Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Prosiding Semnastek

PENGARUH PH BIOFLUCCULANT KITOSAN DAN NANOPARTIKEL KITOSAN TERHADAP EFFISIENSI PEMISAHAN PADA PEMANENAN BIOMASSA MIKROALGA Alvika Meta Sari; Irfan Purnawan; Erdawati Erdawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada  penelitian ini, kitosan dan nanopartikel kitosan digunakan sebagai agen flokulan untuk memanen mikroalga Nannochloropsis sp. Kitosan dimodifikasi menjadi nanopartikel kitosan melalui taut silang dengan natrium tripolifosfat. Tujuan penelitian ini adalah (i) membuat nanopartikel kitosan dengan tautan silang, (ii) mempelajari pengaruh pH kitosan dan nanopartikel kitosan terhadap efisiensi pemisahan pada pemanenan biomassa, dan (iii) mencari nilai-nilai terbaik pH dan konsentrasi bioflukolan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil XRD, nanopartikel kitosan yang dihasilkan dengan tautan silang memberikan pola difraksi dengan puncak yang tinggi, dan melebar. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang diuji merupakan fasa kristalin dengan ukuran di daerah nanometer. Pengaruh dari kedua jenis flokulan (kitosan dan nanopartikel kitosan), dosis flokulan dan pH kultur diselidiki pada pemanenan biomassa. Dosis optimum untuk kedua bio-flokulan ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi flokulan makin tinggi effisiensi pemisahan, dan makin tinggi pH media kultur, makin tinggi effisinsi pemisahan. Kondisi optimum effisiensi pemisahan dengan kitosan diperoleh pada pH media kultur 9  dan konsentrasi kitosan 100 mg/L dengan effisiensi 92 %. Sedangkan, effisiensi pemisahan pada pH 9 dan konsentrasi nanopartikel kitosan 60 mg/L adalah 95 %.
Pemanfaatan Gelombang Mikro dalam Pre-treatment Limbah Masker Menjadi Bioetanol dengan Katalis Enzim Trichoderma reesei Zulfa Rachdianti; Fachri Azmi; Fajri Afriliono; Ricky Andi Permana; Irfan Purnawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak limbah masker menyebabkan pencemaran lingkungan, merusak ekosistem, dan dapat meningkatkan resiko penyebaran COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan serta menganalisa jumlah enzim selulase dan waktu hidrolisis optimum dalam mengkonversi selulosa pada limbah masker N95 yang sudah mengalami pretreatment menjadi glukosa serta suhu dan pH optimum dalam mengkonversi glukosa menjadi bioetanol. Metode penelitian ini terdiri dari pre-treatment dengan menggunakan gelombang mikro, hidrolisis enzimatik menggunakan enzim selulase dari Trichoderma reesei dengan variasi 1, 2, 3 hari hidrolisis pada suhu 50°C dan volume enzim 10, 20 dan 30 mL serta fermentasi dengan Saccharomyces cerevisiae dengan variasi pH 4 dan 5 dengan variasi suhu 30°C dan 35°C selama 72 jam waktu inkubasi. Hasil pengujian kadar glukosa tertinggi diperoleh pada volume enzim 30 mL dengan waktu hidrolisis 3 hari pada suhu 50°C dan kadar etanol pada suhu fermentasi 30°C dengan pH 4 dan 5 masing-masing 4.76% dan 3.57% serta pada suhu fermentasi 35°C dengan pH 4 dan 5 masing-masing 1.75% dan 0.71%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemurnian etanol optimum diperoleh dari hidrolisis dengan jumlah enzim 30 mL selama 3 hari dengan suhu 50°C dan fermentasi pada pH 4 dan suhu 30°C selama 72 jam.
