Sri Juwita
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan antara Kepercayaan Diri dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Mahasiswa Sri Juwita; Ivan Muhammad Agung; Rosy Rahmasari
Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.322 KB) | DOI: 10.21107/personifikasi.v2i2.712

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa. Partisipan berjumlah 166 mahasiswa Universitas Abdurrab Pekanbaru. Partisipan mengisi dua kuesioner, yaitu kepercayaan diri dan kecemasan berbicara di depan umum. Pengumpulan data menggunakan purposif sampling. Hasilnya menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan kecemasan berbicara di depan umum (r) = 0.461, p = 0.000 (p kurangdari 0.05). Implikasi hasil penelitian dibahas dalam artikel ini.
ILMU AMTSAL AL-QUR’AN Abdul Khair; M. Rifky Juliansyah; Nurul Hidayah; Sri Juwita; Akhmad Dasuki
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 11 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi November)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i11.1248

Abstract

The process of delivering information in teaching and learning becomes more engaging, effective, and efficient when expressed through beautiful and meaningful language. One of the strategies to achieve this is by using amtsal (parables). Amtsal in the Qur’an function as abstract visualizations conveyed through various forms of expression by analogizing one thing to another that is similar or comparable. An amtsal is an expression intended to resemble a situation described in a statement with the condition in which the statement is presented. It is used to demonstrate the quality of an outcome, clarify fundamental and abstract matters, and provide beneficial lessons for its audience. Its purpose is to convey truth and highlight the significance of the message it contains. In educational practice, the use of amtsal as a medium aims to build certain premises so that learners can formulate logical inferences (istinbāṭ) based on them.
Transformasi Pembelajaran PAI di Era Digital: Integrasi Media Sosial dan Literasi Spiritual Sri Juwita; Dina Bahriani Putri; Mona Alya Sausan; Laila Rahmi Hasanah; Indah Wigati; Fitri Oviyanti
Tarbiyah bil Qalam : Jurnal Pendidikan Agama dan Sains Vol. 9 No. 2 (2025): Vol IX Edisi II 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Bukhary Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi literasi spiritual siswa. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana media sosial dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan dampaknya terhadap penguatan literasi spiritual siswa melalui refleksi diri, pemaknaan kritis informasi digital, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam perilaku sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metodologi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, memanfaatkan literatur tahun 2021-2025 dari basis data akademik mencakup Google Scholar, Scopus, SINTA, dan Web of Science. Populasi penelitian mencakup seluruh literatur ilmiah terkait transformasi pembelajaran PAI di era digital, sedangkan sampel ditentukan melalui purposive sampling dengan kriteria inklusi spesifik termasuk verifikasi DOI. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi yang dianalisis melalui analisis konten dan analisis tematik. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa integrasi media sosial dalam pembelajaran PAI secara signifikan memperkuat literasi spiritual melalui tiga mekanisme: refleksi diri difasilitasi konten keagamaan interaktif, pemaknaan kritis informasi digital menggunakan prinsip tabayyun, dan internalisasi nilai ditransformasi menjadi perilaku digital etis melalui proyek berbasis media. Penelitian menyimpulkan bahwa transformasi PAI ke pembelajaran digital bukan sekadar adaptasi teknologi tetapi strategi komprehensif mengembangkan siswa Muslim yang berliterasi digital, memiliki kecerdasan spiritual kuat, dan mempraktikkan etika bermedia berbasis Islam. Tantangan tetap mencakup distraksi digital, validitas konten keagamaan, dan krisis moralitas digital. Peran guru sebagai fasilitator spiritual dan mentor digital sangat krusial untuk implementasi sukses.
MENELUSURI JEJAK PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H. AHMAD DAHLAN SEBAGAI FONDASI INOVASI PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI Asiana; Sri Juwita; Novrian Eka Safutra; Abu Mansur; Nurlaila
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Order
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36933

Abstract

This research examines the educational philosophy of K.H. Ahmad Dahlan and its role as a foundational reference for innovation in modern Islamic education. The study is motivated by contemporary issues in Islamic schooling, particularly the weakening of students’ character and the urgent need to harmonize religious teachings with modern scientific knowledge. The objective of this work is to explore Dahlan’s key educational principles, his instructional approaches, and their relevance in addressing present educational challenges. Employing a qualitative library research design, this study analyzes credible academic sources, including journal articles, books, and historical documentation. The results show that Dahlan highlighted the inseparability of religious and general sciences, promoted contextual interpretation of Qur’anic teachings, and emphasized character formation through exemplary conduct and real-life application of knowledge. His pedagogical strategies—such as contextual instruction, demonstration, and experiential learning—proved effective in developing students’ intellectual, ethical, and social competencies. The study concludes that Dahlan’s educational vision remains profoundly significant today, offering a holistic and adaptive framework that integrates cognitive growth, moral development, and social engagement. His ideas continue to provide a transformative model for Islamic education in responding to global changes while upholding essential moral and spiritual values.