Yosef Purwoko
Department Of Physiology, Faculty Of Medicine Diponegoro University, 50275 Semarang, Indonesia

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERBANDINGAN RAWAT INAP ULANG PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK BERDASARKAN FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL KIRI Mega Femina Qurrati; Charles Limantoro; Ariosta Arisota; Andreas Arie Setiawan; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.551 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20938

Abstract

Latar belakang: Gagal Jantung Kronik (GJK) terkait dengan dampak kerugian besar pada kualitas hidup dan harapan hidup. Pada gagal jantung kiri, ventrikel kiri jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Terdapat dua jenis gangguan fungsi jantung kiri yaitu disfungsi sistolik dan disfungsi diastolik. Gagal jantung kronik sering mengakibatkan rawat inap berulang pada pasiennya dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Penyebab GJK secara pasti belum diketahui, tetapi secara umum dikenal berbagai faktor yang berperan penting terhadap timbulnya gagal jantung.                                                                                                  Tujuan: Mengetahui frekuensi rawat inap ulang pasien gagal jantung kronik berdasarkan HFpEF, HFmrEF,HFrEF, dan perbandingan rawat inap ulang pasien gagal jantung kronik berdasarkan fraksi ejeksi.                                                 Metode: Penelitian ini menggunakan metode Case-control. Subjek penelitian adalah pasien gagal jantung kronik yang telah menjalani pemeriksaan ekokardiografi di RSUP dr Kariadi Semarang.                                          Hasil: didapatkan 70 subjek dengan jumlah laki- laki 46 dan perempuan 24 dengan nilai tengah pada frekuensi rawat inap ulang HFpEF 1 kali , pada HFmrEF 1 kali, dan pada HFrEF 2 kali. Perbandingan rawat inap ulang pasien gagal jantung kronik tidak memperoleh hasil yamg signifikan dengan fraksi ejeksi (p>0,05).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara rawat inap ulang pasien gagal jantung kronik terhadap tipe fraksi ejeksi ventrikel kiri.
HUBUNGAN LAMA MENDERITA HIPERTIROIDISME SECARA KLINIS DENGAN KELINAN FUNGSI VENTRIKEL KIRI JANTUNG Yulian Indra Gunawan; Charles Limantoro; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.558 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18652

Abstract

Latar belakang: Disfungsi tiroid sudah umum ditemukan, prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Kelainan berupa hipertiroidisme di karakteristikkan dengan meningkatnya denyut nadi istirahat, volume darah, stroke volume, kontraktilitas miokard, fraksi ejeksi dan perubahan pada struktur ventrikel kiri jantung. Pada pasien dengan hipertiroidisme juga didapatkan kelemahan pada fungsi diastolik ventrikel kiri. Dalam jangka pendek, hipertiroidisme dihubungkan dengan peningkatan fungsi kontraktilitas ventrikel kiri. Hipertiroidisme yang terus menerus bisa menyebabkan meningkatnya risiko aritmia, remodeling dari miokardium, cardiac impairment yang dikarakteristikkan dengan cardiac output rendah, dan dilatasi dari ruangan jantung.Tujuan: Mengetahui hubungan antara lama menderita hipertiroidisme secara klinis dengan kelainain fungsi dari ventrikel kiri jantung, dan disfungsi ventrikel kiri apa yang lebih awal muncul.Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien hipertiroidisme yang telah menjalani pemeriksaan ekokardiografi di RSUP dr Kariadi Semarang. Dilakukan wawancara mengguanakan kuesioner kepada subjek untuk mengetahui lama menderita hipertiroidisme.Hasil: Didapatkan 21 subjek dengan jumlah laki – laki 8 dan perempuan 12 dengan rerata lama menderita hipertiroidisme 18±3 bulan. Hasil ekokardiografi menunjukkan hanya 6 subjek mengalami disfungsi sistolik, 11 subjek mengalami kelianan fungsi diastolik yang tidak dapat dinilai, 5 subjek mengalami disfungsi diastolik grade 1, dan 5 subjek mengalami disfungsi diastolik grade 2. Lama menderita hipertiroidisme secara klinis tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan disfungsi sistolik (p>0,05) dan kelainan disfungsi diastolik (p>0,05).Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara lama menderita hipertiroidisme dengan kelainan fungsi ventrikel kiri jantung. Disfungsi diastolik muncul lebih awal dari disfungsi sistolik.
PERBEDAAN FAKTOR RISIKO PENDERITA ADENOKARSINOMA PARU DENGAN MUTASI EGFR DAN NON MUTASI EGFR Felicia Angga Putriani; Fathur Nur Kholis; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.638 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23329

