Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS (STUDI PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO ANGKATAN 2012-2015) Hidayati, Noufry Zaliva; Riyanto, Puguh
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.78 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kelainan kulit yang sering terjadi pada remaja dan dewasa muda adalah akne vulgaris (AV). Penyebab AV adalah multifaktorial, salah satunya yaitu faktor stres. Stres merupakan suatu reaksi terhadap sebuah “perceived stimulus” (rangsangan yang dirasakan) dan reaksi ini berkemampuan untuk mengganggu keadaan homeostasis dari suatu makhluk hidup.Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat stres dengan derajat keparahan AV dan perbedaan tingkat tingkat stres antara penderita AV dengan bukan penderita AV pada mahasiswi Fakultas Kedokteran.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional cross-sectional pada bulan April-Mei 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang. Sampel diambil secara simple random sampling menghasilkan 43 mahasiswi pada kelompok non AV dan 43 mahasiswi pada kelompok AV yang memenuhi kriteria inklusi tetapi tidak memenuhi kriteria eksklusi. Tingkat stres mahasiswi diukur dengan menggunakan skor BDI. Analisis data menggunakan uji Spearman sebagai uji korelasi dan uji Mann-Whitney sebagai uji beda.Hasil: Tingkat stres dengan derajat keparahan AV memiliki hubungan yang bermakna p=0,009 (p<0,05) dan tingkat stres antara kelompok AV dengan kelompok non AV memiliki perbedaan yang bermakna p=0,040 (p<0,05) dengan subjek penelitian mahasiswi Fakultas Kedokteran.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan derajat keparahan AV dan terdapat perbedaan tingkat tingkat stres antara penderita AV dengan bukan penderita AV pada mahasiswi Fakultas Kedokteran secara bermakna.
THE INFLUENCE OF CHEESE CONSUMPTION ON THE DEGREE OF ACNE VULGARIS IN STUDENTS OF MEDICINE FACULTY OF DIPONEGORO UNIVERSITY Koncara, Fatan Khalif; Wibowo, Dhega Anindita; Riyanto, Puguh; Wikanta, Edmond Rukmana
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.253 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i2.27076

Abstract

Introduction : Acne vulgaris is a chronic inflammatory disease of pilosebaceous follicles with a polymorphic clinical picture consisting of various skin disorders in the form of blackheads, papules, pustules, nodules, and scar tissue. Four pathogenesis underlying the emergence of AV include polysebaseal follicle hyperproliferation, excess sebum production, inflammation, and the presence of Propionibacterium acnes. The cause of this multifactorial AV, one of which is a factor of consuming fatty foods, especially saturated fat, one of the foods is cheese. Cheese is one of the foods that we usually consume as processed foods that contain lots of saturated fat. Consuming fatty foods on an irregular basis can cause acne vulgaris. Objectives : To determine the relationship of fatty food consumption with the severity of acne vulgaris in Diponegoro University Kedokeran Faculty studentsMethods : This study uses a descriptive observational design with cross sectional design in which the researcher will describe how the incidence of acne vulgaris, the severity of acne vulgaris and the factors that influence acne vulgaris, especially regarding saturated fat consumption in excess cheese in Diponegoro University Medical School students. Samples were taken by purposive sampling to produce 40 students who met the inclusion and exclusion criteria. Assessment is assessed by filling out questionnaires suffering from acne vulgaris and assessing acne vulgaris in respondents. Analysis of the data used in the study is an analysis with the Chi Square test. Result : In conclusion, clustered pimples are a dominant factor in the assessment of acne (p<0,05). Conclusion: In this study it was found that there was no significant relationship between cheese consumption with the severity of acne vulgaris and pimples arising from acne is acne that occurred before the existence of this studyKeywords : acne vulgaris, fat, cheese
Association between Bubble Tea Consumption and Prevalence of Acne Vulgaris Subagio, Devina; Budiastuti, Asih; Riyanto, Puguh; Aryoko Widodo, Yulian Ludovicus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19]
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.984 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i7.1450

