Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

RESPON TINGGI TIPPING DAN UMUR PANEN TERHADAP PRODUKSI BENIH TANAMAN BAYAM ( Amaranthus tricolor L ) Insan Wijaya; Wiwit Widiarti; Imam Bukhori
AGRIBIOS Vol 11 No 2 (2013): NOPEMBER
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayam merupakan salah satu sayuran daun terpenting di Asia Afrika. Budidaya bayam untuk tujuan produksi benih merupakan alternative lain yang dapat meningkatkan pendapatan. Salah satu budidaya agar panen serempak adalah tipping pucuk dan umur panen yang tepat. Tujuan untuk mengetahui tinggi tipping yang sesuai, serta untuk mengetahui umur panen yang paling tepat digunakan diantara keduanya untuk meningkatkan produksi benih tanaman bayam.Penelitian dilaksanakan di Desa Jenggawah Kecamatan Jenggawah Jember dengan ketinggian tempat kurang lebih 60 meter diatas permukaan laut, jenis tanah regosol. Pelaksanaan penelitian berlangsung mulai September sampai Oktober 2012. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan 3 ulangan. Dengan perlakuan tinggi tipping yang terdiri dari 4 taraf, yaitu P0 = Tanpa Tipping, P1= Tipping pada batang utama setinggi 10 cm, P2 = Tipping pada batang utama setinggi 20 cm, P3 = Tipping pada batang utama setinggi 30 cm, Umur Panen U1 = Panen umur 50 hari setelah tanam, U2 = Panen umur 60 hari setelah tanam, U3 = Panen umur 70 hari setelah tanam, U4 = Panen umur 80 hari setelah tanam..Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1). Penggunaan Tipping 30 cm pada batang utama mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, (2). Pengunaan umur panen 60 hst mampu meningkatkan peningkatkan produksi benih tanaman bayam, (3). Penggunaan tipping 30 cm pada batang utama dan umur panen 60 hari setelah tanam mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.
Manajemen Nutrisi Si Dalam Peningkatan Pertumbuhan Dan Ketahananalami Tanaman Jagung (Zea Mays) Pada Berbagai Kondisi Media Tanah Bejo Soeroso; Insan Wijaya; Wiwit Widiarti; Iwan Wahyudi; Oktarina Oktarina
AGRITROP Vol 19, No 2 (2021): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agritrop.v19i2.5993

Abstract

Salah satu upaya peningkatan  produktivitas  tanaman jagung yang  ramah  lingkungan  yaitu dengan  manajemen nutrisi melalui unsure beneficial seperti  Silikon (Si). Unsur hara ini  mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen, menekan stress biotik dan abiotik. Peran silicon terhadap tanaman tersebut  sebanding dengan  tingkat  kandungan unsur tersebut di jaringan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui factor lingkungan media tumbuh yang berpengaruh terhadap terhadap tingkat serapan Si dan implikasinya terhadap pertumbuhan dan ketahanan alami tanaman. Metode yang akan dilaksanakan pada penelitian ini menggunakan rancangan lingkungan RAL faktorial dengan 3 ulangan dan dianailisis menggunakan Analysis of Variance (Anova) yang dilanjutkan dengan Uji duncant (DMRT) apabila terdapat beda nyata. Output dari penelitian yaitu informasi factor dominan media tanam yang mempengaruhi ketersediaan dan tingkat serapan Si tanaman jagung yang berimplikasi pada pertumbuhan dan  ketahanan alami jagung. Hasil penelitian bahwa Kandungan Si di jaringan daun meningkat sejalan dengan peningkatan dosis pupuk Si pada media yang cukup BO, Kahat P, dan Kelebihan N yang menyebabkan penurunan N di jaringan tanaman pada media tinggi N dan peningkatan P pada media yang kahat P, peningkatan kandungan Si dijaringan daun cenderung meningkatkan ketahanan alami tanaman terhadap hama dan penyakit.
PENGUJIAN BERBAGAI KONSENTRASI FERMENTASI LIMBAH AIR TAHU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays sacharataStrurt) Iskandar Umarie; Wiwit Widiarti; Desi Fitriyah Mustofa
AGRITROP Vol 16, No 1 (2018): Agritrop : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agr.v16i1.1555

