Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

THE CORRELATION BETWEEN SMARTPHONE USAGE WITH PHYSICAL ACTIVITIES AND CARDIORESPIRATORY FITNESS IN PRECLINICAL STUDENTS FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES ATMA JAYA CATHOLIC UNIVERSITY -, Heidy -; Suryakusuma, Linda; Rika, Ignatio; Odillo, Oscar
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i05.P08

Abstract

Pendahuluan: Penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Salah satu indikator kesehatan jantung adalah Daya Tahan Jantung Paru (DTJP). DTJP dapat dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah aktivitas fisik dan maraknya penggunaan smartphone. Sampai saat ini, penelitian mengenai hubungan antara durasi penggunaan smartphone dengan DTJP dan aktivitas fisik masih kurang. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang terhadap 121 mahasiswa di FKIKUAJ. Penelitian dilakukan pada Mei 2019 - September 2019. Data diperoleh dengan kuesioner penggunaan smartphone, IPAQ dan Queen College's Step Test. Analisis data dilakukan dengan metode korelasi Pearson. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan pada DTJP dan tingkat aktivitas fisik antara laki-laki dan perempuan. Dari uji korelasi terpisah menurut jenis kelamin, didapatkan korelasi yang signifikan antara durasi penggunaan smartphone dengan DTJP pada mahasiswa laki-laki (r = -0.276, p=0,031), namun tidak pada mahasiswa perempuan (p=0.064).Untuk hubungan antara durasi penggunaan smartphone dengan aktivitas fisik, tidak ditemukan korelasi signifikan baik pada laki-laki (p=0.095) dan perempuan (p=0.735). Kesimpulan: Pada mahasiswa laki-laki, penggunaan smartphone yang lebih lama akan berpengaruh pada tingkat daya tahan jantung paru, namun tidak berpengaruh pada mahasiswa perempuan.
PEMERIKSAAN KESEHATAN ATLET BULUTANGKIS REMAJA: UPAYA PENGENALAN DAN PEMANFAATAN PEMERIKSAAN PRA-PARTISIPASI Haryono, Ignatio Rika; Prastowo, Nawanto Agung
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i1.33149

Abstract

Pemeriksaan fisik prepartisipasi (preparticipation physical examination-PPE) sangat penting untuk menyaring atau menapis cedera dan risiko penyakit sebelum menjalani atau berpartisipasi dalam pelatihan atau kompetisi olahraga. PPE seharusnya menjadi stndar pemeriksaan kesehatan terutama pada remaja. Namun penerapan PPE masih belum optimal karena beberapa hal, terutama masalah sumber daya manusia dan dana. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan metode PPE sederhana di klub bulutangkis. Cedera dan kelainan postur tubuh adalah masalah kesehatan yang umum dijumpai pada atlet. Pemeriksaan PPE mungkin dapat menemukan cedera dan kelainan postur tersebut. Kami melakukan kegiatan PPE kami di sebuah klub bulutangkis di Bogor. Dua puluh atlet remaja (usia 13-18 tahun) mengikuti pemeriksaan kesehatan PPE. Tiga belas atlet (65%) memiliki keluhan muskuloskeletal, 4 kasus pada ekstremitas atas, dan 9 kasus pada ekstremitas bawah. Evaluasi lebih lanjut harus dilakukan untuk memastikan diagnosis. Sepuluh atlet (50%) terbukti mengalami kelainan postur, varus-valgus lutut, skoliosis, dan kaki rata. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara acak menunjukkan bahwa atlet bulutangkis mempunyai risiko cedera yang lebih tinggi, dan PPE harus segera digunakan dan benar.
Correlation between Hemoglobin Concentration and Oxygen Saturation Post-Exercise with Cardiorespiratory Fitness: Early Indicators for Cardiovascular Health in Young Adults Elizabeth, Elizabeth; Haryono, Ignatio Rika; Prastowo, Nawanto Agung; Santosa, Mariani; Arrang, Sherly Tandi
Althea Medical Journal Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v12n3.4233