Abstract

Introduction: Acne vulgaris (AV) is one of the most common skin disorders among youth. A cross-sectional study was conducted to analyze the association between bubble tea consumption and the prevalence of acne vulgaris among medical students. Method: Subjects were obtained from consecutive sampling. There were 91 eligible subjects meeting inclusion criteria. Data was collected using questionnaires. Examinations were through observation of photographs of lesions. Chi-square analysis was conducted at a 95% confidence interval (p<0.05). Results: Data were collected from 91 medical students with mean age 19.62+0.98 year-old. The prevalence of acne was 58.2%; mostly in age 20 years (37.7%). There is a significant association between consumption of bubble tea and the prevalence of AV (p<0.001). Conclusion: Bubble tea consumption is associated with prevalence of acne vulgaris.Pendahuluan: Akne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang umum dialami pada dewasa muda. Metode: Penelitian observasional cross sectional untuk mengetahui asosiasi konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling menghasilkan 91 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data primer dengan kuesioner. Pemeriksaan fisik observasi kulit responden dengan foto. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Angka kejadian akne vulgaris adalah 58,2% dengan rata-rata usia 19.62+0.98; usia terbanyak penderita adalah 20 tahun (37,7%). Terdapat asosiasi bermakna antara konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris (p<0,001). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan hubungan bermakna antara konsumsi bubble tea dengan kejadian akne vulgaris.
HUBUNGAN MENGONSUMSI MAKANAN OLAHAN CABAI TERHADAP KEJADIAN AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA Aghnila Fasza Gita Tsuraya; Puguh Riyanto; Widyawati Widyawati; Bambang Witjahyo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.812 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21187

Abstract

Latar Belakang. Akne vulgaris atau jerawat, adalah penyakit kulit pada unit poli sebasea yang sering terjadi pada masa remaja. Penyebab utama akne sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, merupakan penyakit multifaktorial. Penderita akne memiliki kadar androgen serum dan kadar sebum lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal. Salah satu tanaman bahan makanan yang diduga mempunyai kandungan androgen adalah cabai.Tujuan. Mengetahui hubungan antara mengonsumsi makanan olahan cabai dengan angka kejadian akne vulgaris.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan populasi penelitian mahasiswa di kota Semarang. Dengan metode cluster random sampling didapatkan 90 responden dengan rentang usia 19-25 tahun. Data yang didapatkan adalah data primer dari kuesioner. Uji analisis yang digunakan adalah chi square.Hasil. Terdapat hubungan antara makan cabai dengan kejadian akne vulgaris dan tidak ada hubungan antara jumlah makan cabai dan frekuensi makan cabai dengan kejadian akne vulgaris.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara makan olahan cabai dengan kejadian akne vulgaris.
THE EFFECT OF THE USE OF MASK ON THE INCIDENCE OF ACNE VULGARIS IN STUDENTS OF MEDICAL FACULTY DIPONEGORO UNIVERSITY Devy Kurniawati; Dhega Anindita Wibowo; Puguh Riyanto; Widyawati Widyawati
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v11i1.32526

Abstract

Background: Acne vulgaris (AV) is an inflammatory condition of pilosebaceous follicles that is commonly experienced in adolescents and young adults. The pathogenesis of AV is multifactorial, such as caused by inflammation and external factors of acne exposome, which have an impact on the pathogenesis of acne in the use of masks.Objective: To determine the effect of using a mask and the number of acne vulgaris on students of the Faculty of Medicine, Diponegoro University.Methods: This research is an observational type with a cross sectional design. The research subjects were 58 students of the Faculty of Medicine, Diponegoro University with an age range of 19-23 years who used masks. The data obtained are primary data from the questionnaire. The analytical test used is bivariate chi square analysis.Results: This study showed that there was no significant effect between the type of mask and the incidence of acne vulgaris p 0.610 (p>0.05), the duration of the use of masks and the incidence of acne vulgaris p 0.200 (p>0.05), and the frequency of using masks with the incidence of acne vulgaris p 0.689. (p>0.05)Conclusion: There is no effect between the use of masks and the incidence of acne vulgaris.
PENGARUH PEMAKAIAN SABUN SULFUR TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS: PENELITIAN KLINIS PADA MAHASISWI PENDERITA AKNE VULGARIS YANG DIBERI TERAPI STANDAR TRETINOIN 0,025% + TSF 15 Mejestha Rouli Puspitasari; Puguh Riyanto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.125 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14814

