Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Budaya Perawatan Payudara Ibu Nifas Pada Suku Konjo Di Kawasan Adat Ammatoa Kabupaten Bulukumba Sri Ningsih; sumarni sumarni; Dahlia Melandani
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 4 No. 1 (2022): Edisi May 2022
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v4i1.85

Abstract

Masyarakat di kawasan adat Ammatoa kajang masih sangat kental dengan budayanya sehingga ibu nifas di kawasan tersebut masih melakukan perawatan payudara secara tradisional yaitu dengan menggunakan dedaunan. Tujuan : Untuk mengetahui praktik budaya perawatan payudaraibu nifas di Suku Konjo di Kawasan Adat AmmatoaKabupaten Bulukumba. Metode : metode kualitatif dan menggunakan subjek peneliti adalah ibu nifas yang masih melakukan perawatan payudara. Pengumpulan data melalui obsevasi dan wawancara mendalam. Hasil : Tidak terdapat informan yang melakukan perawatan payudara secara medis atau modern di Suku Konjo. Seluruh informan masih melakukan perawatan payudara secara tradisional atau secara budayanya sendiri di Suku Konjo di Kawasan Adat Ammatoa. Kesimpulan : semua informan masih meggunakan cara tradisional menggunakan dedaunan namun hal ini dilakukan dengan cara yang kurang tepatseperti saat akan melakukan perawatan payudara informan hanya mencuci tangan tanpa menggunakan sabun dan setelah selesai perawatan payudara informan hanya membersihkan payudaranya dengan menggunakan air bersih saja tanpa menggunakan sabun.
Pengaruh Budaya Terhadap Kurangnya Penggunaan Alat Kontrasepsi Bagi Masyarakat Konjo Di Kawasan Adat Ammatoa Di Desa Tanah Toa Sri Ningsih; Antonius Ali Wutun; Erniawati Erniawati; Dian Saptawati
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 4 No. 2 (2022): Edisi November 2022
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v4i2.99

Abstract

Keluarga Berencana merupakan cara dalam memberikan ketahanan serta kesehatan dan keselamatan ibu, anak, dan keluarga perempuan. Saat menggunakan alat kontrasepsi, efek samping yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi harus diperhitungkan. Salah satu alasan untuk berhenti menggunakan alat kontrasepsi adalah karena efek sampingnya. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh budaya terhadap penggunaan kontrasepsi bagi masyarakat konjo di kawasan adat Ammatoa di Desa Tanah Toa. Jenis penelitian deskriptif dan pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat konjo di Kawasan Adat Ammatoa sebanyak 60 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian diperoleh bahwa ibu yang mendukung menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik sebanyak 18 responden (30%), dan sebaliknya ibu yang mendukung menggunakan alat kontrasepsi implant sebanyak 7 responden (12%), tidak mendukung penggunaan alat kontrasepsi 35 responden (58%). Terdapat pengaruh antara antara variabel bebas dan variabel terikat sebagaimana dari hasil uji Regresi Linear Sederhana menunjukkan bahwa nilai signifikansi yaitu 0,001.
BUDAYA PAMALI DALAM KEHAMILAN PADA SUKU ADAT AMMATOA KAJANG KAB. BULUKUMBA Riska Astianti; Sri Ningsih; Andi Asriany
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 5 No. 2 (2023): Edisi November 2023
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v5i2.115