Abstract

Background: Cardiorespiratory fitness (CRF) is an important indicator of cardiorespiratory health and a strong predictor of mortality. Several factors affect CRF, including arterial oxygen content (CaO2), which is influenced by hemoglobin (Hb) concentration and oxygen saturation. However, the correlation between CRF and Hb remains inconclusive. This study aimed to explore the correlation between Hb concentration and oxygen saturation post-exercise with CRF, especially in young adults.Methods: A cross-sectional study was conducted in October 2024, involving 68 medical students from a university in Jakarta, Indonesia. Consecutive stratified sampling was applied based on gender. The Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and the Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q+) were used as screening tools. Hb concentration and oxygens saturation were measured using a digital hemoglobinometer and pulse oximetry, while CRF was evaluated using a 20-meter multistage test. Additional measurements included body mass index (BMI), blood pressure, and heart rate. Data were analyzed with correlation and multiple linear regression tests.Results: The most participants were female (57.4%). Normal Hb concentration was found in 80.9% with mean Hb levels of 14.15±1.54 g/dL in males and 12.9±1.37 g/dL in females. CRF correlated positively with Hb concentration (p=0.005; r=1.13), and negatively with oxygen saturation post-exercise (p=0.005; r=-0.4). These correlations were significant in males and not in females.  Conclusion: Hb concentration and oxygen saturation post-exercise significantly correlate with CRF in males, whereas BMI and physical activity play stronger roles in females. Maintaining optimal Hb levels, preventing anemia, and promoting active lifestyles are essential strategies to support CRF, cardiovascular health, and long-term wellness.
Pemberian Dosis Tinggi D-galactose Jangka Pendek secara Intraperitoneal untuk Menginduksi Proses Aging pada Tikus Jantan Kartika, Ronald Winardi; Sidharta, Veronika Maria; Djuartina, Tena; Timotius, Kris Herawan; Sartika, Chyntia Retna; Rika, Ignatio
Health and Medical Journal Vol 5, No 3 (2023): HEME September 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i3.1370

Abstract

Pendahuluan: Injeksi D-galaktosa (D-gal.i.p.) intraperitoneal yang dapat mempercepat penuaan telah digunakan untuk mengembangkan model penuaan. Penelitian sebelumnya menggunakan D-galaktosa jangka panjang selama 4 minggu untuk menginduksi penuaan pada mencit menimbulkan kesulitan waktu dan biaya pengobatan. Para peneliti sedang mencoba mencari tahu apakah pemberian D-gal dosis tinggi dalam jangka pendek. aku p. pada tikus mampu menginduksi tanda-tanda signifikan yang mirip dengan penuaan alami, yaitu peningkatan stres oksidatif dan myostatin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jalur penuaan otot pada tikus akibat pemberian D-galaktosa dosis tinggi dalam waktu singkat. Metode: Rancangan penelitian studi eksperimen, in vivo, dilakukan di laboratorium terpadu FKIK Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta menggunakan 22 ekor tikus Sprague Dawley, jantan, umur 6-12 minggu, berat 200-350 gram. Sebelas ekor tikus diinduksi intraperitoneal (G-ip) D-galaktosa 300 mg/kg/hari selama 7 hari. 11 ekor tikus sisanya diinduksi dengan NaCl 0,9% i.p (N-ip). Pada penelitian ini pengukuran berat badan, lingkar gastrocnemius, CRP dan kadar myostatin blood elisa dibandingkan antara hari ke 7 dan hari ke 0 untuk melihat efek sistemik injeksi D. Galaktosa. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 20. Hasil: Pemberian D-gal jangka pendek. i.p secara signifikan meningkatkan peradangan sistemik. dan tingkat myostatin. Pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan aktivitas superoksida dismutase meskipun lebih rendah dibandingkan NaCl 0,9% i.p. kelompok. Kesimpulan: Dosis Tinggi Waktu singkat D-gal. injeksi mungkin membuat penuaan alami yang dapat berkembang pada tikus paling cepat satu minggu.
The effect of 4 weeks chair-based exercise on cognitive function in the elderly Roy Mal; Mariani Santosa; Nawanto Agung Prastowo; Nelson Sudiyono; Ignatio Rika Haryono
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 57 No 4 (2025)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v57i4.12067

Abstract

Degenerative processes in the central nervous system contribute to in cognitive function decline in the elderly. Physical exercise may prevent this decline. However, elderly people often require modified forms of activity to ensure both safety and effectiveness. This study aimed to investigate the the effect of chair-based exercise (CBE) on cognitive function in elderly people. This study was conducted a two nursing homes using a two-group pretest and posttest experimental design with a control group. All participants were informed about the procedures of study, provided written informed consent, and underwent an initial cognitive assessment using the mini-mental state examination (MMSE). Participants in the intervention group engaged in CBE sessions over a four-week period. Following the intervention, cognitive function was reassessed in both groups. The Wilcoxon signed-rank test was used to analyze within-group changes, while independent t-tests were used to assess between-group differences in cognitive function scores. A significant improvement in cognitive function was observed in the intervention group after the four-week CBE program (p = 0.008). Moreover, a significant between-group difference in cognitive score changes was found (p = 0.003), favoring the intervention group. In conclusion, a four-week CBE program significantly improved cognitive function among elderly participants. These findings support the use of CBE as an accessible and effective intervention to promote cognitive health in elderly people.
Effect of Jogging Duration on Concentration Levels among University Students Amadeo Wibisono; Aila Johanna; Julia Rahadian Tanjung; Nawanto Agung Prastowo; Ignatio Rika Haryono
Althea Medical Journal Vol 13, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v13n2.4231

