Hat Pujiati
English Department, Faculty Of Letters, Universitas Jember Jln. Kalimantan 37, Jember 68121

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

GAMBARAN REZIM NAZI DALAM PERADABAN JERMAN DALAM BEBERAPA PILIHAN PUISI SYLVIA PLATH Maria Ulfa; Ayu Sutarto; Hat Pujiati
Publika Budaya Vol 1 No 1 (2013): November
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rezim Nazi adalah tragedi besar dari peradaban Jerman pada abad 20. Nazi merupakan sebuah partai yang sarat dengan pemerintahan diktator yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Partai Nazi mencapai masa keemasannya pada tahun 1933-1945 (periode Perang dunia II). Kemudian pada tahun 1962, Sylvia Plath membuat sebuah potret keNazian dalam karya-karyanya di Daddy, Lady Lazarus, dan Mary's Song. Pikiran imajinatif Plath sebagai anak perempuan Jerman mengungkapkan representasi yang berdasar sejarah kedalam puisi. Untuk itu, new historicism bagi Stephen Greenblatt merupakan sebuah perangkat dalam menguraikan wacana yang ada dalam teks puisi. Kemudian, hasil dari penelitian ini menunjukkan potret Nazi sebagai produk laki-laki dalam sudut pandang perempuan. Atribut-atribut Nazi yang digunakan dalam teks puisi itu merupakan sebuah estetika dalam mengekplorasi kebrutalan Nazi yang dibayangkan sejajar dengan kebrutalan laki-laki dalam sistem patriarki. Kemudian, ekplorasi atribut-atribut itu menunjukkan kekuatan Nazi dalam menghegemoni orang-orang Jerman untuk menganggap program-program Nazi sebagai kehendak Tuhan. Akibatnya menunjukkan bahwa ada penyalahgunaan ajaran agama untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Jadi, melalui teks puisi itu, Plath membawa bagian-bagian dari sejarah Jerman melalui emosinya terhadap rezim Nazi.
PUISI-PUISI LANGSTON HUGHES TERPILIH DALAM PERSPEKTIF RIFFATERRE Nova Munawaratul Riana; Moch Ilham; Hat pujiati
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji signifikansi tiga puisi terpilih Hughes yang berjudul The Mother to Son, Trumpet Player dan The Negro Speaks of Rivers dengan menggunakan teori Michael Riffaterre yakni semiotika puisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan signifikansi dari tiga puisi tersebut. Riffaterre menyatakan bahwa puisi memberi kesan yang tidak langsung. Ketidak langsungan kesan tersebut diproduksi oleh pergantian makna, pergeseran makna dan pembuatan makna. Untuk menemukan makna dari puisi, kami menggunakan metode analisis yang dihadirkan oleh Riffaterre yakni pembacaan heuristik and hermeneutik. Pembacaan heuristik diaplikasikan untuk menemukan arti dari kamus. Dalam pembacaan heuristik, kami akan menemukan arti, model dan varian. Pembacaan hermeneutik adalah proses semiotika yang ada pada pemikiran pembaca dan di pembacaan inilah kami menemukan matrik, hipogram dan makna signifikansi. Makna signifikansi dari tiga puisi Hughes adalah sebuah pemikiran liberalisme. Liberalisme terdiri dari kebebasan dan keadilan individu dalam masyarakat.
REPRESENTASI WACANA FANDOM DALAM NOVEL FANGIRL KARYA RAINBOW ROWELL Hat Pujiati; Irana Astutiningsih; Maya Novita Sari
Publika Budaya Vol 3 No 2 (2015): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMelalui Fangirl, Rowell menyampaikan fenomena fandom dalam dua sudut pandang. Di satu sisi dia menunjukan pandangan seorang fan yang menilai fandom sebagai kegiatan yang wajar dan dia juga menunjukan gambaran orang-orang yang memberi penilaian buruk terhadap fandom. Wacana fandom di dalam novel dibentuk melalui karakter fiksi. Di dalam novel Fangirl terdapat pemeran utama dan pemeran pendukung yang memiliki perbedaan pandangan dalam menginterpretasikan sebuah teks. Teori representasi dan encoding/decoding oleh Stuart Hall diaplikasikan untuk menganalisa wacana fandom di dalam novel. Di dalam novel Fangirl, Rowell menunjukkan bahwa maksud dari sebuah teks tidak hanya dibentuk oleh satu pihak atau penulis saja tetapi juga bisa dibentuk oleh pembaca. Sebuah makna dibentuk melalui representasi wacana itu sendiri. Untuk menunjukan wacana fandom di dalam novel Fangirl, penelitian ini merangkum posisi karakter menjadi tiga grup sesuai dengan teori Hall yaitu posisi hegemoni dominan, negosiasi dan oposisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahawa novel Fangirl merepresentasikan ketiga posisi proses decoding. Konstruksi wacana fandom di dalam novel memiliki keterkaitan dengan pemikiran masyarakat Amerika tentang fandom; sebagian dari mereka menolak dan sebagian menerima. Disisi lain penulis Fangirl meletakkan novel sebagai produk asli yang lebih layak untuk di apresiasi dibandingkan produk dari fan terutama fan fiction. Rowell mengembalikan lagi hal tersebut kepada hirarkinya bahwa posisi budaya subordinasi masih dibawah budaya populer.
WACANA TUBUH PEREMPUAN DALAM TIGA CERPEN PERIODE TAHUN 2000AN: HA...HA...HA... , MUTILASI, DAN AKAR PULE Hat Pujiati
Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 3, No 2: JULI 2009
Publisher : Program Studi Bahasa Inggris Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.448 KB) | DOI: 10.21107/prosodi.v3i2.323

