Emma Yuniarrahmah, Emma
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Jurnal Ecopsy

HUBUNGAN KONFLIK PERAN GANDA IBU BEKERJA DENGAN KEHARMONISAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK PENYANDANG AUTIS Rahnitusi, Erma Lidiya; Akbar, Sukma Noor; Yuniarrahmah, Emma
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 1 (2016): JURNAL ECOPSY : JURNAL ILMU PSIKOLOGI
Publisher : Psychology Study Program, Medical Faculty, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.278 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i1.1940

Abstract

ABSTRAKKehadiran anak penyandang autis memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga, khususnya ibu. Hal ini berhubungan dengan masalah pengasuhan anak dengan gangguan autis tidak semudah mengasuh anak tanpa gangguan perkembangan yang menyebabkan ibu harus ekstra 24 jam mengawasi anaknya yang berpengaruh pada pekerjaan dan waktu istirahat ibu sehingga diperlukan hubungan harmonis antar keluarga untuk bekerjasama dengan baik dalam hal pengasuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konflik peran ganda ibu yang bekerja dengan keharmonisan keluarga yang memiliki anak penyandang autis di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 30 orang ibu bekerja yang memiliki anak penyandang autis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Hasil analisa data menggunakan korelasi tata jenjang Spearman’s rho yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari konflik peran ganda terhadap keharmonisan keluarga. Konflik peran ganda memiliki hubungan terhadap keharmonisan keluarga sebesar 42,6% sedangkan 57,4% memiliki hubungan dari variabel-variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan konflik peran ganda ibu bekerja memiliki hubungan negatif dengan keharmonisan keluarga yang memiliki anak penyandang autis. Kata Kunci: konflik peran ganda, keharmonisan keluarga, ibu bekerja. ABSTRACT The presence of children with autism provides a challenge for the family, especially the mothers. It is related to parenting issues of children with autism that are not as easy to take care as children without a developmental disorder that takes the mothers 24 hours to look after their children with autism, which affects the mothers’ work period and rest time. It is, therefore, necessary to keep a harmonious relationship among family members to work well together in terms of child care. The objective of this study was to find out the relationship between the dual role conflict of working mothers and the harmony of family having children with autism in Banjarmasin and Banjarbaru. Subjects in this study were 30 working mothers who had children with autism. The method used in this study was a quantitative method. The results of data analysis using Spearman's rho correlation indicated that there was a significant relationship between dual role conflict and family harmony. The dual role conflict had a relationship with the family harmony by 42.6%, while the remaining 57.4% with other variables not examined in this study. Based on the results of the study, it can be concluded that the dual role conflict of working mothers possessed a negative relationshigffffvvvvvv    3p with the harmony of family having children with autism.  Keywords: dual role conflict, family harmony, working mothers
HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KONFORMITAS PADA REMAJA Mayara, Bismy Hafizha; Yuniarrahmah, Emma; Mayangsari, Marina Dwi
Jurnal Ecopsy Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Ecopsy : Jurnal Ilmu Psikologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v2i2.542

