Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Perbandingan Sifat Drawability Material Kaleng Kemasan Biscuit dan Cat Tembok P. Y. M. Wibowo; Adi Ganda Putra
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 8 No 2 (2009): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol8no2.312

Abstract

Salah satu jenis sampah atau limbah yang banyak ditemukan disekeliling kita adalah kaleng bekas kemasan dari berbagai produk kemasan. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam pemanfaatan jenis sampah / limbah tersebut diantaranya adalah membentuk ulang untuk dijadikan suatu produk baru. Sifat drawability material merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pembentukan logam lembaran. Dengan mengambil sampel kaleng bekas kemasan dari produk biscuit dan cat tembok, dalam studi ini ingin membandingkan sifat drawability atas kedua jenis material tersebut dengan cara melakukan beberapa jenis pengujian terhadap sampel. Data yang diperoleh menunjukan bahwa pada material kaleng bekas kemasan biscuit memiliki kadar karbon sebesar 0,03826% dan memiliki r-value <1 yaitu sebesar 0,6 serta nilai LDR 2 yaitu sebesar 2,3. Sedangkan pada material kaleng bekas kemasan cat tembok memiliki kadar karbon sebesar 0,0318% dengan nilai r-value 1 yaitu sebesar 1,8454 serta LDR 2 yaitu sebesar 3,296. Berdasarkan data-data tersebut dapat dikatakan bahwa material kaleng bekas kemasan cat tembok memiliki sifat drawability yang lebih baik bila dibandingkan dengan material kaleng bekas kemasan biscuit.
Pengaruh Single dan Double Quenching pada Proses Pack Carburizing terhadap Sifat Mekanik Baja Paduan Karbon Rendah AISI 3115 Adi Ganda Putra
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 9 No 2 (2010): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol9no2.321

Abstract

Pack carburizing adalah proses pengerasan permukaan dengan cara mendifusikan atom karbon ke bagian permukaan logam sehingga diperoleh perubahan sifat mekanik diantaranya kekerasan, struktur mikro dan ketahanan aus. Penelitian proses pack carburizing dilakukan pada suhu pemanasan 900oC dan waktu penahanan 120 menit dengan proses guenching meliputi single dan double guenching. Kekerasan yang dihasilkan untuk single guench sebesar 324,6 Hv sedangkan kekerasan untuk double guench sebesar 381,4 Hv. Nilai keausan untuk single guench sebesar 0,62%, sedangkan untuk double guench mencapai 0,34%. Hasil struktur mikro menunjukkan adanya fasa martensit pada permukaan lapisan karburasi dengan kadar karbon mencapai 0,94%. Ketebalan lapisan untuk single guench adalah 85,5µm, temper single quench adalah 86µm, double quench adalah 87,45µm dan temper double quench adalah 88,5µm.
Analisa Kekuatan Sambungan Rivet Zig-Zag dan Inline dengan Plat Al 2024-T3 Dwinata, Brilliant; Putra, Adi Ganda; Riana, Fauziyya Hafizha
Syntax Idea Vol 3 No 7 (2021): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-idea.v3i7.1380

Abstract

Kualitas sambungan rivet berperan penting untuk menahan beban khususnya pada struktur badan pesawat. Umumnya terdapat dua pengaturan susunan rivet yakni zig-zag dan inline. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kekuatan kedua jenis sambungan rivet tersebut. Pengujian spesimen dilakukan dengan 2 cara, yakni pengujian secara riil yang mengacu pada standard EN ISO 12996:2013 tentang pengujian destruktif pada sambungan dan pengujian secara numerik menggunakan perangkat lunak Ansys 2020 R2. Dua spesimen uji tersebut masing-masing memiliki susunan rivet zig-zag dan inline dengan diameter rivet Ø 3,2 mm dan pelat Al 2024-T3 tebal 0,8 mm dan lebar 37 mm. Hasil pengujian Tarik menunjukkan bahwa susunan rivet zig-zag dapat menerima beban maksimum sebesar 6,01 kN sedangkan susunan rivet inline 5,73 kN. Sedangkan pengujian numerik menunjukkan bahwa tegangan maksimum ekuivalen von-Mises pada susunan rivet zig-zag sebesar 930,8 MPa sedangkan susunan rivet inline sebesar 865,1 MPa.
MICROSTRUCTURE AND HARDNESS PROFILE OF DISSIMILAR LAP JOINT OF TYPE 304 STAINLESS STEEL TO SS400 CARBON STEEL Herry Oktadinata; Adi Ganda Putra
Jurnal Metal Indonesia Vol 41, No 2 (2019): Metal Indonesia
Publisher : Balai Besar Logam dan Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.311 KB) | DOI: 10.32423/jmi.2019.v41.47-54

