Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : WACANA

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN EMOSIONAL KELUARGA DAN RESILIENSI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI KEMOTERAPI PADA PASIEN KANKER DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Febi Dwi Setyaningsih; . Makmuroch; Tri Rejeki Andayani
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.264 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.38

Abstract

Kemoterapi adalah salah satu cara pengobatan kanker yang dilakukan dengan memasukkan obat-obatan anti-kanker ke tubuh pasien. Kemoterapi sebagai salah satu pilihan utama pengobatan untuk penyakit kanker memiliki berbagai efek samping yang dapat menimbulkan kecemasan dalam diri pasien. Pasien yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga akan terhindar dari kecemasan menghadapi kemoterapi karena adanya berbagai perasaan positif yang dirasakan pasien dengan tersedianya dukungan emosional keluarga. Resiliensi dalam diri pasien akan dapat mengurangi kecemasan menghadapi kemoterapi ketika muncul bersama dengan dukungan emosional keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi serta hubungan antara masing-masing variabel prediktor, yaitu dukungan emosional keluarga dan resiliensi, dengan kecemasan menghadapi kemoterapi. Populasi penelitian adalah pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan sampel penelitian sebanyak 50 responden yang diambil menggunakan purposive incidental sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Skala Kecemasan Menghadapi Kemoterapi                               (daya beda item = 0,433-0,900; reliabilitas = 0,974), Skala Dukungan Emosional Keluarga (daya beda item = 0,391-0,889;  reliabilitas = 0,967), dan Skala Resiliensi (daya beda item = 0,395-0,866; reliabilitas = 0,978). Uji F dalam teknik analisis regresi berganda menunjukkan Fhitung = 9,649 (Ftabel = 3,195; Fhitung>Ftabel) dan p = 0,000 (p<0,05). Hal ini berarti ada hubungan signifikan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi. Besarnya hubungan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi ditunjukkan dari nilai   R = 0,540. Kontribusi dukungan emosional keluarga dan resiliensi terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi adalah sebesar 29,1%. Uji t antara dukungan emosional keluarga dan kecemasan menghadapi kemoterapi menunjukkan nilai thitung = 2,311 (ttabel = 2,012; thitung>ttabel), p = 0,025 (p<0,05), dan B = -0,795. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara dukungan emosional keluarga dan kecemasan menghadapi kemoterapi. Hubungan resiliensi dengan kecemasan kemoterapi tidak signifikan terlihat dari hasil uji t yang menghasilkan nilai nilai thitung = 0,217 (ttabel = 2,012; thitung<ttabel),   p = 0,829 (p>0,05), dan B = -0,060. Kata kunci: kemoterapi, kecemasan menghadapi kemoterapi, dukungan emosional keluarga, resiliensi
PENGARUH PELATIHAN BERPIKIR POSITIF TERHADAP ASERTIVITAS REMAJA PANTI ASUHAN Adhisty June Ertyastuti; Tri Rejeki Andayani; Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.48 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.25