Abstract

Ampas tahu cair merupakan hasil sampingan industri pembuatan tahu  yang  belum banyak dimanfaatkan,dengan kandungan protein,  kalori,  lemak, dan karbohidrat. Tujuan penelitian adalah Mengetahui pengaruh aplikasi fermentasi berbagai konsentrasi limbah air tahu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zeamays sacharata Strurt).Penelitian dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K), Desa Demung Kecamatan Besuki Situbondo. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei -September 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RancanganAcakKelompok (RAK) dengan 8 perlakuan, masing – masing diulang 4 kali.Perlakuan macam Fermentasi limbah air tahu:T0 : TanpaFermentasi, T1 : Fermentasi 5 %, T2 : Fermentasi 10%, T3 : Fermentasi 15%, T4 : Fermentasi 20%, T5 : Fermentasi 25%, T6 : Fermentasi 30%, T7 : Fermentasi 35 %.  Parameter yang diamati 1). Tinggitanaman, 2) Diameter Batang, 3).Diameter tongkol, 4).Berat per tongkol, 5).Berattongkol per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian Fermentasi limbah air tahutidakperbedaan nyata pada tinggi tanaman, diamter batang, dan diameter tongkol, tetapi berbeda nyata pada berat per tongkol dan berat tongkol per tanaman Jagung Manis.  Kesimpulan :Aplikasi berbagai konsentrasi fermentasi limbah tahumemberikanpertumbuhandanhasil yang optimum ditunjukanpada berat per tongkol dan berat tongkol per tanaman. Aplikasiberbagaikonsentrasi fermentasi limbah tahu pada tinggi tanaman, diameter batang, dan diameter tongkol belum menunjukkan pengaruh nyata. Pendugaanregresikuadratik, dosis optimum untuk mendapat berat per tongkol maksimum adalah19,502 ml/l dan dosis optimum untuk mendapat berat tongkol per tanaman maksimum adalah 28,066 ml/l.
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN KARAKTER FISIOLOGI TANAMAN KEDELAI PADA PENGOLAHAN LAHAN, PENGKLENTEKAN DAUN TEBU DAN PEMBERIAN PUPUK CAIR HUMAKOS PADA SISTEM TUMPANGSARI TEBU KEDELAI Wiwit Widiarti; Iftitah Azzahra
AGRITROP Vol 17, No 2 (2019): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agritrop.v17i2.2868