Abstract

Women bodies as the source of judgments upon women represented by writers from time to time as extension of social discourses or even as counter discourses. Literary works record the movements of the changing discourses of women bodies which have differences in certain period. Beauty, as part of women’s bodies is an endless myth and undeniable by women in the world, is used as a political strategy to get power and to control their bodies. Ideologies embodied in a discourse with their interpellation call and control their subjects for maintaining social relation and domination. Through Foucauldian’s concept of discourse, this text analyzes a discourse of women’s bodies recorded in three Indonesian short stories in certain period: 2000s.
PERSPEKTIF SANTRI DALAM KARYA SASTRA: SEBUAH REPRESENTASI WACANA RELIGIUS-HUMANIS Irana Astutiningsih; Hat Pujiati
POETIKA Vol 7, No 1 (2019): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v7i1.40902

Abstract

Pesantren  kerap dicurigai sebagai lahan subur penyemai bibit radikalisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara, sejatinya sangat akrab dengan nilai-nilai yang humanis, yang salah satunya direpresentasikan dalam karya sastra pesantren.  Kajian ini membincang representasi wacana religius-humanis dalam sastra pesantren sebagai objek material, berupa tiga cerita pendek berjudul “Di Antara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah”, dan “Seruas Bingung. Ketiganya” terbit di buletin Tanwirul Afkar, sebuah buletin salah pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sukorejo, Jawa Timur. Oleh sebab itu, teori representasi Stuart Hall dipakai sebagai alat analisis. Terkait dengan pendekatan konstruksionis model diskursif Foucauldian yang bertitik tekan pada produksi pengetahuan melalui wacana yang melibatkan sistem bahasa, ketiga cerpen dianalisis dengan memetakan wacana religius-Humanis dan dikaitkan dengan latar kontekstual tempat wacana tersebut diproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam sastra pesantren konstruksi wacana religius-humanis dihadirkan melalui nilai- nilai kemanusiaan yang universal, alih-alih terjebak pada dikotomi yang rigid antara benar dan salah, sebagaimana pemahaman yang kerap memicu radikalisme. Nilai religius justru hadir seiring dengan nilai kemanusiaan universal sebagai satu representasi keberpihakan santri penulis terhadap wacana religius-humanis melalui sastra pesantren.Kata Kunci: wacana; pesantren; sastra pesantren; religius-humanis; representasi Pesantren (Islamic Boarding School) is suspected as a fertile place for the radicalism which treat the united nations and states of Indonesia as a republic. As a religious school, pesantren is supposed to be representative for humanism since religion is taken as a living guide for human being. This article discusses representation of religious-humanist discourse in Pesantren Literature as the material object; they are short stories entitled: “Diantara Dua Pilihan”, “Cinta Sejati Itu Tidak Mudah” dan “Seruas Bingung”. The short stories were published in Tanwirul Afkar,a monthly bulletin in Salafiyah Syafi’iyah Islamic Boarding School at Sukorejo, Situbondo, East Java Indonesia. We apply Stuart Hall’s representation theory as a tool to analyze the stories. Focusing on Foucauldian’s discursive method in constructionist model that emphasizes on the knowledge production in discourses through language, we map the contextual background to find out the genealogy of religious-humanist discourse production. The result shows that religious-humanist discourses in Pesantren literary works are presented through universal human values, instead of being trapped in a rigid dichotomy between right and wrong that lead to a radicalism. Religiosity comes along with the universal human values as a representation of santri writers’s partialit on religious-humanist discourse through Pesantren literature.Keywords: discourse; pesantren; pesantren literature; religious-humanist; representation
HUMAN TO HUMAN WHISPERS FROM ‘PESANTREN’ CHAMBERS: LOCALITY IN IDEOLOGICAL VOICES OF THE AUTHORS AS A COMMUNICATION IN HUMAN CIVILIZATION Hat Pujiati
International Conference on Languages and Arts Proceeding of the 3rd ISLA 2014
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.371 KB)