Abstract

Dissimilar metal welds between austenitic stainless steel and carbon steel are commonly used in oil and gas industries for certain reasons. The objective of this research is to asses the effect of filler metal and shielding gas on the microstructure and hardness of dissimilar lap joint of type 304 austenitic stainless steel to JIS SS400 low carbon steel. For the purpose of this investigation, the weldments were produced using flux-cored arc welding (FCAW). Three types of filler metals (E316L, E309L and E308L) and two different gas compositions (100%CO2 and 90%Ar+10%CO2) were selected to be used. Each of the weldments were analyzed on the microstructure characteristic and hardness profile of base metal (BM), heat affected zone (HAZ) and weld metal (WM) using optical microscope and microhardness Vickers. The metallographic examination revealed HAZ-SS400 contains martensites. Both HAZ-304 and WM show austenitic microstructure, with columnar and cellular sub-structures present at WM. The hardness profile of HAZ-304 is higher than BM-304, it may be attributed to the presence of the fine grains in HAZ-304 due to high temperature during welding. The hardness profile of WM-E309L exhibited the hardness from HAZ to WM tend to decrease linearly, while WM-E316L and WM-E308L showed the hardness from HAZ to WM also decreased but drastically dropped at fusion line (FL). The welds using E309L offer the best result in the point of view homogeneity of the hardness profile.
Analisa Kekuatan Sambungan Rivet Zig-Zag dan Inline dengan Plat Al 2024-T3 Brilliant Dwinata; Adi Ganda Putra; Fauziyya Hafizha Riana
Syntax Idea Vol 3 No 7 (2021): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v3i7.1380