Abstract

Kepercayaan diri memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi konformitas. Adanya kepercayaan diri dalam diri seseorang membuatnya tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepercayaan diri dengan konformitas pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 1 Banjarmasin sebanyak 196 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala kepercayaan diri dan skala konformitas. Berdasarkan hasil korelasi pearson product moment diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan konformitas pada remaja. Kata Kunci: kepercayaan diri, konformitas, remaja Self-confidence has a relevant influence in conformity. Self-confidence in a person will make the person not easily influenced by others. The purpose of this study was to find out the relationship between self-confidence and conformity in adolescents. The method used in the study were quantitative reasearch method. The subjects were 196 eighth grade students of SMP Negeri 1 Banjarmasin, and the instruments used in the study were the scales of self-confidence and conformity. The results of pearson product moment correlation indicated that there was a significant relationship between self-confidence and conformity in adolescents. Keywords: self-confidence, conformity, adolescents
Pola asuh dan penalaran moral pada remaja yang sekolah di madrasah dan sekolah umum di Banjarmasin Emma Yuniarrahmah; Dwi Nur Rachmah
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 2 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i2.486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris tentang perbedaan penalaran moral remaja yang sekolah di madrasah dan sekolah umum. Selain itu juga ingin mengetahui pengaruh pola asuh terhadap penalaran moral remaja, serta perbedaan penalaran moral ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Subjek penelitian ini adalah remaja yang bersekolah di sekolah madrasah dan sekolah umum, yaitu sebanyak 253 orang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode skala, yaitu skala pola asuh dan skala penalaran moral. Skala pola asuh digunakan untuk mengetahui jenis pola asuh (pola asuh otoriter, permissif, dan otoritatif) yang diterapkan oleh orangtua terhadap subjek penelitian. Skala penalaran moral digunakan untuk mengetahui tingkatan penalaran moral subjek penelitian.  Teknik analisa data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik Independent Samples T Test dan teknik Analisis Regresi (Anareg) Linier Sederhana untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan penalaran moral antara remaja yang bersekolah di madrasah dan sekolah umum; (2) tidak ada pengaruh jenis pola asuh terhadap penalaran moral remaja; (3) tidak ada perbedaan penalaran moral antara remaja laki-laki dan perempuan; dan (4) tidak ada perbedaan penalaran moral berdasarkan usia, tingkat penalaran moral antara usia remaja awal dengan usia remaja tengah relatif sama. This research is aimed at empirically testing differences between moral reasoning of adolescent in Madrasah School and Public School. Besides that, this research is also attempting to identify influences of parenting towards moral reasoning of adolescent and its differences in terms of gender and age. Subject of this research is 253 adolescents who attend Madrasah School and Public School. This research uses quantitative method and the data will be collected using scale method, more specifically parenting scale and moral reasoning scale. Parenting scale will be utilized to identify parenting type (authoritarian, permissive, and authoritative parenting) applied by parents to research subject. Moral reasoning scale is utilized to identify subject’s moral reasoning level. This research uses Independent Samples T-Test and Simple Linear Regression Analysis to test the hypotheses. The results show that: (1) there are differences on moral reasoning between adolescent who attend Madrasah School and adolescent who attend Public School; (2) there is no influences on parenting type to moral reasoning of adolescent in those schools; (3) there is no differences on moral reasoning between male and female adolescents; and (4) there is no differences on moral reasoning based on age, moral reasoning level between early age adolescent and middle age adolescent is relatively equal.
Hubungan konflik peran ganda ibu bekerja dengan keharmonisan keluarga yang memiliki anak penyandang autis Erma Lidiya Rahnitusi; Sukma Noor Akbar; Emma Yuniarrahmah
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 2 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i2.2656

Abstract

ABSTRAK Kehadiran anak penyandang autis memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga, khususnya ibu. Hal ini berhubungan dengan masalah pengasuhan anak dengan gangguan autis tidak semudah mengasuh anak tanpa gangguan perkembangan yang menyebabkan ibu harus ekstra 24 jam mengawasi anaknya yang berpengaruh pada pekerjaan dan waktu istirahat ibu sehingga diperlukan hubungan harmonis antar keluarga untuk bekerjasama dengan baik dalam hal pengasuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konflik peran ganda ibu yang bekerja dengan keharmonisan keluarga yang memiliki anak penyandang autis di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 30 orang ibu bekerja yang memiliki anak penyandang autis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Hasil analisa data menggunakan korelasi tata jenjang Spearman’s rho yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari konflik peran ganda terhadap keharmonisan keluarga. Konflik peran ganda memiliki hubungan terhadap keharmonisan keluarga sebesar 42,6% sedangkan 57,4% memiliki hubungan dari variabel-variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan konflik peran ganda ibu bekerja memiliki hubungan negatif dengan keharmonisan keluarga yang memiliki anak penyandang autis. Kata Kunci: Konflik Peran Ganda, Keharmonisan Keluarga, Ibu Bekerja. ABSTRACT  The presence of children with autism provides a challenge for the family, especially the mothers. It is related to parenting issues of children with autism that are not as easy to take care as children without a developmental disorder that takes the mothers 24 hours to look after their children with autism, which affects the mothers’ work period and rest time. It is, therefore, necessary to keep a harmonious relationship among family members to work well together in terms of child care. The objective of this study was to find out the relationship between the dual role conflict of working mothers and the harmony of family having children with autism in Banjarmasin and Banjarbaru. Subjects in this study were 30 working mothers who had children with autism. The method used in this study was a quantitative method. The results of data analysis using Spearman's rho correlation indicated that there was a significant relationship between dual role conflict and family harmony. The dual role conflict had a relationship with the family harmony by 42.6%, while the remaining 57.4% with other variables not examined in this study. Based on the results of the study, it can be concluded that the dual role conflict of working mothers possessed a negative relationship with the harmony of family having children with autism.  Keywords: dual role conflict, family harmony, working mothers 
Hubungan antara regulasi emosi dengan hardiness pada atlet mahasiswa di Banjarbaru Ribka Charina Dawenan; Sukma Noor Akbar; Emma Yuniarrahmah
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 4 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.465 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i4.505