Abstract

This article is a part of my research entitled Model Pengembangan Komunitas Sastra Berbasis Lokalitas: Meretas Jalan bagi Industri Kreatif Kesastraan di Wilayah Tapal Kuda that find models of literary works develops in literary communities based on locality in Horseshoe area, East Java so that I can map and design their dessemination nationally and Indternationally.  In this article I discusses literary works authored by those who live in ‘Pesantren’ in Jember and Situbondo, East Java, as medium of practicing language in Pesantren community. Through the voices presented in Tartila, a novel by Arifa from Al-Falah Jember and in poetry anthology entitled Kasidah Air Mata by Zainul Walid from Pesantren Salafyah Syafi’iyah Sukorejo- Situbondo, this article questions the following three questions in order to find the ideology of the authors with their locality as a means to humanize human in human civilization. Firstly, it elaborates how locality is presented in the two works. Secondly, it demonstrates authors’ world views (Vision du Monde) on humanity. Thirdly, it digs out the causes of the world views existence on those authors. Lucien Goldmann’s genetic Structuralism is used in this article to analyze the data, and Derrida’s deconstruction is used as the method. Meanwhile, postcolonial concepts are used to explain condition of hybrid identity in a part of horseshoe area (Banyuwangi-Jember-Situbondo)   Keywords: ideology, pesantren,World view, genetic structuralism, hybrid
Poverty and its Aesthetic Construction in Hansel and Gretel and The Tom Thumb Hat Pujiati; Sahwari sahwari; L. Dyah Wardani
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i1.232

Abstract

Kemiskinan dan estetika sebagai dua konsep kontras disatukan sastra dalam artikel ini melalui pembahasan konstruksi kemiskinan sebagai strategi estetis dalam dua dongeng; Hansel and Gretel dan Tom Thumb. Konsep kemiskinan sebagai 'kekurangan' disajikan sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian pembaca, konsensus nilai, moral, dan ideologi dalam narasi dua dongeng dipetakan dalam artikel ini untuk mengungkapkan konsekuensi narasi pada lingkungan sosial. Melalui teori representasi Stuart Hall, konstruksi pengetahuan tentang kemiskinan dilacak dalam teks menggunakan pendekatan konstruksionis. Kami memilih model diskursif dalam analisis diskursif Foucauldian untuk menghubungkan data intrinsik novel dengan konteks sosial sehingga silsilah rezim kebenaran terlacak. Hasil analisis ini menunjukkan upaya oligarki melanggengkan avant garde; sebagai penguasa yang tepat atas orang miskin. Diksi yang dipilih dalam teks-teks mengarah pada kesimpulan bahwa kemiskinan identik dengan kejahatan: kondisi alam melegitimasi kekerasan oleh mereka yang miskin. Kedua dongeng tersebut menjadi alat untuk menyebarkan ideologi borjuis melalui naturalisasi narasi.
MAGICAL REALISM-LIKE IN SHAKESPEARE'S A MIDSUMMER NIGHT'S DREAM Dio Catur Prasetyohadi; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.535 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.508