Abstract

Background: Concentration is an important component of cognitive function. However, many college students experience reduced attention spans, often lasting only 10 to 15 minutes. Previous studies have shown that poor concentration levels remain common among university students. Physical exercise, such as jogging, may improve brain function and enhance concentration. This study aimed to evaluate the influence of jogging duration on concentration levels among university student. Methods: This experimental study was conducted in 2024, involving medical students from a university in Jakarta, Indonesia. Participants were screened using the Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q) and selected through random sampling. Respondents were divided into three groups: a 10-minute jogging group, a 30-minute jogging group, and a control group without jogging intervention. The intervention was conducted for 8 weeks at each participant’s location. Concentration levels were assessed before and after the intervention using the Concentration Grid Test, administered at the university. Data were analyzed using ANOVA to compare changes in concentration scores and the Kruskal-Wallis to compare post-intervention scores among groups.Results: A total of 28 students participated, with females comprising the majority of participants (64.3%; n=18). The 10-minute jogging group demonstrated a significant improvement in concentration levels compared with the control group (p=0.004). Concentration Grid Test scores increased by 4.6 points in the 10-minute jogging group (p<0.001), and by 3.8 points in the 30-minute jogging group (p=0.003). Conclusions: A 10-minute jogging session improves concentration levels among university students, suggesting that short-duration physical activity provide cognitive benefits and may support academic performance and well-being.
Hubungan Posisi Dan Durasi Duduk Terhadap Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Kantor Di Jakarta Julia Rahadian Tanjung; Faradica Alda Hanarko; Ignatio Rika Haryono
Bahasa Indonesia Vol 22 No 1 (2023): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v22i1.3948

Abstract

Pendahuluan: Kejadian nyeri punggung bawah (NPB) sudah menjadi permasalahan global di dunia. Hal ini merupakan penyebab utama absensi kerja yang menimbulkan beban ekonomi yang tinggi. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, terdapat 18% nyeri punggung bawah di Indonesia. Pekerja kantor identik dengan aktivitas duduk lama dan statis yang mengandalkan kekuatan otot punggung, dimana posisi duduk yang salah dapat menyebabkan nyeri punggung. Hal tersebut yang menjadi dasar ketertarikan  penelitian ini. Metode: Penelitian analitik potong lintang dengan 100 responden pekerja kantor berusia 21 – 45 tahun. Data penelitian menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan posisi duduk, lamanya durasi duduk dan aktivitas fisik. Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire untuk menilai NPB. Hubungan antara variabel diuji menggunakan chi-square dan Fisher-exact dengan p<0,05. Hasil: 72% responden mengalami NPB, 48% responden terbiasa dengan duduk membungkuk, 89% responden duduk dengan durasi ≥4 jam dalam sehari, 47% responden memiliki IMT berlebih, 68% responden dengan tingkat aktivitas fisik kategori tinggi. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara posisi duduk, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik responden terhadap NPB (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara durasi duduk, dan indeks massa tubuh dengan kejadian NPB (p<0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara posisi duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah. Durasi duduk dan IMT memiliki hubungan yang bermakna dengan NPB pada pekerja kantor di Jakarta. Kata kunci: durasi duduk, nyeri punggung bawah, pekerja kantor, posisi duduk
The effect of 4 weeks chair-based exercise on cognitive function in the elderly Roy Mal; Mariani Santosa; Nawanto Agung Prastowo; Nelson Sudiyono; Ignatio Rika Haryono
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 57 No 4 (2025)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v57i4.12067

Abstract

Degenerative processes in the central nervous system contribute to in cognitive function decline in the elderly. Physical exercise may prevent this decline. However, elderly people often require modified forms of activity to ensure both safety and effectiveness. This study aimed to investigate the the effect of chair-based exercise (CBE) on cognitive function in elderly people. This study was conducted a two nursing homes using a two-group pretest and posttest experimental design with a control group. All participants were informed about the procedures of study, provided written informed consent, and underwent an initial cognitive assessment using the mini-mental state examination (MMSE). Participants in the intervention group engaged in CBE sessions over a four-week period. Following the intervention, cognitive function was reassessed in both groups. The Wilcoxon signed-rank test was used to analyze within-group changes, while independent t-tests were used to assess between-group differences in cognitive function scores. A significant improvement in cognitive function was observed in the intervention group after the four-week CBE program (p = 0.008). Moreover, a significant between-group difference in cognitive score changes was found (p = 0.003), favoring the intervention group. In conclusion, a four-week CBE program significantly improved cognitive function among elderly participants. These findings support the use of CBE as an accessible and effective intervention to promote cognitive health in elderly people.