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan hardiness pada atlet mahasiswa di Banjarbaru. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif, sampel dalam penelitian ini adalah atlet mahasiswa pada cabang olahraga baseball dan softball sebanyak 47 orang yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala yang terdiri dari skala regulasi emosi dan skala hardiness. Berdasarkan hasil uji analisis korelasi product moment Pearson diketahui r = 0,397, yang berarti ada hubungan positif antara regulasi emosi dan hardiness pada atlet mahasiswa di banjarbaru. Sumbangan efektif regulasi emosi terhadap hardiness pada atlet mahasiswa di Banjarbaru sebesar 15,7%, sedangkan 84,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar regulasi emosi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan ada hubungan yang positif antara regulasi emosi dengan hardiness, sehingga semakin tinggi regulasi emosi maka semakin tinggi pula hardiness pada atlet mahasiswa di Banjarbaru. Kata kunci : Regulasi Emosi, Hardiness, Atlet Mahasiswa The purpose of the study was to find out the relationship between emotion regulation and hardiness in student athletes in Banjarbaru. The method used in the study was a quantitative research method. The samples were student athletes in baseball and softball as many as 47 persons taken with purposive sampling technique. The data were collected using emotion regulation scale and hardiness scale. The results of Pearson Product Moment correlation analysis indicated that r = 0.397, which meant that there was a positive relationship between emotion regulation and hardiness in student athletes in Banjarbaru. The effective contribution of hardiness to emotion regulation in student athletes in Banjarbaru was 15.7%, while 84.3% of it was influenced by other factors out of emotion regulation. It can be concluded that the higher the emotion regulation, the higher the hardiness in student athletes in Banjarbaru. Keywords : Emotion Regulation, Hardiness, Student Athlete
Hubungan kepercayaan diri dengan konformitas pada remaja Bismy Hafizha Mayara; Emma Yuniarrahmah; Marina Dwi Mayangsari
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 2 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.554 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i2.2652

Abstract

 ABSTRAKKepercayaan diri memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi konformitas. Adanya kepercayaan diri dalam diri seseorang membuatnya tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepercayaan diri dengan konformitas pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 1 Banjarmasin sebanyak 196 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala kepercayaan diri dan skala konformitas. Berdasarkan hasil korelasi pearson product moment diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan konformitas pada remaja. Kata Kunci: kepercayaan diri, konformitas, remaja ABSTRACT  Self-confidence has a relevant influence in conformity. Self-confidence in a person will make the person not easily influenced by others. The purpose of this study was to find out the relationship between self-confidence and conformity in adolescents. The method used in the study were quantitative reasearch method. The subjects were 196 eighth grade students of SMPNegeri 1 Banjarmasin, and the instruments used in the study were the scales of self-confidence and conformity. The results of pearson product moment correlation indicated that there was a significant relationship between self-confidence and conformity in adolescents. Keywords: self-confidence, conformity, adolescents 
Gambaran regulasi diri dan perilaku kenakalan seksual pada remaja di Batulicin Muhammad Yayan; Emma Yuniarrahmah; Hemy Heryati Anward
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 2 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.731 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i2.2653