Abstract

Remaja sebagai salah satu tahap dalam perkembangan manusia, memiliki tugas perkembangan yang berfokus pada upaya untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam lingkungannya. Remaja memerlukan dukungan dan pengarahan dari keluarga untuk menyelesaikan tugas perkembangannya. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak setiap remaja dilindungi dalam satu keutuhan keluarga sehingga menyebabkan remaja harus berada di panti asuhan. Keberadaan panti asuhan berperan penting sebagai lembaga yang menangani anak-anak terlantar untuk memenuhi kebutuhan anak asuhnya baik dari segi fisik maupun psikis tetapi panti asuhan tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan anak asuhnya terutama kebutuhan psikis. Masalah psikologis yang sering dialami oleh remaja panti asuhan, diantaranya mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain (kompetensi interpersonal), salah satunya dalam asertivitas yang menjadi fokus penelitian ini. Asertivitas merupakan suatu perilaku yang dapat dipelajari sehingga perilaku asertif dapat ditingkatkan melalui serangkaian latihan. Latihan untuk meningkatkan asertivitas dapat dilakukan dengan menekankan pada proses kognitif. Salah satu pengembangan latihan dengan proses kognitif adalah berpikir positif. Pelatihan berpikir positif ini dimaksudkan untuk meningkatkan asertivitas remaja panti asuhan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan berpikir positif terhadap asertivitas remaja panti asuhan di Panti Asuhan Yatim (PAY) Mardhatilah Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan Non-Randomized Pretest-Posttest Control-Group Design dengan subjek penelitian sebanyak 10 remaja panti asuhan di PAY Mardhatilah Sukoharjo dengan tingkat asertivitas sedang yaitu lima remaja Kelompok Eksperimen dan lima remaja Kelompok Kontrol. Pelatihan ini menggunakan pendekatan experiential learning dengan metode communication activities, games, role play, sharing, relaksasi, dan pemutaran film serta materi pelatihan yang telah disusun dalam modul. Pengambilan data dilakukan menggunakan Skala Asertivitas dengan daya beda item 0,302 - 0,642 dan koefisien reliabilitas (α) 0,883. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U, diketahui besarnya nilai Zhitung = -2,627 (Ztabel = -2,409; Zhitung<Ztabel) dan p 0,008 (p<0,05). Hal ini berarti ada pengaruh pelatihan berpikir positif terhadap asertivitas remaja panti asuhan. Selanjutnya, hasil uji menggunakan Wilcoxon T, diketahui besarnya nilai Zhitung = -2,032 (Ztabel = -1,728; Zhitung<Ztabel) dan p 0,042 (p< 0,05). Hal ini berarti bahwa pelatihan berpikir positif efektif dalam meningkatkan asertivitas remaja panti asuhan. Kata Kunci : Pelatihan Berpikir Positif, Asertivitas, Remaja Panti Asuhan
PEMBERDAYAAN IBU UNTUK MENGAJARKAN MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK USIA DINI Nugraha Arif Karyanta; Tri Rejeki Andayani
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.072 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.30

Abstract

Membaca permulaan adalah aktivitas dasar yang memegang peran penting dalam proses belajar setiap anak. Sebagai orang tua, ibu memiliki peran yang cukup dominan dalam optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kajian ini bertujuan untuk : (1) Meningkatkan keterlibatan ibu dalam menunjang kesiapan anak masuk sekolah dasar; (2) Menurunkan tuntutan orangtua pada guru-guru TK untuk mengajarkan anak-anak mereka terampil membaca, sehingga meringankan beban guru-guru TK pada sesuatu hal yang tidak menjadi tanggung jawab utamanya; dan (3) Mengenalkan pada ibu-ibu mengenai cara-cara yang mudah dan murah dalam upaya mengajarkan membaca permulaan pada anak usia dini, guna peningkatan kesiapan masuk sekolah. Mengacu pada pendekatan research and development, kegiatan ini disampaikan dalam bentuk pelatihan, dimana peserta (ibu) interaktif mempelajari dan menyusun bahan pembelajaran membaca permulaan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang murah dan mudah didapatkan. Evaluasi dilaksanakan melalui evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi hasil kegiatan dengan melihat perbedaan skor atas persepsi mengenai pengetahuan atas tumbuh kembang dan keterampilan membaca permulaan sebelum dan sesudah kegiatan. Evaluasi proses diketahui dari  analisis diskriptif-kuantitatif respon peserta atas proses dan hasil kegiatan yang didapatkan dari lembar evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan atas tumbuh kembang dan keterampilan membaca permulaan. Evaluasi atas proses kegiatan menunjukkan kesan positif atas berbagai aspek, baik dari materi, pembicara, serta proses jalannya kegiatan. Usulan yang diberikan dari hasil kegiatan ini adalah: (1) Kegiatan ini tampaknya memiliki efikasi yang kuat untuk menumbuhkan keterampilan ibu dalam mengajarkan membaca permulaan pada anak sehingga dapat dilaksanakan pada waktu yang lain atau pada Taman Kanak-kanak/PAUD lain dengan berbagai pengembangan pada materi maupun perancangan pelaksanaannya; (2) Agar kegiatan semacam workshop ataupun pelatihan kepada orang tua dapat dilaksanakan secara reguler pada Taman Kanak-kanak/PAUD dengan berbagai materi lain sehingga tanggung jawab mendidik anak dapat dikembalikan kepada keluarga; (3) Mengembangkan kegiatan ini menjadi penelitian dengan efikasi yang lebih tinggi. Kata kunci : pemberdayaan ibu, membaca permulaan
PERAN KEARIFAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK BERCERAI PADA ISTRI YANG MENGAJUKAN CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA Rindang Resita Rizki; Istar Yuliadi; Tri Rejeki Andayani
Wacana Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.262 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i1.44

