Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kajian Teknik Pemotongan Umbi dan Penggunaan Giberelin untuk Produksi Bibit Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) dari Tunas Umbi Nurhalim; Megayani Sri Rahayu; Asep Setiawan
Buletin Agrohorti Vol. 10 No. 3 (2022): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v10i3.46445

Abstract

Stek pucuk dari hasil budidaya ubi jalar yang telah dipanen memiliki kualitas yang kurang baik apabila digunakan kembali sebagai sumber bibit. Akumulasi virus yang terjadi bisa mengakibatkan penurunan produktivias. Maka stek perlu diganti dengan sumber bibit baru dari tunas umbi. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bibit ubi jalar dari hasil penunasan umbi melalui penggunaan giberelin dan metode pemotongan umbi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktorial yang dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian menunjukan bahwa tunas umbi tumbuh dari setiap pemotongan umbi (pangkal, tengah, dan ujung). Bagian pangkal umbi memiliki persentase daya tumbuh lebih tinggi dibandingkan bagian tengah dan ujung. Interaksi perlakuan konsentrasi giberelin 5 ppm dan pemotongan umbi pada bagian ujung berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas umbi. Konsentrasi giberelin 5 ppm menghasilkan rata-rata jumlah bibit yang lebih banyak dibandingkan konsentrasi 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm, namun tidak berbeda nyata hasilnya dengan kontrol. Pemotongan umbi menjadi dua atau tiga bagian lebih efektif dalam memproduksi bibit ubi jalar melalui tunas umbi dibandingkan umbi yang tidak dipotong. Kata kunci: giberelin, stek, tunas, ubi jalar
Seleksi in Vitro Batang Bawah Jeruk Japansche Citroen pada Kondisi Cekaman Kekeringan Nyssa Azaria Dewani; Megayani Sri Rahayu
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46573

Abstract

Varietas batang bawah jeruk diharapkan dapat beradaptasi dengan baik dalam berbagai kondisi cekaman lingkungan. Seleksi in vitro menggunakan polietilen glikol (PEG) dapat digunakan untuk memperoleh individu dengan toleran terhadap kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan PEG sebagai agen penyeleksi terhadap pertumbuhan jeruk varietas Japansche Citroen pada kondisi cekaman kekeringan secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 1, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Penelitian dimulai pada bulan Desember 2019 hingga Februari 2021. Penelitian ini menggunakan metode rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal yaitu konsentrasi PEG dengan empat taraf: 0%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah daun, jumlah akar, dan tinggi eksplan batang bawah jeruk menurun sebagai respon terhadap penambahan 5–15% PEG. PEG tidak berpengaruh nyata terhadap persentase kontaminasi, persentase hidup eksplan, dan panjang akar. Kata kunci: fitotoksik, kontaminasi, polietilen glikol
Pengaruh Penambahan Ekstrak Buah Pisang dan Daun Kelor ke dalam media terhadap Pertumbuhan Embrio Kelapa (Cocos nucifera L.) secara In Vitro Setia Kurniawan; Megayani Sri Rahayu
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46590

Abstract

Kelapa merupakan komoditas penting di Indonesia maupun di dunia Internasional. Perbanyakan kelapa dapat dilakukan dengan pembiakan melalui metode kultur jaringan. Kultur embrio merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam kultur jaringan. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh penambahan ekstrak buah pisang dan daun kelor ke dalam media untuk perkecambahan kelapa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan 5 perlakuan, yaitu kontrol, penambahan ekstrak buah pisang 100 g L-1, ekstrak buah pisang 150 g L-1, ekstrak daun kelor 10 ml L-1, dan ekstrak daun kelor 20 ml L-1. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan kontrol memiliki hasil daya berkacambah paling tinggi namun tidak berbeda nyata terhadap waktu tumbuh dibanding perlakuan lainnya. Eksplan yang menghasilkan persentase akar dan plumula paling tinggi terdapat pada perlakuan kontrol namun tidak berbeda nyata dibanding pemberian ekstrak daun kelor 10 ml L-1. Pemberian ekstrak buah pisang ambon 100 g L-1 dan 150 g L-1 mengalami tingkat kematian dan browning paling tinggi. Pemberian ekstrak daun kelor 10 ml L-1 memiliki persentase panjang plumula paling tinggi pada 12 MST namun tidak berbeda nyata dibanding perlakuan kontrol dan pemberian ekstrak daun kelor 20 ml L-1. Kata kunci: cendawan, kultur embrio, kultur jaringan
Produksi Tanaman Cabai Tumpangsari dengan Tanaman Famili Brassicaceae di Cianjur, Jawa Barat Visasti , Khurul; Kartika, Juang Gema; Sri Rahayu , Megayani
Buletin Agrohorti Vol. 12 No. 3 (2024): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v12i3.54026