Abstract

 ABSTRAKPerilaku kenakalan remaja di Indonesia cukup mengkhawatirkan dan harus segera ditangani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai  regulasi diri dan perilaku kenakalan seksual pada remaja di Batulicin. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Penggalian data dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan menggunakan tes grafis. Subjek penelitian tiga orang remaja yang bertempat tinggal di Batulicin, terdiri dari dua subjek laki-laki dan satu subjek perempuan. Penelitian menunjukan ketiga subjek memiliki regulasi diri tipe 2 yang merupakan proses jangka pendek menjauhi tujuan diri yang relevan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa subjek BA memiliki regulasi diri yang lebih baik dari subjek DK dan MK. Komponen regulasi diri masing-masing subjek secara garis besar ingin menentukan dirinya mencapai cita-cita yang diharapkan. Masing-masing subjek memiliki bentuk monitoring, instruksi, evaluasi dan pengenaan kontinjensi terhadap diri yang berbeda-beda. Bentuk perilaku kenakalan seksual yang dilakukan adalah berciuman, berpelukan, memegang daerah sensitif lawan jenis, dan  melakukan hubungan seksual. Kata Kunci: Regulasi Diri, Perilaku Kenakalan Seksual, Remaja ABSTRACTJuvenile delinquency behavior in Indonesia is quite alarming and needs to be immediately addressed. The purpose of this study was to obtain the description of self-regulation and sexual delinquency behavior in adolescents in Batulicin. A qualitative research method was used in the study, and data were collected using the techniques of interviews, observation, and graphics test. Subjects of the study were three adolescents who resided in Batulicin, two males and one female. The results indicated that the three subjects had self-regulation of type 2, which was a short-term process away from the relevant self-goal, and it was also found out that subject BA had better self-regulation than subjects DK and MK. The self-regulation component of each subject in general was that each of them wanted to define himself/herself to achieve the expected ideals. Each subject had different forms of monitoring, instruction, evaluation and imposition of self-contingency. The forms of sexual delinquency behavior they committed were kissing, hugging, holding the sensitive area of the opposite sex, and sexual intercourse. Keywords: Self-regulation, Sexual Delinquency, Behavior, Adolescent
Perbedaan regulasi diri dalam belajar pada siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di Banjarmasin Kharisma Adipura; Emma Yuniarrahmah; Sukma Noor Akbar
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 3 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.522 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i3.497

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian komparasi yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan regulasi diri dalam belajar berdasarkan perbedaan kelas dan jenis kelamin. Populasi penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banjarmasin dan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Banjarmasin yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala regulasi diri dalam belajar. Hasil analisis data menggunakan Anava dua jalur menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan regulasi diri dalam belajar pada siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler dan juga tidak ada perbedaan regulasi diri dalam belajar siswa berdasarkan jenis kelamin. 
Gambaran kenakalan berlalu lintas pada remaja dan faktor-faktor penyebab Abdi Irawan; Emma Yuniarrahmah; Hemy Heryati Anward
Jurnal Ecopsy Vol 2, No 3 (2015): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.128 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v2i3.1928