Abstract

Pengambilan keputusan untuk bercerai adalah suatu hal yang tidak dapat dilakukan begitu saja, tetapi perlu adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu terkait dengan resiko yang mungkin timbul setelah diambilnya sebuah keputusan, selanjutnya kearifan berperan mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk bercerai yang dilakukan oleh istri yang mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama. Penelitian ini penting karena apabila perceraian tidak mendapat perhatian secara khusus maka perceraian dapat mengakibatkan banyak hal negatif baik secara langsung maupun secara tak langsung, seperti tekanan psikis pada pasangan yang bercerai, kesejahteraan anak korban perceraian, anak menjadi terlantar, bahkan kenakalan remaja yang secara tidak langsung dapat diakibatkan salah satunya oleh perceraian orangtua. Sedangkan fenomena yang terjadi saat ini adalah bahwa perceraian sudah dianggap sebagai hal yang biasa, hal ini dapat dilihat dari angka perceraian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah empat orang dengan kriteria yaitu seorang wanita yang pernah mengajukan cerai gugat kepada Pengadilan Agama. Proses penelusuran subjek dilakukan dengan mendatangi subjek dari orang ke orang berdasarkan data (alamat) yang telah didapat dari Pengadilan Agama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tahapan pengambilan keputusan untuk bercerai dapat berbeda pada setiap orang, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu nilai individu yang berupa budaya yang melatarbelakangi kehidupan masing-masing individu, dan kepribadian yang berupa kearifan. Kearifan yang dimiliki masing-masing individu akan membedakan bagaimana individu menjalani tahap pengambilan keputusan untuk bercerai, termasuk dalam memilih strategi penanggulangan dan mekanisme pertahanan yang digunakan disepanjang proses pengambilan keputusan untuk bercerai.   Kata kunci: Kearifan, Pengambilan Keputusan untuk Bercerai, Istri yang mengajukan Cerai gugat
PENURUNAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SKRIPSI MELALUI PELATIHAN KOMUNIKASI EFEKTIF (STUDI EKSPERIMEN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR PRODI PSIKOLOGI FK UNS) . Hardjono; Tri Rejeki Andayani; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.741 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.35

Abstract

Kecemasan menghadapi ujian akhir seringkali menghambat aktivitas mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Tidak sedikit mahasiswa yang telah selesai menyusun tugas akhir dengan sengaja menunda ujian skripsi karena takut dan cemas menghadapi tahap ujian  tersebut.  Kebiasaan untuk menunda-nunda penyelesaian tugas yang terkait dengan akademik (prokrastinasi akademik) akan memberikan pengaruh besar dalam prestasi studi dan lama studi yang ditempuh. Penelitian ini bertujuan untuk membantu mahasiswa menurunkan tingkat kecemasan menghadapi ujian skripsi dengan cara meningkatkan ketrampilan berbicara di depan umum (presentasi) melalui pelatihan komunikasi efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan jumlah 20 subyek penelitian mahasiswa tingkat akhir Prodi Psikologi FK UNS yang memiliki tingkat kecemasan menghadapi ujian skripsi diatas rata-rata, yang terdiri dari 10 orang subyek eksperimen dan 10 orang subyek kontrol. Subyek ditentukan berdasarkan teknik purposive nonrandom sampling. Desan penelitian menggunakan Pretest-posttest Control Group Design dan teknik  analisis  data  menggunakan  pendekatan independent samples t-test. Hasil uji independent samples test menunjukkan nilai t sebesar -2,123 dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,048 (p < 0,05) sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua mean benar-benar berbeda. Karena sebelum perlakuan kedua kelompok berada pada taraf yang sama, maka perbedaan ini memberikan kesimpulan bahwa terdapat pengaruh perlakuan “Pelatihan Komunikasi Efektif” terhadap penurunan tingkat kecemasan menghadapi validasi proposal skripsi / sidang skripsi subyek penelitian. Hasil ini dikonfirmasi dengan hasil uji paired samples t-test skor pretest dan skor posttest yang menunjukkan nilai T sebesar 4,339 dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,002 (p < 0,05) yang menunjukkan kedua mean benar-benar berbeda, atau dapat diduga bahwa terjadi penurunan skor kecemasan setelah subyek mendapatkan “Pelatihan Komunikasi Efektif”.   Kata Kunci: komunikasi efektif, kecemasan menghadapi ujian skripsi, mahasiswa psikologi
MODEL PEMBELAJARAN REGULASI DIRI UNTUK MENURUNKAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA Tri Rejeki Andayani; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.676 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.41