Abstract

Latar Belakang : Akne vulgaris (AV) adalah kelainan kulit pada unit pilosebasea yang ditandai dengan komedo terbuka dan tertutup, papul, pustul, sampai pseudokista. Walaupun tidak berbahaya, AV mempunyai dampak besar bagi fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk memperbaiki prognosis penderita. Sabun sulfur sebagai keratolitik dan antimokroba digunakan sebagai salah satu terapi AV.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemakaian sabun sulfur terhadap jumlah lesi akne vulgaris.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Controlled Trial. Subjek penelitian berjumlah 40 orang yang terdiri dari 20 orang kelompok control dan 20 orang kelompok perlakuan. Kelompok kontrol diberikan obat topikal AV tretinoin 0,025% dan tabir surya SPF 15, sedangkan kelompok perlakuan diberikan tretinoin 0,025%, tabir surya SPF 15, dan sabun sulfur. Hari pertama dihitung jumlah lesi AV awal kemudian setelah subjek 4 minggu diberi perlakuan sesuai kelompoknya, dihitung jumlah lesi AV akhir. Uji statistik menggunakan uji T berpasangan dan uji T tidak berpasangan.Hasil : Rata-rata total lesi AV awal adalah 64,80 pada kelompok control dan 53,90 pada kelompok perlakuan. Rata-rata total lesi AV akhir kelompok control adalah 55,35 dan pada kelompok perlakuan adalah 38,15. Pada uji T berpasangan didapatkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada total lesi awal dan akhir kelompok control (p=0,060) dan didapatkan perbedaan signifikan pada total lesi awal dan akhir kelompok perlakuan (p=0,017). Pada uji T tidak berpasangan didapatkan selisih total lesi AV pada kedua kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p=0,012).Kesimpulan : Pemberian sabun sulfur dapat menurunkan jumlah lesi akne vulgaris
PENGARUH PENAMBAHAN BEDAK PADAT TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS (PENELITIAN KLINIS PADA MAHASISWI PENDERITA AKNE VULGARIS YANG DIBERI TERAPI STANDAR TRETINOIN 0,025% + TSF 15) Olivia Jovina Priyanto; Puguh Riyanto
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.749 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15600

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) adalah suatu penyakit multifaktorial yang mengenai folikel pilosebasea dengan karateristik komedo, papul, pustul, nodul, kista. Penyakit ini mengenai hampir 80% remaja dan dewasa muda. Tingginya angka kejadian Akne vulgaris tidak lepas dari penggunaan kosmetik dalam kehidupan sehari-hari, terutama bedak padat. Terkadang bedak padat mengandung bahan komedogenik. Namun hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan penggunaan bedak tidak berpengaruh terhadap AV. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh penambahan bedak padat terhadap jumlah lesi Akne vulgaris.Tujuan: Membuktikan adanya pengaruh penambahan bedak padat terhadap jumlah lesi Akne vulgaris.Metode Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian Randomized Controlled Trial. Subjek penelitian berjumlah 40 orang yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri dari 20 mahasiswi. Kelompok perlakuan diberi bedak padat dan Tretinoin 0,025%+TSF15 sementara kelompok kontrol hanya diberi Tretinoin 0,025%+TSF15. Pada awal penelitian dilakukan perhitungan jumlah lesi AV, kemudian setelah diberi perlakuan selama 4 minggu sesuai kelompok dilakukan perhitungan kembali jumlah lesi AV di akhir penelitian.Uji statistik menggunakan uji T berpasangan dan uji T tidak berpasangan.Hasil : Rata-rata usia subjek baik kelompok perlakuan maupun kontrol adalah 21 tahun. Tidak ada perbedaan usia bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (P=0,767). Dengan uji T tidak berpasangan dan Mann whitney, analisis rerata komedo, papul, pustul, serta jumlah lesi total antara kelompok perlakuan dan kontrol pada awal penelitian maupun akhir penelitian tidak ada perbedaan bermakna (P>0,05). Dengan uji T berpasangan, terdapat perbedaan bermakna rerata komedo (P=0,000) dan jumlah lesi AV (P=0,001) berupa penurunan lesi antara awal dan akhir penelitian pada kelompok perlakuan. Namun tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada lesi papul (P=0,975) dan pustul (P=0,233). Pada kelompok kontrol, tidak didapatkan perbedaan bermakna lesi komedo (P=0,118), papul (P=0,701), pustul (P=0,382), dan jumlah lesi (P=0,056) antara awal dan akhir penelitian. Tidak ada perbedaan yang bermakna selisih komedo, papul, pustul, nodul, serta jumlah total lesi secara keseluruhan antara kelompok perlakuan dan kontrol (P>0,05).Kesimpulan: Terdapat pengaruh penambahan bedak padat terhadap jumlah lesi Akne vulgaris.
PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI LIKOPEN TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Anastasia Piramitha Angela Soesanto; Puguh Riyanto
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.334 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18542