PEMANENAN BIOMASSA MIKROALGA MENGGUNAKAN FLOKULAN KITOSAN DAN NANOMAGNETIT KITOSAN Alvika Meta Sari; Erdawati Erdawati; Irfan Purnawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biomassa Mikroalga merupakan salah satu mikroalga yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, proses pemanenannya memerlukan flokulan yang tidak sedikit. Oleh karena itu dalam penelitian ini kitosan dan nanomagnetik kitosan digunakan sebagai flokulan pada proses pemanenan biomassa Mikroalga. Tujuan dari studi ini adalah mencari pengaruh pH dan dosis  flokulan kitosan dan nanomagnetik kitosan terhadap % biomassa terhadap perolehan biomassa  Mikroalga, mencari pengaruh dosis flokulan kitosan dan nanomagnetit kitosan terhadap perolehan biomassa  dan membandingkan penggunaan flokulan kitosan dan nanomagentik kitosan. Mikroalga  dan mendapatkan pH dan dosis terbaik. Kitosan dan nanomagnetik kitosan dengan dosis 20, 40, 60, 80, 120 dan 140 mg  dan pH 5, 6, 7, 8, 9 ditambahkan ke dalam suspensi mikroalga Mikroalga, lalu diukur persen perolehan biomassanya. Hubungan antara pH flokulan dengan persen perolahan biomassa adalah meningkatnya pH maka persen perolehan biomassa semakin tinggi. Hubungan dosis flokulan kitosan dan nanomagnetit kitosan menunjukkan bahwa semakin banyak dosis flokulan maka semakin banyak biomassa yang dipanen. Hasil menunjukkan bahwa nilai pH yang terbaik adalah 4 dan dosis terbaik adalah 80 mg untuk kedua flokulan. Hasil yang didapat memperlihatkan bahwa Nanomagnetit kitosan lebih baik kinerjanya sebagai flokulan untuk pemanenan mikroalga Mikroalga daripada kitosan dengan nilai tertinggi pada pH 8 dan dosis 80 mg dengan perolehan biomassa tertinggi pada 98%.  Kata kunci: pemanenan mikroalga, biomassa Hemotococcus pluvalis, nanomagnetit  kitosan, kitosan
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK DAUN TANAMAN PALA (HORSFIELDIA SPICATA) TERHADAP PERSENTASE NILAI PEREDAMAN RADIKAL BEBAS Susanty Susanty; Heni Suryarachma; Alvika Meta Sari; Irfan Purnawan; Fatma Sari
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman pala (Horsfieldia spicata) merupakan tumbuhan khas Indonesia yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bumbu masak dan manisan khusus bagian daging buahnya. Daun tanaman pala mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat membantu menetralisir dan menstabilkan radikal bebas sehingga tidak lagi merusak sel-sel dan jaringan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase peredaman radikal bebas dari daun tanaman pala (Horsfieldia spicata), waktu maserasi yang optimal, dan kadar dari setiap variasi waktu yang dilakukan. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bervariasi waktu (1 hari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, 5 hari) menggunakan pelarut etanol berasio 1: 3,8. Hasil penelitian dianalisis untuk mendapatkan persentase peredaman radikal bebas menggunakan metode spetrofotometri UV–Vis. Hasil ekstrak dibandingkan dengan pembanding vitamin C berkonsentrasi 2,5 ppm, 5 ppm, 7,5 ppm, 10 ppm, 12,5 ppm yang memiliki absorbansi sebesar 1,041; 1,004; 1,017; 0,891; 0,526. Hubungan antara waktu maserasi dengan hasil rendemen dinyatakan dalam persamaan y=0,744x+0,558 dengan R2= 0,8032. Rendemen yang didapatkan pada hari ke-5 merupakan yang terbesar yakni sebesar 4,85 %. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, pada konsentrasi 156 ppm mendapatkan panjang gelombang maksimal sebesar 510 nm dan Operating Time (OT) 20 menit. Kemudian pengukuran larutan pembanding dan larutan ekstrak daun pala (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, 500 ppm) pada panjang gelombang maksimal 510 nm dan OT 20 menit mendapatkan nilai persentase peredaman radikal bebas dari daun tanaman pala (Horsfieldia spicata) sebesar 8 %, 30 %, 37 %, 55 %, 73 %.