Abstract

Tumpang sari merupakan salah satu program intensifikasi pertanian yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari dapat meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan pendapatan petani, dan membagi risiko. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi tentang produksi cabai tumpang sari dengan tanaman dari keluarga Brassicaceae. Penelitian dilakukan di lahan petani di Cianjur, Jawa Barat, dari Januari hingga April 2020. Tumpangsari merupakan praktik yang mudah dilakukan oleh petani dengan menggunakan cabai dan tanaman Brassicaceae. Penelitian dilaksanakan mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen tanaman cabai, kubis dan sawi putih. Pengamatan meliputi waktu panen (MST), bobot hasil (kg), luas lahan (m²), dan analisis usaha tani. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan sawi putih memiliki bobot panen akhir yang lebih tinggi sebesar 16.458 ton ha-1 dibandingkan dengan cabai yang ditumpangsarikan dengan kubis yaitu sebesar 15.885 ton ha-1. Cabai yang ditumpangsarikan dengan sawi putih memiliki rasio R/C sebesar 3.20, sedangkan tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan kubis memiliki rasio R/C sebesar 3.21. Hal ini menunjukkan bahwa hasil kelayakan usaha tani di antara keduanya menguntungkan dan layak karena rasio R/C keduanya >1. Kata kunci: analisis usaha tani, evaluasi, hasil panen, R/C ratio
Study of Morphology and Growth of Alocasia spp. from Papua, Indonesia Daawia, Daawia; Kartika, Juang Gema; krisantini, krisantini; Rahayu, Megayani Sri; Asih, Ni Putu Sri; Matra, Deden D.; Suhartawan, Bambang
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 32 No. 2 (2025): March 2025
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.32.2.367-373

Abstract

Alocasia is a genus of perennial, flowering plants from Araceae, native to tropical and subtropical Asia and eastern Australia. The corms of some Alocasia species are edible, but many Alocasia species are cultivated as ornamentals. Despite the rich biodiversity of Alocasia, there have been limited studies on the morphology and anatomy of these genera. Our study aimed to describe the morphology and growth patterns of two Alocasia species found in Papua, one of the remote regions in Indonesia, A. brancifolia and A. lauterbachiana. The existence of A. lauterbachiana in Papua has never been reported before. The two Alocasia species can be distinguished by their distinct leaf shapes and colors. Alocasia brancifolia has pinnatifid leaves, while A. lauterbachiana has serrated leaves. The leaf of A. brancifolia is thin and predominantly green with faint spots, while the petioles exhibit stripes of brown and green, whereas A. lauterbachiana leaves are thicker and have darker green and reddish color. Due to their attractive leaf shape and colors, both species have the potential to be developed as ornamental potted plants. In terms of growth, A. lauterbachiana exhibited faster growth than A. brancifolia. However, A. brancifolia demonstrated a 50% increase in multiplication over the 16-week study period, while A. lauterbachiana primarily grew taller and larger. This information could prove valuable for future studies to optimize the growth and cultivation techniques of the two Alocasia species for commercial purposes, particularly ornamental foliage plants.
Identification of metabolites for biomarker of nitrogen and potassium use efficiency in oil palm Setiowati, Retno Diah; Sri Wening; Nuringtyas, Tri Rini; Rahayu, Megayani Sri; Sudarsono, Sudarsono
Menara Perkebunan Vol. 93 No. 1 (2025): 93(1), 2025
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v93i1.631