Abstract

Latar Belakang Periode kehamilan adalah fase yang sangat penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan, karena perkembangan anak dipengaruhi oleh kondisi mereka selama masa janin di dalam kandungan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali budaya pamali yang terkait dengan kehamilan di kalangan suku Adat Ammatoa Kajang, Kabupaten Bulukumba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam (in-depht interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan dan keyakinan terhadap budaya pamali yang terkait dengan kehamilan masih sangat kental dalam Masyarakat suku Adat Ammatoa Kajang. Masyarakat ini menyakini bahwa budaya yang terkait dengan kehamilan dapat memberikan dampak positif dan menguntukngkan bagi ibu hamil dan Masyarakat secara keseluruhan. Mereka masih mematuhu tradisi-tradisi yang harus diikuti oleh ibu hamil selama kehamilan, serta menjauhi pantangan atau larangan yang harus dihindari oleh ibu hamil. Mereka meyakini bahwa melanggar pantanggan tersebut dapat berdampak negative bagi Kesehatan ibu dan perkembangan bayi yang dikandungnya. Simpulan dari penlitian ini adalah bahwa Masyarakat suku Adat Ammatoa Kajang memiliki budaya yang tetap kuat dalam merawat ibu hamil, termasuk dalam hal mengikuti kebiasaan-kebiasaan dan menghindari pantangan atau pamali dalam perilaku pola makan.
BUDAYA PENGASUHAN BAYI DAN BALITA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING ADAT AMMATOA KAJANG Sri Ningsih; Restu Yulia Hikma
Journal Of Midwifery And Nursing Studies Vol. 6 No. 1 (2024): Edisi Mei 2024
Publisher : Akademi Kebidanan Tahirah Al Baeti Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57170/jmns.v6i1.133

Abstract

Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Kejadian stunting dapat dipengaruhi oleh aspek perilaku, terutama pada pengasuhan yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita.Tujuan: untuk mengetahui bagaimana budaya pengasuhan bayi dan balita sebagai pencegahan stunting pada masyarakat Adat Ammatoa Kajang Kabupaten Bulukumba.Metode: penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (in-depth interview).Hasil: setiap kebiasaan yang masyarakat lakukan tidak lepas dari kebiasaan orang-orang terdahulu mereka. Dalam hal pengobatan bayi dan balita Masyarakat Ammatoa masih mengandalkan dukun (sanro). Mereka juga memanfaatkan tanaman herbal karena diyakini sangat baik untuk kesehatan maupun untuk perawatan bayi dan balita. Contoh kebiasaan atau perilaku yang mereka sering lakukan sesuai adat Ammatoa seperti Perawatan bayi di kajang bayi baru lahir tersebut belum bisa dimandikan, bayi bisa dimandi ketika tali pusatnya sudah kering/putus pemotongan ari-ari menggunakan bambu runcing, bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, pemberian ASI eksklusif, .Kesimpulan: masyarakat adat Ammatoa kajang memiliki budaya yang masih sangat kental terkait dengan budaya pengasuhan bayi dan balita khususnya dalam proses pencegahan stunting.
Managing Curriculum-Based ESL Assessment through the SACSA Framework: Evidence from Written and Oral Learner Performance Amalia Lakehu; Sri Ningsih
Bata Ilyas Educational Management Review Vol. 6 No. 1: January - June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/biemr.v6i1.3795

Abstract

This study assesses the written and oral performance of English as a Second Language (ESL) learners through the South Australian Curriculum Standards and Accountability (SACSA) framework. The assessment focuses on four language dimensions: Genre, Field, Tenor, and Mode. The data consist of one written personal recount produced by a primary-years student and one oral personal information report delivered by a middle-years student. This study uses a formative, performance-based assessment approach. Student evidence was matched with the descriptors of the SACSA ESL Scope and Scales to identify proficiency levels and instructional needs. The findings show that both students performed satisfactorily at Scale 3. They demonstrated a basic understanding of the assigned genres and could communicate simple information. However, both students still showed limitations in content elaboration, grammatical accuracy, vocabulary range, evaluative language, sentence variation, and tense consistency. The results indicate that the SACSA framework can help teachers diagnose language development more precisely. ESL instruction should strengthen scaffolding, explicit genre teaching, contextual vocabulary development, and timely formative feedback to support gradual improvement in written and oral communication.
Perception of Interdialectal Accommodation by Sellers and Buyers in Sasak: A Sociolinguistic Perspective Abdul Muhid; Sri Ningsih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4039