Abstract

Latar Belakang: Kanker paru merupakan penyakit keganasan dengan angka mortalitas tertinggi di dunia, yaitu sebesar 1.590.000 kematian di tahun 2012. Di Indonesia, kanker paru menempati peringkat ke-3 penyakit kanker terbanyak. Adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru dengan jumlah kejadian terbanyak, yaitu 40% dari seluruh kanker paru. Faktor risiko terjadinya kanker paru meliputi umur, merokok, terpapar oleh polusi udara di rumah atau tempat kerja, dan mempunyai riwayat keluarga dengan kanker paru. Kanker paru jenis adenokarsinoma sangat erat terkait dengan mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), yaitu 15-20% dari kasus adenokarsinoma paru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan mengambil data dari rekam medik pasien RSUP Dr. Kariadi Semarang yang didiagnosis adenokarsinoma paru. Data tersebut kemudian disusun dan dilakukan analisis statistik dengan uji chi-square dan uji regresi logistik terkait hubungan faktor risiko terhadap mutasi EGFR. Hasil: Dari 97 sampel penderita adenokarsinoma paru, didapatkan 36 subjek dengan mutasi EGFR (37,1%) dan 61 subjek non mutasi EGFR (62,9%). Terjadinya mutasi EGFR berhubungan dengan jenis kelamin perempuan (p = 0,009) dan non perokok (p = 0,028). Tidak ada hubungan bermakna antara mutasi EGFR dengan faktor umur (p = 0,667), paparan pekerjaan (p = 0,418), dan riwayat keluarga (p = 0,371). Dari uji multivariat, didapatkan hasil bahwa jenis kelamin perempuan merupakan faktor paling berisiko terhadap kejadian mutasi EGFR (p = 0,010). Simpulan: Terdapat perbedaan faktor risiko pada penderita adenokarsinoma paru dengan mutasi EGFR dan non mutasi EGFR. Kelompok dengan jenis kelamin perempuan dan non perokok lebih berisiko terhadap terjadinya adenokarsinoma paru dengan mutasi EGFR, sedangkan kelompok dengan jenis kelamin laki-laki dan perokok lebih berisiko terhadap terjadinya adenokarsinoma paru non mutasi EGFR.Kata Kunci : Adenokarsinoma paru, faktor risiko, mutasi EGFR
PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA Bellakusuma Nurdianningrum; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.243 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14255