Abstract

Nutrient-use efficiency in oil palm is important for economic and environmental reasons. This research aimed to identify biomarkers to discriminate between tolerant and susceptible oil palms to potassium (K) and nitrogen (N) deficiency. A screening of oil palm materials for N or K use efficiency was conducted using an omission trial experiment, where only targeted nutrient was applied as treatment, while all other nutrients were applied as recommended. The treatment was performed in the main nursery for ten months to identify progenies with contrasting traits. Metabolite analysis was performed to identify specific metabolites as biomarkers for N-efficient and K-efficient palms. Samples taken from the roots of the contrasting progenies were treated with liquid nitrogen prior to grinding into a powder for liquid chromatography-high resolution mass spectrometry (LC-HRMS) analysis. The LC-HRMS analysis showed 277 metabolites from K and N treatments after data trimming, which were then analysed in MetaboAnalyst 6.0 for biomarker identification. The results showed that some metabolites were statistically significant. Metabolites identified in more than one analysis have a higher likelihood of being considered as biomarkers. In this experiment, we compared PLS-DA, sPLS-DA, and Random Forest. However, some identified metabolites were not to occur naturally in the treatment palms. Some amino acids and antioxidants were promising biomarkers to differentiate the N-deficiency-tolerant and K-deficiency-tolerant palms. Thus, the biomarkers facilitate the breeding scheme to create a nutrient-efficient palm planting material.
Studi Tahap Perkembangan Mikrospora dan Respon Pepaya Hermaprodit Kultivar Callina melalui Kultur Antera Halimah Widyaningrum; Darda Efendi; Diny Dinarti; Megayani Sri Rahayu
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.16.2.77-83

Abstract

Kultur antera merupakan teknik kultur in vitro yang menjanjikan dalam mendapatkan tanaman haploid dalam satu generasi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai tahap perkembangan mikrospora dan respon antera pada tiga ukuran bunga hermaprodit pepaya Callina pada medium induksi kalus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikroteknik dan Kultur Jaringan 3, IPB- Bogor, dari Juli hingga November 2022. Bahan tanam yang digunakan adalah antera dari tiga ukuran bunga hermaprodit pepaya kultivar Callina meliputi kecil (10-15 mm), sedang (16-20 mm) dan besar (21-25 mm). Medium kultur yang digunakan adalah medium MS dengan enam perlakuan ZPT yaitu empat perlakuan kombinasi (0.005, 0.01, 0,1 dan 0,5 mg L-1) CPPU dan (0.1 mg L-1) NAA; 0.1 mg L-1 BAP dan 0.1 mg L-1 NAA; serta 1.0 mg L-1 BAP dan 2.0 mg L-1 NAA. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor (stadia perkembangan mikrospora) dan 2 faktor (induksi kalus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga berukuran 10-15 mm memiliki persentase mikrospora uninucleate tertinggi (77.95%), merupakan ukuran yang responsif untuk menginduksi terbentuknya kalus dari antera. Perlakuan 0.5 mg L-1 CPPU dan 0.1 mg L-1 NAA menunjukkan persentase antera membentuk kalus tertinggi (40.4%). Sementara itu, ukuran bunga tidak berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati, tetapi pada ukuran bunga 10-15 mm menunjukkan persentase antera membentuk kalus paling banyak (13%).
Anatomi Daun dan Hubungannya terhadap Pertumbuhan Calathea sp. pada Berbagai Jenis Pupuk: The Anatomy of Leaves and Its Relationship to the Growth of Calathea sp. with Various Types of Fertilizers Ramdani, Adrian; Megayani Sri Rahayu; Krisantini
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.15.2.119-125

