Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

UPCYCLE FAST FASHION IN THE ART OF BEAT STYLE Mutiasari, Mutiasari; Rahmanita, Nofi
JPBD (Jurnal Penelitian Busana dan Desain) Vol. 5 No. 2 (2025): September
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jpbd.v5i2.43320

Abstract

Perkembangan yang pesat terhadap industri fashion, terkhusus fast fashion, telah menimbulkan dampak negatif yang luas dan kompleks terhadap lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Fast fashion yang memproduksi berbagai model pakaian dalam waktu singkat menyebabkan peningkatan limbah tekstil dan tekanan terhadap sumber daya alam. Sebagai solusi berkelanjutan, konsep upcycle muncul sebagai upaya dengan mengubah bahan atau produk bekas menjadi produk baru bernilai tambah. Dalam pembuatan karya ini mengembangkan busana upcycle fast fashion yang dikombinasikan dengan kain wastra nusantara, yaitu batik motif durian dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, yang menggunakan pewarna alami seperti dari julit jengkol atau buah pinang dan menggunakan kain katun atau sutra. Teknik korsase sebagai salah satu bentuk fabric manipulation diterapkan dalam karya yang dibuat untuk mempercantik busana dengan ornamen bunga yang unik dengan bentuk bunga dari durian. Busana yang diwujudkan mengusung gaya Art of Beat dengan ciri khas warna cerah seperti biru muda dan coklat, serta desain yang berani dan kreatif. busana yang dihasilkan meliputi haute couture dengan siluet mermaid, yang sekaligus melestarikan warisan budaya dan menawarkan alternatif mode yang ramah lingkungan. KataKunci: upcycle, fast fashion, fabric manipulation,art of beat
THE ARASY TOWER AS AN INSPIRATION IN CONTEMPORARY FASHION Endangsari, Wella; Rahmanita, Nofi
Runtas: Jurnal Fesyen dan Wastra Nusantara Vol. 3 No. 2 (2025): Exploration of Batik Motifs and Technique
Publisher : Indonesian Institute of the Arts Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

My work entitled "Menara Gentala Arasy as a Source of Inspiration in Contemporary Fashion", is inspired by the architecture of the Gentala Arasy Tower and the Gentala Arasy Bridge by taking several forms and ornamens found on the tower and bridge such as the shape of a clock, ornamens on the tower and the architecture of the bridge in the form of motifs on clothing using sequin techniques that form the Gentala Arasy Bridge motif. Contemporary clothing that combines traditional nuances with futuristic elements through a combination of classic Jambi batik materials and modern american drill. The silhouette of this dress is dominated by wide, layered cuts on the sleeves, asymmetrical cuts, with tower and clock motif embroidery, giving a strong impression of local identity. In the middle there is a clock and tower motif made with a threadembroidered technique, reflecting the combination of time and architecture. The dark blue and orange colors provide a dynamic contrast, enhanced by the thread-embroidered motif on the sleeves. The choice of colors is directly inspired by the Gentala Arasy Tower, namely golden yellow, red, emerald blue, and black. The materials used are Satin Bridall, American Drill, and Batik Jambi. The creation method begins with preparation, namely conducting a field survey to find sources of ideas or themes, and formulating creative ideas to provide a better understanding of the form of work created and looking for literature or references related to the creative idea. The embodiment of the work uses the technique of connecting and boutique.   
Loempo Batik Motifs: Visual Semiotics, Cultural Identity, and Heritage In-novation Yanuarmi, Dini; Suryani, Rias Wita; Rahmanita, Nofi; Kasman, Selvi
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4914.392-404

Abstract

This study aims to analyze Loempo Batik motifs as cultural texts that reflect the intersection of Minangkabau tradition, local identity, and global visual culture. The research employs a qualitative case study approach with a triangulation technique combining interviews, visual documentation, and archival analysis. Data were collected through in-depth interviews with artisans, designers, community leaders, and consumers to obtain comprehensive perspectives. The data were then analyzed using semiotic and multimodal discourse analysis supported by Peirce’s sign theory and visual grammar. The results show that the Rumah Gadang motif serves as a cultural anchor symbolizing Minangkabau heritage; guardian figures such as dragons and Garuda illustrate curated hybridity; while exclusive motifs like Malereng represent forms of cultural resistance. The use of color also carries polysemous meanings that link adat, ecological awareness, and Islamic values. The study concludes that Loempo Batik embodies a model of heritage-based design innovation that balances identity preservation with creative economic development. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis motif Loempo Batik sebagai teks budaya yang merepresentasikan persinggungan antara tradisi Minangkabau, identitas lokal, dan budaya visual global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan teknik triangulasi yang memadukan wawancara, dokumentasi visual, serta analisis arsip. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perajin batik, desainer, tokoh masyarakat, dan konsumen untuk menggali persepsi dan makna budaya yang terkandung dalam motif Loempo Batik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika dan analisis wacana multimodal yang didukung oleh teori tanda Peirce dan tata bahasa visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Rumah Gadang berfungsi sebagai jangkar budaya yang menegaskan identitas Minangkabau; figur penjaga seperti naga dan Garuda menggambarkan hibriditas terkurasi; sedangkan motif eksklusif seperti Malereng mencerminkan bentuk resistensi budaya. Simbolisme warna juga mengandung makna polisemi yang menghubungkan nilai-nilai adat, ekologi, dan Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Loempo Batik merupakan model inovasi desain berbasis warisan budaya yang mampu menyeimbangkan pelestarian identitas dengan pengembangan ekonomi kreatif.