Abstract

Latar belakang : Semakin tinggi usia harapan hidup suatu negara menyebabkan semakin banyak pula jumlah lansia yang ada di negara tersebut. Hal tersebut diikuti dengan tingginya masalah kesehatan yang ada pada lansia, salah satunya adalah gangguan tidur. Lebih dari setengah populasi lansia sering mengeluhkan adanya gangguan tidur di malam hari. Senam lansia merupakan salah satu contoh aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh WHO agar dapat dilakukan oleh lansia untuk memperbaiki kualitas tidurnya. Jenis senam lansia yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah Senam Lansia Menpora, Senam SKJ Lansia, Senam Lansia Tera, dan Senam Osteoporosis.Tujuan : Membandingkan kualitas tidur lansiayang rutin melakukan latihan senam lansia dan yang tidak rutin mengikuti latihan senam lansiaMetode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross-sectional). Sampel penelitian adalah 36 anggota kelompok Warga Lanjut Usia Nangka (WULANA) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara purposive sampling. Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Distribusi data diuji normalitasnya dengan uji Saphiro-Wilk. Uji hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kualitas tidur kelompok yang rutin dan tidak rutin melakukan senam lansia. Perbedaan dinyatakan bermakna jika p<0,05Hasil : Rerata nilai kualitas tidur pada kelompok lansia yang rutin mengikuti senam lansia adalah 2,78 ± 0,88, sedangkan rerata nilai kualitas tidur pada kelompok lansia yang tidak rutin mengikuti senam lansia adalah 6,00 ± 2,70. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut bermakna (p=0,000)Kesimpulan : Rerata nilai kualitas tidur pada kelompok yang rutin melakukan senam lansia lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang tidak rutin melakukan senam lansia.
THE EFFECT OF CLIMBING UP AND DOWNSTAIRS EXERCISE ON SHORT-TERM MEMORY AMONG YOUNG ADULTS (AGE 18-22) Raisa Dzata Adly S.K; Yosef Purwoko; Buwono Puruhito; Yuswo Supatmo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.381 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i4.27669

Abstract

Background: Short-term memory affects academic performance. Good memory function is one of the benefits of physical exercise. A sedentary lifestyle and physical inactivity lead people to do less exercise. Climbing up and downstairs is one form of practical physical exercise that can be easily done anywhere at any time and by anyone. Aim: To assess the effect of climbing up and down stairs exercise on short-term memory in young adults. Method: This research used Quasi-Experimental with pre-test and post-test non-equivalent group method. Subjects were medical students of the Faculty of Medicine, Diponegoro University (n=40) aged 18-22 years that meet the inclusion criteria. Subjects were divided into 2 groups, control group (CG) and exercise group (EG), each consisting of 20 people. The subject's short-term memory was assessed using the Scenery Picture Memory Test (SPMT). Statistical analysis with Shapiro-Wilk test, paired T-test, Wilcoxon, independent T-test, and Mann-Whitney. Result: There were significant improvements in short-term memory before and after climbing up and down stairs exercise on both exercise group (p=0.000) and control group (p=0.001). No difference in pre-test scores between groups (p=0.921), and a significant difference in post-test scores between groups (p=0.010). An Independent T-test was done on the delta of the pre-post test between groups and is significant (p=0.016). Conclusion: 6 weeks of climbing up and down stairs exercise improves short-term memory in young adults. A higher improvement was found in the exercise group.
DIFFERENCES OF PEAK EXPIRATION FLOW RATE (PEFR) BETWEEN BRISK WALKING AND HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING (HIIT) IN YOUNG ADULTS Vania Nazhara Fitriana; Yosef Purwoko; Sumardi Widodo; Tanjung Ayu Sumekar
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.109 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26568

Abstract

Background : Sedentary lifestyle makes people having less physical activities that may lead to the reduce lung function. Peak expiratory flow rate (PEFR) was used to measure lung function. High Intensity Interval Training (HIIT) is a high-intensity aerobic exercise, while brisk walking is an moderate-intensity aerobic exercise. The aim of this research is to determine the difference of PEFR between HIIT and brisk walking, that could depict lung function. Method : This research used quasi experimental with pre-test and post-test comparison group design. The samples were medical students at Diponegoro University, who had inclusion criteria and did not have exclusion criteria. This research used samples of 3 groups that contained of control group, HIIT, and brisk walking with 14 people in each group. Groups of HIIT and brisk walking got 3 times of intervention in each week, for 6 weeks. Measurement of PEFR was using Miniwright Peak Flow Meter. The normality of numerical scaled data was tested by using Saphiro-Wilk method, to find abnormal data that was tested by using Mann Whitney Method. Results : The average post-test of PEFR in HIIT was (397.14±33.738), while in brisk walking was (370.14±34.851), and in the control group was (327.78±29.271).  The increase in PEFR between the HIIT and the brisk walking group after statistical testing was p = 0.000 (p <0.005), which shows a significant difference. Conclusion: There is a significant difference in the PEFR between HIIT group and brisk walk in early adults that could describe a person's lung function.Keywords : Lung Function, PEFR, HIIT, Brisk walking.
PERBANDINGAN KETEBALAN INTIMA MEDIA ARTERI KAROTIS ANTARA PASIEN HIPERTENSI DENGAN DIABETES MELLITUS DAN TANPA DIABETES MELLITUS Mutiara Chairsabella; Charles Limantoro; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.682 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15497

