Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMONEN DARI KULIT JERUK NIPIS DALAM PEMBUATAN LILIN AROMATIK PENOLAK SERANGGA Kartika, Kartika; Rizki, Fika Awalia; Amanatufahmi, Eva Hardiani; Lestari, Tyas; Sa’diah, Iis
Program Kreativitas Mahasiswa - Penelitian PKM-P 2014
Publisher : Ditlitabmas, Ditjen DIKTI, Kemdikbud RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.377 KB)

Abstract

One of untapped potentials of agro-wastes from the manufacture of lime juice squeezed lime juice (Jeniper) in Kuningan is lime peel. The waste is simply thrown away, whereas lime peel can be used or recycled into other products of economic value. A good way is to extract the compound limonene from citrus fruit peel, then limonene is mixed with paraffin to produce aromatic candle that has a variety of advantages such as an insect repellent, air freshener, and as aroma therapy. Aromatic candles from that recycling have a scent that is not too overpowering so it does not cause excessive VOC but remain optimal in the expulsion of insects. In addition, this candle has the same form as candles in general, so the wax remains affordable price if commercialized. This study aims to determine the amount of limonene extract concentration of lime peel that can produce aromatic candle insect repellent (repellen). This study uses experimental design with 4 complete treatment randomized design that is the addition of extracts of limonene 0%, 0.3%, 0.4%, and 0.5%. Subjects were Periplaneta americanus and 15 panellists. The data were then analyzed with One-Way Analysis of Variances (ANOVA) or analysis of variance. Hedonic test results of 15 aromatic candles panellists are as follows: The panellists liked the resulting aromatic candles. In the repellence test there were significant differences between the wax concentration 0%, 0.3%, 0.4% and 0.5%. Wax containing limonene as much as 0.5% have a higher effectiveness in repel insects (repellent) in this case cockroaches. Keywords:  Lime peel, Limonene, Aromatic candles, Repellent
KARAKTERISTIK KEFIR DENGAN PENAMBAHAN PUREE UMBI GEMBILI Kartika, Kartika; Rahayuningsih, Mulyorini; Setyaningsih, Dwi
EDUFORTECH Vol 4, No 2
Publisher : Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri, UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edufortech.v4i2.19372

Abstract

Kefir merupakan produk susu yang beraroma asam, alkoholik, karbonat, dan dibuat melalui proses fermentasi menggunakan mikroba bakteria dan yeast. Kefir merupakan probiotik alami yang mengandung bakteri hidup yang dapat memberikan efek menyehatkan bagi tubuh manusia apabila dikonsumsi. Umbi gembili mengandung inulin yang dapat dimanfaatkan sebagai prebiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan puree gembili dan waktu fermentasi pada nilai pH, total asam tertitrasi, total gula dan gula pereduksi, serta pertumbuhan bakteri asam laktat dan khamir pada kefir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan analisis data deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penambahan puree gembili sebanyak 4% dapat menurunkan nilai pH, meningkatkan total asam tertitrasi, meningkatkan total gula dan gula pereduksi, serta meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat dan khamir dibandingkan kefir kontrol. Lama waktu fermentasi kefir puree gembili terbaik adalah selama 24 jam dengan nilai pH 4,17; total asam tertitrasi 0,64%; bakteri asam laktat 8,991 log CFU/ml dan khamir 8,579 log CFU/ml.
STRATEGI DAN OPERASIONAL PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN RUMPUT LAUT DI INDONESIA Kartika, Kartika
EDUFORTECH Vol 5, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri, UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edufortech.v5i1.23921

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas strategis dalam bidang kelautan Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia dan DKP, potensi pengembangan agroindustri rumput laut di Indonesia sangat besar. Namun pengembangan agroindustri rumput laut ini masih banyak memiliki kendala seperti, kualitas rumput laut yang dihasilkan rendah dan tidak seragam, harga rumput laut yang tidak stabil, dan menghasilkan limbah yang besar dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, dibuatlah konsep pengembangan klaster agroindustri rumput laut berkelanjutan yang merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan daya saing rumput laut secara berkelanjutan, sekaligus upaya dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi industri rumput laut Indonesia selama ini.
PRODUKSI DAN DAYA TERIMA SELAI MARKISA UNGU Kartika, Kartika; Herdiana, Herdiana
EDUFORTECH Vol 7, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri, UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edufortech.v7i1.44976

