonesia.
Pemanfaatan Gas Buang Turbin Gas Siklus Terbuka Dengan Sistem Organic Rankine Cycle Tua Harolt Hutapea; Jaka Windarta
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13332

Abstract

Gas buang Turbin Gas Siklus Terbuka (PLTG) yang masih bersuhu tinggi merupakan suatu pemborosan energi sehingga diperlukan usaha untuk memanfaatkannya karena energi adalah sumber daya yang berharga dan setiap panas buang yang berasal dari pembangkit listrik siklus terbuka, mesin-mesin atau industri harus menggunakannya secara efisien dan efektif. ORegenTM adalah siklus Rankine Organik GE yaitu suatu sistem yang didesain untuk memanfaatkan energi panas gas buang dari Turbin Gas atau dari sumber-sumber panas buangan lainnya. Sistem ORegen GE merupakan siklus panas lanjut Termodinamika dengan menggunakan fluida kerja cyclo pentane yang memanfaatkan panas buang dari Turbin Gas dan kemudian mengkonversikannya menjadi ekstra listrik sehingga 16 MW tanpa menggunakan bahan bakar ataupun air dan tidak menghasilkan tambahan emisi-emisi CO2 atau NOx. Dari beberapa tipe Turbin Gas GE dalam studi ini diperoleh efisiensi tertinggi keseluruhan dari sistem yaitu sebesar 51,5% dengan efisiensi Turbin Gas sebesar 41,1% yang diperoleh oleh Turbin Gas PGT25+ G4 pada beban 34 MW dan mendapatkan ekstra listrik dari ORegen sebesar 8,9 MW.
STUDI PERANCANGAN PLTS 1200WP SISTEM ON-GRID DITINJAU DARI TEKNIK DAN EKONOMIS Ayu Inka Avinda; Jaka Windarta; Denis Denis; Irfan Arif Kusuma; Ali Firmansyah
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.915 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1191

Abstract

Kebutuhan listrik terus tumbuh dengan pesat dibandingkan dengan jenis energi lainnya. Pertumbuhan permintaan listrik diperkirakan akan mencapai 2.214 TWh pada tahun 2050, hampir sembilan kali lipat dari kebutuhan listrik sebesar 25,6 TWh pada tahun 2018. Permintaan listrik di sektor rumah tangga diperkirakan akan meningkat dari 49% pada 2018 menjadi 58% pada 2050. Masalah ini terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah rumah tangga, yang dapat meningkat dari 67 juta pada 2018 menjadi sekitar 80 juta pada tahun 2050. Untuk jumlah pelanggan perumahan yang meningkat, penggunaan atap sebagai dasar pembangkit listrik tenaga surya dapat menjadi solusi yang ekonomis dan efisien mengingat letak wilayah khatulistiwa Indonesia dan Indonesia memiliki potensi energi terbarukan setara dengan 442 GW yang tersedia untuk pembangkit listrik. Selain itu, regulasi pemerintah mendukung percepatan dan pengembangan energi baru terbarukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan teknik dan ekonomis sistem fotovoltaik atap dengan sistem on-grid 1200 WP di Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin. Dengan menggunakan perangkat lunak PVsyst 7.2 dan RetScreen, perancangan pembangkit listrik tenaga surya dan rencana investasi untuk instalasi surya atap berkapasitas 1200 WP ini dapat menghasilkan kelayakan teknis dengan rasio kinerja 81,8% serta memiliki NPV sebesar Rp 14.182.202 dan nilai balik modal 11,6 tahun.
Pemanfaatan Teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dalam Upaya Mendukung Produksi Energi yang Berkelanjutan Ahmad Wisnu Prasetyo; Jaka Windarta
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.14509

