Mudzakkir, Moh
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Negosiasi Islam dan Budaya Lokal pada Terjemahan Novel “Kisah Seribu Satu Malam”: Sebuah Kajian Parateks rokib, muhammad; Mudzakkir, Moh
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 14 No 1 (2016): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.252 KB) | DOI: 10.24090/ibda.v14i1.621

Abstract

Alf Laylah wa Laylah novel (tales) translated as “The Arabian Nights” and “Kisah Seribu Satu Malam” is a popular literature in the world. Through the Antoine Galland translation in 1704 entitled Les mille et une nuits, the novel had translated as The Arabian Night and widespread to all over the world. In Indonesia, the Arabian Nights received great reception from the society. One of the empirical evidences from the reception is a Mizan publisher translation which was reached to nineteenth edition. Mizan has translated it by “Kisah Seribu Satu Malam” from the English edition. In 2004, the first volume had nineteen edition, while second has fifteen. These frequences of edition showed the Indonesian people interest to the novel. Through the paratext approach which scrutinizes text from the cover of novel include images, codes, symbols, text and combinated design, this paper argues that translated edition of Kisah Seribu Satu Malam has reflected local readers’ reception considering local culture. Within various covers design, there has been similar message on peaceful and humorous symbol of Indonesian Islam.
Partisipasi Politik Pemilih Pemula Etnis Minoritas Pasca Reformasi Fauzi, Agus Machfud; Legowo, Martinus; Maliha, Novi Fitia; Mudzakkir, Moh; Harianto, Sugeng; Raditya, Ardhie; Sudrajat, Arif
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v11i1.41030

Abstract

Muda-Mudi Budhayana Surabaya merupakan pemilih pemula yang mempunyai perhatian dan berpartisipasi terhadap Pemilu, biasanya kelompok minoritas tidak mempunyai kepedulian terhadap agenda politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap partisipasi kelompok minoritas dalam agenda pemilu paska era reformasi, ini juga untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya peduli terhadap dunia bisnis dan ekonomi, namun juga mempunyai perhatian dan berpartisipasi terhadap pemilu. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode campuran antara kuantitaf dan kualitatif, supaya lebih menghasilkan penelitian yang mendalam. Peneliti menggunakan teori voting behavior untuk menganalisis perilaku pemilih Muda-Mudi Budhayana, yaitu seperti apa saja perilaku mereka dalam dunia politik. Hasil penelitian menggambarkan bahwa perilaku politik mereka berpartisipasi aktif dalam pemilu dengan wawasan politik terbuka setelah dicabutnya Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967. Implikasi penelitian ini dalam dunia bisnis maka berpengaruh lebih bagus dalam menjalankan roda bisnis sebab ada kebebasan dalam menjalankan.
Penguatan Wawasan Kebangsaan Bagi Warga Negara Indonesia di Filipina Mudzakkir, Moh; Wisnu; Meirinawati; Rahaju, Tjitjik; Sitohang, Lidya Lestari; Sekardani, Puspita Sari; Marganda, Iman Pasu; Rohman, Abdur
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9 No 3 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v9i3.26183

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat wawasan kebangsaan warga negara Indonesia yang berada di Filipina, seiring meningkatnya keterlibatan warga negara Indonesia di Filipina. Dengan mengadakan kegiatan seminar dan lokakarya, pengabdian ini berfokus pada pemahaman identitas kebangsaan, budaya setempat, dan akses informasi bagi diaspora Indonesia di Filipina. Kegiatan dimulai dengan studi literatur dan analisis kebutuhan, yang memungkinkan identifikasi tantangan utama yang dihadapi oleh warga negara Indonesia di Filipina. Selanjutnya, dirancanglah program yang melibatkan berbagai kegiatan untuk mengatasi tantangan tersebut. Selain itu, melalui penyebaran berita dan artikel, proyek ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penguatan identitas kebangsaan di tengah diaspora. Kemudian, tahapan pelaksanaan mencakup pra-pelaksanaan, pelaksanaan kegiatan, pasca-pelaksanaan, serta evaluasi dan pelaporan. Proyek pengabdian ini berhasil memberikan dampak positif terhadap warga negara Indonesia di Filipina. Melalui rangkaian agenda pengabdian ini, para peserta mampu memperkuat rasa identitas dan nasionalisme mereka sebagai diaspora Indonesia. Luaran berupa artikel tentang diaspora Indonesia di Filipina juga telah dipublikasikan sebagai bahan referensi keberlanjutan program pengabdian di masa akan datang.
A decade of academic merit decline: policy and institutional practices in conferring honorary professorships at Indonesian universities (2014–2024) Chariro , Naimatul; Maler, Wani; Fitriana , Desy; Ikomatussuniah, Ikomatussuniah; Mudzakkir, Moh
Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol. 15 No. 3 (2025): December 2025
Publisher : Department of Government Studies, Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/6pb2y911

Abstract

This study examines the dynamics of policy and institutional practices in conferring honorary professorships in Indonesian higher education institutions from 2014 to 2024. Using  qualitative document analysis, it critically analyzes regulatory frameworks, institutional decision-making processes, and the competing institutional logics—drawing explicitly on the Institutional Logics Perspective—that shape the awarding of honorary professorships. The findings reveal a sharp rise in the conferral of honorary titles following the issuance of Ministry of Education and Culture Regulation No. 38/2021. However, the practice remains dominated by political rather than academic considerations, as most recipients are politicians or public officials, reflecting the influence of political and market logics over academic and professional standards. The study also highlights regulatory ambiguities and weak enforcement mechanisms that facilitate transactional practices and undermine institutional credibility, alongside persistent gender disparities marked by the limited representation of female recipients. The research argues for a critical reassessment of existing regulations and stronger, transparent, and academically grounded procedures. Its findings contribute to broader discussions on higher education governance in Indonesia and offer conceptual relevance for international debates on honorary titles, especially regarding tensions between academic integrity, institutional reputation, and political influence. The study calls for universities to balance public image considerations with academic merit to ensure that honorary professorships reflect genuine contributions to science, education, and society.