Abstract

Kenakalan berlalu lintas merupakan salah satu bentuk dari perilaku kenakalan remaja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku kenakalan berlalu lintas pada remaja di Batulicin dan faktor-faktor penyebabnya. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang remaja laki-laki yang merupakan pelaku kenakalan berlalu lintas di wilayah Batulicin. Teknik penggalian data pada penelitian ini adalah wawancara mendalam semi terstruktur dan observasi partisipasi pasif. Hasil analisis dari ketiga subjek, diperoleh kesimpulan bahwa gambaran berbagai bentuk kenakalan berlalu lintas yaitu: Tidak memiliki SIM, tidak membawa STNK saat berkendara, tidak menggunakan plat nomor kendaraan, tidak menggunakan helm saat berkendara, tidak memakai kaca spion kanan dan kiri, menggunakan knalpot bersuara nyaring, tidak mengaktifkan fungsi speedo meter, manuver berbahaya, melakukan pelecehan verbal atau perkataan kasar pada pengendara lain, balapan liar, mengebut, menerobos lampu merah, dan berkendara dalam keadaan mabuk. Pada ketiga subjek juga ditemukan faktor yang mempengaruhi kenakalan berlalu lintas yaitu, faktor internal yang meliputi, identitas diri yang negatif, kontrol diri yang rendah, usia awal melakukan kenakalan, jenis kelamin laki-laki, kepercayaan diri rendah, kestabilan emosi kurang, aktualisasi diri terhambat, tidak memiliki model yang baik, penyesuaian sosial yang kurang, perkembangan sosial kurang, dan kurangnya kelekatan pada orang tua,faktor eksternal meliputi, pengaruh teman sebaya yang negatif, prestasi sekolah yang rendah,  status sosial ekonomi menengah kebawah, peran orang tua yang buruk dan kualitas lingkungan sekitar yang buruk. Kata Kunci : Kenakalan, Lalu lintas, Remaja Road traffic delinquency is one form of juvenile delinquency. The purpose of this study was to describe the road traffic delinquency behavior in adolescents in Batulicin and the contributing factors. Subjects in this study were three teenagers who were the perpetrators of road traffic delinquency in Batulicin. Data were gathered through semi-structured in-depth interviews and observation of passive participation. It can be concluded from the results of the  analysis that there were some various types of road traffic delinquency, namely not having a driver's license, not carrying vehicle registration when driving, not using the license plate numbers, not wearing helmets while driving, not wearing the right and left rear-view mirrors, applying loud-voiced exhaust, not activating the Speedo meter, doing dangerous maneuvers, delivering verbal harassment or vulgarity on the other riders, wild racing, speeding, running a red light, and driving in a drunken state. There were some factors found in the three subjects that affected the road traffic delinquency. The first was the internal factors that included negative self-identity, low self-control, mischief in early age, male gender, low self-esteem, less emotional stability, hampered self-actualization, lack of good models, less social adjustment, less social development, and lack of attachment to parents. The second was the external factors including negative peer influences, low school performance, middle and lower socioeconomic status, poor parental role and poor quality of the surrounding environment. Keywords: Delinquency, Traffic, Adolescent
Pengaruh jejaring sosial terhadap kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Galuh Suari Aridarmaputri; Sukma Noor Akbar; Emma Yuniarrahmah
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 1 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.594 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i1.1937

Abstract

 Salah satu kebutuhan manusia adalah berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis untuk menjalin hubungan sosial. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan menuju  masa dewasa, melibatkan perubahan  biologis, kognitif dan sosial. Dorongan untuk berafiliasi muncul begitupula dengan remaja disebabkan karena sebagai makhluk sosial memiliki berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Berbagai sarana komunikasi yang dapat digunakan dalam berinteraksi, sarana komunikasi yang saat ini sedang trend di kalangan remaja adalah komunikasi dengan menggunakan jejaring sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jejaring sosial terhadap kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan sampel berjumlah 90 orang remaja berusia 18-21 tahun yang berasal dari mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Teknik sampling yang digunakan yaitu random sampling. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Jejaring Sosial, sedangkan variabel tergantungnya adalah Kebutuhan Afiliasi. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi polynominal dengan hasil rxy = 0,534, p > 0,05 hal menunjukkan tidak adanya pengaruh  antara jejaring sosial dengan kebutuhan afiliasi remaja di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Disarankan bagi remaja hendaknya menggunakan jejaring sosial  dengan cara yang tepat dan bijaksana sehingga membawa hal positif bagi perkembangan pribadi remaja. Kata kunci : Jejaring Sosial, Kebutuhan Afiliasi, Remaja One of human needs is to interact with people around him/her. Social interaction is a dynamic relationship to build social relationships. Adolescence is a developmental transition into adulthood, involving biological, cognitive and social changes. The impetus to build affiliation also appears in adolescents because as social beings they have a wide range of needs that must be met. The popular means of communication among adolescents that can be used to interact is the means of communication using social network. The objective of this study was to find out the effect of social network on the need for adolescence affiliation at Psychology Study Program of Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. This study was a quantitative study with a sample of 90 adolescents aged 18-21 years old, the students of Psychology Study Program, Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. The sampling technique was random sampling. The independent variable in this study was the Social Network, while the dependent variable was the Need of Affiliation. Data were analyzed using a polynominal regression with the results of rxy = 0.534, p > 0.05 indicating that there was no effect of social network on the need for adolescence affiliation at Psychology Study Program of Medical Faculty, Lambung Mangkurat University. It is suggested that adolescents should use social network in a right and wise way so as to bring positive effects on their personal development. Keywords: Social Network, Need For Affiliation, Adolescence