Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Diglosia

PENGGUNAAN GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN READING COMPREHENSION DI UNIVERSITAS DARMA PERSADA Yoga Pratama; Fridolini Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.697 KB)

Abstract

Kemajuan informasi dan teknologi telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan termasuk pendidikan. khususnya teknologi internet yang memberikan efek positif terhadap pendidikan khususnya dalam proses khususnya pembelajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris. Di masa lalu, pembelajaran membaca masih menggunakan metode konvensional seperti buku, modul, dan papan tulis, tetapi saat ini seiring dengan kemajuan zaman dosen dan mahasiswa dapat menggunakan teknologi multimedia interaktif seperti, smartphone, dan desktop computer yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, inovatif, kreatif dan interaktif. Dalam penelitian kualitatif ini penulis mencoba menganalisis teknologi baru yaitu google classroom sebagai solusi untuk masalah lama dalam pengajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris.Kata Kunci: mengajar, bahasa Inggris, membaca, google classroom, teknologi The Advances of information and technology have influenced many aspects of life including education. Especially the internet which has a very positive effect on education, especially in the process, especially reading comprehension in English. In the past, teaching Reading still used conventional methods such as books, modules, and blackboards, but nowadays in this digital era with the advancement of time lecturers and students can use interactive multimedia technologies such as smartphones and desktop computers that can make learning more effective, innovative, creative and interactive. In this qualitative study, the author tries to analyse the new technology, the Google classroom as a solution of the old problems in studying Reading comprehension.Keywords: teaching, English, Reading, Google classroom, technology
ILOKUSI DALAM FILM THOR: RAGNAROK Fridolini Fridolini; Rekha Ukrima Yagi
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia adalah makhluk sosial; mereka tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain. Bagaimana mereka berkomunikasi? Manusia dapat berkomunikasi dengan berbagai cara. Seperti dengan menggunakan bahasa, manusia dapat berinteraksi satu sama lain. Saat kita berinteraksi, kita bisa melakukan banyak hal mulai dari mencari konsonan, membuat klausa relatif, hingga menghina tamu. Ini adalah pra-teoretis, tindak tutur. Apa itu tindak tutur? Tindak tutur adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam proses ketika kita sedang berbicara. Penelitian ini berfokus untuk menemukan tindak tutur ilokusi yang tersirat dalam tuturan tokoh. Saya menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk menganalisis makalah ini dengan naskah film sebagai objek penelitian. Data yang saya kumpulkan dari dialog dari naskah film “Thor: Ragnarok”, dialog para tokoh ditandai sebagai dialog yang akan dianalisis dan diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis tindak ilokusi. Ada 14 data dengan perwakilan, 10 data direktif, kemudian ekspresif dan komisif dengan masing-masing 5 data dan deklaratif hanya 1 data. Total ada 35 tuturan yang mengandung tindak ilokusi. Jenis penelitian ini juga dapat tersirat dalam percakapan sehari-hari, misalnya ketika kita sedang berbicara dengan orang-orang, mereka tidak hanya mengucapkan beberapa kata, tetapi, dalam ucapannya, itu mungkin menyiratkan tindakan ilokusi berdasarkan konteksnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kita dapat mempelajari lebih dalam tentang tindak ilokusi dan konteks dialog melalui naskah film khususnya mahasiswa linguistik.Kata kunci: Bahasa, Berkomunikasi, Tutur, Ilokusi, KualitatifHumans are social creatures; they cannot live alone and always need other people. How do they interact? Humans can communicate in various ways. With a language, people can interact with each other. When we interact, we can do all sort of things from aspirating a consonant, to constructing a relative clause, to insulting a guest. These are a pre-theoretically, speech acts. What are speech acts? Speech act are an act done in the process while we are talking. This research focuses on finding illocutionary speech acts implied in characters’ utterance. I use the qualitative approach with descriptive method to analyze this term paper with the movie script as object of the research. I collected the data from the characters’ utterances from the movie script “Thor: Ragnarok”, the dialogues of the characters are marked as the dialogues that going to be analyzed and classified into the types of illocutionary act. There are 14 data with representatives, 10 data directives, then expressives and commissives with 5 data each and declaratives with only 1 data. In total there are 35 utterances that implied illocutionary acts. This type of study also can be implied in daily conversation, for example when we are having a conversation with people, they are not just uttered some word, but, in their utterance, it might imply an illocutionary act based on the context. The conclusion of this studies we are able to learn more about illocutionary acts and context of dialogue through movie script especially the students of linguistics.Keywords: Language, Communicate, Speech, Illocutionary, Qualitative 
STRATEGI KESANTUNAN POSITIF DIGUNAKAN OLEH ANAK KEMBAR DAN BINTANG TAMU DI VIDEO YOUTUBE KIDS MEET (2018-2020) Fridolini, Fridolini; Nida, Riska Shofwatun
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i2.4760