Abstract

Pemanfaatan buah menjadi produk selai mampu mendatangkan keuntungan yang besar. Markisa ungu (purple passion) dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan selai. Hal ini dikarenakan pasokan bahan baku yang melimpah serta belum adanya pengembangan terhadap produk selai markisa ungu. Selain itu, jenis markisa ini memiliki harga yang cukup terjangkau dan mampu berbuah tanpa kenal musim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan komposisi perbandingan sari markisa, gula, pektin terhadap karakteristik selai markisa ungu pada aspek warna, aroma, rasa dan tekstur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimental. Penelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu tahap pertama dilakukan dengan membuat selai markisa ungu, sedangkan penelitian yang kedua adalah penelitian uji kesukaan dengan perbandingan formulasi selai yang di bedakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perbandingan sari markisa, gula dan pektin berpengaruh nyata terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur selai markisa ungu. Pembuatan selai markisa ungu dengan formulasi 1 (perbandingan sari markisa: gula: pektin 0,5: 0,75: 1) merupakan formulasi yang paling disukai panelis berdasarkan hasil uji hedonik dari aspek warna, aroma, dan rasa. Untuk aspek tekstur panelis lebih menyukai formulasi perbandingan sari markisa 0,75. Secara keseluruhan formulasi 1 lebih dominan disukai panelis daripada formulasi lainnya. Dengan demikian formulasi 1 lebih berpotensi dijadikan formulasi yang tepat dalam pembuatan selai markisa ungu.
Pengaruh Teknik Blansir Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Dalam Saus Cabai Kartika; Irma Kusumastuti
Jurnal Fakultas Teknik Kuningan Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Fakultas Teknik UNISA Kuningan
Publisher : Jurnal Fakultas Teknik Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas yang mudah sekali mengalami kerusakan serta harganya akan mengalami penurunan drastis saat panen raya karena jumlahnya yang melimpah. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pengolahan cabai merah, salah satunya adalah diolah menjadi saus cabai. Untuk menghasilkan mutu saus cabai yang merah yang baik serta meminimalisir penurunan mutu saus cabai akibat adanya kontaminasi mikroorganisme, maka dilakukanlah teknik blansir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai teknik blansir terhadap pertumbuhan mikroorganisme dalam saus cabai. Hasil dari pengamatan menunjukan bahwa teknik blansir dapat menurunkan jumlah mikroorganisme dalam saus cabai. Perebusan selama 1,5 menit menjadi teknik blansir yang paling efektif menurunkan jumlah mikroorganisme dalam saus cabai dengan total mikroorganisme sebanyak 8,6 log CFU/ml
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA, ORGANOLEPTIK DAN TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT KIMCHI BENGKUANG Essa Annisa Syadiah; Kartika Kartika; Hasbiadi Hasbiadi; Fitrah Adelina
AGRIBIOS Vol 20 No 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v20i1.1633

Abstract

Kimchi merupakan makanan fermentasi tradisional dan lauk pauk dengan rasa unik dari Korea yang sudah dikonsumsi dari sejak jaman dulu. Bakteri asam laktat (BAL) telah digunakan secara luas sebagai kultur starter untuk berbagai makanan fermentasi termasuk produk fermentasi daging, susu, dan sayuran seperti kimchi. Bengkuang mengandung protein, dan serat kasar relatif yang tinggi sehingga cocok sebagai pengganti kubis dalam pembuatan kimchi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisiko-kimia, organoleptik dan total Bakteri Asam Laktat dari Kimchi Bengkuang. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan sebagai rancangan percobaan, dengan faktor kesatu konsentrasi garam dengan 3 taraf, 2%, 4% dan 6% dan faktor yang kedua lama waktu fermentasi dengan 3 taraf, 3 hari, 6 hari dan 9 hari, tiga kali ulangan, 27 unit percobaan. Hasil penelitian ini kadar pH, kadar lemak, salinitas, serat kasar sebagai atribut fisiko kimia memiliki pengaruh yang nyata (P<0,05). Atribut warna dan aroma serta total Bakteri Asam Laktat pada kimchi bengkuang memiliki pengaruh yang nyata (P<0,05). Studi yang dilakukan sejauh ini menunjukkan bahwa waktu fermentasi dan konsentrasi garam mempengaruhi kualitas kimchi bengkuang.
KARAKTERISTIK DAN DAYA TERIMA KEFIR SINBIOTIK TEPUNG GEMBILI MODIFIKASI FISIK Kartika Kartika; Irma Kusumastuti
Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman Vol 6 No 1 (2022): JURNAL GIZI DAN PANGAN SOEDIRMAN
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi, Jurusan Kesmas Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.983 KB) | DOI: 10.20884/1.jgipas.2022.6.1.5078

