. SISWANTO
Unknown Affiliation

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Produksi imunoglobulin Y (IgY) untuk pengembangan metode deteksi dini kontaminasi okratoksin (Immunoglobulin Y (IgY) production to develop an early detection method for ochratoxin contamination) Irma KRESNAWATY; . SUHARYANTO; . SISWANTO; Sumi HUDIYONO
Menara Perkebunan Vol. 86 No. 1 (2018): 86 (1), 2018
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v1i1.279

Abstract

Indonesian coffee and cocoa commodities are constrained by low product quality problem due to contamination of fungal metabolites which  producing ochratoxin A (OTA). Ochratoxin is neprotoxic, immunogenic, carcinogenic and teratogenic to the human health. Early detection method on site detection should be developed  because of  those negative effects. The aim of this study  was to produce antibody to develop a method for  OTA detection. Antibody was produced by immunization of egg laying hen. Antibody-produced was sepatared and analyzed using ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) and DBIA (dot blot immunoassay),and tested its composition using HPLC and SDS PAGE. The results showed that anti-OTA polyclonal antibodies had been obtained already from chicken eggs in the 4th period (7 weeks after initial immunization). These antibodies showed anti-OTA reactivity by DBIA method and still showed anti-OTA reactivity up to 9th period (12 weeks after initial immunization). The anti-BSA antibodies produced should be removed to increase the sensitivity of antibodies againts ochratoxin A. The separation of BSA antibodies can be conducted by the absorption of the protein.  [Keywords: ochratoxin A; early detection; antibody IgY]. AbstrakKomoditas kopi dan kakao Indonesia terkendala masalah mutu produk yang rendah akibat kontaminasi cendawan penghasil okratoksin A. Okratoksin A (OTA) bersifat neprotoksik, imunogenik, karsinogenik dan teratogenik yang membahayakan kesehatan manusia. Karena efek negatif yang diakibatkan oleh mikotoksin ini, maka perlu dikembangkan deteksi dini kontaminasi okratoksin langsung di lokasi. Penelitian ini bertujuan menghasilkan antibodi imunoglobulin Y (IgY) untuk mengembangkan metode perakitan perangkat deteksi cepat berbasis imunologi untuk deteksi OTA. Antibodi dihasilkan menggunakan uji ayam petelur. Antibodi yang dihasilkan dipisahkan dan dianalisis aktivitasnya dengan ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) dan DBIA (dot blot immunoassay), serta diuji komposisinya dengan HPLC dan SDS PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibodi poliklonal anti-OTA sudah diperoleh dari telur ayam pada periode ke-4 (7 minggu setelah imunisasi awal). Antibodi ini menunjukkan reaktivitas anti-OTA dengan metode DBIA dan masih menunjukkan reaktivitas anti-OTA sampai periode 9 (12 minggu setelah imunisasi awal). Komposisi asam amino antibodi anti-OTA menunjukkan perbedaan dengan komposisi asam amino IgY di database. Antibodi anti BSA yang dihasilkan harus dihilangkan terlebih dahulu untuk meningkatkan sensitivitas antibodi terhadap okratoksin A dan pemisahan dapat dilakukan dengan penyerapan antibodi BSA.[Kata Kunci:  okratoksin A;  deteksi dini; antibodi IgY].
Pengaruh kitosan, mikroba antagonis, dan bakteri endofit dalam menekan perkembangan penyakit bercak daun pada bibit kelapa kopyor (Effect of chitosan, antagonist and endophytic bacteria in suppressing the development of leaf spot disease in kopyor coconut seedlings) Deden Dewantara ERIS; Sri WAHYUNI; Imron RIYADI; Happy WIDIASTUTI; . SISWANTO
Menara Perkebunan Vol. 87 No. 1 (2019): 87 (1), 2019
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v87i1.324

Abstract

Currently, tissue culture is one of the best techniques in propagating of kopyor coconut. The important stage in plant propagation through tissue culture is acclimatization. Upon entering the acclimatization stage, the problem that couldarise in kopyor coconut seedlings is leaf spot disease caused by the fungus Colletotrichumsp., Curvularia sp. and Pestalotiopsissp. Environmentally friendly leaf spot disease control techniques can be done through the use of chitosan, antagonists microbes and endophytic bacteria. This study aimed to examine the use of chitosan, microbial antagonists, endophytic bacteria and their combinations to control leaf spot kopyor coconut disease in four different disease severity categories, namely severe/heavy, moderate, mild, and healthy.Disease development was observed every three weeks, while  the rate of disease infection, area under the disease development curve (AUDPC) and disease progression/delta were observed 15 weeks after treatment. The result showed that in heavy severity category, endophytic bacteria treatment was more effective to inhibit leaf spot disease showed by AUDPC value of 131.95 units that significantly different compared to others. In the moderate category, combination treatment was more effective to suppress leaf spot disease, showed by the lowest infection rate by 0.03 unit per week, and percentage disease value   progression changes was 12.10%, with no significantly different AUDPC value to  the other treatments. In mild and healthy severity category, there were no significanly different  between the rate of infection and AUDPC in all treatments. While the percentage of change progression disease was significantly different between endophytic treatment and control. [Keywords: coconut kopyor seedling, leaf spot disease, antagonist microbes, endophyticbacteria, chitosan]Abstrak Saat ini, teknik kultur jaringan merupakan salah satu teknik terbaik untuk memproduksi bibit kelapa kopyor. Tahap penting dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan adalah aklimatisasi. Pada saat memasuki tahap aklimatisasi, masalah yang dapat muncul pada bibit kelapa kopyor adalah serangan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichumsp., Curvulariasp. dan Pestalotiopsis sp.Teknik pengendalian penyakit bercak daun yang ramah lingkungan dapat melalui pemanfaatan kitosan, mikroba antagonis dan bakteri endofit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kitosan, mikroba antagonis, bakteri endofit dan kombinasinya untuk mengendalikan penyakit bercak daun bibit kelapa kopyor pada empat kategori keparahan penyakit yang berbeda yaitu berat, sedang, ringan, dan sehat. Perkembangan penyakit diamati setiap tiga minggu selama 15 minggu sedangkan  laju infeksi penyakit, luas area dibawah kurva perkembangan penyakit (AUDPC)dan persentase selisih/delta perkembangan penyakit dihitung pada minggu ke 15.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bibit kelapa kopyor dengan kategori keparahan berat, perlakuan bakteri endofit lebih efektif menghambat bercak daun dengan menghasilkan nilai AUDPC terkecil yaitu sebesar 131,95 unit dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya sedangkan laju infeksi dan persentase delta perkembangan penyakit tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada bibit kopyor kategori keparahan sedang, perlakuan kombinasi lebih efektif menekan bercak daun ditunjukkan dengan laju infeksi terendah sebesar 0,03 unit per minggu yang menghasilkan delta perkembangan penyakit terkecil yakni sebesar 12,1%, dengan nilai AUDPC tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada bibit kopyor kategori keparahan ringan dan sehat, tidak terdapat perbedaan yang nyata untuk parameter laju infeksi dan nilai AUDPC pada semua perlakuan. Sedangkan nilai persentase delta perkembangan penyakit pada perlakuan endofit berbeda nyata dibandingkan dengankontrol. [Kata Kunci: bibit kelapa kopyor, penyakit bercak daun, kitosan, mikroba antagonis, bakteri endofit]