Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Intelektualita

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Jamaliah Hasballah Jamaliah Hasballah
Intelektualita Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Intelektualita
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Periode yang ditempuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan beberapa fase, seperti masa prenatal, balita, kanak-kanak, remaja , dewasa dan tua. Masa balita dan masa kanak-kanak adalah masa usia dini. Pendidikan anak usia dini merupakan serangkaian upaya sistematis dan terprogram dalam melakukan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun, usia ini menurut Gutama disebut dengan “Golden Age” atau masa keemasan, yang menentukan masa depannya sekaligus masa kritis dalam kehidupan anak.Pada masa ini sangat tepat untuk menanamkan dasar-dasar aqidah, konsep diri, etika, estetika, seni dan lain-lain, karena pada masa ini otak anak berkembang sebanyak 80%. Tujuan penanaman  konsep-konsep ini diantaranya untuk melatih Ego atau ke Akuan pada anak, supaya tahu dan mampu untuk menjaga kepemilikan dan harga dirinya, walau kadang juga harus belajar untuk berbagi dengan sesama.Wajib bagi kedua orang tua untuk memelihara, menjaga, mendidik dan mengarahkan anak sesuai denga fithrah yang telah Allah anugrahkan kepadanya. Karena pada masa usia dini secara phisik maupun psikis anak belum berdaya, anak hanya menerima apa yang diberikan orang dewasa (orang tua dan gurunya).Teladan yang  baik  merupakan hal terpenting dalam keberhasilan mendidik anak, karena anak suka meniru tingkah laku orang tuanya dan orang-orang disekitarnya. Bila orang tua dan orang-orang disekitarnya memberikan teladan yang baik, niscaya anak tersebut  menjadi pribadi yang baik, begitu juga sebaliknya.Maka hendaklah orang tua memperhatikan dan tidak menyepelekan masalah ini, serta jangan pula apa yang dikerjakan bertentangan denga apa yang dikatakan
METODOLOGI PENDIDIKAN AQAL MELALUI BAYAN, ‘IRFAN DAN BURHAN Jamaliah Hasballah Jamaliah Hasballah
Intelektualita Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Intelektualita
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aqal merupakan anugerah yang istimewa dari Allah Yang Maha Kuasa, disamping bentuk pisik yang paling sempurna. Dengan adanya aqal, manusia akan lebih bijaksana dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Dalam Al-Quran aqal bukan hanya diletakkan di ranah rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu, nyakni aqal diartikan dengan hikmah atau kebijaksanaan.  Pendidikan aqal melalui Bayan, ‘Irfan, dan Burhan, yaitu mengkaji ayat-ayat pendidikan aqal, yaitu adanya tanda-tanda yang nyata seperti dalam  surah al-‘Ankabut’ ayat 35  menceritakan keadaan “Kota Sodom” (negeri Nabi Luth) yang Allah hancurkan dan porakporandakan dan tinggallah puing-puing itu semua, karena kesalahan yang dilakukan penduduknya. Dalam surah  Asysyu’arak ayat 8  nabi Musa mengajak kaumnya untuk berfikir dan bertadabbur (menimbang sesuatu dengan mempergunakan akal), memberikan peringatan kepada mereka supaya berhati-hati dalam kehidupan. Atau dengan kata lain Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Tuhan semesta alam, karena itu ikhlaslah beribadah kepada-Nya. Jika kamu punya akal, pikirkanlah apa yang saya sampaikan kepadamu dan pahami apa yang saya beri petunjuk kepadamu. Pendidikan aqal melalui metodologi “Bayan”, manusia juga merupakan makhluk yang diberikan potensi Bayan, dengan kemampuan bahasanya ia dapat menjelaskan, menerangkan, dan mengungkapkan segala fenomena alam dalam segi kehidupan baik yang abstrak maupun yang konkrit. Justru itu bahasa merupakan salah satu alat untuk mentransformasikan  ilmu sebagai bagian dari proses pendidikan. Metodologi pendidikan ‘Irfan, dalam surah Al-Baqarah ayat 89 kata “ma‘arafu” (مَاعَرَفُوا) artinya mereka mengetahui hal/masalah yang sesungguhnya (diturunkan Al-quran untuk mengajarkan agama Tauhid sebagai mana diajarkan Taurat), namun mereka menutup-nutupi apa yang ada pada mereka karena kekafiran mereka. Selanjutnya metodologi pendidikan Burhan. Dalam surah Yusuf ayat 24 yang dimaksudkan dengan al-Burhan adalah, ketika zulaikha merayu Yusuf untuk berbuat kemaksiatan kepada Allah, Rayuan zulaikha akan berhasil jika Yusuf tidak menyaksikan Al-Burhan (tanda-tanda) yang sangat buruk karena melakukan kemaksiatan dan takut akan murka Allah. Dan dengan pertolongan Allah SWT Yusuf melawan keinginan itu dengan sekuat tenaga, yusuf lari sehingga selamat dari rayuan perempuan itu. Kita memberikan pendidikan ‘Aqal kepada anak-anak melalui Bayan, ‘Irfan dan Burhan, namun petunjuk (hudan) itu merupakan hak Allah, Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Pendidikan Aqidah Di Rumah Tangga Hasballah, Jamaliah
Intelektualita Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ji.v3i1.203

Abstract

‘Aqidah means belief which is tightly bound strong and knotted in one’s soul. Belief in God is a solid bond that should not be opened or removed for granted because the impact is very great for human life. Solid ties that bind his mind, his heart, his behavior to God, implement all the commandments, and leave all the prohibitions. ‘Aqidah as a solid bond that is could lead children into a balance life (tawazun). If only I may be illustrated, I would say that divinity is immunization for a disease, because in this life many temptation faced by children, faced by various trials, it sometimes makes him despair, broken heart, his soul shaken even the stress and suicide. People who do not have a solid bond with God will cause tempted to the other ties easily that would harm himself. As the Word of God in surah Luqman verse 13 which mean:” Behold, Luqman said to his son by way of instruction: “O my son! join not in worship (others) with Allah: for false worship is indeed the highest wrong-doing.”
Pendidikan Aqidah Di Rumah Tangga Hasballah, Jamaliah
Intelektualita: Journal of Education Sciences and Teacher Training Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ji.v3i1.203

Abstract

‘Aqidah means belief which is tightly bound strong and knotted in one’s soul. Belief in God is a solid bond that should not be opened or removed for granted because the impact is very great for human life. Solid ties that bind his mind, his heart, his behavior to God, implement all the commandments, and leave all the prohibitions. ‘Aqidah as a solid bond that is could lead children into a balance life (tawazun). If only I may be illustrated, I would say that divinity is immunization for a disease, because in this life many temptation faced by children, faced by various trials, it sometimes makes him despair, broken heart, his soul shaken even the stress and suicide. People who do not have a solid bond with God will cause tempted to the other ties easily that would harm himself. As the Word of God in surah Luqman verse 13 which mean:” Behold, Luqman said to his son by way of instruction: “O my son! join not in worship (others) with Allah: for false worship is indeed the highest wrong-doing.”