Abstract

Latar belakang : WHO tahun 2014 menunjukkan bahwa 22% manusia dewasa memiliki hipertensi dan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat komplikasi hipertensi. Hipertensi merupakan faktor risiko aterosklerosis. Diabetes mellitus (DM) sering terjadi bersamaan dengan hipertensi. Individu dengan DM memiliki risiko penyakit aterosklerosis 2-4 kali lebih tinggi dari individu tanpa DM. Penilaian carotid intima-media thickness (CIMT) melalui ultrasound vaskular karotis dapat menilai aterosklerosis subklinis.Tujuan : Membandingkan rerata CIMT antara pasien hipertensi dengan DM dan tanpa DM.Metode : Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancang belah lintang yang menggunakan cara consecutive sampling. Sampel berjumlah 32 orang dan terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok I terdiri dari 16 orang dengan hipertensi tanpa DM dan kelompok II terdiri dari 16 orang hipertensi dengan DM. Rerata nilai CIMT dianalisa berdasarkan variabel usia, jenis kelamin, status dislipidemia, status obesitas, tingkat aktivitas fisik, riwayat merokok, dan status DM. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis.Hasil : Rerata CIMT kelompok hipertensi tanpa DM adalah 0,75±0,32 mm sedangkan pada kelompok hipertensi dengan DM adalah 0,95±0,43 mm. Total didapatkan 11 subjek dengan nilai CIMT abnormal (>0,9 mm). Uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan rerata CIMT berdasarkan status DM tidak signifikan. 68,8% subjek memiliki dislipidemia. Terdapat perbedaan rerata CIMT yang signifikan berdasarkan status dislipidemia. Tempat penelitian ini merupakan pelayanan kesehatan sekunder, sehingga beberapa subjek penelitian memiliki manifestasi penyakit aterosklerosisSimpulan : Perbedaan rerata CIMT berdasarkan status DM pada pasien hipertensi tidak signifikan.
PERBEDAAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA HIPERTENSI DENGAN DAN TANPA DIABETES MELLITUS Ashari Adi Abimantrana; Charles Limantoro; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.516 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14244

Abstract

Latar Belakang : Diabetes mellitus dapat memperburuk gangguan fungsi kognitif melalui mekanisme vaskular dan non vaskular.Tujuan : Menilai perbedaan fungsi kognitif pada lansia hipertensi dengan diabetes mellitus dan tanpa diabetes mellitusMetode : Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan desain belah lintang. dilaksanakan di poliklinik penyakit dalam dan instalasi rawat jalan geriatri RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret sampai bulan Mei 2016. Subjek penelitian adalah pasien lansia rawat jalan geriatri dan penyakit dalam dengan hipertensi (n=30). Subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan status diabetes mellitusnya. Status diabetes mellitus dan hipertensi diketahui dari catatan medik rawat jalan, sedangkan fungsi kognitif diukur dengan kuesioner Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina).Hasil : Hasil pemeriksaan fungsi kognitif yang dilakukan pada 30 subjek didapatkan rerata 23,80±2,27 pada kelompok lansia hipertensi tanpa DM dan 21,80±2,24 pada kelompok lansia hipertensi dengan DM (p=0,022). Domain kognitif yang terganggu pada kelompok lansia hipertensi dengan DM bila dibandingkan dengan kelompok hipertensi tanpa DM adalah domain delayed recall (p=0,009). Semua domain kognitif pada kelompok hipertensi tanpa DM lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok hipertensi dengan DM.Kesimpulan : Diabetes mellitus memperburuk fungsi kognitif, khususnya domain delayed recall pada lansia hipertensi.
PENGARUH LARI SEBAGAI OLAHRAGA AEROBIK INTENSITAS SEDANG TERHADAP ATENSI MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS DIPONEGORO Pho Denita Meiliani; Darmawati Ayu Indraswari; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.867 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18616