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan karakter fisiologi tanaman kedelai pada pengolahan lahan, pengklentekan daun tebu dan pemberian pupuk cair humakos pada sistem tumpang sari tebu kedelai. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember bertempat di Jalan Karimata, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Penelitian dimulai pada 10 Desember 2018 sampai 10 Maret 2019 dengan ketinggian tempat + 89 meter diatas permukaan laut (dpl). Rancangan yang digunakan adalah Split-Split Plot yang disusun dengan percobaan factorial terdiri dari tiga faktor yaitu Petak Utama, Pengolahan Lahan (L), sebagai Anak Petak, Pengklentekan Daun Tebu (P), dan sebagai Anak-Anak Petak, Pemberian Pupuk Cair Humakos (H), masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Variabel yang diamati : nisbah luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, luas daun spesifik, nilai kesetaraan lahan dan indek panen. Hasil penelitian menunjukkan pengolahan lahan (L) berbeda nyata pada variabel pengamatan luas daun spesifik dan tidak berbeda nyata pada semua variabel. Pengklentekan daun tebu (P) tidak berbeda nyata pada semua variabel. Pemberian pupuk cair humakos (H)  berbeda nyata pada variabel nilai kesetaraan lahan (nkl), dan tidak berbeda nyata pada semua variabel. Interaksi pengolahan lahan dan pengklentekan daun tebu (LxP) berbeda nyata pada variabel laju asimilasi bersih dan tidak berbeda nyata pada semua variabel. Interaksi pengolahan lahan dan pemberian pupuk cair humakos (LxH) berbeda nyata pada variabel luas daun spesifik dan indeks panen serta tidak berbeda nyata pada semua variabel. Interaksi pengklentekan daun tebu dan pemberian pupuk cair humakos (PxH) berbeda nyata pada variabel laju pertumbuhan tanaman, luas daun, dan tidak berbeda nyata pada semua variabel. Interaksi pengolahan lahan, pengklentekan daun tebu dan pemberian pupuk cair humakos (LxPxH) tidak berbeda nyata pada semua variabel pengamatan. 
Karakteristik Fisiologi Tanaman Kedelai pada Perlakuan Frekuensi Penyiangan dan Pengendalian Hama pada Tumpangsari Tebu-Kedelai Iskandar Umarie; Wiwit Widiarti; Oktarina Oktarina; Yoga Nurhadiansyah; Agus Budiawan
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.749 KB) | DOI: 10.37637/ab.v4i2.721

Abstract

Salah satu Penyebab rendahnya produktivitas kedelai petani adalah penerapan teknologi yang masih rendah, serta teknik budidaya dan pengendalian organisme pengganggu tanaman  yang tidak optimal. Cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui peningkatan produktivitas lahan yaitu dengan cara tumpangsari. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiangan dan pengendalian hama terhadap karakter fisiologi tanaman kedelai yang ditumpangsarikan dengan tebu. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember, dengan ketinggian tempat 89 meter di atas permukaan laut, mulai bulan Januari  sampai Juni 2020. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor Pertama adalah  Frekuensi Penyiangan Gulma, sebanyak 3 level, yaitu: P1: Penyiangan 1 kali,P2: Penyiangan 2 Kali, P3: Penyiangan 3 Kali,  dan faktor kedua adalah Pengendalian Hama sebanyak 4 level yaitu: H0 = Insektisida Kimia yang berbahan aktif Deltametri 25  yang berbahan aktif Deltametri 25  yang berbahan aktif Deltametri 25 dengan konsentrasi 1 ml/l, H1 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Tembakau dan Daun jarak dengan konsentrasi 2 ml/l,  H2 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Sirsak dengan konsentrasi 300 ml/l, H3 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Mimba dengan konsentrasi 100 ml/l.  Hasil penelitian menunjukkan Interaksi antara frekuensi penyiangan dan pengendalian hama yang terbaik adalah frekuensi penyiangan dua kali (15 hst dan 30 hst) dengan pengendalian hama insektisida nabati ekstrak  sirsak dengan konsentrasi 300 ml/l  dan pengendalian hama satu kali (15 hst) insektisida nabati ekstrak daun Mimba dengan konsentrasi 100 ml/l  merupakan kombinasi perlakuan terbaik.
Analysis of the Physiological Characteristics of Peanut Plants (Arachis hypogaea L) on the frequency of tillage and optimization of plant populations Iskandar Umarie; Wiwit Widiarti; Riska Rahayu; Ida Sugeng Suyani
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 20 No 2 (2022): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v20i2.3075