Abstract

Kualitas sambungan rivet berperan penting untuk menahan beban khususnya pada struktur badan pesawat. Umumnya terdapat dua pengaturan susunan rivet yakni zig-zag dan inline. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kekuatan kedua jenis sambungan rivet tersebut. Pengujian spesimen dilakukan dengan 2 cara, yakni pengujian secara riil yang mengacu pada standard EN ISO 12996:2013 tentang pengujian destruktif pada sambungan dan pengujian secara numerik menggunakan perangkat lunak Ansys 2020 R2. Dua spesimen uji tersebut masing-masing memiliki susunan rivet zig-zag dan inline dengan diameter rivet Ø 3,2 mm dan pelat Al 2024-T3 tebal 0,8 mm dan lebar 37 mm. Hasil pengujian Tarik menunjukkan bahwa susunan rivet zig-zag dapat menerima beban maksimum sebesar 6,01 kN sedangkan susunan rivet inline 5,73 kN. Sedangkan pengujian numerik menunjukkan bahwa tegangan maksimum ekuivalen von-Mises pada susunan rivet zig-zag sebesar 930,8 MPa sedangkan susunan rivet inline sebesar 865,1 MPa.
Degradasi Lapisan Aluminida pada Paduan Intermetalik 2-Ti3Al / -TiAl Akibat Oksidasi Siklik Toto Saputra; Adi Ganda Putra
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 10 No. 2 (2008): OCTOBER 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Two-phase inter-metallic alloy 2-Ti3Al/-TiAl is developed to operated at high temperature in oxidative environment. However its oxidation rate can not be tolerated due to formation of TiO2 which is not protective. If the alloy is used in gas turbine that often have thermal cycle, it will cause cracking and flaking oxide crust. Coating is correct solution to improve properties of this alloy so that it can be used at high temperature. By enriching the material surface with significant amount of Al element there will be a formation of Al2O3 protective oxide. The method applied to get formation of Al2O3 is the pack cementation. This study discusses of characteristic coating and oxide crust formation at two-phase inter-metallic alloy of 2-Ti3Al/-TiAl from pack aluminizing process Abstract in Bahasa Indonesia; Paduan intermetalik dua fasa 2-Ti3Al/-TiAl dikembangkan untuk operasi temperature tinggi dalam lingkungan oksidatif. Namun laju oksidasinya tidak dapat ditolelir karena akan teroksidasi membentuk kerak oksida TiO2 yang tidak protektif. Pada Mesin turbin gas yang seringkali mengalami siklus thermal, dapat mengakibatkan peretakan (cracking) dan pengelupasan (spalling) kerak oksida. Coating merupakan solusi yang tepat agar paduan ini dapat digunakan pada temperature tinggi. Dengan memperkaya permukaan benda kerja dengan unsur Al sehingga material mampu membentuk kerak oksida protektif Al2O3 saat teroksidasi. Metoda pelapisan temperature tinggi yang sering diterapkan untuk keperluan ini adalah pack cementation. Studi ini membahas sebagian dari hasil pengujian oksidasi siklik. Khususnya pembahasan karakteristik coating dan kerak oksida yang terbentuk pada paduan intermetalik dua fasa 2-Ti3Al/-TiAl hasil pack aluminizing. Kata kunci: Coating, cyclic oxidation, pack aluminizing.
Peningkatan Kualitas Bahan Cylinder Liner Produk Lokal pada Sepeda Motor Empat Langkah Melalui Proses Nitriding Adi Ganda Putra; Toto Triantoro; Maman Suparman
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 16 No 2 (2017): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol16no2.42

Abstract

Cylinder liner merupakan komponen penting dari suatu mesin kendaraan bermotor, di mana komponen tersebut akan menentukan besarnya volume silinder dan unjuk kerja. Komposisi kimia material cylinder liner lokal, original dan spesial kompetisi (racing), mengacu berdasarkan standar ASTM A.159 yaitu spesifikasi standar untuk aplikasi besi cor kelabu pada automotif, tergolong grade 2500. Proses pengerasan permukaaan liquid nitriding pada permukaan material dasar komponen cylinder liner ini pada prinsipnya adalah dengan teknik yang sederhana yaitu dengan mencelupkan substrat ke dalam lelehan garam cair pada temperatur 580oC dengan variasi waktu selama 3 dan 9. Lapisan nitrida dengan waktu proses liquid nitriding 3 jam menghasilkan kekerasan permukaan sebesar 825 VHN, sedangkan waktu proses 9 menghasilkan kekerasan permukaan sebesar 733 VHN. Ketebalan optimum lapisan nitrida diperoleh dari hasil proses liquid nitriding dengan waktu 9 jam yaitu rata-rata 77 μm atau 0,077 mm (pengukuran berdasarkan struktur) atau sebesar 60 μm atau 0,06 mm (pengukuran berdasarkan DIN 50 190-3).
Analisa Kegagalan Bantalan Luncur (Bush) pada Poros Sepatu Rem Kereta Api Adi Ganda Putra; Pawawoi Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 10 No 2 (2011): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol10no2.182