Abstract

This research focuses on the strategy of communication which was used by the speakers of two different dialects between meriaq-meriku vs meno-mene in Sasak language, especially amongst sellers-buyers in markets domain in central Lombok West Nusa Tenggara. The data were recorded at four markets where the speakers of two different dialects meet. This current result reveals the effective strategy in communication by accommodating each other (sellers-buyers). Further, it elucidates the accommodation pattern strategy in two different dialects which are commonly used by the sellers-buyers in doing transactions. The current researchers composed the data through the interview, direct observation, and recording or note-taking. The method used to reveal the phenomenon is a qualitative method and interpreted the data to meet the qualified result of research. Therefore, the result shows that applying inter-dialectal accommodation is effective. AbstrakPenelitian ini berfokus pada strategi komunikasi yang digunakan oleh penutur dua dialek yang berbeda antara meriaq-meriku vs meno-mene dalam bahasa Sasak, khususnya antara penjual-pembeli di ranah pasar di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Data tersebut direkam di empat pasar tempat bertemunya penutur dari dua dialek yang berbeda. Hasil saat ini mengungkapkan strategi yang efektif dalam komunikasi dengan saling mengakomodasi (penjual-pembeli). Selanjutnya diuraikan strategi pola akomodasi dalam dua dialek yang berbeda yang biasa digunakan oleh penjual-pembeli dalam melakukan transaksi. Peneliti saat ini menyusun data melalui wawancara, observasi langsung, dan pencatatan atau pencatatan. Metode yang digunakan untuk mengungkap fenomena tersebut adalah metode kualitatif dan menginterpretasikan data untuk memenuhi hasil penelitian yang memenuhi syarat. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan akomodasi antar dialek efektif.
Language, Power, and Health Literacy: A Critical Discourse Analysis of Health Communication at Community Health Centers Muh Kholiq; Sri Ningsih; Tri Budiarta
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.1418

Abstract

This study examines the role of language in public health practices at Community Health Centers (Puskesmas) in Depok City by integrating sociolinguistic perspectives, Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA), and the concept of health literacy. It aims to investigate how linguistic choices, power relations, and levels of health literacy shape the effectiveness of communication between healthcare professionals and patients. Employing a qualitative descriptive approach with a case study design, data were collected through observations of medical interactions, semi interviews with healthcare providers and patients, and document analysis of health communication materials, including posters, brochures, and official social media content. The findings reveal that the dominance of medical registers and institutional discourse structures reflects asymmetrical power relations that may hinder patient comprehension and participation. However, the use of linguistic accommodation strategies and simplified language significantly enhances patients’ health literacy and trust. These findings highlight the importance of a critical linguistic perspective in the development of inclusive and effective public health communication policies.
Midwifery Students' Perceptions of Utilizing Artificial Intelligence (AI) for English Language Learning (ELL) Sri Ningsih; Yafed Syufi; Amalia Lakehu
Elsya : Journal of English Language Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Elsya : Journal of English Language Studies
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/elsya.v7i1.22565

Abstract

While Artificial Intelligence (AI) is increasingly used in education, little research has focused on its role in specialized healthcare training, particularly in midwifery education. This study fills this gap by investigating midwifery students' perceptions of AI for English Language Learning (ELL) through three key factors: the perceiver (students' attitudes and motivations), the target (AI tool characteristics), and the situation (learning environment and support systems). Additionally, it examines whether parental background (education, occupation, and income) influences these perceptions. A quantitative survey of 48 students at an Indonesian midwifery academy revealed strong positive perceptions of AI (mean scores: P=4.23, T=3.95), with students appreciating AI's usability but calling for better institutional support. Statistical analysis showed no significant differences based on parental background, suggesting AI's potential for broad adoption across diverse socio-economic groups. These findings contribute to the literature on technology-enhanced language learning by demonstrating AI's viability in midwifery education. Furthermore, the study demonstrates the practical viability of integrating AI into specialized fields such as midwifery education, highlighting its role in fostering inclusive and accessible professional training. The findings offer practical insights for educators and policymakers, underscoring the importance of user-friendly AI tools, institutional preparedness, and equitable technology access. By aligning AI innovation with healthcare education, this study demonstrates AI’s transformative role in developing globally competent midwifery professionals.