Ekstraksi Pektin dari Kulit Pisang (Musa Paradisiaca) Sebagai Bahan Pengental Saus Cabai Shabrina, Alifira Fajriatu; AB, Syamsudin; Fitriyano, Gema; Purnawan, Irfan; Fithriyah, Nurul Hidayati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan buah pisang hanya terbatas pada daging buah saja, sedangkan kulit buah pisang yang jumlahnya cukup besar sering kali dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu padahal di dalam kulit buah pisang terdapat kandungan pektin yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pektin adalah senyawa polisakarida yang larut dalam air yang mengandung gugus-gugus metoksil. Penggunaannya yang paling umum adalah sebagai bahan perekat/pengental (gelling agent). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi kandungan pektin pada kulit buah pisang, perbandingan suhu ekstraksi terbaik pada proses ekstraksi serta karakterisasi pektin hasil ekstraksi. Pada penelitian ini, proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut air yang diasamkan dengan penambahan asam klorida dengan konsentrasi 0,5 N. Pada percobaan ini variabel tetap yang digunakan adalah waktu yaitu selama 90 menit, sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah suhu. Analisa yang dilakukan meliputi pH, kadar air, kadar abu, berat ekuivalen, kadar metoksil, dan kadar asam galakturonat serta uji viskositas pada saus cabai. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi didapatkan pada suhu ekstraksi 85°C yaitu sebesar 8,25%, kadar asam metoksil 2,98%, kadar asam galakturonat sebesar 70,72%, kadar air 8,00%, kadar abu 3,63%, dan uji viskositas saus sebesar 8500 cP.Kata kunci: ekstraksi, kulit pisang, metoksil, pektin
PENGARUH SUHU OKSIDASI ISOEUGENOL PADA PEMBUATAN VANILLIN DENGAN OKSIDATOR M-NITROBENZENE SULFONIC ACID SODIUM SALT Marsela, Anis; Purnawan, Irfan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permintaan akan vanillin semakin meningkat, sedangkan jumlah produk vanillin sendiri terbatas karena pembuatan vanillin dari batang tanaman vanillin memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga diperlukan alternatif bahan baku lain untuk membuat vanillin secara sintesis salah satunya dari isoeugenol yang merupakan isomer dari eugenol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan proses oksidasi yang dapat menghasilkan rendemen vanillin yang tinggi, mengetahui pengaruh dari variasi suhu terhadap kemurnian vanillin yang dihasilkan dari reaksi oksidasi isoeugenol. Pembuatan vanillin dari isoeugenol dilakukan dengan cara mengoksidasi isoeugenol menjadi vanillin. Pada penelitian ini akan dilakukan proses oksidasi dengan oksidator Nitrobenzen Sulfonic Acid Sodium Salt untuk mendapat kondisi optimum dalam percobaan ini dilakukan variasi suhu  oksidasi 95 oC, 97,5 oC, 100 oC, 102,5 oC, 105oC, 107,5oC  selama 1 jam. Proses pembuatan vanillin dari isoeugneol terdiri dari proses oksidasi, proses ekstraksi dengan menggunakan toluen, proses evaporasi untuk menguapkan toluen dan rekristalisasi untuk memurnikan kristal vanillin.  Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa suhu terbaik untuk reaksi oksidasi adalah 102,5oC dengan kadar vanillin  setelah reaksi oksidasi adalah 93,12% , sedangkan kadar kristal vanillin  setelah rekristalisasi adalah 99,02% dan rendemen nya sebesar 82,70%. Kata kunci: Isoeugenol, Nitrobenzen Sulfonic Acid Sodium Salt, Oksidasi, Vanillin.