Abstract

Synbiotic drinks are products that contain probiotics and prebiotics that can provide a healthy effect on the body. One type of prebiotic drink that is well known is kefir, and Dioscorea esculenta tuber is one of the food commodities which is known to have a high content of prebiotics such as inulin. This study aims to determine the effect of adding physical modification of Dioscorea esculenta flour to the physical, chemical, and microbiological properties of synbiotic kefir. The method used in this research is an experiment with descriptive data analysis. The results of this study indicate that the addition of physically modified Dioscorea esculenta flour can reduce the pH value and increase the titrated acid total (TAT) value and the number of lactic acid bacteria in kefir. The results of the organoleptic test showed that there was no significant difference in color, aroma, taste, and texture of synbiotic kefir with the addition of physically modified Dioscorea esculenta flour with concentrations of 0%, 2%, 4%, and 6%.
KANDUNGAN GIZI DAN DAYA TERIMA COKELAT BATANG DAUN KELOR Kartika; Lena Ahdiyani Hayati; Ririn Purwati
Jurnal Fakultas Teknik Kuningan Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Fakultas Teknik
Publisher : Jurnal Fakultas Teknik Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moringa leaves (Moringa oleifera) is a plant that has many properties and benefits for human health. Processing of Moringa leaves in Indonesia has not been widely carried out, this is due to the lack of public knowledge of the benefits of Moringa leaves. For this reason, there is a need for food diversification of Moringa leaves. One effort that can be done is to make functional chocolate bars by adding moringa leaf powder which can have a positive effect on the health of the body. One of the ways to diversify this type of food is by processing Moringa leaves into brown moringa leaf stems. This study aims to look at the nutritional content and acceptability of Moringa chocolate stems. The research method was divided into four stages: designing a chocolate formula with Moringa leaf powder, making Moringa chocolate, hedonic testing of the selected formula, and analyzing the nutritional value of Moringa chocolate. The experimental design used in this study was a one-factor completely randomized design (CRD) consisting of three levels, namely 0.01%, 0.02% and 0.03%. The results showed that chocolate with the addition of 0.01% moringa leaf powder was the most preferred by the panelists. The nutritional content of chocolate with the selected formula is 0.83% moisture content, 0.67% ash content, 2.14% protein content, 35.80% fat content, and 60.56% carbohydrates.
SURVEI BAHAN BAKU KEBUTUHAN PENYEDIA MAKANAN SEBAGAI ACUAN HARGA DASAR DALAM PENGOLAHAN MAKANAN CATERING DI KABUPATEN KUNINGAN Shifa Atiyatul Hasanah; Kartika; Agung Setiawan
Jurnal Fakultas Teknik Kuningan Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Fakultas Teknik
Publisher : Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70476/jft.v5i1.008

Abstract

The catering business is a very promising business. As public awareness of the importance of health and nutrition increases, the demand for catering that serves healthy food and organic raw materials is increasing. Therefore, this research aims to 1) identify the types of raw materials most commonly used in catering, 2) determine the prices of raw materials used in making catering, and 3) determine a reasonable and competitive basic price for catering based on the cost of raw materials used. . This research uses descriptive analysis, the respondents in this research are Mayang Catering, Mak Ijem Catering, and Hana Catering Kuningan