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia juga berada di peringkat keempat sebagai penghasil Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar pada tahun 2015. Sumber emisi GRK di sektor industri berasal dari penggunaan energi khususnya energi fosil, proses produksi, dan limbah. Semua sektor industri memberikan kontribusi emisi GRK, tetapi kontributor terbesar adalah industri semen, industri baja, industri pulp dan industri kertas, industri tekstil, industri petrokimia, industri keramik, industri pupuk, industri makanan dan minuman. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) target penurunan emisi dari sektor industri adalah sebesar 0,001 Gton CO₂(e) (skenario 26 %) dan sebesar 0,005 Gton CO₂(e) (skenario 41%) pada tahun 2020. Peningkatan konsentrasi CO₂ di atmosfer mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan berdampak pada perubahan iklim. Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam upaya mengurangi emisi gas buang CO₂ yang dianggap mampu sebagai teknologi penghubung yang penting untuk produksi energi yang berkelanjutan.
Perancangan PLTS Rooftop untuk Pemakaian Sendiri (PS) di PLTU Berau 2 × 7 MW Irwan Firmanto Nainggolan; Jaka Windarta; Nazaruddin Sinaga
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13442

Abstract

PLTU Berau 2 × 7 MW terletak di Kelurahan Teluk Bayur Kecamatan Teluk Bayur Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur yang Operation & Maintenance-nya di Kelola oleh PT. Indonesia Power. PLTU Berau 2 × 7 MW mensuplai energi listrik ke sistem jaringan isolated 20 KV Tanjung redeb. Konsumsi daya listrik (Pemakaian Sendiri) rata-rata sebesar 10.419.942,030 kWh/tahun. Salah satu program untuk menurunkan konsumsi pemakaian sendiri dan untuk mendukung kebijakan peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional hingga 23% pada tahun 2025 yaitu dengan pemasangan PLTS Rooftop. Kawasan PLTU Berau 2 × 7 MW memiliki nilai radiasi rata-rata sebesar 4,67 kWh/m²/hari sepanjang tahun 2020 dan rata-rata 3,9 kWh/m²/hari dalam rentang 22 tahun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi energi surya yang dapat dihasilkan dilokasi Rooftop PLTU Berau 2 × 7 MW dengan menggunakan simulasi software HelioScope. Dari hasil simulasi diperoleh potensi energi listrik yang dapat dihasilkan adalah 570.364 kWh/tahun.
Analisis Prakiraan Kebutuhan Energi Nasional Jangka Panjang Untuk Mendukung Program Peta Jalan Transisi Energi Menuju Karbon Netral Yudiartono Yudiartono; Jaka Windarta; Adiarso Adiarso
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.14264

Abstract

Berdasarkan peta jalan transisi energi, strategi utama yang disusun Pemerintah untuk menuju karbon netral di sisi kebutuhan energi adalah pemanfaatan kompor induksi dan pengembangan jaringan gas perkotaan di sektor Rumah Tangga serta penerapan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) untuk sektor transportasi. Selama periode 2020-2050, laju pertumbuhan PDB rata-rata sebesar 5,03% per tahun dan pertumbuhan penduduk sebesar 0,63% per tahun, mengakibatkan total kebutuhan energi final (tanpa biomasa ) untuk skenario BAU meningkat dari 845 juta SBM pada tahun 2020 menjadi 2.889 juta SBM pada tahun 2050 atau meningkat rata-rata sebesar 4,2% per tahun. Sedangkan untuk skenario transisi energi (TE), kebutuhan energi final tersebut hanya tumbuh sebesar 3,8% per tahun, atau naik menjadi hanya 2.593 juta SBM pada tahun 2050. Terlihat bahwa terjadi penurunan sekitar 10% pada total kebutuhan energi final, apabila dibandingkan dengan skenario BAU. Hal ini terjadi karena efisiensi kompor induksi dan kompor berbahan bakar gas jauh lebih efisien apabila dibandingkan efisiensi kompor LPG, karena itu akan menurunkan konsumsi LPG secara signifikan, yaitu sebesar 10,12 juta ton per tahun. Disamping itu percepatan penerapan program KBLBB di sektor transportasi juga akan menghemat penggunaan BBM secara signifikan bila diterapkan secara konsisten, dimana pada tahun 2050 tersebut terjadi penghematan kebutuhan bensin dan solar berturut turut sebesar 68 juta kilo liter dan 2,7 juta kilo liter. Di sisi lain, pada tahun yang sama, diprediksi akan terjadi kenaikan kebutuhan listrik untuk sektor transportasi dan sektor rumah tangga, berturut turut mencapai 232 TWh dan 74 TWh.