Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ojhung di Atas Bukit: Budaya Magis Orang Madura Utara Raditya, Ardhie
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v4i1.6099

Abstract

Kehidupan orang-orang Madura Utara selama ini belum menjadi fokus perhatian arus utama dalam studi-studi akademik orang Madura. Sebagian besar peneliti Madura sering memandang ke arah selatan karena menjadi pusat kemajuan kota di pulau Madura. Tujuan penelitian ini mencoba mengungkap kekhasan budaya Madura Utara yang selama ini masih sangat terbatas dalam studi-studi akademik orang Madura. Salah satu budaya khas Madura Utara tersebut adalah pagelaran budaya ritual magis, yakni Ojhung Co’ Ghunong. Berdasarkan observasi terlibat yang dihimpun oleh peneliti menunjukkan bahwa Ojhung Co’ Ghunong adalah seni bertarung lelaki Madura Utara yang memainkan peranan penting bagi ritual magis dalam tradisi menurunkan hujan ketika musim kemarau panjang. Melalui kerja metode etnografi monografi, tersingkap kandungan nilai budaya kehidupan di antara Ojhung Co’ Ghunong. Budaya kehidupan ini tidak hanya berupa usaha menghidupkan lahan-lahan pertanian yang dilanda kekeringan, melainkan juga telah bertransformasi menjadi saluran pendidikan di antara orang-orang Madura Utara untuk menjaga dua kekuatan tubuh mereka, yakni tubuh material dan non material, agar menjadi lelaki Madura sejati.
PEMBENTUKAN PROVINSI MADURA DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN PUBLIK Tauran, Tauran; Rahaju, Tjitjik; Raditya, Ardhie; Pradana, Galih W.
CAKRAWALA Vol 11, No 1: Juni 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1467.366 KB) | DOI: 10.32781/cakrawala.v11i1.9

Abstract

Kajian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan wacana pembentukan Provinsi Madura berdasarkan pendekatan kebijakan publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan studi dokumentasi. Para informan penelitian meliputi para kepala daerah dan jajaran pimpinan di bawahnya, tokoh agama, kalangan akademisi dari dua kampus ternama di Madura (Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Madura), dan Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (P4M). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teknik analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana pembentukan provinsi Madura belum memenuhi berbagai persyaratan secara memadai. Baik persyaratan material kewilayahan, potensi anggaran, sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya alamnya. Selain itu, komitmen kelompok elit baik pemerintah dan tokoh masyarakat menindaklanjuti wacana provinsi Madura masih belum solid dan massif hingga menyentuh akar rumput. Sementara, pemerintah Jawa Timur yang dapat melakukan langkah normatifguna mendorong terbentuknya provinsi Madura masih menunggu berbagai persyaratan pembentukan daerah baru dilengkapi terlebih dahulu. Berbagai kondisi ini membuat pembentukan provinsi Madura tampaknya sulit diwujudkan dalam waktu dekat, kecuali terdapat gerakan terobosan dari berbagai pihak yang berkepentingan bagi masa depan Madura.
Minimizing Violence: A Good Practice Local Elite-Based in the Madura Island, Indonesia Daulay, Pardamean; Raditya, Ardhie; Afni Khafsoh, Nur
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2022.061-05

Abstract

The success of democracy in a nation is measured by the existence of a peaceful, civilised social life. In Indonesia, however, ornaments of violence are still present while resolving issues, as in Madura. This study tries to outline the underlying factors that lead to the formation of violence and pinpoint the function that local elites play in curbing the use of violence. The Galtung theory of violence is utilised in the investigational analysis. In order to analyse the data for this study, we used qualitative research, a case study procedure, and an integration strategy. The findings demonstrated that violence has permeated the Madurese culture. Internally passed down and socially sanctioned, it has been used to cope with a variety of life concerns, such as issues involving wives or women, misunderstandings, inheritance, land, religion or belief, theft, and debts and receivables. Because they have historically served as a point of reference in times of conflict, local elites such as Bhuppa/Bhâbu, Ghuru, Rato (parents, Kiai or the leader in the Islamic religion/teacher, and government) are crucial to the realisation of a culture of non-violence. The local elite’s necessary development of their function does not restrict but rather dampens and empowers, notably among the Bâjing. 
PEMBENTUKAN PROVINSI MADURA DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN PUBLIK Tauran, Tauran; Rahaju, Tjitjik; Raditya, Ardhie; Pradana, Galih W.
Cakrawala Vol. 11 No. 1: Juni 2017
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32781/cakrawala.v11i1.9

Abstract

Kajian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan wacana pembentukan Provinsi Madura berdasarkan pendekatan kebijakan publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan studi dokumentasi. Para informan penelitian meliputi para kepala daerah dan jajaran pimpinan di bawahnya, tokoh agama, kalangan akademisi dari dua kampus ternama di Madura (Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Madura), dan Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (P4M). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teknik analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana pembentukan provinsi Madura belum memenuhi berbagai persyaratan secara memadai. Baik persyaratan material kewilayahan, potensi anggaran, sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya alamnya. Selain itu, komitmen kelompok elit baik pemerintah dan tokoh masyarakat menindaklanjuti wacana provinsi Madura masih belum solid dan massif hingga menyentuh akar rumput. Sementara, pemerintah Jawa Timur yang dapat melakukan langkah normatifguna mendorong terbentuknya provinsi Madura masih menunggu berbagai persyaratan pembentukan daerah baru dilengkapi terlebih dahulu. Berbagai kondisi ini membuat pembentukan provinsi Madura tampaknya sulit diwujudkan dalam waktu dekat, kecuali terdapat gerakan terobosan dari berbagai pihak yang berkepentingan bagi masa depan Madura.