Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Karakteristik dan Faktor Prioritas Penyebab Kekumuhan di Kawasan Permukiman Girlibanji (Pinggir Kali Banjaran-Kranji), Kabupaten Banyumas Ricca Padyansari; Murtanti Jani Rahayu; Lintang Suminar
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72271.100-111

Abstract

Pelaksanaan aktivitas yang terpusat pada kawasan perkotaan dapat mempengaruhi laju perpindahan penduduk menuju kota. Pertumbuhan penduduk perkotaan yang terus meningkat mengakibatkan tingginya permintaan lahan untuk kawasan permukiman yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan untuk kawasan hunian yang layak huni. Fenomena tersebut terjadi diantaranya di Kabupaten Banyumas seiring dengan terus berkembangnya Kawasan Perkotaan Purwokerto sebagai ibukota Kabupaten Banyumas. Hal ini mengakibatkan  munculnya kawasan kawasan kumuh di Kawasan Perkotaan Purwokerto. Salah satu kawasan yang teridentifikasi permukiman kumuh adalah Kawasan Girlibanji. Dalam menangani kawasan permukiman kumuh, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah berupaya mengatasi permasalahan kekumuhan dengan penerapan beberapa kebijakan tetapi  permasalahan permukiman kumuh belum teratasi sepenuhnya khususnya di Kawasan Girlibanji. Ketidakberhasilan penerapan kebijakan penanganan permukiman kumuh dikarenakan belum diketahui faktor prioritas penyebab meningkatnya permukiman kumuh pada kawasan secara jelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor prioritas penyebab kekumuhan di Kawasan Permukiman Girlibanji dengan menggunakan Analytical Hierarchy Prosess (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor prioritas penyebab kekumuhan di Kawasan Permukiman Girlibanji adalah jaringan air limbah, kepadatan dan kualitas bangunan, jaringan sistem persampahan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan jaringan drainase.
Penilaian Tingkat Kelayakan Huni Permukiman di Kawasan Mrican, Kabupaten Sleman Berdasarkan Konsep Livable Settlement Fatika Dewi Novianty; Lintang Suminar
Jurnal Wilayah dan Kota Vol. 12 No. 01 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/jwk.v12i01.19974

Abstract

Permukiman merupakan kawasan tempat manusia tinggal, berinteraksi, dan menjalankan aktivitas sosial ekonomi yang didukung oleh sarana, prasarana, dan utilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Konsep livable settlement menekankan bahwa permukiman layak huni tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik bangunan, tetapi juga oleh ketersediaan infrastruktur dasar, akses fasilitas sosial, keamanan, kenyamanan, serta kualitas lingkungan yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Namun, penanganan yang dilakukan masih terbatas pada sebagian wilayah sehingga belum mencakup seluruh kawasan kumuh yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kelayakan huni Kawasan Mrican berdasarkan konsep livable settlement sebagai dasar evaluasi dan rekomendasi penanganan permukiman kumuh yang lebih komprehensif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Mrican memiliki tingkat kelayakan huni yang tergolong tinggi berdasarkan konsep livable settlement dengan skor sebesar 80,55% yang termasuk dalam Klasifikasi Kelas II. Penilaian dilakukan terhadap tujuh variabel, yaitu kualitas lingkungan permukiman, kondisi sosial, keamanan, aksesibilitas, infrastruktur kebutuhan dasar, kondisi fisik bangunan, dan kondisi ekonomi. Dari variabel tersebut, aspek yang telah terpenuhi didominasi oleh aspek fisik permukiman dan layanan keamanan. Namun, masih ditemukan beberapa permasalahan mulai dari kondisi sosial ekonomi dan penanganan infrastruktur yang belum merata.