Abstract

Peanut production in Indonesia is still low and there has been a decline in peanut production over the last five years. The low production of peanuts in Indonesia is caused by, among other things, varieties, spacing, fertilization, and attacks of pests and diseases. This research was conducted in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Muhammadiyah University of Jember, Jember, East Java, Indonesia. The research was conducted in the form of a field experiment designed in a factorial split plot. Main plot is the frequency of tillage, the main plot is 3 levels, namely: No Tillage, T1: Minimum tillage, T2: Maximum tillage and subplots is population optimization with 3 levels, namely: P1: plant population 830,000 tons/ ha, P2: plant population 714,000 tan/ha, P3: plant population 625,000 tan/ha, each treatment was repeated 3 times. The results showed that the frequency of tillage in peanut plantations had a significant effect on the physiological character of peanut plants. Minimum tillage is the best tillage treatment because it has a significant effect on leaf area index and plant leaf area. Population optimization in peanut plantations has a significant effect on the physiological character of peanut plants. Populations of 830,000 tan/ha and 714,000 tan/ha were the best plant population treatments because they had an effect on plant growth rate and leaf area. The interaction of the frequency of tillage with the peanut population has a significant effect on the physiological character of the peanut plant. The interaction between minimum tillage and peanut population of 830,000 tan/ha was the best treatment combination because it had a significant effect on plant growth rate parameters.
Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentu, Mill.) Terhadap Pemberian Pupuk Kandang Sapi Dan Pupuk NPK Pada Tanah Entisol Dedi Kurniawan; Bagus Tripama; Wiwit Widiarti
National Multidisciplinary Sciences Vol. 1 No. 2 (2022): Proceeding SEMARTANI 1
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.286 KB) | DOI: 10.32528/nms.v1i2.67

Abstract

Tomat merupakan sayuran populer di Indonesia karena dapat mencegah berbagai macam penyakit. Kebutuhan tomat di Indonesia semakin meningkat, sementara produksi mengalami penurunan. Tanah entisol merupakan tanah berpasir yang miskin unsur hara, oleh karenanya harus ditambah pupuk kandang untuk meningkatkan kualitasnya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil tanaman tomat dengan pemberian pupuk kandang di tanah entisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pertana : pemberian pupuk kandang sapi dengan K0 (tanpa pupuk), K1:187,5g/tanaman, K2:375g/tanaman, K3:562,5g/tanaman, faktor kedua pupuk NPK; N0:tanpa pupuk, N1:3,75 g/tanaman, N2:7,5g/tanaman dan N3: 11,25g/tanamana. Hasil penelitian menujukkan bahwa pemberian pupuk kandang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat dengan dosis 562,5 g/tanaman (K3) sebagai dosis terbaik terhadap parameter jumlah cabang produktif, diameter batang, dan berat buah per tanaman, pemberian pupuk NPK berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat dengan dosis 7,5 g/tanaman (N2) dosis dan 11,25 gram/tanaman terbaik terhadap tinggi tanaman, diameter batang, interaksi dosis pupuk kandang sapi dan dosis pupuk NPK berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat dengan kombinasi perlakuan dosis pupuk kandang sapi 562,5 g/tanaman dan dosis pupuk NPK 0 g/tanaman (K3N0) sebagai dosis yang terbaik terhadap jumlah cabang produktif, diameter batang.
Effect Of Weeding and Pest Control on Root Dynamics of Soybean (Glycine max (L.) Merril) on Sugarcane-Soybean Intercropping System Iskandar Umarie; Wiwit Widiarti; Oktarina Oktarina; Ika Isnaini Rahayu; Muharromatul Hikmah
International Applied Science Vol. 1 No. 1 (2022): Proceedings of International Conference on Rural Development (ICRD) 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ias.v1i1.17