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) adalah penyakit inflamasi kronis unit pilosebaseous di kulit yang ditimbulkan oleh androgen yang terjadi di usia remaja dan mempengaruhi kualitas hidup. Likopen merupakan karotenoid alami yang memberi warna merah pada sayur dan buah, terutama pada tomat. Likopen telah terbukti sebagai antiinflamasi serta antiandrogen.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian suplementasi likopen terhadap derajat keparahan Akne Vulgaris.Metode: Penelitian ini merupakan studi klinis dengan desain randomized pre and post test control group.  Subjek penelitian adalah 40 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek penelitian diacak kedalam kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing kelompok 20 subyek, lama penelitian 4 minggu.  Data yang diperoleh merupakan data primer dengan mengisi kuisioner, menghitung jumlah lesi AV dan menentukan derajat keparahan AV. Analisis derajat keparahan AV akhir penelitian dilakukan dengan uji fisher’s exact.Hasil: Lesi Total AV awal penelitian kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p=0,363), begitu pula dengan lesi total AV akhir penelitian (p=0,124). Perbedaan total lesi AV awal (64,80±29,84) dan akhir (55,35±20,55) kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p=0,060). Tidak terdapat penurunan bermakna (p=0,420) dari lesi AV awal (74,90±38,90) dan akhir (69,85±35,44) kelompok perlakuan. Delta lesi kelompok kontrol dan perlakuan juga tidak berbeda bermakna (p=0,818). Pada akhir penelitian, derajat keparahan AV antara kedua kelompok didapatkan hasil tidak berbeda bermakna (p=0,605).Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara pemberian suplementasi likopen dengan derajat keparahan AV selama 4 minggu.
HUBUNGAN KONSUMSI SUSU DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO ANGKATAN 2015-2017 Dyah Ayu Kusumaningrum; Puguh Riyanto; Aryoko Widodo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.838 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23786

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) merupakan gangguan kulit berupa peradangan kronik dari folikel pilosebaseus yang dapat disebabkan oleh banyak faktor dan dapat terjadi dengan derajat keparahan yang bervariasi. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya akne adalah konsumsi susu. Susu mengandung IGF-1 yang dapat meningkatkan level androgen di sirkulasi sehingga mempengaruhi komedogenitas dan mempengaruhi perkembangan akne. Tujuan: Mengetahui hubungan konsumsi susu dengan derajat keparahan akne vulgaris pada mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro angkatan 2015-2017. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancngan observasional cross sectional. Sampel diambil dengan cara purposive sampling sehingga dihasilkan sampel 46 dengan kriteria inklusi mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro angkatan 2015-2017, berusia 17-22 tahun, menderita akne vulgaris dan mengkonsumsi susu rutin. Data didapatkan dari data primer kuisioner. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil: Dari hasil uji korelasi Spearman didapatkan hubungan yang tidak signifikan atau tidak bermakna antara hubungan konsumsi susu dengan derajat keparahan akne vulgaris, dimana p = 0,256 (signifikan apabila p < 0.05). Jenis susu yang banyak dikonsumsi oleh mahasiswi adalah susu UHT. Dan frekuensi mahasiswi mengkonsumsi susu paling banyak 3 kali per minggu. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi susu dengan derajat keparahan akne vulgaris pada mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro Angkatan 2015-2017.Kata Kunci: Derajat keparahan AV, susu, mahasiswi
Relationship of Hand Sanitizer Usage Frequency with the Incidence of Irritant Contact Dermatitis during COVID-19 Pandemic Almira Dwixie Dhara Desira; Puguh Riyanto; Liza Afriliana; Dea Amarilisa Adespin
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v11i2.32631

Abstract

Background: Irritant Contact Dermatitis (ICD) is an eruption of the skin caused by the non-immunologic inflammatory response of the skin to the irritant agents. The government urged to implement health protocols 3M, one of them is hand hygiene by used hand sanitizer to prevent the spread of COVID-19 infection. Repeated use of hand sanitizer can cause skin irritation and inflammatory response such as dryness, cracks, and other symptoms of ICD.Objective: To analyze the relationship between the frequency of use of hand sanitizer and the incidence of ICD.Methods: Observational analytics study cross-sectional design. The research subject were 260 medical faculty students of Diponegoro University who had to agree with informed consent, filled questionnaires and qualified by research criteria. Diagnostic of ICD based on questionnaires and physical examination of ICD. The statistical analysis data was used Chi-square test.Results: The results showed after analyze data use Chi-square test that there was not significantly related frequency use the hand sanitizer to the incidence irritant contact dermatitis during the COVID-19 pandemic with a p-value is 0,078 (p>0,05). The most frequent use of hand sanitizers is 5-10 times a day (56,5%), the most symptoms in ICD are dry, scaly, and peeling skin (30%), and the incidence of ICD due to the use of hand sanitizers are 33,5%.Conclusion: There was no significant relationship between frequency of use of hand sanitizer and irritant contact dermatitis during pandemic the COVID-19.