Abstract

Latar Belakang: Olahraga sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa olahraga juga dapat meningkatkan fungsi kognitif, salah satunya adalah atensi. Atensi memiliki peran yang penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam proses belajar seseorang.Tujuan: Membuktikan pengaruh lari sebagai olahraga aerobik intensitas sedang terhadap atensi.Metode: Penelitian ini bersifat kuasi eksperimental dengan menggunakan rancangan pre- dan post-test pada tiga kelompok yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswa FK Undip (n=45) yang terbagi atas kelompok kontrol, perlakuan lari 30 menit, dan 60 menit, lalu diberikan pretest, kemudian diberi perlakuan, setelah itu diberikan posttest. Atensi subjek sebelum dan sesudah perlakuan dianalisis menggunakan uji t berpasangan.Hasil: Dari 45 subjek penelitian, rerata hasil tes atensi setelah perlakuan lari 30 menit dan 60 menit menunjukkan adanya peningkatan pada semua jaringan atensi yaitu alerting, orienting, dan executive. Uji t berpasangan diperoleh hasil bermakna untuk kelompok perlakuan lari 30 menit yaitu alerting p=0,043, orienting p=0,049, dan executive p=0,027 dan tidak bermakna untuk kelompok perlakuan lari 60 menit yaitu alerting p=0,609, orienting p=0,364, dan executive p=0,157. Kesimpulan: Lari 30 menit sebagai olahraga aerobik intensitas sedang meningkatkan atensi mahasiswa. Hal ini kemungkinan karena adanya peningkatan aliran darah otak, stimulasi neurotropik otak, dan katekolamin plasma.
PENGARUH MEMORY TRAINING DENGAN APLIKASI MEMORADO TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK DIUKUR DENGAN SCENERT PICTURE MEMORY TEST Bianca Magdalena; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.822 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20757

Abstract

Latar Belakang : Memori adalah kemampuan otak manusia dalam mengkode, menyimpan, mempertahankan, dan mengingat kembali informasi atau pengalaman di masa lalu. Memori terbagi menjadi memori jangka panjang, memori menengah, dan memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah inisiasi dari memori yang lebih kompleks dan merupakan awal dari proses belajar dan pembentukan kepribadian. Memory training adalah aktivitas untuk melatih memori otak manusia. Memory training dilakukan dengan aplikasi Memorado yang dikembangkan oleh developer dari Jerman sebagai stimulasi pada memori jangka pendek. Scenery Picture Memory Test  dilakukan untuk mengetahui skor memori jangka pendek.Tujuan : Mengetahui pengaruh memory training dengan aplikasi Memorado terhadap memori jangka pendek diukur dengan Scenery Picture Memory Test.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain one group pre and post-test. Dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Subyek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran semester 6, berusia 18–23 tahun (n=23). Memori jangka pendek diukur dengan Scenery Picture Memory Test. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t berpasangan.Hasil : Rerata skor memori jangka pendek sebelum perlakuan memory training  adalah 12,79±4,27 dan sesudah perlakuan memory training dengan aplikasi Memorado meningkat menjadi 17,75±4,51. Peningkatan yang bermakna setelah uji t berpasangan dengan nilai p <0,001.Kesimpulan : Perlakuan memory training dengan aplikasi Memorado selama 30 hari dapat meningkatkan memori jangka pendek.