Abstract

Soybean (Glycine max (L.) Merill) is one of the important commodities in the provision of food, feed, and industrial materials, so it has become a major commodity in international trade. The need for global soybeans increases every year, along with population growth, improvement in per capita income, and the development of a food industry that is made from soybeans. This research was conducted in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Muhammadiyah University, Jember, Jember, East Java, Indonesia. The research was conducted in the form of factorial field experiments. The First Factor is F1: Weed Weeding Frequency, as many as 3 levels, yi: F1: Weeding once (15 hst), F2: Weeding 2 times (15, 30 hst), F3: Weeding 3 times (15, 30, and 45 days after) ) and and the second factor is Pest Control by 4 levels: I1 = Chemical Insecticide (Decis 25 EC), I2 = Vegetable Insecticide, I3 = Vegetable Insecticide Soursop Extract, I4 = Vegetable Insecticide of Neem Extract. The treatments above were arranged using a Complete Randomized Block Design (RCBD) which was repeated three times. The results of the study of weed frequency treatment significantly affected the growth of root nodules and the development of the roots of soybean plants. The best weed weeding frequency is weeding three times in one growing season. Treatment of pest control significantly affects the growth of root nodules and the development of the roots of soybean plants. The best pest control is pest control with chemical insecticides. The interaction of weed weeding frequency with pest control significantly influences the growth of root nodules and the root growth of soybean plants. The best interaction in this study is the interaction between the frequency of weeding three times sugar with pest control using chemical insecticides
Optimization Of Population And Concentration Of Liquid Organik Fertilizer On Growth And Production Of Sweet Corn (Zea mays saccharata Strut) Wiwit Widiarti; Iskandar Umarie; Insan Wijaya; Yohan Dita Nugroho
International Applied Science Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ias.v1i2.165

Abstract

: Sweet corn (Zea mays saccharata Strut) is a weel-known horticultural commodity and has been cultivated in various processed forms. Marked demand for sweet corn continues to increased, so market needs continue to grow and need to be maximized. This study aims to determine population optimization and concentration of liquid Organic fertilizer on the growth and production of sweet corn (Zea mays saccharata Strut). This study used a Factorial Randomized Block Design with 3 replications and consited of 2 factors. The first factor is population difference, P1:population 62,000 plant per hectare, P2: population 83,333 plant per hectare, P3:125,000 plant per hectare, while the second factor is concentration of liquid organic fertilizer, N1:without POC, N2:POC 45 ml/L, N3:POC 90 ml/L, N4:POC 135 ml/L. Differences in population significanly affected the parameters of plant height 42 DAP, stemp diameter 42 DAP, lenght of cob, diameter of cob, weight of cob. The best treatment of was obtained in the P1 treatment, which was 62,000 plant per hectare. NASA POC concentration significantly affected all parameters. The best treatment was obtained in the N4 treatment with a concentration ot 135 ml/L. The interaction between population differences and NASA POC concentration had a significant effect on the parameters of plant height at 42 DAP.
Efektivitas Pemangkasan Pucuk Dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus L.) Ayub, Mohammat Sholahudin Al Ayyubi; Oktarina, Oktarina; Widiarti, Wiwit
Callus: Journal of Agrotechnology Science Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/callus.v2i1.2073

Abstract

Produktivitas mentimun di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, namun luas panen mentimun di Indonesia cenderung menurun. Efektivitas Pemangkasan Pucuk dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.). 2 faktor dalam penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dalam 3 ulangan. Faktor yang pertama pemangkasan P0 (tanpa pemangkasan) P1 (pemangkasan menyisakan 4 ruas) P2 (pemangkasan menyisakan 6 ruas) P3 (pemangkasan menyisakan 8 ruas), dan faktor yang kedua jarak tanam J1 (60 cm×35 cm) J2 (60 cm×40 cm) J3 (60 cm×60 cm). Pemangkasan berpengaruh secara nyata terhadap semua parameter pengamatan kecuali panjang cabang mentimun 7 hst, 14 hst, 21 hst dan 28 hst, jumlah daun mentimun 28 hst, panjang buah mentimun dan berat mentimun per sampel. Perlakuan terbaik ada pada P3 (menyisakan 8 ruas). Jarak tanam berpengaruh secara nyata terhadap semua parameter pengamatan kecuali jumlah daun mentimun 21 hst dan berat mentimun per buah. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan J3 ( jarak tanam 60×60). Interaksi antara pemangkasan dan jarak tanam berbeda secara nyata terhadap semua parameter kecuali panjang cabang mentimun 7 hst, 14 hst, 21 hst dan 28 hst, panjang buah mentimun, berat mentimun per buah dan berat mentimun per plot.