Abstract

This article uses concepts of magical realism by Wendy B. Faris to analyze Shakespeare's A Midsummer Night's Dream. We analyze elements of magical realism of the work in mapping discourses between the text and the real life. The chosen material object that published earlier than the theory we chose make this work contributes to describe the trace of the civilization development; event of in-betweeness of human consciousness. However, we have found that A Midsummer Night’s Dream is only a magical realism-like mode, since realism is dominant in the text as the trace of modernity. Meanwhile, the characteristics of Magical Realism that is postulated by Faris is in-between realism and fantasy as a trace of transition era; modern to postmodern.Abstrak: Artikel ini menggunakan konsep-konsep realism magis oleh Wendy B. Faris untuk menganalisis “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare.  Kami menganalisis elemen-elemen realism magis yang ada dalam karya untuk memetakan wacana-wacana yang ada antara teks dan kenyataan. Pemilihan objek materi yang telah dipublikasi lebih awal dari kelahiran teori yangkami pilih ini berkontribusi untuk menjelaskan jejak perkembanan peradaban Kebudayaan; peristiwa keberantaraan pada kesadaran manusia. Namun demikian, kami menemukan bahwa “A Midsummer Night’s Dream” hanyalah moda tulisan Serupa Realisme Magis, karena dominan teks lebih pada realisme yang merupakan jejak dari modernitas. Sementara syarat realism magis yang ditawarkan Faris adalah keberantaraan realisme dan fantasi sebagai jejak era transisi modern menuju postmodern.
VIOLENCE BEYOND THE UTOPIAN SOCIETY IN LOIS LOWRY'S THE GIVER Rendry Hanifa Ak Mallyta; Hat Pujiati
Haluan Sastra Budaya Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v2i1.16430

Abstract

This article discusses violence in a constructed utopian society in The Giver, Lois Lowry's distopian novel. We assume that 'sameness' as the governing system in the novel is the source of violence. Therefore, this article aims to reveal the real conditions beyond the utopian society. Applying genetic structuralism by Lucien Goldmann, we analyze the presentation of society in the novel through the narrative structure and relate them to discourses of American society in 1990s with Author as the bridge of the fiction and real life.  The result of this analysis shows that comfort facilities provided by the government in a society is potential to hegemonize people and dehumanize them for the sake of power.Keywords: utopian society, genetic structuralism, worldview. AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang kekerasan dalam masyarakat utopis yang dikontruksi dalam novel distopian berjudul The Giver karya Lois Lowry. Kami mengganggap 'sameness' sebagai sistem pemerintahan di masyarakat yang ada dalam novel sebagai sumber dari kekerasan tersebut. Selanjutnya, artikel ini bertujuan untuk menggungkapkan kondisi sebenarrnya dibalik masyarakat utopis ini. Dengan menggaplikasikan teori strukturalisme genetik milik Lucien Golmann, kami menganalisa tampilan dari masyarakat di novel ini melalui struktur naratif dan menghubungkannya dengan wacana tentang masyarakat Amerika pada tahun 1990an dengan kehidupan penulis sebagai penghubung antara fiksi dan dunia nyata. Hasil dari analisa ini menunjukkan bahwa fasilitas kenyamanan yang disediakan oleh pemerintah dalam masyarakat tersebut merupakan cara untuk mendominasi dan menghilangkan rasa kemanusiaan mereka hanya untuk kepentingan kekuasaan.Kata kunci: masyakat utopis, strukturalisme genetik, pandangan dunia.
FORMULAIC STRUCTURE IN THROUGH THE LOOKING GLASS BY LEWIS CARROLL Zafirna Arrofifah; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
Haluan Sastra Budaya Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v5i1.45263

Abstract

This article focuses on the formulaic stucture in a popular children’s literature entitled “Through the Looking Glass” by Lewis Carroll. This is aimed to analyze the formulaic stucture of the novel and the elements that caused the novel to become a popular children’s literature in Victorian era, which is undoubtedly related to the Victorian values in Britain.Formula theory by John G. Cawelti is used to analyze the novel. The story of the novel is about a little girl named Alice who wants to be the queen when she is stranded in another world called Looking Glass after leaning into a mirror in her painting room. Result of this research shows that Lewis Carroll’s “Through the Looking Glass” is written using adventure typologyshown through a hero with a goal to reach. The novel also uses fantasy and Victorian era setting to support the suspense.Furthermore, what made the story popular in the era is the need of escape provided by the novel for Victorian children through Alice’s adventure.