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan salah satu hambatan dalam proses mahasiswa menyelesaikan masa studinya. Kebiasaan untuk menunda-nunda penyelesaian tugas yang terkait dengan akademik akan memberikan pengaruh besar dalam prestasi studi dan lama studi yang ditempuh. Beberapa studi terdahulu telah menunjukkan bahwa self-regulated learning (SLR) merupakan penentu dalam belajar, dimana 1 % puncak pelajar yang berprestasi merupakan siswa self-regulated. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran regulasi diri terhadap penurunan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan subyek penelitian mahasiswa Psikologi FK UNS yang memiliki tingkat prokrastinasi diatas rata-rata. Subyek ditentukan berdasarkan teknik purposive nonrandom sampling. Desain penelitian menggunakan Pretest-posttest Control Group Design dan teknik analisis datanya akan menggunakan pendekatan Statistika independen sample t-test. Untuk menunjang pembahasan agar lebih mendalam, analisis data juga dilengkapi dengan metode kualitatif. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan independen sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,004 (p < 0,05). Kesimpulan atas hasil ini adalah bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara skor post-test kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Karena sebelum perlakuan subyek berada pada taraf yang sama, dapat disimpulkan bahwa pemberian perlakuan berupa pelatihan regulasi diri memiliki pengaruh yang nyata terhadap tingkat prokastinasi akademik subyek penelitian. Hal ini dikonfirmasi oleh hasil uji paired sample t-test pada skor kelompok eksperimen sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai signifikansi untuk uji dua sisi sebesar 0,002 (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara skor prokastinasi akademik kelompok eksperimen sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan, yang menguatkan kesimpulan bahwa pelatihan regulasi diri memiliki pengaruh yang nyata terhadap penurunan skor prokastinasi akademik subyek penelitian.   Kata Kunci: regulasi diri, prokrastinasi akademik
HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KEMATANGAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA N 2 KLATEN Anisa Listyowati; Tri Rejeki Andayani; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.639 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.23

Abstract

Perkembangan karir merupakan perkembangan yang dialami individu terkait karir yang ingin atau sedang dijalani. Perkembangan karir individu terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu growth, exploration, establishment, maintenance, dan disengagement. Keberhasilan individu dalam menjalani satu tahapan menunjukkan kematangan karir dan kesiapan menjajaki tahapan perkembangan karir selanjutnya. Siswa Kelas XII berada pada fase remaja akhir, dimana remaja pada fase ini dituntut untuk memiliki kemandirian ekonomi. Hal ini tentunya tidak akan bisa tercapai apabila siswa belum membuat keputusan karir dan merencanakannya. Siswa yang memiliki kematangan karir yang tinggi mampu membuat keputusan karir yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) hubungan antara kebutuhan aktualisasi diri dengan kematangan karir, (2) hubungan antara dukungan sosial dengan kematangan karir, serta (3) hubungan antara kebutuhan aktualisasi dan dukungan sosial dengan kematangan karir. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XII SMA N 2 Klaten yang berjumlah sembilan kelas. Sampel penelitian berjumlah tiga kelas penelitian dengan total responden 89 orang yang diambil dengan cara cluster random sampling. Kelas penelitian tersebut adalah kelas XII IPA2 dengan jumlah responden 31 orang, kelas XII IPA4 dengan jumlah responden 33 orang, dan kelas XII IPS2 dengan jumlah responden 25 orang. Penelitian ini menggunakan Skala Kebutuhan Aktualisasi Diri dengan koefisien validitas 0,25 dan reliabilitas alpha 0,757, Skala Dukungan Sosial dengan koefisien validitas 0,25 dan reliabilitas alpha 0,852, dan Skala Kematangan Karir dengan koefisien validitas 0,25 dan reliabilitas alpha 0,880. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Berganda dan Analisis Korelasi Parsial. Hasil uji dengan Analisis Regresi Berganda menunjukkan bahwa secara bersama-sama kebutuhan aktualisasi diri dan dukungan sosial memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kematangan karir, terlihat dari p-value sebesar 0,000   (< p-value 0,05); Fhitung 19,365 > Ftabel 3,10; dan koefisien korelasi (R) 0,557. Sementara hasil Analisis Korelasi Parsial menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kebutuhan aktualisasi diri dengan kematangan karir, serta antara dukungan sosial dengan kematangan karir, terlihat dari p-value masing-masing sebesar 0,000 dan 0,027 (< p-value 0,05) dan dengan koefisien korelasi (r) 0,45 dan 0,2. Kata kunci: kebutuhan aktualisasi diri, dukungan sosial, kematangan karir