Abstract

Bantalan Luncur (Bush) pada poros sepatu rem kereta api berfungsi membantu proses pengereman yang terjadi pada kereta api yang akan berhenti. Kegagalan bantalan luncur dalam membantu proses pengereman yang terjadi pada kereta api akan mengakibatkan kereta bisa tergelincir atau yang lebih fatal akan mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Kerusakan pada bantalan luncur ini terjadi karena adanya konsentrasi tegangan sehingga tegangan yang diterima melebihi kekuatan dari bantalan luncur. Akibatnya bantalan luncur mengalami patah. Tegangan yang terjadi akibat adanya konsentrasi tegangan sebesar 21,32 kgf/mm2 sedangkan tegangan yang diijinkan adalah 16,4 kgf/mm2 . Perbedaan yang besar ini menyebabkan terjadinya deformasi dan patah pada bantalan luncur. bentuk patahan yang terjadi berupa patah transgranular. Sehingga pada material bush yaitu patah transgranular .
Penggunaan Natrium Cloride (NaCl) sebagai Alternatif Bahan Pengganti Nikel Cloride (NiCl2) pada Proses Pelapisanan Nikel Adi Ganda Putra; Pawawoi Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 1 No 1 (2002): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol1no1.198

Abstract

Pelapisan nikel mengkilap (Bright Nikel Electroplating) merupakan salah satu pelapisan yang banyak dipakai di Industri-industri kecil baik berupa sebagai lapisan dasar maupun untuk lapisan akhir. Kendala utama yang dihadapi adalah bahan-bahan larutan yang relatif mahal dan keberadaannya di pasar yang terbatas. Salah satu bahan yang mahal adalah NiCl2 dengan penggunaanya yang relatif lebih besaar dibanding bahan yang lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dapat atau tidaknya digunakan NaCl sebagai bahan pengganti dari NiCI2 dengan menggunakan kondisi pelapsisan yang konstan (temperatur, rapat arus, dan pH semua konstan). Dari hasil penelitian didapatkan bahan NaCI dapat menggantikan NiCI, dengan melihat tampak rupa, ketebalan, kekerasan dan daya lekat dari lapisan. Dari tampak rupa lapisan kedua-duanya menghasilkan lapisan mengkilap dengan ketebalan yang hampir sama (±56,3 : 50,1 µm), kekerasan yang tidak jauh berbeda (534,3 : 518,8 HK) serta daya lekaat lapisan yang masksimal (tidak mengelupas).
Penelitian Pengaruh Arus Listrik pada Penyambungan AISI 1010 dan 304 dengan Teknik Spot Welding Adi Ganda Putra; Pawawoi; Muh. Lutfhi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 3 No 1 (2004): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol3no1.237

Abstract

Proses Ias titik (Spot Welding) merupakan salah satu jenis proses pengelasan tahanan listrik (Elektrik Resistance Welding), dimana pelat yang akan dilas dijepit pada tempat sambungan dengan menggunakan sepasang elektroda dan kemudian dialiri arus listrik yang besar dalam waktu yang singkat, proses pengelasan titik ini hanya dapat dilakukan untuk penyambungan pelat-pelat tipis. Baja karbon dan baja tahan karat (Stainless steel) sangat umum digunakan dalam, industri logam dan industri berat maupun ringan. Baja tahan karat sendiri memiliki sifat yang berbeda dengan baja karbon, sehingga apabila kedua material tersebut disambung dengan mengunakan las titik (spot welding) akan mengalami perubahan-perubahan metalurgi yang rumit, deformasi dan tegangan-tegangan termal. Karena perubahan tersebut maka dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimilikinya juga akan berubah. Perubahan yang terjadi dikarenakan adanya panas dari proses pengelasan tersebut, sehingga logam disekitar pengelasan mengalami siklus termal yang cepat. Salah satunya arus, arus las yang berlebihan akan menyebabkan pemanasan logam yang berlebihan dan menghasilkan dalamnya identasi, arus yang terlalu kecil dapat mengakibatkan benda kerja tidak mencair sebagian terutama pada daerah permukaan kontak antara benda kerja. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka kondisi pengelasan yang dianggap optimal adalah kondisi pengelasan pada kelompok A dengan arus pengelasan 3800 amper pada spesimen A1