Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Edukasi Penggunaan Obat Aman dan Rasional Berbasis Kimia Farmasi pada Siswa SMA Negeri 2 Binjai Rahma Yulia; Dea Anggraini; Muzakkir Muzakkir; Salman salman; Meutia Indriana; Desy Natalia Siahaan; Bunga Rimtam Barus
 Jurnal Abdi Masyarakat Multidisiplin Vol. 5 No. 01 (2026): April: JURNAL ABDI MASYARAKAT MULTIDISIPLIN
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jammu.v5i01.2977

Abstract

Kemudahan akses informasi obat melalui media sosial, iklan, keluarga, dan sumber digital perlu diimbangi dengan literasi obat yang memadai agar remaja mampu menggunakan obat secara aman dan rasional. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi awal mengenai penggunaan obat yang aman dan rasional, membiasakan siswa memperhatikan informasi dan aturan penggunaan obat, mengenalkan risiko penggunaan obat yang tidak tepat, serta mendorong sikap selektif terhadap sumber informasi obat. Kegiatan dilaksanakan pada 14 Oktober 2025 di SMA Negeri 2 Binjai dengan melibatkan 35 siswa. Metode yang digunakan berupa edukasi dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, observasi keterlibatan peserta, dan dokumentasi. Materi meliputi pengenalan obat dan zat aktif, dosis dan aturan pakai, label dan tanggal kedaluwarsa, penyimpanan, efek samping, penggunaan obat rasional, serta swamedikasi bertanggung jawab. Pendekatan kimia farmasi diterapkan menggunakan contoh obat yang familiar, seperti parasetamol, aspirin, CTM, dan antasida, untuk memperkenalkan hubungan sederhana antara zat aktif, struktur kimia, manfaat, risiko, dan aturan penggunaan. Hasil kegiatan menunjukkan keterlibatan peserta melalui perhatian, partisipasi dalam diskusi, serta pertanyaan mengenai aturan pakai, keamanan, efek samping, dan karakteristik zat aktif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan kimia farmasi dapat digunakan sebagai konteks edukatif yang komunikatif untuk menyampaikan literasi penggunaan obat kepada siswa SMA. Namun, karena evaluasi masih bersifat deskriptif dan tidak menggunakan pre-test dan post-test, hasil kegiatan belum dapat menunjukkan perubahan pengetahuan peserta secara kuantitatif. Kegiatan selanjutnya disarankan menggunakan instrumen evaluasi terstruktur untuk mengukur perubahan pemahaman dan literasi obat secara objektif.
Peningkatan Literasi Kesehatan Diabetes Melitus melalui Edukasi Penggunaan Obat Rasional dan Gaya Hidup Sehat di Puskesmas Langkat Yettrie Simarmata; Salman Salman; Meutia Indriana; Ika Julianti Tambunan; Fenny Hasanah; Sudewi Sudewi; Yessi Febriani
 Jurnal Abdi Masyarakat Multidisiplin Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus: JURNAL ABDI MASYARAKAT MULTIDISIPLIN
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jammu.v5i2.3031

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan literasi kesehatan yang memadai untuk mendukung penggunaan obat yang tepat, penerapan gaya hidup sehat, dan pencegahan komplikasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan peserta mengenai diabetes melitus melalui edukasi penggunaan obat yang rasional dan gaya hidup sehat di Puskesmas Langkat. Kegiatan menggunakan desain evaluasi one-group pre-test–post-test dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas pasien diabetes melitus, keluarga pasien, dan masyarakat berisiko diabetes. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan interaktif, pembagian leaflet, diskusi, dan simulasi membaca etiket obat. Pengetahuan dievaluasi menggunakan 10 pertanyaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 56,3 pada pre-test menjadi 84,7 pada post-test, dengan peningkatan sebesar 28,4 poin. Peserta dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 20,0% menjadi 80,0%, sedangkan kategori kurang menurun dari 50,0% menjadi 3,3%. Peningkatan terbesar ditemukan pada pengetahuan mengenai tanda hipoglikemia, kepatuhan penggunaan obat, larangan menghentikan obat tanpa konsultasi, serta komplikasi dan perawatan kaki. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test (p < 0,001). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi interaktif yang dikombinasikan dengan informasi praktis mengenai penggunaan obat dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai pengelolaan diabetes dan berpotensi mendukung kegiatan edukasi kesehatan di pelayanan kesehatan primer.