Abstract

Tanaman calathea memiliki potensi ekonomi sebagai tanaman hias daun karena mempunyai corak dan warna daun yang menarik. Penelitian tentang teknik budidaya perlu dilakukan untuk mendapatkan kualitas tanaman yang baik dengan cara budidaya yang efisien. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteranatomi daun dan mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan tanaman terhadap aplikasi pupuk yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2023 di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor. Faktor jenis pupuk meliputi empat taraf, yaitu: tanpa pemupukan (P0), pupuk kandang ayam (P1), pupuk slow release (P2), dan pupuk daun (P3), sedangkan faktor jenis calathea terdiri dari Calathea picturata var. Vandenheckei (S1) dan Calathea ornata var. Beauty Star (S2). Pemberian berbagai jenis pupuk tidak berpengaruh terhadap semua peubah yang diamati. Budidaya tanaman calathea tanpa menggunakan pupuk menjadi metode yang efisien. Calathea picturata var. Vandenheckei memiliki laju pertumbuhan tunas, tinggi tanaman, dan kerapatan stomata yang tinggi dibanding Calathea ornata var. Beauty Star. Tidak terdapat hubungan antara anatomi daun dengan laju pertumbuhan calathea akibat pemberian berbagai jenis pupuk. Kata kunci: bunga, tanaman hias, trikoma, tunas
Seleksi Pendonor Serbuk Sari Sifat Kuantitas Endosperma Skor Tinggi pada Kelapa dalam Kopyor Rahayu, Megayani Sri; Setiawan, Asep; Maskromo, Ismail; Purwito, Agus; Sudarsono, dan
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 47 No. 1 (2019): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.174 KB) | DOI: 10.24831/jai.v47i1.21116

Abstract

Endosperm quantity in kopyor coconut determines the quality of kopyor coconut. However, data of the best parental based on their progeny test is unavailable yet. In this study, we employed polycross approach and SSR molecular marker to estimate general combining ability of the best pollen contributor for the breeding purpose of this trait. Totally 151 kopyor coconuts were collected from the naturally open-pollinated population of kopyor Tall coconut Agom Lampung. The harvested nuts were rated for their endosperm quantity (scored 1-9). The analysis identified 31 paternal trees of the 53 progenies. The TJ-185 with the highest GCA has been considered as a promising paternal tree for development of high endosperm quantity of kopyor coconut.Keywords: combining ability, molecular marker, paternal trees, polycross, tall coconut
Regeneration of Raja (Musa AAB Group) and Kepok (Musa ABB Group) bananas on various stages of in vitro culture Nazihah, Shafira Puti; Rahayu, Megayani Sri; Armini Wiendi, Ni Made
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 51 No. 1 (2023): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.906 KB) | DOI: 10.24831/ija.v51i1.46196

Abstract

Banana group can be divided into two groups based on their method of its utilization. Banana group that can be eaten immediately after ripening is called "dessert banana", e.g., Raja, while the group that needs particular processing before consumption is called "plantain banana", e.g., Kepok. This study aimed to compare the growth of Raja banana with Kepok plantain through experiments at three stages of the in vitro culture media: the shoot initiation, shoot multiplication, and plantlet acclimatization, also to compare the growth of Raja bananas with Kepok plantains in response to cytokinins BAP and TDZ at shoot multiplication stage. Planting material was in the form of rhizomes that was prepared with the same size. The experiment was performed using a completely randomized design. Results showed that Kepok plantain could adapt faster to the media condition than Raja banana; the phenomenon was evident in the growing speed of Kepok during shoot initiation stage. The proportion of the B genome did not show a direct effect on shoot induction at the multiplication stage or enlargement and organ formation at the acclimatization stage. Shoot induction at the multiplication stage depended more on the composition of the media used. The combination of BAP 3 mg L-1 and TDZ 0.01 mg L-1 in MS media produced the best shoot induction rate, and TDZ 0.01 mg L-1 in MS media had the highest shoot elongation rate. Keywords: banana, BAP, genome, PGR, plantain, TDZ