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi kesantunan positif dan faktor yang mempengaruhi penggunaan strategi kesantunan positif pada video Kids Meet yang digunakan oleh anak kembar, dan para bintang tamu di acara tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode kualitatif deskriptif dimana objek penelitiannya adalah 9 video Kids Meet di kanal YouTube HiHo Kids yang dibawakan pada tahun 2018 sampai 2020 oleh anak kembar. Data penelitian ini adalah ujaran anak kembar, dan para bintang tamu di video Kids Meet saat bercakap. Berdasarkan analisis, ditemukan ujaran anak kembar, dan para bintang tamu dari 9 video Kids Meet yang menggunakan strategi kesantunan positif, dan faktor yang mempengaruhi mereka menggunakan strategi kesantunan positif ada 3; yaitu faktor imbalan, faktor jarak sosial, dan faktor peringkat pembebanan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi kesantunan positif digunakan sebagai pembuka percakapan dengan seseorang ketika kita tidak ingin membuat kesan pertama yang buruk dan untuk meminimalisir jarak antar pembicara dengan lawan bicara dengan cara memuaskan keinginan lawan bicara untuk dihargai. Orang dewasa lebih sering menggunakan strategi kesantunan positif dalam sebuah percakapan dibandingkan anak-anak. Jarak usia yang cukup jauh dan juga perbedaan latar belakang profesi antara anak kembar dan juga para bintang tamu di Kids Meet tidak membatasi penggunaan strategi kesantunan pada ujaran mereka dalam bercakap. Kata Kunci: Pragmatik, Strategi Kesantunan, Kesantunan Positif, Ujaran, Acara Ragam Anak The objectives of this research are to analyse positive politeness strategies and the factors influencing the use of positive politeness strategies in the Kids Meet videos used by twins and the guests at the program. This research is conducted using a qualitative approach and descriptive qualitative method, and the object of research is 9 videos of Kids Meet on the HiHo Kids YouTube channel, which are presented from 2018 to 2020 by twins. The utterances of the twins and the guests in the Kids Meet videos while talking are used as data for this research. Based on the analysis, it is found utterances of twins and guests from 9 videos of Kids Meet used positive politeness strategies, and there are 3 factors influencing them to use positive politeness strategies; those are payoffs, social distance, and ranking of imposition. From this research, it can be concluded that positive politeness strategies are used as conversation starters with someone when we do not want to make a bad first impression and to minimize the distance between the speaker and the interlocutors by satisfying the interlocutor's desire to be appreciated. Adults use positive politeness strategies more often in a conversation than children. The considerable age gap and the difference in professional backgrounds between the twins and the guests on Kids Meet do not limit the use of politeness strategies in their utterances in conversation. Keywords: Pragmatics, Politeness Strategies, Positive Politeness, Utterances, Kids Variety Show.
REITERASI LEXICAL PADA LIRIK LAGU ARIANA GRANDE DALAM ALBUM “POSITIONS” 2020 Fridolini, Fridolini; Pratiwi, Anita Anjar
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i1.4598

Abstract

Kajian ini mendeskripsikan hubungan semantik yang dapat disebut kohesi antara konstruksi teks dan hubungannya dengan konstruksi lainnya. Ada dua jenis gabungan: kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi kosakata dapat dicapai dengan memilih kosakata. Tujuan pertama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis apa saja yang terkandung dalam lirik lagu Ariana Grande di album Positions. Tujuan kedua adalah untuk apa fungsi kohesi leksikal digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan lirik lagu Ariana Grande. Album ini berisi 14 lagu. Untuk melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan teori kohesi leksikal Halliday dan Hasan (1976). Ini termasuk pernyataan ulang (pengulangan kata, sinonim atau sinonim serupa, kata tingkat tinggi, dan pengulangan kata umum) dan kolokasi. Hasil penelitian ini menunjukkan deskripsi ulang semua jenis kohesi leksikal dan tidak menganalisis kolokasi leksikal dalam lirik album Position Ariana Grande. Selanjutnya, fungsi kohesi leksikal dalam restatement lirik lagu Ariana Grande adalah untuk mendeskripsikan, menekankan, memperkuat, dan menyumbangkan pesan kata-kata dengan makna yang saling terkait untuk mengartikulasikan lagu tersebut. Studi ini akan membantu pembaca dan penulis masa depan menganalisis kohesi leksikal Kata Kunci: Kohesi, Kohesi Leksikal, Reiterasi, Kolokasi, Lirik lagu 
ANALISIS WACANA KRITIS PIDATO PELANTIKAN JOE BIDEN VIS-À-VIS TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT Fridolini, Fridolini; Prasetio, Ade; Pratama, Yoga
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i1.5535

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemaknaan atas makna pidato yang disampaikan oleh setiap presiden yang berpotensi dipengaruhi oleh hal-hal subjektif yang dapat menimbulkan kegaduhan di suatu negara. Salah satu metode ilmiah yang digunakan untuk menemukan makna tersembunyi dari komentar tentang masalah sosial politik, kebijakan, dan gaya kepemimpinan adalah analisis wacana kritis. Dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Van Dijk pada Pidato Pelantikan Presiden Joe Biden, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kebijakan Amerika Serikat. Analisis tersebut menunjukkan secara ilmiah bahwa Presiden Joe Biden memprioritaskan pemulihan masalah domestik daripada masalah internasional, dengan rasio persentase 70 persen : 30 persen. Persatuan, keamanan dalam negeri, dan keseimbangan terhadap masalah demokrasi adalah masalah pertama yang harus diperbaiki, diikuti dengan masalah internasional. Dalam pidatonya, Joe Biden menggunakan sosiokognitif superstruktur untuk menunjukkan pendekatan humanistik. Selain itu, Presiden Joe Biden lebih sering menggunakan pengulangan dan aliterasi sebagai kiasan untuk menekankan pesannya daripada Barack Obama, dan gaya bahasanya lebih sistematis dan lugas. Kata kunci: Analisis Wacana Kritis, Van Dijk, Joe Biden; Barack Obama; PidatoThe aims of the research is undermined by an absorption of the meaning of speeches delivered by any president who is potentially influenced by subjective things that can trigger a nation's agitation. One of the scientific methods used to find the hidden meaning of comments on social-political issues, policies, and styles of leadership is critical discourse analysis. Using Van Dijk's Critical Wacana Analysis on President Joe Biden's Appointment Speech, this study aims to uncover US policy. The analysis demonstrates scientifically that President Joe Biden prioritizes the recovery of domestic problems over international problems, with a 70 percent to 30 percent ratio. Unity, domestic security, and the balance of issues of democracy are the first issues to be fixed, followed by international issues. In his speech, Joe Biden used superstructured sociocognitive to demonstrate a humanistic approach. Besides, President Joe Biden is more likely to use repetition and aliteration as a pretext to emphasize his message than Barack Obama, and his style of speech is more systematic and coherent. Keywords: Critical Discourse Analysis, Van Dijk, Joe Biden; Barack Obama; Speech;
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA DIALOG DALAM NOVEL THE KING’S CURSE KARYA PHILIPPA GREGORY Fitriani, Nurul; Pratama, Yoga; Fridolini, Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i2.5711

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, peran kita sebagai pengguna bahasa adalah hal yang tak bisa terlepas dari diri kita. Di segala lini kehidupan, kita membutuhkan bahasa guna berkomunikasi dengan orang lain: dengan keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, dan lainnya. Kajian pragmatik selalu tertarik dalam menggali lebih dalam mengenai fenomena penggunaan bahasa tersebut. Salah satu hal yang disorot dalam kajian ilmu ini adalah mengenai ujaran yang kita sampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam suatu percakapan. Artinya, kita tidak selamanya menyampaikan sesuatu secara terang-terangan, bahwa dalam konteks tertentu, terdapat maksud tersembunyi yang kita sisipkan dalam ujaran. Pragmatik menyebut hal itu dengan implikatur. Studi ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai penggunaan implikatur dalam suatu karya sastra. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Teknik pemercontohan bertujuan digunakan sebagai teknik pengumpulan data, dan data yang digunakan untuk analisis adalah ujaran yang disampaikan tokoh dalam novel. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam novel The King’s Curse, yang ditulis oleh Gregory, ditemukan dua jenis implikatur yang digunakan oleh para tokoh di novel ini. Jenis implikatur tersebut adalah implikatur percakapan umum dan khusus. Dua jenis itu digunakan secara berbeda, bergantung kepada konteks situasi tertentu yang melatarbelakangi percakapan yang dilakukan tokoh dalam novel ini.Kata kunci: konteks, implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, novel. In daily life, our role as language user is something that is inseparable. In every part of our life, we need language to help us communicating to other people: to your family, friends, neighbors, co-workers, and others. Pragmatics is always interested to dig deeper on the phenomenon of the language use in our daily conversation. One of the things highlighted in this linguistics branch is that how people, in fact, utter something both directly and indirectly in their conversation. It means that, we do not only say something straightforward, but, in some particular context, our hidden intention is being inserted in our utterance. Pragmatics calls it implicature. This study aims to give a comprehensive outline of the use of implicature found in a literary work. The study used qualitative approach, with content analysis method. The researchers used purposive sampling as the data collection technique, and the data used in this study are utterances of the characters found in the novel. The result of the study shows that in The King’s Curse novel written by Gregory, there are two types of implicature used by the characters of the novel. They are generalized and particularized conversational implicature. Both types are used differently, as there is particular situational context as the backstory.Keywords: context, generalized conversational implicature, particularized conversational implicature, novel.